
Semua orang sudah berkumpul di halaman yang cukup luas tepat dibelakang vila. Hari masih siang tapi langit terlihat sudah sedikit gelap dan muncul tanda-tanda akan turun hujan. “Apa kita akan melanjutkan permainannya?” tanya seorang pria pada Adit.
“Lebih baik lanjutkan saja, jika tidak sesuai dengan susunan acara bisa-bisa bos kita akan murka..” jawab Adit asal.
“Tapi bagaimana kalau hujan turun?” tanya pria itu lagi.
“Kalau gitu minta mereka semua untuk membawa payung.. kalau ada yang tidak membawa payung ya usahakan agar saat hujan turun tidak kehujanan..” jawab Adit sembari bercanda.
“Baiklah..” seru pria itu pada akhirnya.
“Semuanya dengar ya.. perusahaan sudah menyiapkan berbagai macam hadiah yang bisa kalian bawa pulang.. Kalau ada yang belum tahu hadiah utama kita hari ini adalah satu buah sepeda motor keluaran terbaru.. Nah aturan mainnya gampang saja.. Kalian silahkan membagi tim masing-masing dengan jumlah empat orang setiap tim..Permainan ini akan dimainkan oleh empat orang.. tahap pertama satu orang dalam tim harus mencari sebuah botol kaca kecil yang terikat pita berwarna kuning seperti ini.. orang yang kedua harus menemukan botol dengan pita berwarna merah.. orang ketiga harus menemukan pita berwarna hijau.. dan orang terakhir yang masuk harus menemukan pita berwarna biru..” seru pria bertubuh sedikit gemuk itu sembari menunjukkan botol kaca berukuran kecil dengan pita berwarna kuning.
“Setelah itu bagaimana pak?” tanya seorang wanita berambut keriting.
“Pak apa didalam hutan sana tidak ada binatang buas?” tanya seorang wanita lainnya.
“Semua disini sudah bisa dipastikan aman.. tapi tetap perlu hati-hati.. nah tadi ada yang bertanya setelah itu bagaimana pak? Saat kalian menemukan botol yang bukan sesuai dengan warna saat kalian masuk, harus diabaikan.. kalau sudah dapat sesuai dengan warna, nanti serahkan botol yang tim kalian dapatkan ke panitia ya.. jadi.. semoga kalian dan tim beruntung..” lanjut pria itu.
Nayla tampak memegang tangan Mily. “Kamu dengan ku ya..” pinta Nayla. Mily menjawab dengan menganggukkan kepalanya. Gadis itu tak pernah mempermasalahkan akan masuk ke tim siapa pun. Tak lama dua gadis datang menghampiri mereka. “Apa kami berdua boleh bergabung dengan kalian?” tanyanya.
“Tentu.. kami masih kurang dua orang..” jawab Nayla cepat.
“Baiklah.. kalau begitu apa sudah diputuskan siapa yang akan masuk pertama kali untuk mencari pita berwarna kuning?”
“Aku kok merasa hutan itu sedikit menyeramkan ya..” seru salah seorang wanita berambut panjang.
Nayla tertawa. “Kalau menyeramkan sih sudah pasti.. rumah yang setiap hari ditungguin sama penghuninya aja masih suka ada hantu.. apalagi hutan..”
Mily mencubit pelan pinggang Nayla dan membuat gadis itu berhenti tertawa. “Jangan membuat mereka semakin takut..”
“Baiklah aku mengerti..” jawab Nayla.
“Kalau kalian merasa takut, biar aku saja yang masuk lebih dulu..” ucap Mily.
“Nanti kalau sudah keluar tolong ceritakan bagaimana didalam sana ya..”
“Tenang, aku pasti akan memberitahu kalian..”
Mily dan rekan tim yang lain sudah berjalan memasuki hutan yang terlihat cukup gelap karena matahari tertutup awan mendung yang sudah mulai pekat ditambah dengan keadaan pohon yang rindang. Karena rasa bersaing yang tinggi, tak ada satupun tim lain yang ingin jalan berdampingan dengan tim lainnya. Semua berjalan sendiri-sendiri, termasuk Mily.
“Kenapa mereka memilih tempat seperti ini sih?” gumamnya.
Tak hanya tangannya yang sibuk, tapi mata gadis itu juga sibuk mencari-cari sebuah botol kecil berpita kuning. “Aduh udah mau ujan lagi..” serunya.
“Aku berhasil..” terdengar suara teriakan dari rekan tim lawan.
Mily meletakkan ranting kayu yang sejak tadi dibawanya dan menggunakan tangannya untuk menyibakkan rumput yang tak terlalu tinggi. Tak lama matanya melihat sesuatu didekat semak dan berwarna kuning. “Akhirnya aku menemukanmu botolku..” gumamnya.
Mily langsung menariknya dan gadis itu terkejut bukan main karena yang kini dipegangnya bukanlah sebuah pita melainkan ekor ular. “Aaaaaaaa...” teriak Mily sekencang-kencangnya sembari melempar ular itu.
Gadis itu berlari sejauh yang dia bisa dan langkahnya baru terhenti saat dirinya menyadari bahwa jalan yang dilaluinya saat itu berbeda dengan jalan yang tadi dilewatinya saat masuk.
“Haloo apa ada orang disini..” serunya. Namun, tak ada siapa pun yang menjawabnya.
Nyali gadis itu mulai menciut saat mendongakkan kepalanya keatas dan melihat bahwa langit kini sudah benar-benar gelap. Bunyi gemuruh juga sudah terdengar. “Bagaimana ini aku harus cepat-cepat keluar dari sini..”
Mily merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel. Gadis itu mencoba menghubungi Mike, tapi selalu gagal karena ponselnya tidak mendapat sinyal.
**
Mike yang tengah sibuk mengerjakan pekerjaannya dikamar tampak menatap jendela kamarnya yang tak tertutup gorden. Pria itu bisa melihat dengan jelas bahwa diluar sedang hujan disertai angin yang cukup kencang dan juga kilat yang menyambar diikuti bunyi gemuruh.
“Kenapa hujannya menyeramkan seperti ini?” gumam pria itu.
Baru saja Mike kembali menaruh jari-jarinya diatas keyboard laptopnya, seseorang dengan sangat keras mengetuk pintu kamarnya. “Mike, cepat buka pintunya..” seru dokter Herman.
Mike berjalan ke arah pintu dan membukanya. “Ada apa dok?” tanya Mike.
“Mily menghilang..” jawab dokter Herman. Wajah pria paruh baya itu tampak pucat dan tegang.
“Apa maksudnya?”
“Panitia sedang melakukan pencarian di dalam hutan sekarang..”
Tanpa bertanya lagi, Mike berlari keluar dari vila dan langsung pergi menuju hutan. Mike tampak mendorong Adit yang berusaha menghalanginya. Bunyi gemuruh semakin menggema dan hujan turun semakin deras.
“Biarkan saja dia pergi mencari Mily.. Kita semua hanya perlu berdoa semoga gadis itu baik-baik saja, jika tidak tamatlah riwayat kita semua..” seru dokter Herman sembari memegang lengan Adit.