
Reihan yang baru saja datang di hampiri oleh seorang laki-laki yang menanyakan keberadaan Mily. “Reihan apa Mily ikut pergi sama kamu mengantar barang?” tanya laki-laki itu.
“Tidak.. dia sibuk mengecek barang digudang.. Apa dia tidak ada digudang?” tanya Reihan balik.
“Aku baru saja dari sana, lihat pintu gudangnya tertutup..”
Belum juga laki-laki itu menutup mulutnya, Reihan sudah berlari ke arah gudang belakang. Reihan langsung membuka pintu gudang dan tampaklah Mily yang sedang berjongkok menyender pada rak besi.
“Kamu gak apa-apa?” tanya Reihan sembari menangkup kedua tangannya diwajah Mily. Reihan tak menyadari ada sosok lain yang kala itu berdiri dibelakangnya.
“Aku gak apa-apa..” jawab Mily.
“Aku pergi dulu..” seru Mike. Wajahnya berubah merah padam karena melihat perlakuan Reihan pada Mily barusan.
Reihan menatap wajah Mike dengan serius. ‘Mungkinkah terjadi sesuatu diantara mereka barusan?’ gumam Reihan didalam hati.
Reihan membantu Mily berdiri sedang Mily tampak seperti canggung padanya. Sepertinya gadis itu mengetahui apa yang dipikirkan Reihan. “Reihan, kamu jangan khawatir. Tidak terjadi apa pun antara aku dan Mike.. kami berdua hanya kebetulan terkunci disini..” Mily menjelaskan.
Reihan tersenyum. Didalam hatinya jelas saja dia hanyalah laki-laki biasa yang mempunyai rasa curiga dan cemburu. Apalagi dirinya sendiri tahu kalau Mily dan Mike terkunci hanya berdua di gudang itu ditambah lagi sikap Mily yang sedikit aneh.
“Aku percaya sama pacar ku sendiri..” seru Reihan sembari menegaskan kata ‘pacar’ dalam kalimatnya.
Kedua orang itu tampak tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Tidak ada pembicaraan lagi diantara mereka.
**
Malam hari setelah Reihan mengantarkan Mily pulang kerumahnya, laki-laki itu masih tetap terdiam didalam mobilnya. Tidak beranjak sedikit pun. Reihan mengambil sebuah Ipad dari kursi belakang mobilnya dan menyalakan Ipad miliknya. Sebuah pesan tampak bertengger disana. Hatinya mulai tak karuan.
Dia membuka pesan dari Matthew. Sebuah video terputar di Ipad itu. Reihan mengepalkan tangan kanannya. Rahang laki-laki itu mengeras. Tak lama ponselnya berbunyi. “Tuan, saya sudah mengirim video kamera pengawas dari gudang. Apa anda sudah melihatnya?” tanya Matthew di telepon.
“Hmm..” jawab Reihan singkat masih memelototi video Mike dan Mily siang tadi di gudang.
“Apa anda baik-baik saja?” tanya Matthew lagi.
“Aku baik-baik saja Paman jangan khawatir..”
“Apa anda tetap akan mempertahankan gadis itu?” tanya Matthew penasaran. Menurut pria itu apa yang dilakukan Mily sedikit berlebihan terlebih lagi status Mily yang kini adalah pacar Reihan.
“Aku masih akan berusaha Paman.. Baiklah aku tutup teleponnya.. aku mau istirahat..” Reihan langsung menyudahi pembicaraan di antara mereka.
Untuk kesekian kali perasaannya terluka. Rasanya sangat sakit. Terlebih jika kamu sudah begitu menyayangi seseorang dan orang itu berbohong padamu. Tapi kamu yang berusaha untuk tulus mencintainya dikhianati begitu saja.
**
Mily meminta ijin pada atasannya dan bergegas pergi ke kontrakan Reihan. Gadis itu khawatir karena hari itu Reihan tak masuk kerja tanpa alasan yang jelas. Mily berlari naik ke tangga besi dan saat sampai di depan kamar Reihan, gadis itu melihat Reihan tengah asyik mengecat kamarnya.
Beberapa noda cat berwarna putih menempel diwajahnya. Laki-laki itu tak menyadari Mily tengah berdiri di belakang. “Reihan..” panggil Mily pelan. Laki-laki itu sama sekali tak menyahut, tetap asyik melakukan aktifitasnya.
“Reihan...” teriak Mily lagi sembari memukul pelan pundak Reihan membuat laki-laki itu setengah terkejut.
Reihan melepas earphone yang terpasang dikedua telinganya. “Kamu kenapa ada disini? Kamu gak kerja?”
“Aku ijin.. kamu dari tadi aku panggil gak nyahut sama sekali..” protes Mily.
“Hahaha.. maaf-maaf.. aku pakai earphone..”
“Kamu khawatir sama aku?” tanya Reihan sembari mendekatkan wajahnya ke depan wajah Mily sangat dekat sampai ujung hidung mereka nyaris menempel. Mily mundur sedikit kebelakang. Gadis itu teringat kejadian kemarin siang di gudang saat Mike menciumnya.
“Hei apa yang kamu pikirkan?” Reihan membuyarkan lamunan Mily.
“Gak.. aku gak mikirin apa-apa..” jawab Mily pelan.
“Kalau gitu bantu aku mengecat sebelah sini..”
Mily datang menghampiri Reihan yang saat itu sudah berjongkok mengaduk cat diember kecil. Tanpa aba-aba, Mily sudah mengambil kuas dan mencelupkannya ke tempat cat. Mengusap perlahan kuas itu di atas permukaan dinding kamar Reihan.
Reihan termenung sesaat melihat Mily yang tengah mengecat dinding kamarnya. “Apa yang harus aku lakukan untuk bisa mendapatkan hatimu?” tanya Reihan tiba-tiba membuat Mily menghentikan usapan kuas di dinding.
Mily tak menoleh sedikit pun. Gadis itu tahu apa maksud dari pertanyaan Reihan barusan. Hubungannya dan Reihan sungguh sangat menyiksanya. Didalam hatinya sama sekali tak ada tempat untuk pemuda itu. Seberapa baik Reihan padanya, hatinya selalu mengatakan ‘aku tidak mencintainya.’
Perlu beberapa saat sampai akhirnya Mily bisa berbicara. Gadis itu memutar otaknya. Memikirkan cara agar ucapannya tak menyakiti Reihan. “Kamu bisa meminta bantuan dokter untuk melakukan operasi dan mengambil ‘hati’ ku...” jawabnya dengan nada bercanda sembari berjongkok disebelah pemuda itu.
“Kamu tahu betul bukan itu yang aku maksud..” ucap Reihan. Tak ada tawa diwajahnya sekalipun gadis dihadapannya mencoba membuat candaan.
“Bagaimana kalau kita berdua menikah?” tanya Reihan lagi. Mily menatap wajah Reihan tak percaya. Hubungan mereka baru saja berjalan sekitar dua minggu dan kini laki-laki itu sudah membicarakan pernikahan dengannya. Bukan hal seperti itu yang diharapkannya.
‘Bagaimana bisa ada pernikahan tanpa adanya rasa cinta?’ seru Mily dalam hati.
“Re-Reihan.. kenapa kamu tiba-tiba membicarakan pernikahan?” tanya Mily dengan senyum yang dipaksakan.
“Aku hanya ingin kamu menjadi milikku satu-satunya.. aku tidak ingin kamu memikirkan orang lain, siapa pun itu..” Reihan menatap gadis didepannya dengan raut wajah serius, membuat Mily kelabakan. Mily menduga sepertinya Reihan tahu tentang perasaannya.
“Memang siapa juga yang aku pikirin.. aku gak lagi mikirin siapa-siapa kok..” ucap Mily. Gadis itu tahu betul ada celah dalam ucapannya barusan.
“Hanya kamu sendiri yang tahu betul siapa yang sedang kamu pikirkan..” ucap Reihan tersenyum kecil. Bibir Mily terasa terkunci tak bisa berbicara lagi. Ucapan Reihan barusan seperti memiliki makna yang tersembunyi.
“Nak Reihan.. nak Reihan.. tolong bantu..” seru kakek tua si pemilik toko kelontong memanggil-manggil namanya dengan raut wajah panik.
“Ada apa Kek?” Reihan langsung berjalan menghampiri kakek tua yang mendatanginya dengan tergopoh-gopoh.
“Tolong bantu.. tolong bantu...” seru kakek itu lagi.
“Kakek tenang dulu... coba cerita pelan-pelan ada apa?” Reihan mengelus pelan punggung kakek tua itu.
“Istri Kakek..” serunya terbata.
“Nenek? Nenek kenapa? Apa terjadi sesuatu dengan Nenek?” tanya Reihan yang juga mulai khawatir.
Sang kakek tak menjawab dan hanya menunjuk ke arah tangga. Reihan langsung berlari menuruni tangga dan masuk melewati toko. Kemudian terlihat pintu yang menyekat antara toko dan tempat tinggal kakek itu terbuka lebar. Laki-laki itu langsung masuk tanpa permisi. “Nek... nek.. nek..” panggilnya sembari berjalan kesana kemari.
Tak lama matanya melihat satu sosok tengah terkapar di lantai tak sadarkan diri. “Astaga nenek kenapa?” seru Mily yang baru saja datang sembari memapah sang kakek.
“Mily, ini kunci mobilku. Buka pintunya, aku akan menggendong nenek..” seru Reihan sembari memberikan kunci mobilnya.
“Kek.. Kakek tetap disini ya.. urus dulu penutupan tokonya, aku akan membawa Nenek kerumah sakit.. Kakek jangan khawatir.. Nenek pasti akan baik-baik saja..” ucap Reihan pada sang kakek.
Laki-laki itu langsung membopong istri sang kakek sedang Mily sudah bersiap di samping mobil. “Reihan aku ikut ya..” pinta Mily yang juga merasa khawatir.
“Jangan.. kamu disini saja dulu.. bantu kakek menutup toko nanti tunggu kabar dari aku.. kalau sampai nenek dirawat kamu pesan taksi untuk kerumah sakit..” ucap Reihan terburu-buru. Mily mengangguk mengerti.