
Mily terus tertunduk melihat jam tangannya. Sudah sedari tadi tak ada pembicaraan apa pun diantara dirinya dan Reihan. Pria itu terlihat sangat fokus melihat jalanan sampai membuatnya tak berani berucap. Suasanya yang benar-benar canggung.
“Reihan..” panggil Mily pada akhirnya.
“Kita bicara nanti dirumahmu saja ya.. sebentar lagi sampai..” potong Reihan.
Mau tak mau Mily menurut saja dan memilih untuk tak melanjutkan ucapannya. Pria yang berada disebelahnya seolah tahu apa yang ingin dibicarakannya dan sengaja mengulur waktu.
Tak lama mobil berhenti tepat di depan rumah Mily. Reihan langsung keluar dari mobil dan berjalan memutar ke arah Mily membukakan pintu mobil agar gadis itu bisa keluar.
“Ayo kita bicara didalam..” seru Reihan sembari menutup pintu dan langsung memegang lembut pergelangan tangan Mily.
Raut wajah Mily terlihat sangat terkejut saat melihat sesosok yang dirinya kenal tengah duduk di sofa rumahnya.
“Mily, kenalkan ini papaku.. Aku ingin memperkenalkanmu secara resmi sebagai calon istriku..”
“Re-reihan..” Mily tampak terbata dan bingung dengan apa yang harus dirinya katakan saat itu. Semua kejadian benar-benar diluar pikirannya. Dirinya sama sekali tak menyangka Reihan akan membawa papanya untuk bertemu dengan kedua orang tuanya tanpa meminta persetujuannya terlebih dahulu.
Mama Mily yang juga duduk disofa, tepat didepan papa Reihan terlihat muram. Wanita itu menatap dengan sendu wajah putrinya sesaat lalu menundukkan kepalanya.
“Ehm.. sayang.. kemari.. duduk disini..” seru papa Mily mencoba mencairkan suasana yang terasa sedikit menyesakkan itu.
Mendadak atmosfer dalam ruangan itu berubah sedikit mencekam. Mily terdiam dan melayang dengan pikirannya sendiri.
“Saya datang kesini seperti yang tadi saya katakan.. putra saya satu-satunya ini sangat menyukai putri anda, Mily. Dan saya memiliki maksud untuk meminta putri anda agar menjadi menantu saya..”
“Sa-saya..” papa Mily tampak bingung harus berkata apa.
“Anda jangan khawatirkan masalah biaya.. semua akan ditanggung oleh saya.. bahkan gedung pun saya sudah memesannya.. kedua anak kita tinggal menyiapkan sisanya.. dan saya sudah memilih tanggal yang baik untuk melangsungkan pernikahan putra-putri kita..”
“Tanggal berapa?” tanya papa Mily pasrah.
“Minggu depan, tanggal delapan belas..”
Papa Mily dan istrinya nampak terkejut bukan main dengan apa yang baru saja didengarnya. Seolah tak percaya, begitu juga dengan Mily yang sedari tadi ikut menyimak namun tak tahu harus meluapkan pikirannya dengan cara seperti apa.
“Reihan.. bisa kita bicara sebentar dikamar?” bisik Mily pelan.
Reihan mengikuti Mily yang berjalan masuk ke kamar. Gadis itu langsung menutup pintu kamarnya rapat-rapat.
“Ada apa? Kenapa kamu terlihat tegang sekali?” tanya Reihan berusaha menutupi seluruh perasaan cemas dihatinya. Takut-takut Mily akan berubah pikiran setelah pertengkaran kecil yang terjadi diantara mereka berdua beberapa hari yang lalu.
“Reihan kenapa kamu tidak memberitahu ku kalau papa mu akan datang kesini?” tanya Mily menutupi seluruh emosinya.
“Ah.. bukannya aku sudah mengirim pesan padamu? Kalau kamu lupa anggap saja sebagai kejutan.. dan aku juga ingin meminta maaf masalah pertengkaran kita yang kemarin.. aku yang salah.."
“Lalu tentang apa?” tanya Reihan masih pura-pura tak mengerti.
Mily nampak menggigit bibir bawahnya pelan. “Ada sebuah dunia kecil dimana hanya ada dua orang yang tinggal didunia kecil itu. Orang pertama dengan sifatnya yang selalu menyembunyikan perasaannya dan tak bisa jujur pada diri sendiri demi membahagiakan orang lain. Sedangkan orang yang kedua adalah orang yang selalu mengutarakan isi hatinya sekalipun itu akan menyakiti orang lain.. namun dia adalah orang yang jujur pada dirinya sendiri.. Kamu.. lebih suka orang yang mana dari kedua orang itu?” tanya Mily sembari menatap lekat-lekat mata Reihan.
Reihan terdiam sesaat. Jawaban dari pertanyaan yang di ajukan Mily barusan semua memberatkannya. “Aku memilih orang pertama..” jawabnya santai.
Mily tersenyum. “Bukankah kamu egois jika memilih orang yang pertama?”
“Kenapa aku egois?” tanya Reihan.
“Aku sudah bilang orang pertama memiliki sifat dimana dia selalu menyembunyikan perasaannya dan tak bisa jujur pada diri sendiri demi membahagiakan orang lain..”
“Lalu?”
“Itu tandanya kamu sama sekali tidak peduli dengan apa yang sebenarnya menjadi kebahagiaan si orang pertama.. kamu hanya peduli bagaimana si orang pertama membuatmu bahagia sekalipun apa yang diutarakannya padamu berbeda dengan apa yang ada didalam hati dan pikirannya.. demi membuatmu bahagia si orang pertama akan berbohong dan menghadapi rasa sakit yang mungkin menerpanya setiap kali dia menentang kejujurannya..”
“Kalau aku mengganti jawabanku dengan memilih orang kedua, apa yang akan terjadi?”
“Kamu harus bersiap untuk menerima semua kejujurannya dan mungkin itu bisa menyakiti perasaanmu.. tapi rasa sakit yang kamu terima bisa menjadi kebahagiaan untuk si orang kedua.. anggap saja kamu sedang melakukan sedikit pengorbanan..”
“Kalau aku bilang aku tetap akan memilih si orang pertama dan menjadi orang yang egois.. apa aku terlalu kekanak-kanakan?”
“Reihan..aku..”
“Kata ‘Egois’ ku pikir kurang tepat untuk mengekspresikan perasaan takut kehilangan..” Reihan memotong ucapan Mily. “Aku akan memberimu waktu dua hari untuk berfikir..” lanjutnya pelan sembari pergi meninggalkan Mily.
**
Mike berulang kali mencoba menghubungi Mily namun tetap tak bisa. Ponsel gadis itu sama sekali tak bisa dihubungi membuat Mike semakin gelagapan. Pikirannya sudah berkecamuk memikirkan banyak kemungkinan yang terjadi. Belum lagi perihal Reihan yang dengan sengaja menjemput Mily di vila.
Mike mengetuk pintu rumah Mily dengan tak sabar, berharap gadis itulah yang akan membuka pintu. “Sebentar.. sebentar..” terdengar suara papa Mily dari dalam rumah dan tak lama pintu rumah terbuka.
“Mike?” tanya papa Mily bingung.
“Om.. apa Mily ada dirumah?”
“Ada.. ada.. kamu masuk dulu.. ada yang om dan tante ingin bicarakan denganmu..” seru papa Mily.
Mendengar kalimat itu jantung Mike semakin berdegup tak karuan. Pasti telah terjadi sesuatu sebelum dirinya sampai dirumah itu.
Mike terduduk disofa namun sepasang matanya terus mengawasi pintu kamar Mily yang tertutup. “Pa.. papa saja yang ceritakan.. mama benar-benar pusing..” ucap mama Mliy dengan suara yang lemas.