
##
Melihat gerakan mencurigakan dari satu orang yang mencoba menyerang dari arah belakang pak Ren.
Xavier dengan sangat terburu-buru keluar dari dalam mobil dan langsung berlari ke arah salah satu perampok dari arah belakang.
" Mati..!! " decak salah satu perampok yang bernilai memukul pak Ren dari arah belakang.
Namun gerakan orang tersebut malah disambut dengan tendangan bebas Xavier yang berlari dengan sangat cepat dan melompat tinggi menerjang bebas ke arah pria tersebut.
" Brakk...!!!
" Gedebukkk...!!
Pria tersebut yang menerima tendangan bebas dari Xavier yang mengarah langsung ke arah leher sang rampok hingga terdengar suara retakan tulang leher, pria tersebut tersungkur di aspal dan langsung tak sadarkan diri.
" Huh.!!!"
" Cih, Untuk saja gue dulu berpengalaman nangkep maling ayam dan adu jotos sama copet di mikrolet " ujar Xavier yang tersenyum puas setelah membuat salah satu anggota rampok tersebut jatuh pingsan.
Sedangkan pak Ren dan kedua rekan pria yang ditendang Xavier, hanya bisa ternganga melihat kebar- baran Xavier.
" ck!, sialan..!!" teriak salah satu rekan dari perampok yang di buat pingsan oleh Xavier.
Salah satu pria yang menyerang pak Ren pun berlari menuju Xavier dengan melayang kan tinju nya.
" nona Xavier..!! " pak Ren segera memperingati Xavier untuk menghindar.
Xavier langsung memalingkan wajahnya untuk menghindari pukulan dari rampok lainya.
Xavier segera mengambil jarak dari pria yang mencoba menyerang nya.
" Bukk...!
Perampok tersebut mencoba untuk kembali memukul kepala Xavier namun langsung ditangkis dengan tangan Xavier.
" Bukkk..!!
" Bakkk...!!
Pria tersebut kembali menyerang dengan tendangan kaki, namun kembali dapat dihindari dengan gerakan gesit Xavier.
Beberapa gerakan kembali di lancarkan oleh perampok tersebut namun Xavier masih sanggup menghindari semua serangan perampok tersebut.
Sedangkan pak Ren yang melihat kejadian tersebut mencoba untuk membantu Xavier namun dihalangi oleh satu perampok lainnya yang masih menghadang nya.
" sial!, kalau bukan karena kakiku terkilir, aku pasti bisa menghadapi cecungguk ini dengan mudah " batin pak Ren yang kesal sekaligus khawatir dengan keadaan Xavier yang sekarang juga melawan satu anggota perampok.
Di sisi Xavier juga masih menghindari semua gerakan serangan.
Xavier tidak melakukan gerakan balasan karena masih memperhatikan arah gerakan beladiri lawannya.
" sekarang..!!" melihat kelemahan dari pergerakan serangan lawannya, segera Xavier mulai melakukan gerakan perlawanan.
" Bukkk..." Xavier mengarahkan tendangannya ke arah pinggang lawannya dan berhasil mengenai target.
Melihat keterkejutan lawan, Xavier segera memanfaatkan kondisi tersebut dengan gerakan salto memutar dan tendangan kakinya menghantam kearah rahang perampok tersebut.
" Brakkk...!!"
" Ugh..!!"
" argggh...!!" suara kesakitan yang mencoba ditahan keluar dari perampok tersebut.
Xavier langsung kembali memasang kuda-kuda untuk memasang pertahanan.
Sedangkan perampok terlihat mengeluarkan darah segar dari mulutnya.
Nampak seperti pria tersebut masih mencoba kembali berdiri dan menatap tajam kearah Xavier, walaupun perampok tersebut masih menahan sakit di rahangnya.
Sedangkan pak Ren masih berkelahi dengan serius melawan satu rampok lain.
Xavier sendiria sebenarnya tidak menguasai aliran beladiri apapun, dia hanya mengunakan beladiri seadanya yang ia pelajari secara otodidak untuk berjaga jaga saat menjadi Kiara di masa lalu.
Karena saat hidup Kiara dahulu sangat pas-pasan membuat ia sering menggunakan transportasi umum, hingga sering mengalami pencopetan atau dipalak preman.
Hal-hal yang tidak enak tersebut lah yang membuat Xavier sedikit belajar beladiri hanya untuk menjaga diri.
Rampok yang di hadapi oleh Xavier terlihat sudah sangat tersulut emosi.
Rampok tersebut terlihat merogoh kantong nya dan mengeluarkan belati.
" gawat dia bawah senjata lagi !!" Xavier mulai sedikit panik.
" sepertinya kamu harus mati kali ini gadis kecil " ujar perampok tersebut yang mulai mengarahkan belatinya ke arah Xavier.
Xavier sedikit melangkah mundur melihat perampok tersebut mulai menyerang mengunakan senjata tajam.
Sedangkan pak Ren sudah mulai memenangkan pertarungan nya, lawannya pun terlihat mulai terpojok.
Namun saat pak Ren melihat kearah Xavier yang mulai terancam membuat ia mulai gelisah.
" ****!!, harus segera diakhiri " ucapnya.
Sedangkan di sisi Xavier masih dengan gerakan menghindari serangannya senjata tajam dari rampok.
Xavier kali ini hanya bisa mundur dan terus mencoba menghindari semua serangan dari rampok tersebut.
" Mau sampai kapan kau menghindar !!, gadis manis !" Geram rampok tersebut yang kesal karena Xavier selalu berhasil menghindari semua serangan nya.
Xavier sendiria sudah mulai kelelahan menghadapi serangan rampok tersebut.
perampok tersebut mulai mengarahkan belatinya ke arah perut Xavier, dan karena sedikit lengah Xavier tersandung batu saat mencoba menghindari belati yang diarahkan ke perutnya.
" Brukk.."
" arkhkk.."
" hehehe, sekarang kau tidak bisa lari lagi nona manis " ucap perampok tersebut.
" Gawat..!!"
Namun saat Xavier mulai sedikit frustasi dan terpojok, tiba tiba muncul sepeda motor yang berhenti saat melihat adegan perkelahian tersebut.
Melihat Xavier yang sudah tidak bisa menghindar lagi, rampok tersebut segera mengayunkan belatinya ke arah Xavier.
" Mati..!!"
" Brukkkk.."" sebuah tendangan tiba tiba menghantam tangan rampok tersebut dan membuat belati yang berada di tangannya terlepas.
" Bajingan..!!" geram rampok tersebut.
" Sungguh tidak tahu malu, menyerang seorang wanita " ujar pria tersebut kearah rampok itu.
Sedangkan Xavier yang awalnya menutup matanya segera membuka matanya karena mendengar suara yang cukup familiar di telinga nya.
Xavier memandang sosok pria yang menyelamatkan nya yang sedang berdiri di hadapannya.
Xavier sangat familiar dengan wajah pria yang menolongnya itu.
" Jevano ..!!" ujar Xavier menyebutkan nama penolong nya tersebut.
Sedangkan Jevano yang mendengar namanya disebut hanya menoleh singkat kearah Xavier dengan senyum tipis.
" Kamu baik baik saja ?" sahut Jevano yang masih berdiri berhadapan dengan rampok yang memandang dengan geram.