
Keana baru keluar dari kantor tepat disaat Rafael tiba di depan kantornya, mereka berdiri menatap satu sama lain untuk waktu yang lumayan lama. Keana maupun Rafael sama-sama terjebak dalam pikiran masing-masing sampai Juna datang.
"Audie, bisa kita pergi sekarang?" Juna tiba-tiba saja menggandeng tangan Keana dan membuat Keana melotot. Masalahnya Juna menggandeng tangan Keana di depan Rafael, itu benar-benar tidak baik mengingat yang terjadi minggu lalu.
"Ana, aku ingin bicara." Ucap Rafael yang hanya memberi tatapan tidak bersahabat kepada Juna. Rafael bisa saja memberi Juna pelajaran seperti yang sebelumnya dia lakukan, tapi Rafael takut hal itu akan semakin membuat Keana marah.
Keana berdiri di tempatnya tanpa mengatakan apapun dan perlahan menurunkan tangan Juna dari tangannya. Keana tidak ingin Rafael salah paham. Meskipun hubungan mereka hanya sebatas sahabat, tapi Keana mencintai Rafael.
Rafael melihat apa yang di lakukan tangan Keana dan diam-diam tersenyum, Rafael senang Keana menolak tangan Juna. Itu artinya mereka memang tidak memiliki hubungan apapun, Rafael saja yang kemarin terlalu emosional dan cemburuan.
"Kalau kamu bersedia, kita bisa bicara sambil makan." Sambung Rafael melihat Keana terdiam tanpa menanggapi perkataan sebelumnya. Dia menatap Keana penuh harap, lain halnya dengan Juna yang menatap tajam kepada perempuan itu.
Juna keberatan jika Keana makan malam bersama laki-laki di depannya. Lagipula Juna sudah lebih dulu mengajak Keana makan malam di rumahnya. Juna seperti memberi Keana peringatan supaya tidak menerima ajakan makan malam dari Rafael.
"Maaf, nona Audie sudah memiliki janji dengan saya." Ucap Juna menyela Keana yang hendak membuka mulutnya, dia menatap Keana seolah menyuruh perempuan itu untuk membenarkan perkataannya. "Benar bukan, Audie?" Tekannya.
Rafael mendengus, Juna terlihat sedang memaksa kehendaknya terhadap Keana. Tidak salah Rafael tidak menyukai Juna saat mereka kuliah, laki-laki kaya memang kebanyakan sombong, arogan dan pemaksa. Tentu Rafael bukan bagian dari mereka.
Rafael adalah anak dari tangan kanan Lee Jung Hwa, ayah kandung Keana. Mungkin orang lain berpikir menjadi tangan kanan pengusaha besar berarti termasuk keluarga terpandang. Tapi hal itu tidak dirasakan oleh Rafael dan keluarganya.
Buktinya Jung Hwa sengaja menjadikan Amelia batu penghalang antara Rafael dan Keana. Ya, Rafael tahu betul orang dibalik perjodohannya dengan Amelia bukan orang tuanya, melainkan Jung Hwa. Mungkin supaya Rafael sadar diri.
"Rafa ..."
"Sebentar saja. Ana, kita tidak pernah seperti ini sebelumnya. Aku tahu aku salah, tapi aku mohon jangan lakukan ini padaku. Jangan menghindar lagi, beri aku kesempatan untuk bicara." Ucap Rafael dengan cepat memotong perkataan Keana.
"Tidak apa-apa kalau memang kamu dan laki-laki ini sudah memiliki janji, setidaknya tolong beri aku kesempatan untuk bicara dan meminta maaf padamu." Ucap Rafael yang melanjutkan kalimat sebelumnya. Erina menatap Rafael dengan sendu.
"Audie ..."
"Pak, saya akan pergi ke mansion anda setelah urusan saya disini selesai." Kali ini Keana yang memotong perkataan Juna. Dia merasa memang ada hal yang perlu dibicarakan dengan Rafael. Keana juga merasa dirinya harus meminta maaf.
"Baiklah, sampai bertemu nanti malam." Juna terpaksa mengalah dan meninggalkan tempat itu, dia sempat menatap Rafael dengan mata elangnya sebelum benar-benar pergi. Rafael hanya memutar mata malas karena hal itu.
Keana menatap kepergiaan Juna, entah kenapa dia merasa bersalah hanya dengan menatap punggung Juna yang semakin menjauh. Keana tidak bermaksud apapun, tapi memang bukan sekarang juga mereka janji untuk makan malam.
"Rafa, aku minta maaf sudah menampar kamu malam itu." Ucap Keana pelan saat Rafael masih menatap kepergian Juna. Sebenarnya kalimat itu sudah lama ingin Keana katakan. Tapi berkat egonya, Keana baru mengatakan itu sekarang.
Rafael tersenyum dan menatap Keana. Bukan senang Keana meminta maaf, Rafael tersenyum karena akhirnya bisa menatap langsung wajah perempuan yang dicintainya. Rasanya sudah lama Rafael tidak menatap Keana seperti sekarang.
"Rafa, apa yang ingin kamu bicarakan?" Keana kembali bicara karena Rafael terus diam sambil menatap padanya. Bukan apa-apa, Keana merasa salah tingkah ditatap Rafael seperti itu. Terlebih Rafael menatapnya tanpa berkedip sedikit pun.
Keana yakin wajahnya sudah memerah sekarang dan itu karena Rafael terus menatapnya. Mungkin saja wajah Keana sudah mirip dengan kepiting rebus. Keana berusaha untuk tidak menatap wajah Rafael supaya tidak merasa gugup.
"Aku merindukanmu." Ucap Rafael menjawab pertanyaan Keana. Selain ingin meminta maaf, Rafael juga ingin mengatakan bahwa dirinya merindukan Keana dan setiap momen yang mereka lalukan bersama sebelum bertengkar.
"Ana, aku tahu malam itu aku tidak seharusnya mengatakan hal buruk padamu. Tapi kamu juga harus tahu, aku tidak suka kamu menghindariku dan pergi bersama bosmu." Ucap Rafael. Dia pikir ini momen yang tepat untuk jujur kepada Keana.
"Rafa, sebaiknya kita bicara di tempat lain ..."
"Tidak perlu. Kalau pergi ke tempat lain, mungkin aku tidak punya kesempatan untuk mengatakan ini. Aku tidak suka kamu menghindariku dan dekat dengan bosmu karena aku mencintaimu." Ucap Rafael menjelaskan perkataan sebelumnya.
Keana spontan menatap Rafael. Terlihat jelas perempuan itu terkejut mendengar pengakuan Rafael barusan. Keana merasa harus menyusun kembali perkataan Rafael di ingatannya, takut yang di dengarnya tadi hanya ilusi semata.
"Rafa!" Suara itu menginterupsi lamunan Keana, seorang perempuan menghampiri mereka dan langsung bergelayut pada lengan Rafael. Hal itu membuat kedua manusia yang sedang terlibat pembicaraan serius menatap padanya, Amelia.
Amelia menatap Keana tidak suka, sejak awal dia sudah menganggap Keana sebagai musuh cintanya. Terlebih sekarang Amelia memergoki Rafael menemui Keana, sepertinya Rafael belum juga bisa move on dari cintanya kepada Keana.
"Tadi mamah kamu menelpon dan menyuruh kita untuk memesan cincin pernikahan." Ucap Amelia sengaja menekankan setiap kata supaya Keana mendengarnya dengan jelas. Keana yang tidak tahu apapun hanya menatap kearah Rafael.
"Kamu sudah meminta maaf kepada sahabatmu kan? bagaimana kalau kita pergi sekarang, hm?" Amelia tidak membiarkan Rafael bicara apapun kepada Keana dan sengaja membuat fokus Rafael terpecah. Keana mengepalkan tangan karena itu.
"Rafa, aku duluan." Ucap Keana pada akhirnya, dia tidak cukup kuat untuk melihat kemesraan Rafael dan Amelia. Ya, meskipun sebenarnya tidak pantas disebut mesra karena hanya Amelia yang manja terhadap Rafael, tapi Keana tidak kuat.
Keana pergi dari tempat itu dengan tubuh yang sedikit bergetar. Barusan Amelia mengatakan tentang cincin pernikahan, itu artinya Rafael akan menikah. Tapi, kenapa Rafael tidak pernah menceritakan itu sebelumnya? kenapa?!
"Sudah selesai?" Tanya seseorang menghentikan langkah Keana. Dia berbalik dan melihat Juna tepat di hadapannya. Entah sejak kapan laki-laki itu berada disana, yang Keana ketahui Juna sudah lumayan lama pergi. Keana berdehem sejenak.
"Pak Juna, anda belum pulang?" Tanya Keana tanpa menjawab pertanyaan Juna padanya. Juna berdecak dan menarik tangan Keana begitu saja. Sebenarnya Juna tidak benar-benar pergi, Juna memperhatikan Keana dan Rafael dari kejauhan.
"Pak, ada apa? bukankah nanti kita akan makan malam bersama? saya harus pulang dan bersiap sekarang!" Ucap Keana berusaha melepaskan tangan Juna darinya, tapi tenaga Juna tidak sebanding dengan tenaga yang Keana miliki.
Keana hanya pasrah tangannya ditarik oleh Juna sampai mereka berdua tiba di parkiran kantor. Bahkan Keana tidak menolak saat Juna menyuruh dirinya masuk ke dalam mobil. Kemudian Juna menyusul Keana masuk ke dalam mobil sportnya.
"Pak ..."
"Kamu hanya perlu mengikuti saya." Ucap Juna menyela perkataan Keana, lalu melihat keluar kaca mobil. "Kita pulang ke mansion sekarang." Lanjut Juna beralih kepada pak Budi yang sudah mulai memanaskan mesin mobil sport hitam itu.
"Baik, tuan." Sahut pak Budi langsung melajukan mobilnya ke tempat tujuan. Pak Budi melirik ke kaca spion dan menyimpulkan ada sesuatu yang membuat Juna kesal. Dan sepertinya Keana yang menjadi alasan dibalik kekesalan tuan mudanya.
Keana menarik nafas dan menghebuskannya secara perlahan, dia ikut melihat ke luar kaca mobil yang ada di sampingnya. Keana teringat perkataan Rafael dan hal itu membuatnya ingin tertawa. Lebih tepatnya mentertawakan dirinya.
Keana harus menerima kenyataan Rafael akan menikah dengan perempuan lain, bertepatan dengan pernyataan cinta laki-laki itu. Keana melamun sepanjang perjalanan menuju mansion Juna sampai akhirnya Juna mengajaknya bicara.
"Apa yang sudah kalian bicarakan?" Tanya Juna tanpa melihat lawan bicaranya. Sementara Pak Budi tidak berani menyapa kedua orang yang ada di belakangnya dan memilih untuk diam. "Kamu sepertinya merasa sangat bahagia sekarang."
Keana tertawa, lebih tepatnya mentertawakan perkataan Juna. Bisa-bisanya Juna berasumsi seperti itu, apa memang wajah Keana sekarang menunjukan kebahagiaan? Keana bahkan tidak tahu harus merasa bahagia atau sedih sekarang.
"Apa Rafael menyatakan cintanya padamu?" Juna kembali melempar pertanyaan, kali ini laki-laki itu menatap Keana yang sedang fokus melihat jalanan masih dengan tawa yang tersisa. "Kalau begitu selamat." Sambungnya setengah hati.
"Selamat?" Keana kembali tertawa dan menatap Juna yang juga sedang menatap padanya. Dia tidak tahu darimana datangnya pikiran dangkal bosnya. "Rafael hanya mengatakan kalau dia mencintaiku dan akan menikahi wanita lain."
Setelah itu tidak ada lagi pembicaraan, Keana dan Juna sibuk dengan pikiran masing-masing. Begitu juga dengan pak Budi yang masih terdiam disana, berusaha tetap fokus menyetir. Tidak lama mobil yang mereka naiki berhenti di depan mansion.
"Audie, kamu bisa mandi dan berganti pakaian di dalam. Mungkin para maid sedang menyiapkan makan malam kita." Ucap Juna sebelum keluar dari mobil dan meninggalkan Keana yang masih terdiam di tempatnya. "Ternyata dugaanku salah."
Juna tersenyum mengetahui Rafael akan menikah dengan perempuan lain, itu artinya tidak ada yang perlu di khawatirkan. Sepertinya malam ini akan menjadi momen yang tepat untuk meminta Keana menjadi istrinya di depan keluarganya.
Malam harinya Keana benar-benar makan malam bersama keluarga Juna. Perempuan itu terlihat cantik memakai gaun pemberian Juna, mini dress berwarna putih dengan rambut yang terurai. Juna saja sampai terpesona melihat sekretarisnya.
Keana jarang sekali memakai gaun, di kantor saja perempuan itu lebih suka memakai celana. Jadi tidak heran Juna terpesona melihat penampilan Keana yang sedikit berbeda. Keana tersenyum canggung melihat tatapan orang-orang padanya.
"Audie, benar itu kamu? kamu cantik sekali malam ini." Ucap Erina yang memuji penampilan Keana, sekretaris anaknya sekaligus mantan calon menantunya. Kalau Joanna meninggal, Erina ingin sekali Keana menjadi menantunya.
Arumi sudah cerita tentang Juna yang membawa Keana ke apartemen. Dibandingkan memberi Juna pelajaran, Erina malah merasa hal itu adalah awal yang baik supaya Juna bisa cepat melupakan Joanna sebelum mantannya itu meninggal.
Ya, Erina sudah tahu Joanna menderita penyakit yang sangat berbahaya. Erina berpikir untuk membuat Juna melupakan Joanna karena atas permintaan Joanna, perempuan itu tidak bisa diajak bicara untuk melakukan pengobatan.
"Juna, bagaimana pendapatmu?" Tanya Erina pada anak laki-lakinya. Keana hanya menunduk karena malu. Bisma dan Arumi menggelengkan kepala mereka. Sementara Juna menatap Keana sebelum akhirnya menjawab pertanyaan itu.
"Mamah benar."Jawab Juna tanpa memberikan penjelasan hal benar apa yang dirinya maksud. Ada sedikit jeda sebelum Juna kembali bicara. "Sebenarnya aku ingin meminta persetujuan kalian untuk menikahi Audie." Lanjutnya.
Keana dan yang lainnya shock, termasuk Erina. Memang benar Erina ingin Juna move on, tapi bukan berarti Juna harus cepat memutuskan untuk menikahi Keana. Karena Erina takut jika Keana hanya menjadi pelampiasan bagi Juna.
"Apa katamu?" Bukan Erina, melainkan Bisma yang tidak habis pikir dengan yang barusan Juna katakan. Bisma berusaha mengatur nafas supaya tidak emosi. "Sebaiknya sekarang kita makan. Juna, nanti papah ingin bicara denganmu."
~TBC~
Makin gak jelas aja perasaan. Padahal ini udah di edit beberapa kali, hasilnya tetep aja kayak gini. Tapi aku tetep berharap kalian suka novelnya.
Terimakasih sudah membaca It's Okay, That's Fate. Mari berhubungan baik antara penulis dan pembaca. Jangan lupa juga untuk memberi dukungan kalian terhadap karyaku. Makasih 💙
Regards,
Nur Alquinsha A | IG: light.queensha