It'S Okay, That'S Fate

It'S Okay, That'S Fate
IOTF #24



Juna melakukan aktivitasnya seperti biasa, dia berangkat ke kantor dari mansion karena sudah memutuskan untuk kembali tinggal disana. Juna bersyukur mamahnya masih menerimanya untuk tinggal di mansion setelah semua yang terjadi.


Keana tidak mengabulkan keinginan Juna untuk cepat pulang, tapi Juna bisa memaklumi hal itu. Juna sadar, Keana mengangkat telponnya saja sudah menjadi sebuah keberuntungan, jadi dia tidak akan memaksa Keana untuk cepat pulang.


Juna akan berusaha menunggu sampai Keana kembali ke Indonesia. Meski Juna tidak terlalu yakin dirinya akan kuat menahan rindu selama itu, Juna akan berusaha untuk tetap menunggu kehadiran Keana kembali dalam kesehariannya.


"Tolong siapkan berkas untuk rapat hari ini. Saya akan mampir dulu sebentar ke rumah sakit." Juna mengatakan itu kepada Azka di sebrang telpon. Juna mengendarai mobilnya menuju rumah sakit untuk menjenguk Joanna yang dirawat disana.


Eh, Juna masih berani menjenguk Joanna bukan tanpa alasan, Juna sudah mendapatkan izin dari calon istrinya. Juna masih saja kurang peka kalau hal itu membuat Keana cemburu, makanya Juna masih berani untuk meminta izin kepada Keana.


Juna sudah menyatakan perasaannya tadi malam dan memberitahu Keana bagaimana putus asanya dia saat tahu perempuan itu pergi ke Paris, tapi Keana tidak memberi tanggapan akan hal itu, jadi tidak salah kalau Juna masih saja tidak bisa peka.


Juna berpikir Keana tidak memiliki perasaan yang sama dengan dirinya, dia mengira Keana masih mencintai Rafael. Karena saat Juna menyatakan perasaannya, Keana malah diam seribu bahasa sampai Juna harus mengalihkan pembicaraan.


Tapi, hal itu tidak membuat Juna menyerah akan perasaannya terhadap Keana, dia akan berjuang untuk mendapatkan cinta pertamanya. Ya, Juna menyadari kalau bukan Joanna cinta pertamanya, melainkan Keana, temannya di masa kuliah dulu.


"Baik, pak." Sahut Azka dari sebrang sana, setelah itu sambungan telpon mereka terputus, Juna yang mengakhirinya. Azka heran mengapa bosnya itu masih menjenguk mantannya saat calon istrinya sendiri kabur ke Paris, tapi itu bukan urusannya.


"Disana masih jam dua malam, Audie pasti masih tidur." Gumam Juna setelah mengakhiri telponnya dengan Azka. Meskipun tujuannya adalah rumah sakit tempat Joanna di rawat, hati dan pikirannya sekarang hanya tertuju kepada Keana seorang.


Juna memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit, lalu dia keluar dari sana dengan membawa buket bunga. Juna sengaja datang ke rumah sakit bukan sekedar untuk menjenguk Joanna, tapi dia juga ingin memberitahu kabar baik pada Joanna.


Sebelum memutuskan untuk pulang ke mansion kemarin, Juna menyempatkan dirinya datang ke rumah sakit dan memberitahu kepergian Keana pada Joanna. Bahkan, Joanna yang menyarankan supaya Juna menceritakan itu pada keluarganya.


Juna tidak tahu harus bercerita kepada siapa lagi, tidak ada orang dekat yang bisa di percaya untuk itu, banyak orang yang menjauh semenjak berita tentangnya menyebar, termasuk Willis, bahkan Willis sampai mengancam akan merebut Keana.


Juna mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum memasuki ruangan Joanna, ternyata sudah ada Gilang di dalam ruangan itu dan Joanna terlihat sedang merengek kepada Gilang, sepertinya perempuan itu ingin keluar dari ruangannya lagi.


"Juna, untung saja kamu datang. Anna ingin pergi keluar, padahal kata dokter kondisinya semakin memburuk. Tolong kamu nasehati, aku rasa Anna akan lebih mendengarkan perkataanmu daripada aku." Ucap Gilang menyadari kedatangan Juna.


Juna tersenyum mendengarnya, ternyata benar sekali dugaannya. Juna sangat mengenal Joanna, perempuan itu memang suka keras kepala. Juna pernah terpaksa menemani Joanna ke restoran favorit mereka karena Joanna memaksa kesana.


Ingat berita tentang Juna dan Joanna di restoran? saat itu Juna terpaksa menemani Joanna makan disana karena Joanna mengatakan bahwa hal itu adalah permintaan terakhirnya. Katanya, Joanna ingin mengenang momen terakhir mereka disana.


Juna dan Joanna terlihat mesra dalam foto, tapi kejadiannya tidak seperti itu, sebenarnya mereka terlibat pertengkaran, makanya Juna memeluk Joanna supaya perempuan itu tenang. Juna tidak ingin Joanna memikirkan berita tentang mereka.


Joanna tidak sengaja melihat berita yang saat itu sedang tranding, berita itu membawa namanya sekaligus Juna dan Keana, tentu Joanna tidak bisa menahan dirinya untuk tidak emosi, bisa-bisanya Juna membiarkan berita mereka begitu saja.


Joanna mengatakan akan membantu Juna untuk meluruskan kesalahpahaman yang terjadi, tapi Juna menolaknya dan semakin membuat Joanna emosi. Bagaimana pun Joanna juga perempuan, dia tidak bisa membayangkan perasaan Keana.


Singkat cerita, Joanna berniat meninggalkan Juna di restoran, tapi Juna lebih dulu menahannya dan memeluk erat tubuhnya. Lalu, Juna berjanji akan membereskan beritanya dan meminta Joanna untuk lebih memikirkan tentang kesehatannya.


"Kenapa kamu disini? tidak menyusul Audie ke Paris, heh?" Tanya Joanna menyela Juna yang hendak bicara. Juna tersenyum dan mendekati ranjang rawat Joanna, lalu dia menyimpan buket bunga di tangannya keatas meja nakas disana.


"Tidak, Audie memintaku untuk tidak menyusul kesana, tapi kabar baiknya aku dan Audie akan tetap menikah." Ucap Juna memberitahu, karena memang itulah tujuan Juna datang. Joanna ikut tersenyum, Gilang jadi merasa terabaikan disana.


"Juna, kalau saja kamu tahu. Sampai sekarang, aku masih mencintaimu dan hatiku masih terasa sakit mendengar kamu akan menikah dengan Audie, tapi harus bagaimana lagi, aku mungkin hanya ditakdirkan untuk menjaga jodoh orang."


"Anna, hey." Tegur Juna melihat Joanna terdiam, sepertinya kondisi Joanna benar-benar semakin memburuk, tubuhnya saja terlihat semakin kurus dan tidak bertenaga, tapi tadi Gilang mengatakan Joanna masih ingin pergi keluar dari ruangannya.


"Kamu baik-baik saja?" Tanya Juna beberapa detik berikutnya. Joanna mengangguk sebagai jawaban. Juna tahu, Joanna sedang berbohong, bagaimana pun mereka sudah lama pacaran dan Joanna tidak sedang baik-baik saja, Juna mengetahui hal itu.


"Gilang bilang kamu mau keluar, hm?" Tanya Juna kembali dan membuat Joanna menghela nafasnya sejenak. Juna memegang tangan Joanna, saat itu kebetulan Joanna sedang dalam posisi berbaring, lalu Juna kembali bicara. "Mulai bosan di kamar?"


"Hm, aku hanya ingin pergi ke taman rumah sakit, tapi Gilang tidak mau menemaniku, padahal aku sudah memohon padanya." Jawab Joanna lemas, seperti tidak memiliki kekuatan untuk sekedar bicara. Penyakit Joanna memang sudah parah.


"Bukan tidak mau menemanimu, aku hanya tidak ingin keadaanmu semakin memburuk, ingat yang dokter katakan padamu? dokter meminta kamu untuk tetap berada di tempat tidur!" Ucap Gilang membela dirinya dan Joanna hanya mendengus.


"Bagaimana kalau aku saja yang menemanimu ke taman?" Ucap Juna menengahi. Gilang hendak melarang, tapi Joanna lebih dulu mengiyahkan dan membuat Gilang memutar matanya, ternyata Juna dan Joanna sama tidak mendengarkannya.


Setelah itu, Gilang benar-benar meninggalkan ruangan Joanna dan berjalan ke toilet, tersisa Joanna dan Juna di ruangan itu. Juna langsung membantu Joanna untuk duduk di kursih roda, lalu Juna mengambil buket bunga dari nakas.


"Bunga krisan ungu untukmu, aku berharap kamu terus diberi kesehatan." Ucap Juna memberikan bunga di tangannya kepada Joanna dan langsung Joanna terima dengan senang hati, lalu Joanna mencium aroma bunga krisan berwarna ungu itu.


"Terimakasih." Ucap Joanna setelah mencium bunganya. Dia sangat menyukai bunga, apalagi bunga carnation putih, tapi sepertinya Juna tidak mungkin memberikan bunga itu lagi, Keana lebih berhak menerima bunga bermakna cinta itu.


Juna hanya mengangguk, lalu mendorong kursih roda Joanna keluar dari ruangannya. Sebentar lagi Juna harus menghadiri rapat, tapi laki-laki itu masih mau menemani Joanna ke taman rumah sakit. Juna melakukannya sebagai teman Joanna.



Keana membuka matanya saat mendengar ponsel berdering, lalu dia meraba ponsel yang terletak di kasur dan melihat nama yang tertera pada layar ponselnya itu dengan mata mengantuk, ternyata Juna yang menelpon dan mengganggu tidurnya.


"Hallo." Ucap Keana serak khas orang yang baru bangun tidur. Keana mabuk perjalanan kemarin dan sekarang Keana masih mengantuk, tapi tidak bisa mengabaikan telpon dari Juna. Karena sudah berjanji akan saling menghubungi melalui telpon.


"Juna, ayolah aku masih mengantuk. Bagaimana kalau kita bicara nanti saja, hm?" Ucap Keana lagi karena Juna belum juga bicara. Keana berniat mengakhiri telpon mereka, tapi suara Juna lebih dulu menahannya, suara Juna terdengar serak.


"Sayang, Anna pergi." Ucap Juna membuat Keana bingung. Kemarin Juna hanya mengatakan akan menjenguk Joanna ke rumah sakit, Keana tidak mengerti kata pergi yang dimaksud Juna sampai Juna kembali bersuara. "Dia sudah meninggal."


"A-apa?" Keana langsung beranjak dari ranjangnya karena mendengar perkataan Juna barusan, dia terlihat sangat shock mengetahui Joanna sudah meninggal dunia. Keana nyaris tidak mepercayai perkataan Juna. "Ju-juna, kamu bercanda kan?"


"Aku juga berharap Tuhan bercanda, tapi Anna benar-benar sudah meninggal dan nanti sore pemakamannya." Jawab Juna terisak. Keana tidak tahu mengatakan apa sekarang, dia turut berduka, tapi entah mengapa dia merasa lega.


Tidak akan ada perempuan yang bisa tenang saat ada orang ketiga dalam hidupnya. Ya, meskipun Joanna kurang pantas disebut orang ketiga, tapi tetap saja sekarang Juna calon suami Keana dan Keana lebih berhak atas apapun tentang Juna.


Keana tidak suka saat Juna meminta izin untuk menjenguk Joanna di rumah sakit, memberi izin hanya supaya Juna tidak merasa di kekang. Jatuh cinta kadang membuat seseorang serakah dan Keana termasuk dalam orang yang serakah itu.


Keana ingin perhatian Juna hanya untuk dirinya, kalau benar laki-laki itu sudah tidak mencintai Joanna dan mulai mencintainya. Rasanya Keana ingin sekali menegaskan itu, tapi dia harus sadar bahwa nama Joanna masih berada di pikiran Juna.


"Aku butuh kamu, bisa kita melakukan panggilan video sekarang?" Tanya Juna setelah sekian lama mereka saling terdiam. Keana tidak menjawab dan langsung mengalihkan panggilan suaranya menjadi panggilan video, lalu Keana berkata.


"Aku tidak bisa melihat wajahmu." Ucap Keana karena Juna masih menyimpan benda pipih itu di telinga. Juna spontan melihat layar ponselnya, terlihat wajah Keana dengan rambut yang sedikit berantakan karena baru bangun dari tidurnya.


"Maaf, aku pasti mengganggu tidurmu. Aku lupa waktu disana lebih lambat enam jam." Ucap Juna merasa bersalah, terlebih wajah Keana sekarang terlihat kelelahan, tapi tidak bisa dipungkiri Juna merasa kesedihannya berkurang melihat Keana.


Keana malah baru menyadarinya, dia buru-buru merapikan rambutnya itu dan berhasil membuat Juna tertawa. Kadang kekonyolan dari seseorang yang kita sayang memang memberikan hiburan tersendiri, begitupun dengan yang Juna rasakan.


~TBC


Momen Joanna meninggal akan ada dibagian selanjutnya. Ini salam terakhir dari Joanna.





"Dalam hidup, akan ada orang yang mencintaimu melebihi cintanya terhadap dirinya sendiri, tapi tidak akan ada yang mampu menandingi cinta Tuhan padamu. Aku pergi bukan karena Tuhan jahat, justru karena Tuhan sangat mencintaiku. Tuhan tidak tega membiarkanku terus berada diantara kedua orang yang saling mencintai."


Dari Joanna Andriani Wijaya, perempuan yang menerima cinta luar biasa dari seseorang yang tidak mengerti cinta. Selamat tinggal ...


Terimakasih sudah membaca It's Okay, That's Fate. Mari berhubungan baik antara penulis dan pembaca. Jangan lupa juga untuk memberi dukungan kalian terhadap karyaku. Makasih 💙


Regards,


Nur Alquinsha A | IG: light.queensha