It'S Okay, That'S Fate

It'S Okay, That'S Fate
IOTF #27



Keana masih terlelap diatas ranjang Juna saat seseorang datang dan menghampiri tempatnya berbaring. Juna, laki-laki itu membawa sarapan untuk Keana yang secara khusus dibuat oleh tangannya sendiri, omelet dan segelas susu.


Juna meletakkan nampan di tangannya ke meja nakas, lalu duduk di tepi ranjang tempat Keana berbaring dan membelai wajah perempuan itu. Rasanya masih seperti mimpi, Keana tertidur di ranjangnya, bahkan mereka sempat berciuman.


"Sayang." Juna berusaha membangunkan Keana dengan mencium keningnya, tapi sepertinya itu tidak berhasil, Keana tertidur pulas dan tidak bergerak sedikit pun. Juna memikirkan cara lain supaya bisa membangunkan calon istrinya itu.


Juna meminta Keana istirahat karena tadi pagi perempuan itu terlihat kelelahan, tapi sekarang sudah lebih dari jam delapan dan Keana harus mengisi perutnya. Juna tidak ingin calon istrinya itu sakit sampai repot-repot membuat sarapan.


"Sayang, bangun. Kamu harus sarapan." Juna masih belum menyerah membangunkan Keana, tangannya pun masih menyentuh wajah Keana dan membuat sang empu merasa terusik, Keana perlahan membuka matanya dan menatap Juna.


"Selamat pagi, sayang." Sapa Juna tepat disaat Keana menatap padanya, lalu membantu Keana untuk duduk. Keana yang belum mendapatkan kesadarannya sepenuhnya menuruti Juna dan hanya tersenyum untuk membalas sapaan Juna.


"Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu, tapi sekarang kamu harus cuci muka dan gosok gigi dulu." Juna tersenyum hangat. Keana tiba-tiba kepikiran tentang, apa Juna melakukan hal yang sama kepada Joanna di masa lalu? semanis ini?


"Jam berapa sekarang? kamu belum berangkat bekerja?" Tanya Keana yang berusaha menepis pemikirannya tentang Juna dan Joanna, lagipula meskipun benar Juna melakukan hal yang sama kepada Joanna, itu sudah menjadi masa lalu.


Juna sudah terlihat rapih memakai jasnya, tidak heran kalau Keana menanyakan hal itu. Padahal Keana sempat berpikir Juna kehilangan Joanna sampai malas melakukan apapun lagi, termasuk pergi ke kantor atau sekedar menghadiri rapat.


Tadi pagi, Azka mengatakan Juna tidak pernah datang ke kantor setelah Joanna meninggal dan memperkuat pemikiran Keana tentang Juna yang kehilangan semangat hidupnya karena kepergian Joanna, perempuan yang sangat Juna sayangi.


Tapi, tidak tahu mengapa, sekarang Juna sudah terlihat rapih dengan pakaian kerjanya, mungkin Juna merasa tidak enak hati kalau Keana sampai tahu laki-laki itu malas bekerja karena kepergian perempuan lain yang merupakan mantannya.


"Sebenarnya aku tidak ingin berangkat ke kantor, aku tidak ingin meninggalkan kamu sendirian disini, tapi aku harus menghadiri rapat penting." Juna memutar tubuh Keana dan membuat Keana membelakanginya, lalu mengikat rambut Keana.


Keana bergeming saat Juna mengikat rambutnya, entah darimana Juna mendapatkan ikat rambut itu. Juna memutar kembali tubuh Keana setelah selesai mengikat rambut Keana dan membuat Keana menatap Juna tepat pada kedua matanya.


"Sudah jam delapan dan rapatnya akan di mulai satu jam dari sekarang. Aku akan pergi setelah kamu sarapan." Juna menjawab semua pertanyaan Keana dan membuat Keana menggumamkan kata bohong, Keana tidak terlalu mempercayai Juna.


"Ikat rambut milik kak Rumi, aku meminjamnya untukmu." Juna menjelaskan saat menyadari ada sesuatu dari tatapan Keana. Keana mungkin akan berpikir macam-macam, makanya Juna langsung menjelaskan hal itu sebelum Keana salah paham.


"Sikat gigi merah muda di kamar mandi milikmu dan aku juga sudah membeli sabun cuci muka yang biasa kamu pakai." Juna kembali bicara karena Keana masih diam sambil menatapnya. Keana pasti belum mendapatkan kesadarannya.


"Entah mengapa aku merasa mantan bosku ini mulai banyak bicara." Ucap Keana pada akhirnya sambil melukiskan senyuman. Keana benar-benar merasa tersentuh, Juna memperlakukan dirinya dengan sangat baik dan juga penuh perhatian.


"Calon suami! bukan mantan bos!" Juna meralat perkataan Keana penuh penenakan, Juna kurang suka Keana menyebutnya mantan bos dan Keana harus ingat sebentar lagi mereka akan menikah. "Sekarang kamu cuci muka dan gosok gigi, oke?"


"Baiklah, aku mengerti." Ucap Keana beranjak dari ranjang Juna dan berjalan ke kamar mandi yang ada di dalam kamar itu. Keana sudah tidak kuat menghadapi sikap manis Juna padanya. Keana langsung menggosok gigi dan mencuci mukanya.


Juna tersenyum menatap kamar mandi dimana Keana berada di dalam sana. Sungguh, Juna tidak ingin pergi ke kantor dan ingin menghabiskan waktunya hari ini bersama Keana, tapi rapatnya tidak bisa di tunda, jadi Juna terpaksa ke kantor.


Dan tentang Juna yang tidak berangkat ke kantor setelah Joanna meninggal, itu karena Juna tidak enak badan, bahkan Juna sempat demam tinggi. Juna kehujanan setelah menghadiri pemakaman Joanna, karena kebetulan sedang musim hujan.


Juna memang merasa terpukul atas kematian Joanna. Karena sampai sekarang, Joanna masih mengisi sebagian dari hati Juna, bagaimana pun lima tahun bukan waktu yang singkat dan Juna tidak menyangka Keana meninggal begitu cepat.


Tapi, Juna sudah ikhlas, hanya tubuhnya tidak bisa diajak bekerja sama, Juna tidak pergi bekerja dan setiap hari tidur di kamarnya. Bahkan, tadi malam sebelum Keana datang, Juna masih sedikit pusing. Ajaibnya, sekarang Juna sudah sembuh.


"Belum berangkat, heh?" Tanya Keana yang entah sejak kapan sudah keluar dari kamar mandi. Juna melamun sampai tidak menyadari Keana datang dan laki-laki itu hanya bergumam menjawab pertanyaan Keana padanya. "Tidak takut telat?"


"Kenapa harus takut? aku bosnya, ingat?" Juna menimpali perkataan Keana dengan bangga, dia pemimpin perusahaan dan tidak mungkin ada yang berani marah meskipun benar terlambat. "Aku berangkat setelah kamu selesai sarapan."


"Kamu belum sarapan?" Tanya Keana tidak ingin pemperpanjang pembicaraan sebelumnya, lalu Keana duduk di samping Juna dan mengambil sarapan dari meja nakas, sepertinya itu sarapan yang sudah disiapkan yang tadi Juna maksud.


Keana duduk di kasur dekat meja nakas sehingga lebih mudah untuknya mengambil makanan dari meja nakas. Omelet sayuran, sebenarnya Keana tidak terlalu suka sayuran, tapi Keana masih mau memakannya karena Juna yang menyiapkan itu.


"Sudah, aku makan roti sambil membuat omelet untukmu tadi." Jawab Juna memperhatikan Keana yang mulai memakan omelet buatan Juna. Enak, Keana baru tahu mantan bosnya bisa memasak. "Bagaimana? apa omeletnya tidak enak, heuh?"


"Jadi kamu belum berangkat karena ingin tahu pendapatku tentang omeletmu ini?" Keana balik bertanya dan kembali memakan omeletnya, dia tidak langsung memberitahu bagaimana rasanya omelet yang dibuat khusus oleh mantan bosnya.


"Tidak enak ya? aku bisa mengajakmu sarapan di luar sebelum rapat kalau kamu mau, bagaimana? sudah, jangan di makan lagi kalau memang tidak enak." Juna hendak merebut piring berisi omelet buatannya, tapi perkataan Keana menahannya.


"Tidak perlu, bukankah kamu ada rapat penting? lagipula rasanya tidak terlalu buruk, aku masih bisa memakannya." Ucap Keana, tidak bermaksud apapun, Keana hanya terlalu senang karena Juna sangat perhatian, meskipun terkesan berlebihan.


"Aku sudah selesai sarapan, kamu bisa berangkat kerja sekarang." Ucap Keana melihat Juna masih betah di kamarnya, padahal Keana sudah berhasil menghabiskan sarapannya. Sepertinya perkataan Keana penyebab Juna masih terdiam sekarang.


"Juna, omelet buatanmu enak. Ini adalah omelet terenak yang pernah aku makan." Lanjut Keana disertai senyuman. Ya terenak, karena omelet itu dibuat oleh laki-laki yang Keana cintai. Keana bahagia menerima perlakuan luar biasa Juna.


"Tidak, aku tidak berbohong. Juna, kamu bilang rapatnya penting kan? kenapa kamu tidak pergi dan bersiap sekarang?" Tanya Keana mengalihkan pembicaraan, tidak terlalu penting membahas omelet sekarang, Juna harus pergi ke kantor.


"Kamu benar, rapat ini penting. Minum susunya, aku berangkat sekarang dan akan pulang setelah rapatnya selesai." Juna sempat mencium kening Keana dan mengusap puncak kepala perempuan itu sebelum akhirnya pergi meninggalkan kamar.


Keana membisu menatap kepergian Juna, calon suaminya itu benar-benar manis. Dulu, Keana hanya menjadi orang yang selalu disuruh untuk menyenangkan hati Joanna. Sekarang, Keana merasakan sendiri bagaimana menjadi Joanna.



Keana merasa bosan di mansion sendirian, Juna pergi ke kantor karena harus menghadiri rapat penting. Sementara itu calon mertua dan calon kakak iparnya pergi entah kemana. Keana hanya ditemani oleh para maid di mansion tersebut.


Keana iseng mengambil buku dari kamar Juna dan tidak sengaja Keana menjatuhkan sesuatu dari buku tersebut. Keana melihat yang terjatuh dan langsung mengambilnya, ternyata itu foto, Keana terkejut melihat siapa orang yang ada di foto itu.


Keana melihat foto dirinya sendiri saat kuliah, dalam foto itu Keana sedang membaca buku di perpustakaan dan Juna menyimpan foto itu di bukunya? Keana berusaha untuk memutar otak bagaimana mungkin Juna menyimpan fotonya!


Keana buru-buru menyimpan kembali buku Juna ke tempatnya, tapi tidak dengan fotonya. Keana memasukan foto itu ke dalam tas miliknya dan langsung keluar dari kamar Juna. Semoga nanti Juna tidak menyadari Keana mengambil fotonya.


"Nona Audie, apa anda membutuhkan sesuatu?" Suara itu mengagetkan Keana dan membuatnya hampir berteriak. Beruntung Keana masih sadar untuk tidak berteriak disana, Keana mengusap dada saking terkejutnya. "Apa terjadi sesuatu?"


"T-tidak, aku hanya takut sendirian di kamar. Oh ya, aku akan pergi keluar, nanti kalau Juna datang tolong katakan aku pergi ke mini market sebentar membeli cemilan." Keana berusaha menetralkan jantungnya yang berdetak cepat karena terkejut.


Tanpa menunggu jawaban dari maid yang tadi mengajaknya bicara, Keana bergegas pergi dari sana dengan membawa tas. Alasan Keana tadi mungkin terdengar konyol, tapi Keana tidak bisa memikirkan alasan lain dalam situasi seperti itu.


Keana tidak bisa berpikir dengan baik setelah melihat fotonya di buku Juna ditambah maid tadi membuatnya terkejut, Keana semakin tidak bisa memikirkan apapun selain tentang dirinya yang harus segera pergi dari tempat tinggal Juna.


Keana khawatir kalau nanti tidak bisa menahan dirinya untuk tidak bertanya tentang alasan Juna menyimpan fotonya. Karena jujur saja Keana penasaran. Mereka tidak dekat sebelumnya dan aneh rasanya kalau Juna menyimpan foto itu.


Sementara di tempat lain, lebih tepatnya butik, Arumi dan Gilang berada di ruangan khusus atau bisa dibilang ruang kerja Arumi. Kebetulan butik tersebut memang milik Arumi dan Gilang datang kesana untuk melihat kekasihnya yang bekerja.


Arumi tidak pernah tertarik dengan perusahaan, makanya Arumi memiliki usaha sendiri berupa sebuah butik. Kuliah pun Arumi tidak mengambil bisnis atau ekonomi, dia memilih jurusan fashion dan yang ada di butik itu hasil desainnya sendiri.


"Ada perlu apa kesini?" Tanya Arumi terdengar ketus, dia dan Gilang bertengkar hebat kemarin, makanya nada bicara Arumi ketus tidak seperti biasanya. Arumi kesal karena kemarin Gilang membentaknya. "Ayolah, aku sibuk sekarang!"


Gilang menghela nafas, sepertinya Arumi masih benar-benar marah karena kemarin Gilang tidak sengaja membentaknya. Arumi meminta Gilang makan, tapi Gilang menolak dengan alasan tidak lapar sampai akhirnya Gilang membentak Arumi.


Gilang tidak akan membentak Arumi kalau saja kekasihnya itu tidak menuduhnya menyayangi Joanna sebagai wanita. Gilang tidak mau makan karena tidak lapar, bukan karena hal lain, tetapi Arumi menuduh semuanya itu karena Joanna.


Gilang tidak bisa mengerti isi pikiran Arumi, dia menyayangi Arumi melebihi apapun di dunia ini, sementara Joanna sudah Gilang anggap teman sekaligus saudaranya sendiri. Bahkan, Gilang sudah sering mengatakan hal itu kepada Arumi.


Tapi, kemarin tiba-tiba Arumi menuduh Gilang, hanya karena kemarin Gilang menolak makan, Arumi menuduh Gilang yang bukan-bukan dan membuat Gilang emosi. Gilang tidak suka Arumi menuduhnya begitu saja, makanya Gilang emosi.


"Maaf mengganggumu, aku datang kesini karena aku mau meminta maaf padamu. Maaf kemarin aku sudah membentakmu." Gilang menjawab pertanyaan Arumi sambil menundukkan kepala. Arumi hanya membuang muka karena hal itu.


"Aku mengerti kalau kamu masih marah dan aku benar-benar minta maaf. Rumi, kamu harus tahu, aku tidak suka bertengkar denganmu, aku tidak suka karena setiap kita bertengkar, aku takut kita akan berakhir saat itu juga. Aku takut itu terjadi."


Gilang mengangkat wajahnya dan menatap Arumi yang juga sedang menatap padanya. Bisa dilihat Gilang benar-benar merasa bersalah pada Arumi. "Kalau kamu mau, kamu bisa menghukumku, tapi setelah itu tolong maafkan aku." Lanjut Gilang.


"Baiklah, aku mau memaafkanmu. Aku tidak akan menghukummu, tapi kamu harus berjanji padaku, kamu harus memikirkan kesehatanmu dan kamu juga harus mulai mengikhlaskan kepergian Anna. Aku tahu kamu sedih karena Anna pergi, tapi ..."


"Aku berjanji padamu." Ucap Gilang memotong perkataan Arumi. Sebenarnya, alasan Arumi kesal masuk akal, Arumi tidak ingin Gilang sakit tapi Gilang malah membentaknya, makanya Arumi kesal. Sayangnya, Gilang tidak mengerti hal itu.


Arumi dan Gilang sama-sama tidak ingin kalau pasangan mereka sakit, Arumi tidak ingin raga Gilang sakit karena Gilang kurang peduli dengan kesehatannya sendiri. Sementara Gilang tidak ingin hati Arumi sakit karena pikirannya sendiri.


Arumi maupun Gilang kemarin hanya terselimuti emosi sampai pertengkaran mereka bertengkar, padahal Arumi dan Gilang termasuk pasangan yang jarang bertengkar selama mereka menjalin hubungan, apalagi bertengkar karena hal kecil.


~TBC


Terimakasih sudah membaca It's Okay, That's Fate. Mari berhubungan baik antara penulis dan pembaca. Jangan lupa juga untuk memberi dukungan kalian terhadap karyaku. Makasih 💙


Regards,


Nur Alquinsha A | IG: light.queensha