It'S Okay, That'S Fate

It'S Okay, That'S Fate
IOTF #37



Malam ini adalah malam pertama Keana dan Juna tidur di kasur yang sama, mereka memilih untuk langsung tidur karena kelelahan. Tapi baik Keana maupun Juna, tidak ada satupun dari mereka yang benar-benar tidur, Keana dan Juna masih terjaga.


Keana belum terbiasa tidur dengan seseorang di sampingnya, rasanya begitu mendebarkan saat Keana melirik ke samping kiri dan menemukan keberadaan Juna disana. Keana melihat laki-laki yang sekarang berstatus suaminya itu tertidur.


Ya, setidaknya itu yang Keana pikirkan, meski sebenarnya Juna masih belum tidur dan sedang berusaha keras supaya matanya tetap terpejam. Juna tahu Keana berkali-kali mencuri pandang padanya, tapi enggan untuk membuka matanya.


Keana menghadapkan dirinya kearah Juna berada dan memperhatikan wajah terpejam sang suami, Juna terlihat tampan dengan wajah damai, Keana sampai tidak ingin mengalihkan pandangannya dari Juna dan terus menatap wajah suaminya itu.


Setelah sekian lama menatap sang suami, Keana mendekati Juna, jari telunjuknya bergerak secara perlahan dan menyentuh wajah itu memastikan suaminya sudah tertidur pulas. Juna diam-diam tersenyum saat jari Keana menyentuh wajahnya.


Juna tidak percaya istrinya akan melakukan hal iseng seperti itu disaat matanya terpejam. Keana mengira Juna sudah tertidur pulas dan semakin mendekati Juna, lalu Keana memberikan kecupan pada bibir suaminya dengan sangat berhati-hati.


Keana terkejut saat Juna tiba-tiba menghentakan tangannya sehingga sekarang Juna berada tepat diatas tubuhnya dan membuat Keana malu bukan main, entah sejak kapan suaminya bangun, Keana ingin mencari tempat pesembunyian sekarang.


Keana sedikit kecewa karena Juna menyuruhnya tidur tanpa memberi ciuman atau sekedar ucapan selamat malam padanya, makanya Keana sengaja menunggu Juna tidur duluan supaya dirinya bisa diam-diam memberikan ciuman selamat malam.


Tapi, Keana tidak menyangka Juna bangun karena ciuman selamat malamnya, padahal Keana sudah berusaha memastikan suaminya itu tidur pulas. Keana mengamati wajah Juna yang sangat dekat dengan wajahnya, ketampanan Juna terlihat jelas.


"Sayang, aku sedang berusaha tidur, kenapa kamu menggodaku, hum?" Tanya Juna disertai seringai di wajah tampannya. Keana meringis mendengar itu dan hanya mampu untuk memalingkan wajah dari Juna. "Apa kamu ingin bermain denganku?"


Keana susah payah menelan ludah. Keana tidak bermaksud menggoda Juna atau apapun itu, dia berani mencium bibir Juna karena mengira sang suami sudah tertidur. Keana tidak mungkin mau mencium Juna kalau tahu Juna masih terjaga.


Keana merasa tubuhnya sedikit meremang saat tangan Juna membelai wajahnya dengan lembut, sepertinya Keana baru saja melakukan kesalahan dengan mencium bibir suaminya, padahal Keana hanya ingin memberikan ucapan selamat malam.


"Sayang, lihat wajahku." Perintah Juna membuat Keana tidak bisa membantah suaminya, Keana melihat wajah Juna dan berusaha supaya detak jantungnya tidak terdengar. "Aku meminta kamu untuk istirahat karena aku pikir kamu kelelahan."


Juna menghentikan kalimatnya dan itu membuat jantung Keana tidak karuan. Keana terus memaki dirinya sendiri, begitu bodohnya mencuri ciuman dari suami sendiri, disaat suaminya memejamkan mata dan sialnya Juna hanya berpura-pura tidur.


"Tapi sepertinya aku salah, kamu ingin bermain denganku untuk malam ini?" Tanya Juna masih membelai wajah Keana. Tanpa ingin menunggu jawaban, Juna langsung membungkam Keana dengan bibirnya dan memberi sebuah kecupan.


"Juna, aku rasa kamu kurang cocok dengan peran seperti ini." Ucap Keana, lalu menahan nafas saat merasakan nafas Juna yang menerpa permukaan kulitnya. Keana sengaja mengatakan itu karena Juna hampir memberi kecupan pada bibirnya lagi.


"Heh, apa maksudmu?" Tanya Juna mengerutkan keningnya, tidak mengerti yang Keana bicarakan. Juna berniat mencium bibir Keana kembali, tapi Keana lebih dulu menutup mulut Juna sehingga Juna hanya bisa mencium telapak tangan istrinya.


"Bukankah saat kita kuliah kamu terkenal sebagai laki-laki yang tidak mau dekat dengan perempuan manapun? kamu yang seperti ini terlihat kurang cocok dengan dirimu dari masa lalu!" Ucap Keana menjelaskan perkataan sebelumnya kepada Juna.


Juna menurunkan tangan Keana secara perlahan, berani sekali Keana membahas masa lalu disaat seperti ini, apalagi Keana mengatakannya seolah Juna tidak pernah tertarik kepada perempuan di masa lalu, padahal saat itu Juna mencintai Keana.


"Aku memang sudah berubah, sayang. Kamu tidak ingat sudah berapa kali aku menciummu? bahkan aku bisa membantumu memberi keturunan untuk grup shinhwa. Aku atau kamu dalam ukuran kecil sepertinya akan lebih menggemaskan dari Angel."


Juna menyeringai melihat ekspresi wajah Keana, sepertinya sekarang poin diantara mereka satu sama, memang siapa yang mampu mengalahkan Juna. Tentu saja tidak ada, kecuali Juna sendiri yang mungkin akan mengalah untuk orang lain.


"Lagipula, aku tidak ingin mendekati perempuan manapun bukan karena tidak normal, tapi karena perempuan yang aku sukai dekat dengan laki-laki lain dan sekarang perempuan itu sudah menjadi istriku. Aku tidak mungkin menyia-nyiakan itu."


Keana meringsut dan memejamkan matanya saat wajah Juna mendekat, Keana mengira Juna akan melakukannya sekarang, mengambil hak sebagai suami, tapi ternyata Juna hanya mencium kening Keana sebelum akhirnya kembali ke tempatnya.


"Istirahatlah!" Ucap Juna langsung membelakangi Keana. Juna bukan tidak ingin mengambil haknya sebagai suami, Juna ingin, tapi tidak tega melihat wajah lelah Keana. Juna sengaja membelakangi Keana untuk menahan hasrat terhadap sang istri.


"Huh?" Keana perlahan membuka matanya, Juna sudah tidak ada diatas tubuhnya sehingga Keana menoleh ke sampingnya dan menarik bibirnya ke bawah melihat Juna berada disana, ada perasaan kecewa saat melihat Juna membelakangi dirinya.


Keana merasa harga dirinya terluka karena Juna, sudah ketahuan mencium Juna, sekarang malah malu oleh pikirannya sendiri. Ayolah, Keana tadi berpikir akan melewati malam pertama mereka, tapi Juna malah membelakanginya begitu saja.


Keana menarik selimut hanya sebatas dada, lalu membelakangi Juna dengan perasaan kecewanya, tapi tidak lama Keana merasakan sebuah pelukan. Juna memeluk Keana dari belakang dan mencium bahu Keana setelah berhasil melawan hasratnya.


"Selamat malam, istriku. Aku mencintaimu." Juna mengeratkan pelukannya pada tubuh Keana dan membuat sang istri diam-diam tersenyum. Keana senang Juna memeluknya seperti itu, tidak peduli meski mereka akan melewatkan malam pertama.



Juna langsung berangkat ke kantor meskipun baru menikah. Karena ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan, Juna terpaksa datang ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya disana. Juna bekerja keras supaya nanti bisa cepat mendapatkan cuti.


Sebenarnya, Bisma sudah menawarkan diri untuk membantu pekerjaan Juna di kantor, tapi laki-laki itu menolak dengan alasan tidak ingin membuat ayahnya repot. Juna sudah menikah dan sekarang sudah memiliki tanggung jawab memberi nafkah.


Juna memang tidak kekurangan uang, diusianya yang masih muda, Juna sudah memiliki banyak aset di luar kekayaan orang tuanya. Tapi bukan berarti Juna harus bersantai, karena kekayaan bisa habis kalau Juna tidak pandai menjaganya.


"Selamat pagi, Pak." Ucap Azka menyapa bosnya yang baru datang ke kantor. Azka termasuk orang yang sangat disiplin, tidak heran Azka sudah tiba di kantor. Juna sengaja berangkat lebih pagi dari biasanya, tapi Azka sudah duluan tiba di kantor.


"Baik, pak. Tapi sebelum itu, ada pak Willis yang ingin menemui anda dan beliau sudah berada di dalam." Ucap Azka memberitahu, Willis memaksa ingin menunggu di dalam ruangan Juna, padahal Azka sudah memberitahu bahwa Juna akan sibuk.


"Hm, baiklah. Terimakasih." Ucap Juna kemudian berjalan masuk ke dalam ruangannya, sepertinya niatnya untuk pulang cepat hari ini akan memiliki hambatan karena kedatangan Willis, tidak tahu apa tujuan Willis datang ke ruangannya hari ini.


"Baru datang?" Tanya Willis basa-basi, padahal dia tahu bahwa Juna baru datang ke ruangan itu. Juna mengenal Willis dengan baik dan sepertinya teman baiknya itu menginginkan sesuatu sampai harus repot-repot datang menemuinya sepagi ini.


"Apa yang membawamu ke ruanganku sepagi ini? kamu tahu aku banyak kerjaan?!" Ucap Juna tanpa ingin berbasa-basi. Juna menyimpan tas kerjanya di sofa, lalu menyusul duduk disana. Tidak peduli apa yang Juna katakan, Willis masih betah disana.


Tujuan Willis berada di ruangan Juna adalah ingin mencari informasi tentang Cindy dari sahabatnya itu dan Willis tidak terlalu memikirkan perkataan Cindy tadi malam. Lagipula, Willis dan adik Cindy dekat hanya karena mereka saling membutuhkan.


Suara ponsel berdering menahan Willis yang baru akan membuka mulutnya. Juna mengambil ponsel dari saku jasnya, ternyata Keana menelpon, tanpa ingin berbasa-basi kepada orang yang berada di ruangannya, Juna langsung menerima telponnya.


"Sayang, aku pergi sebentar ke pasar. Kamu mau menitip sesuatu? ah maaf, aku ijin setelah sampai di pasar, jadi bagaimana? kamu mau menitipkan sesuatu? nanti siang mau aku bawakan makanan? suamiku, kamu mendengarku? tolong bicaralah!"


"Kamu belanja ke pasar, eh?" Tanya Juna tenang meski di sebrang sana Keana sangat heboh, Juna sampai harus sedikit menjauhkan ponselnya dari telinga saking berisiknya suara istrinya ditambah suara orang-orang yang sedang berada di pasar.


"Hm, kita belum memiliki bahan makanan apapun di dapur. Aku ke pasar untuk membeli kebutuhan kita, kamu ingin menitip sesuatu?" Tanya Keana dari sebrang sana masih dengan suara hebohnya. Keana bicara keras karena di pasar terlalu berisik.


"Jadi kamu pergi ke pasar sendiri?" Juna kembali bertanya, dia masih belum memberikan jawaban yang Keana mau sampai terdengar suara helaan nafas dari mulut istrinya. Keana tidak memiliki banyak waktu untuk menelpon dan harus belanja.


"Iyah sayangku, kamu mau menitip sesuatu atau tidak?" Tanya Keana menahan rasa kesal, karena pasalnya tidak ada sesi menjawab, mereka hanya saling memberikan pertanyaan. Ah tidak, Keana sempat beberapa kali menjawab pertanyaan Juna.


Tapi, Juna hanya terus bertanya tanpa ada satu pun pertanyaan Keana yang dijawab. Padahal di pasar Keana sedang kerepotan. Juna tersenyum mendengar suara kesal sang istri, lagipula siapa yang mengijinkan Keana pergi ke pasar sendiri?!


"Tidak perlu, aku hanya berpesan, tolong pulang dengan selamat." Jawab Juna pada akhirnya, lalu Juna melirik kearah Willis yang sedang duduk di sofa dengan wajah bosan, entah apa sebenarnya tujuan Willis datang, sepertinya ada hal penting.


"Baik, bagaimana dengan makan siangnya? mau aku bawakan ke kantor? kamu mau aku buatkan apa untuk makan siang?" Tanya Keana membuat Juna kembali berfokus pada istrinya itu, mereka baru berpisah, tapi Keana sudah menelpon saja.


"Kamu tidak perlu datang kesini, aku akan pulang ke rumah saat makan siang dan terserah apapun yang kamu masak untukku, aku pasti akan makan itu. Ingat, berhati-hatilah disana." Juna akhirnya menjawab semua pertanyaan Keana kepadanya.


"Baiklah, aku sudah terbiasa belanja ke pasar, jadi kamu tidak perlu khawatir. Aku tutup dulu ya dan sampai jumpa di rumah." Keana tidak memberi Juna kesempatan untuk menjawab dan langsung memutuskan sambungan telpon diantara mereka.


Juna tidak terlalu mempermasalahkan hal itu dan langsung saja memasukan kembali ponselnya ke dalam saku jasnya. Willis menarik nafas sejenak melihat Juna selesai telponan, tidak ingin terlihat terburu-buru, Willis mengajak Juna berbasa-basi.


"Istrimu? dia pergi ke pasar?" Tanya Willis sambil melipat kedua tangannya di dada, lalu teman baik Juna itu kembali bicara. "aku semakin mengagumi istrimu, Ana berbeda dengan wanita dari keluarga kaya lainnya. Nona Shin benar-benar luar biasa."


"Oh ya, kamu belum menjawab pertanyaanku, apa yang membawamu kesini?" Tanya Juna tanpa mau menanggapi perkataan Willis barusan. Juna tidak memiliki banyak waktu untuk berbasa-basi. Yang Juna pikirkan hanya istrinya menunggu di rumah.


"Makan siang masih lama, pak Juna." Ucap Willis dengan maksud lain. Willis tadi mendengar Juna mengatakan akan pulang ke rumah saat makan siang dan Willis yakin Juna mendesaknya karena ingin segera pulang. "Aku kesini ingin bertanya."


"Menanyakan apa?" Juna mengabaikan perkataan Willis tentang makan siang karena pembicaraan diantara mereka bisa lama selesai nantinya. Juna sekilas melihat keraguan di wajah Willis, tapi itu tidak lama karena keraguan Willis menghilang.


"Cindy." Ucap Willis singkat dan sempat membuat Juna terdiam. Juna berpikir sejenak, sebenarnya untuk apa Willis menanyakan tentang perempuan yang dulu mengejarnya di masa lalu? Willis ingin memperbaiki hubungan sebagai ipar? atau ...


"Kamu ingin menyewa wedding organizer juga? kamu akan menikahi Neysa?" Tebak Juna disertai senyuman lebar, akhirnya Angel akan memiliki mommy dan bukan Keana perempuan yang akan menjadi mommy Angel itu, tapi perempuan lain.


"Tapi bukankah Cindy dan Neysa itu bersaudara? kenapa kamu harus menanyakan tentang Cindy padaku?" Tanya Juna kurang mengerti dan baru kepikiran itu. Menurut Juna, akan lebih baik kalau Willis menanyakan Cindy pada adiknya langsung.


"Kamu salah, Juna. Aku menanyakan Cindy bukan karena ingin menikahi adiknya, justru perempuan yang aku inginkan itu Cindy dan aku juga berniat untuk memperjuangkan cinta pertamaku, persis seperti kamu yang sudah berjuang untuk istrimu."


Juna membulatkan matanya, Willis pasti sedang bercanda kan? siapa yang Willis maksud sebagai cinta pertama? Cindy? bukankah dulu Willis tidak menyukai Cindy?! bahkan Juna ingat bagaimana Willis menolak mentah-mentah perasaan Cindy!


~TBC


Koreksi typo nya ya ... 😊


Terimakasih sudah membaca It's Okay, That's Fate. Mari berhubungan baik antara penulis dan pembaca. Jangan lupa juga untuk memberi dukungan kalian terhadap karyaku. Makasih 💙


Regards,


Nur Alquinsha A | IG: light.queensha