It'S Okay, That'S Fate

It'S Okay, That'S Fate
IOTF #19



Enam hari semenjak Keana dan Juna batal ke toko perhiasan, mereka berdua tidak pernah lagi bertemu atau saling memberi kabar. Keana tidak menyangka hari itu Juna pergi begitu saja tanpa pamit, padahal Keana ingin Juna membujuknya.



Keana melihat sebuah foto dari layar ponselnya, itu adalah foto yang tersebar lima hari yang lalu. Menurut media gosip, Juna dan Joanna makan malam bersama di sebuah restoran dan mereka berdua terlihat sangat mesra dalam foto tersebut.


Tapi, satu hal yang tidak dapat dimengerti oleh akal sehat Keana, di berita sebelumnya Joanna sedang berada di rumah sakit, sementara di foto itu Joanna sepertinya sehat, mungkin saja berita tentang penyakit Joanna selama ini tidak benar.


Kanker darah stadium akhir bukan penyakit yang bisa dianggap remeh, Joanna keluar dari rumah sakit dalam kondisi seperti itu, jujur saja Keana tidak terlalu percaya Joanna menderita penyakit separah itu setelah foto terbaru Joanna tersebar.


"Ana, sudah siap? kita pergi sekarang?" Rafael menghampiri Keana yang saat itu sedang berdiri di depan apartemennya. Keana mengalihkan pandangannya dari ponsel dan menatap Rafael yang sudah terlihat rapih dengan pakaian santai.


"Hm." Sahut Keana, lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas. Keana sendiri berpenampilan tidak biasa, dia memakai pakaian serba hitam beserta masker dan topi senada, itu merupakan masker dan topi dari paper bag yang Juna tinggalkan.


"Kenapa harus berpenampilan seperti itu? aku bisa melindungimu kalau ada orang yang berani melukaimu di hadapanku!" Ucap Rafael menatap Keana dari atas sampai bawah, Rafael hanya bisa melihat mata Keana yang sekarang menatapnya.


"Tidak perlu banyak bicara, ayo kita pergi. Aku ingin segera menyerahkan surat pengunduran diriku ini." Ucap Keana yang malas menanggapi Rafael. Keana berjalan menjauh dari apartemen mendahului Rafael tanpa berkata apapun lagi.


Ya, Keana akan pergi ke kantor Juna dan berniat mengundurkan diri dari tempat kerjanya itu. Dia sudah mengambil keputusan, akan melupakan semuanya, termasuk pernikahannya dengan Juna yang sudah tidak pantas untuk diharapkan lagi.


Keana memang sempat mempercayai perkataan mantan calon suaminya, Juna, karena Juna sering mengatakan mereka akan tetap menikah apapun yang terjadi, tapi sekarang Keana lebih percaya tidak akan terjadi pernikahan diantara mereka.


"Yak! tunggu sebentar, aku tidak yakin mereka mengizinkan kamu masuk dengan penampilan seperti ini. Bagaimana kalau kamu malah diusir, hoh?" Tanya Rafael berjalan disamping Keana sambil berusaha menyesuaikan langkahnya.


Keana hanya mengangkat bahu acuh dan melihat sekilas pada Rafael yang berjalan disampingnya. Keana sudah siap dengan segala kemungkinan yang akan dihadapinya nanti, hanya diusir dari kantor Juna bukanlah masalah besar baginya.


"Kunci mobil!" Ucap Keana sambil mengulurkan tangannya kearah Rafael, besok sahabatnya itu akan menikah, Keana tidak ingin mengambil resiko kalau membiarkan laki-laki yang sebentar lagi akan menikah mengendarai mobilnya sendiri.


Keana takut mempelai wanita Rafael mengamuk padanya kalau sampai terjadi sesuatu, terlebih sekarang Keana meminta Rafael menemaninya, disaat seharusnya laki-laki itu diam di apartemen karena Rafael memang sudah memulai cutinya.


"Kenapa?" Tanya Rafael tanpa memberikan kunci mobil itu pada Keana, lalu Rafael menghentikan langkahnya saat mereka tiba di tempat parkiran. Rafael mengintruksi Keana untuk masuk ke mobil dengan dagunya. "Aku yang menyetir, masuklah."


"Ayo masuk, bukankah kamu sudah tidak sabar untuk menyerahkan surat pengunduran dirimu? atau kamu berubah pikiran?" Tanya Rafael saat melihat Keana masih terdiam menatap padanya. "Tidak perlu khawatir, aku akan berhati-hati."


Keana mendecih mendengarnya, Rafael seakan mengerti kekhawatiran Keana saat ini, padahal Keana tidak mengatakannya. Rafael memang orang yang paling memahami Keana, makanya Keana sampai menaruh hati pada laki-laki itu.


"Kamu yang memaksa menyetir ya, kalau nanti sampai terjadi sesuatu padamu, jangan salahkan aku, mengerti?" Keana kemudian masuk ke dalam mobil tanpa menunggu jawaban Rafael, yasudah kalau Rafael mau menyetir mobilnya sendiri.


Rafael masuk melalui pintu lain, lalu memakai sabuk pengamannya sambil berkata. "Tidak akan ada yang berani menyalahkanmu, lagipula kita berada di mobil yang sama, kamu dan aku akan sama-sama celaka kalau nanti terjadi sesuatu."


"Kamu benar, sekarang jalankan mobilnya. Aku ingin segera menyerahkan surat pengunduran diriku dan langsung pulang, aku harus bersiap untuk menghadiri pernikahanmu besok." Ucap Keana sambil tersenyum dan menatap Rafael.


"Baiklah, nona Ana." Sahut Rafael yang langsung melajukan mobilnya, dia tidak menyangka Keana mudah sekali berpaling darinya, sekarang hati Keana sudah menjadi milik Juna, sayangnya Juna malah mempermainkan perasaan perempuan itu.


Rafael tidak berani menyimpulkan, Keana sendiri yang mengatakan sudah menaruh hati terhadap Juna beberapa hari yang lalu. Rafael sama sekali tidak menyalahkan Keana atau perasaan Keana yang sudah berpaling darinya, malah itu hal baik.


Ya, Rafael maupun Keana tidak harus menyakiti satu sama lain karena sekarang perasaan diantara mereka sudah mulai terbagi, Rafael sudah mulai membuka hatinya untuk Amelia, sementara Keana perlahan sudah mulai mencintai Juna.


Keana dan Rafael terdiam sepanjang perjalanan menuju kantor Juna, menurut informasi yang Keana dapatkan dari direktur keuangan, laki-laki itu sedang berada di kantor setelah beberapa hari sebelumnya sibuk dengan urusan di rumah sakit.


"Nona Ana, apa itu kamu?" Tanya seseorang saat Keana dan Rafael keluar dari mobil, mereka sudah tiba di parkiran kantor Juna sekarang, Keana dan Rafael melihat ke sumber suara bersamaan, bisa dilihat Willis yang berjalan menghampiri mereka.


"Pak Willis, apa kabar?" Sapa Keana sopan dari balik masker yang dipakainya. Keana sebenarnya tidak nyaman memakai masker itu, tapi Keana trauma dengan kejadian beberapa hari yang lalu dan Keana takut kejadian itu terulang kembali.


Well, alasan Keana mau memakai masker, topi dan jaket pemberian Juna, karena beberapa hari yang lalu Keana hampir dilukai oleh seseorang saat pulang dari mini market, beruntung saat itu Rafael datang menyelamatkannya tepat waktu.


"Baik, bagaimana dengan kabarmu? nona Ana, kamu terlihat lebih kurus dari terakhir kali kita bertemu." Ucap Willis sambil mengamati tubuh Keana, dia tidak berbohong, Keana terlihat lebih kurus dari mereka terakhir bertemu minggu lalu.


Tapi, tujuan Keana datang ke tempat itu bukan untuk membahas nafsu makan atau badannya yang katanya sekarang mengurus, Keana datang untuk mengantarkan surat pengunduran dirinya kepada bos sekaligus mantan calon suaminya.


"Juna tadi sedang rapat, mungkin sebentar lagi selesai." Jawab Willis seadanya, dia tidak terlalu memikirkan tentang Keana yang mengabaikan perkataannya. Willis memahami keadaan Keana tanpa harus mendapatkan jawaban tentang itu.


"Ana, maaf aku tidak bisa mengantarmu ke dalam, aku tidak yakin bisa menahan diriku saat bertemu laki-laki itu." Ucap Rafael menginterupsi mereka. Rafael ingin sekali bertemu Juna dan menghajar laki-laki itu, tapi Keana selalu saja melarangnya.


Willis tersenyum miring mendengarnya, dia tahu kalau Rafael adalah laki-laki yang sempat dikira sebagai kekasih Keana, tidak disangka emosi Rafael terhadap Juna meledak-ledak, pantas saja banyak yang mengira Keana dan Rafael pacaran.



Keana mengamati setiap sudut ruangan Juna, tidak ada yang berubah dari tempat itu, selain tujuan Keana berada disana, biasanya Keana ada disana sebagai sekretaris pribadi Juna, sekarang Keana datang untuk mengakhiri semuanya.


Bukan hanya mengakhiri pekerjaan, Keana juga akan meminta Juna untuk membiarkan dirinya pergi. Ah, tapi sepertinya Juna juga tidak akan peduli tentang itu, tapi setidaknya Keana bisa pamit sebelum pergi meninggalkan negara ini.


Keana sudah memuka masker dan topinya, meski di ruangan Juna terdapat AC, Keana tetap merasa gerah memakai semua itu. Kalau bukan karena Keana sedang menghindari orang yang berniat jahat, Keana tidak akan mau memakai semua itu.


"Audie, kamu kesini?" Tanya Juna yang memasuki ruangan itu, Keana akhirnya melihat laki-laki yang beberapa hari ini sudah membuat hidupnya kacau. Keana beranjak dari tempat duduknya menyambut kedatangan mantan calon suaminya.


Keana akan benar-benar mengakhiri semuanya, termasuk statusnya sebagai calon istri Juna. Dia kemudian mengalihkan pandangan dan menatap seseorang yang berdiri disamping Juna, laki-laki tampan yang berhasil membuatnya penasaran.


"Dia Azka, orang yang menggantikanmu sebagai sekretaris pribadiku." Ucap Juna seperti tahu isi pikiran Keana. Juna tersenyum dan melangkah mendekati Keana yang saat itu berada di dekat sofa. "Azka, kamu bisa keluar dari sini sekarang!"


Keana bisa melihat laki-laki bernama Azka itu pergi setelah Juna mengucapkan perintahnya, lalu Keana kembali menatap Juna yang sekarang sudah berdiri tepat di hadapannya, hanya ada meja yang menjadi penghalang diantara mereka.


"Saya datang kesini hanya untuk mengantarkan ini pada anda." Ucap Keana sambil menyodorkan surat pengunduran dirinya yang sudah disiapkan daritadi, Juna menatap itu dengan dahi berkerut tanpa mau menerimanya. "Pak Juna, saya resign."


"A-apa? kenapa? Audie, aku tidak memecatmu, aku hanya meminta kamu cuti ..."


"Saya tahu, makanya saya resign. Maaf, saya juga tidak bisa melanjutkan pernikahan itu. Pak Juna, saya harap nona Joanna sembuh dan kalian bisa hidup bahagia. Tolong terima ini, saya tidak bisa berlama-lama di tempat ini, saya harus pergi."


Keana sengaja mengatakan semua itu supaya bisa cepat pulang ke apartemen, sebenarnya hati Keana tidak bisa menerima keputusan ini, tapi Keana juga tidak mungkin bertahan dan menanti laki-laki yang sibuk menjaga perempuan lain.


Keana ingin sekali menanyakan bagaimana nasib pernikahan mereka, tapi sepertinya itu percuma, Keana dan Juna tidak mungkin menikah persis seperti yang Juna katakan kepada orang tuanya waktu itu, mereka tidak mungkin menikah.


"Baiklah, kalau kamu ingin berhenti bekerja, aku terima pengunduran dirimu, tapi kita akan tetap menikah. Aku dan Joanna sudah tidak memiliki hubungan apapun, tolong berhenti mengatakan hal aneh seperti itu." Ucap Juna pada akhirnya.


Juna menerima surat pengunduran diri Keana dan menyimpan itu keatas meja, lalu dia melangkah cepat mendekati Keana sehingga tidak ada meja yang menghalangi mereka. Keana menelan ludah karena jarak diantara mereka semakin menipis.


Keana ingin sekali memaki Juna yang dengan gamblangnya mengatakan itu, namun keadaan seakan membungkam mulutnya. Keana tidak melakukan apapun, dia hanya berusaha menjaga jarak dari Juna sampai kakinya sulit bergerak.


"Audie, aku sudah menuruti keinginanmu, cincin pernikahan kita sudah dipesan dan keperluan lain masih aku siapkan, kamu tidak bisa membatalkan pernikahan kita begitu saja." Ucap Juna berbisik dan menahan tubuh Keana yang nyaris terjatuh.


~TBC


Jangan pada kesel sama Juna ya, ini aku kasih gambar Juna biar kesel kalian agak berkurang.



Terimakasih sudah membaca It's Okay, That's Fate. Mari berhubungan baik antara penulis dan pembaca. Jangan lupa juga untuk memberi dukungan kalian terhadap karyaku. Makasih 💙


Regards,


Nur Alquinsha A | IG: light.queensha