
"Juna, Ana." Suara itu membuat perhatian kelima orang yang sedang bercengkrama teralih, mereka semua menatap perempuan cantik dengan gaya elegan, Cindy, orang yang paling berjasa dalam kelancaran jalannya pernikahan Keana dan Juna.
"Selamat atas pernikahan kalian. Maaf, aku baru mengucapkannya sekarang." Ucap Cindy sambil mengulurkan tangan kearah Juna yang langsung disambut Juna, mereka berjabat tangan sekilas, lalu Cindy beralih dan menjabat tangan Keana.
"Tidak apa-apa, aku tahu kamu sibuk. Seharusnya kami berterimakasih padamu, terimakasih sudah membuat pernikahan kami ini lancar." Ucap Juna menanggapi perkataan Cindy barusan dan Cindy hanya membalas ucapan Juna dengan senyuman.
"Oh ya, ini hadiah kecil dariku untuk kalian. Aku berharap kalian akan menyukainya." Ucap Cindy memberi kado berukuran sedang kepada Keana tanpa menyadari ada orang yang terus menatap padanya. Willis mengamati penampilan Cindy.
"Terimakasih, Cindy. Omong-omong kamu cantik sekali hari ini." Ucap Keana yang dengan senang hati menerima kado dari Cindy, apapun yang ada dalam kado itu, menurut Keana yang terpenting niat baik dari orang yang memberikan kadonya.
"Kamu berlebihan, Ana. Menurutku, kamu paling cantik disini. Benar kan, Juna?" Tanya Cindy yang meminta persetujuan Juna selaku suami Keana. Tidak harus mengamati wajah Keana atau Cindy, Juna dengan pecaya dirinya membenarkan hal itu.
"Tentu saja, kamu dan istriku sama-sama cantik, tapi istriku yang paling cantik." Ucap Juna disertai senyuman khas. Cindy dan Keana tertawa karena mendengar jawaban Juna, berbeda dengan Willis yang tiba-tiba kehilangan fokus melihat Cindy.
"Kak Cindy." Ucap Neysa menegur kakaknya, dia langsung menarik tangannya dari Willis, seperti tidak ingin kakaknya tahu bahwa dirinya dekat dengan laki-laki beranak satu. Cindy menoleh dan menatap Neysa masih dengan sisa tawanya.
"Sa, kamu juga disini?" Tanya Cindy berpura-pura terkejut, padahal Cindy sudah tahu kalau adiknya datang kesana bersama Willis dan si kecil yang sekarang berdiri di depannya. Cindy mengalihkan pandangannya kearah Willis yang masih terpaku.
"Bersama kekasih, heh?" Tanya Cindy menggoda Neysa. Meski sedikit tidak rela menyebut mantan gebetannya sebagai kekasih adiknya sendiri, tapi kalau itu memang kenyataannya, Cindy bisa apa? lagipula sekarang Cindy sudah memiliki kekasih.
"Ah, bukan. Dia Willis, temanku." Neysa langsung menyangkal hal itu. Karena sampai sekarang, dia dan Willis belum meresmikan hubungan mereka. Atau mungkin Willis memang tidak berniat untuk meresmikannya. Entahlah, Neysa juga tidak tahu.
Cindy tersenyum dan menatap selidik sang adik, entah mengapa Cindy merasa lega mendengar Willis dan Neysa belum resmi menjadi pasangan kekasih. Bukan berarti Cindy masih mencintai Willis, perasaan lega itu hadir karena alasan lain.
Tapi, Cindy tidak percaya adiknya tidak memiliki hubungan dengan Willis, apalagi sekarang Willis mengajak Neysa datang ke acara pernikahan. Bisa saja Neysa hanya takut mengakui Willis sebagai kekasih atau mereka dalam proses pendekatan.
"Teman? sekarang teman kuliahku juga menjadi temanmu, huh?" Tanya Cindy melipat tangannya di depan dada, tanpa percaya sedikitpun dengan perkataan adiknya. Angel menatap Cindy tanpa berkedip dan bertanya-tanya tentang siapa Cindy.
"Teman kakak?" Neysa langsung berdehem pelan setelah bertanya, dunia ini memang sempit, tidak disangka ternyata kakaknya dan ayah Angel dulu kuliah di kampus yang sama. Dan itu artinya usia Willis masih muda, tapi sudah punya satu anak.
"Kalian berdua saling mengenal, eh?" Tanya Juna menginterupsi kedua kakak beradik di depannya. Keana lebih tertarik dengan ekspresi yang Willis tunjukan di wajahnya semenjak Cindy datang, dia merasa ada sesuatu yang membuat Willis diam.
"Tentu saja, Neysa adikku." Jawab Cindy semakin membuat Willis linglung, Willis tidak menyangka ternyata Cindy dan Neysa kakak beradik, sekarang Willis ragu dengan perasaannya terhadap Neysa, tidak akan mungkin Willis mencintai adik Cindy.
Dulu, Cindy selalu mengejar-ngejar Willis sampai Willis merasa muak dan pernah suatu hari Willis mengucapkan kata-kata kasar kepada Cindy, tapi setelah berhari-hari Willis menjalani hari tanpa Cindy si pengganggu, Willis merasa kehilangan.
Dan tanpa sadar Willis sudah mencintai Cindy.
Willis hampir akan menyatakan perasaannya, tapi kehadiran Angel dalam hidupnya menghancurkan semuanya, Willis batal menyatakan perasaannya karena takut Cindy tidak akan menerima tentang Angel. Karena Angel lahir dari teman tidur Willis.
Setiap making out dengan perempuan manapun, Willis selalu memakai pengaman supaya teman tidurnya tidak hamil. Willis tidak terlalu percaya Angel benar-benar putri kandungnya, tapi Willis tidak bisa membuang Angel karena sebuah surat.
"Aku hampir tidak mempercayainya. Kalian kakak beradik?!" Juna menatap Cindy dan Neysa secara bergantian dan sepertinya kisah cinta Willis akan lebih rumit dari kisah cintanya, apalagi ternyata Neysa adik dari orang yang dulu mengejar Willis.
"Aku percaya, mereka berdua sama-sama cantik, tidak heran kalau mereka kakak dan adik." Keana tersenyum dan melakukan hal yang sama seperti suaminya, menatap Cindy dan Neysa bergantian. Cindy dan Neysa tersenyum menanggapi hal itu.
"Istriku, kenapa kamu suka sekali memuji orang lain cantik?" Juna berbisik tepat di telinga Keana dan membuat Keana menatap suaminya, barusan Juna memanggil Keana istri, entah mengapa hal sederhana itu membuat Keana merasa senang.
"Perempuan memang semuanya terlahir cantik, suamiku." Balas Keana disertai senyuman yang terlukis di bibirnya. Juna mencium pipi Keana karena gemas mendengar Keana memanggilnya suami, meski terasa sedikit menggelitiki telinga.
"Tapi kamu yang paling cantik." Juna melanjutkan kegemasannya dengan menggigit telinga Keana dan Keana hanya mencubit pinggang Juna. Disaat seperti sekarang, biasanya Willis akan komentar, tapi berbeda dengan malam ini, Willis tetap diam.
Cindy dan Neysa menggelengkan kepala melihat pasangan yang baru resmi menikah, bisa-bisanya mereka tidak mengenal waktu untuk bermesraan, Neysa sampai harus menutup mata si anak kecil Angel saat Juna mencium dan menggigit Keana.
Cindy beralih melihat Willis yang masih terdiam, tatapan Willis kosong, mungkin karena bertemu perempuan bodoh yang dulu mengejar-ngejarnya seperti Cindy. Dengan sedikit keberanian Cindy memutuskan menyapa teman masa kuliahnya itu.
"Willis, lama tidak bertemu. Apa kabar? aku tidak percaya ternyata kamu lah yang selama ini adikku bicarakan!" Ucap Cindy mengulurkan tangannya kearah laki-laki yang merupakan cinta pertama sekaligus teman kuliah Cindy, si populer Algio.
"Daddy!" Angel menarik ujung baju Willis karena ayahnya itu terus terdiam sambil menatap orang yang tidak Angel kenali. Cindy beralih menatap gadis kecil yang Cindy yakini sebagai anak Willis, saat kuliah, Willis dikabarkan sudah punya anak.
Willis tersadar mendengar suara Angel, tapi masih belum menjabat tangan Cindy sehingga semua orang, termasuk Neysa, bertanya-tanya akan hal itu, Willis berubah diam sejak Cindy datang dan sepertinya sudah terjadi sesuatu.
"Hay, siapa namamu? Apa dia daddymu?" Cindy kemudian menarik tangannya dari hadapan Willis dan sedikit berjongkok supaya bisa menyesuaikan tingginya dengan Angel. Sebelum mendapatkan jawaban, Cindy lebih dulu mendapatkan telpon.
"Ada telpon, aku permisi sebentar." Ucap Cindy kemudian berlalu pergi setelah Juna dan Keana mengiyakannya, lalu Juna menepuk bahu Willis setelah melihat Cindy sudah semakin menjauh dan membuat tatapan Willis tertuju padanya.
"Maaf Juna, aku ada urusan sebentar." Ucap Willis sebelum Juna sempat bertanya yang terjadi, dia pergi begitu saja meninggalkan tempat itu dan berniat mengejar Cindy. Setidaknya Cindy harus tahu Willis dan Neysa bukan pasangan kekasih.
Tadi Willis sekilas membaca nama yang tertera di layar ponsel Cindy, nama Chan dengan tambahan emoticon hati, mungkin Cindy mendapat telpon dari kekasih atau mungkin suami, Willis sengaja mengejar Cindy untuk memastikan tentang itu.
Juna, Keana, Neysa dan Angel menatap kepergian Willis dengan pikiran masing-masing. Angel tidak tahu siapa Cindy, tapi sepertinya sang ayah pergi untuk mengejar perempuan cantik itu. Sementara Neysa mengepalkan tangan merasakan sesuatu.
Jangan heran, Neysa memang menyebut dirinya mommy di depan Angel. Karena Willis meminta Neysa untuk berpura-pura menjadi wanita yang sudah melahirkan putrinya itu dan Angel masih kecil untuk mengerti obrolan orang dewasa tadi.
Tidak lama Rafael dan Amelia menghampiri Juna dan Keana, kebetulan Rafael dan Amelia memberi bantuan dalam pernikahan Juna dan Keana. Tentu bukan bantuan dana, Rafael dan Amelia memberi bantuan dalam kelancaran jalannya pernikahan.
"Juna, Ana, aku dan istriku akan pulang duluan. Maaf tidak membantu sampai acaranya selesai, istriku sepertinya kelelahan." Ucap Rafael sambil merangkul Amelia yang saat itu wajahnya terlihat pucat, kabar baiknya Amelia sudah mengandung.
Usia kandungan Amelia baru memasuki minggu keempat, tidak heran Amelia kelelahan, apalagi Amelia membantu dari pagi dan belum sempat istirahat, kecuali makan. Dan Rafael khawatir itu akan mempengaruhi Amelia dan kandungannya.
"Baiklah, kalian hati-hati di jalan dan terimakasih atas bantuan kalian hari ini." Ucap Juna, berbeda dengan Keana yang hanya diam karena masih saja merasa canggung terhadap Rafael yang sekarang sudah berubah status menjadi seorang sepupu.
"Tidak perlu sungkan, memang sudah seharusnya kita saling membantu sebagai saudara. Aku minta tolong padamu, jagalah sepupuku, jangan pernah berani menyakitinya atau kamu akan berhadapan langsung denganku sebagai kakak sepupu Ana."
"Aku tahu, aku tidak akan menyakiti Audie, tidak akan pernah lagi. Aku akan menjaga Audie, juga anak-anak kami nanti." Ucap Juna percaya diri. Rafael hampir tersedak ludah mendengar Juna yang terlalu cepat membicarakan tentang anak.
"Baguslah, ayo sayang kita pulang." Ucap Rafael pada Amelia dan mengajak istrinya untuk pergi, Rafael tidak pamit langsung pada Keana karena Keana terlihat enggan berbicara dan Rafael tidak mungkin memaksa Keana untuk bicara padanya.
"Sayang, Rafael itu sepupumu, tidak seharusnya kamu mengabaikan Rafael seperti tadi, apalagi Rafael dan istrinya sudah membantu pernikahan kita." Ucap Juna setelah memastikan Rafael dan Amelia pergi, tapi Keana tidak mendengarkannya.
"Angel, bagaimana kalau kita duduk, hm?" Keana memilih bicara kepada Angel dibandingkan harus mendengar perkataan suaminya, Juna tidak akan mengerti betapa sulitnya ketika tiba-tiba sahabat sekaligus cinta pertama berubah menjadi sepupu.
Juna menghela nafasnya, dia tidak berpikir Keana belum melupakan perasaannya terhadap Rafael, karena kenyataannya istri Juna itu hanya belum terbiasa menjadi sepupu Rafael, mungkin suatu saat nanti Keana akan lebih baik menyikapinya.
"Aku tahu, kamu juga harus menjaga kesehatan disana. Tidak perlu khawatir padaku, aku pasti akan baik-baik saja disini. Seharusnya aku yang mengatakan itu, jangan berani macam-macam disana. Baiklah, aku juga mencintaimu, sayang."
Cindy tersenyum lebar setelah menerima telpon dari Chandra, sekarang kekasih Cindy itu sedang di Singapura, Chandra ada jadwal penerbangan disana. Cindy senang Chandra tidak pernah lupa memberi kabar dimanapun laki-laki itu berada.
"Kekasihmu, heh?" Suara itu mengejutkan Cindy, keterkejutan Cindy bertambah saat menemukan Willis berada tepat di belakang tubuhnya, Cindy mengusap dada sejenak, untung saja Cindy tidak memiliki riwayat jantung. "Atau tadi suamimu?"
Cindy mengerutkan keningnya, entah apa yang terjadi kepada laki-laki di depannya, ekspresi di wajah Willis menunjukan sesuatu yang sulit di mengerti. Cindy melihat tatapan dingin dan wajah datar Willis seperti menyimpan sesuatu.
"Lebih tepatnya calon suamiku." Cindy berusaha terlihat tenang, meski perasaannya tidak karuan, Cindy bertanya-tanya bagaimana bisa Willis ada disana, tidak mungkin kan Willis sengaja kesana untuk mengejarnya? tentu saja tidak mungkin!
Cindy dan Willis sedang berada di tempat yang lumayan sepi, tadinya Cindy sengaja ke tempat itu supaya bisa lebih jelas mendengarkan suara Chandra, tidak disangka sekarang Cindy malah terjebak bersama teman kencan adiknya sendiri.
Willis mengepalkan tangan mendengarnya, Willis bukan siapa-siapa Cindy, tapi entah mengapa ada rasa tidak suka mendengar Cindy sudah memiliki calon suami. Cindy adalah perempuan yang selalu mengejar-ngejar cinta Willis, itulah seharusnya.
"Maaf aku harus pergi sekarang, permisi." Cindy melangkah melewati tubuh Willis, tapi tangannya lebih cepat ditahan, Willis mencengkram tangan itu dan membuat Cindy meringis karena perih di tangannya. "Ada apa denganmu, Al? lepaskan!"
"Bukankah kamu mencintaiku? sekarang kamu ingin menikah dengan orang lain?" Willis sedikit berteriak dan hampir membuat Cindy menganga lebar. Cindy tidak menyangka Willis membahas masa lalu mereka setelah mengencani adiknya.
Begitulah Willis yang sebenarnya, makanya Juna selalu melarang Willis mendekati Keana. Karena Willis memiliki karakter yang cukup buruk, Willis memang bersikap baik kepada Keana, tapi tidak menutup kemungkinan Willis menyakiti Keana.
"Tolong jangan mengungkit masa lalu. Mungkin dulu aku sangat mencintaimu, tapi sekarang aku sudah memiliki laki-laki lain yang aku cintai dan juga mencintaiku." Ucap Cindy sambil berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Willis.
"Tidak mungkin! kamu pasti hanya menjadikan calon suamimu pelampiasan!" Ucap Willis tanpa ingin melepaskan tangan Cindy dari tangannya. Memang konyol, marah karena perempuan yang pernah mencintainya sudah punya calon suami.
Tapi, cinta memang sekonyol itu, Willis tidak rela Cindy akan menikah dengan orang lain, lagipula hubungan Willis dan Neysa hanya sebatas saling membutuhkan, Willis membutuhkan Neysa untuk berpura-pura menjadi ibu Angel begitupun Neysa.
"Tidak, kamu salah. Aku sudah melupakanmu dan aku sangat mencintai Chandra. Aku minta, jangan pernah menyakiti adikku." Ucap Cindy dan entah mendapat kekuatan darimana, dia akhirnya bisa melepaskan tangannya dari cengkraman Willis.
Cindy melanjutkan langkahnya dan meninggalkan Willis yang masih terpaku disana. Cindy merasa ada yang tidak beres dengan Willis, bisa-bisanya Willis membahas tentang perasaan Cindy di masa lalu, padahal Willis menolaknya mentah-mentah.
"Aku tidak percaya ini." Neysa bersembunyi dan mengepalkan tangannya, ternyata Willis adalah laki-laki yang pernah menyakiti kakaknya. Neysa ingat, kakaknya pernah menangis sepanjang hari karena sakit hati dan ternyata orang itu Willis.
Tapi, Neysa sudah terlanjur mencintai Willis.
~TBC
Koreksi ya kalau ada typo ...
Terimakasih sudah membaca It's Okay, That's Fate. Mari berhubungan baik antara penulis dan pembaca. Jangan lupa juga untuk memberi dukungan kalian terhadap karyaku. Makasih 💙
Regards,
Nur Alquinsha A | IG: light.queensha