
Juna dan Keana membuat seisi kantor heboh, untuk kesekian kalinya mereka terlihat datang bersama ke kantor. Kemarin ada yang melihat Keana masuk ke dalam mobil Juna dan banyak yang berpikir Keana tidur di tempat bos mereka.
Banyak yang berpikir begitu karena Juna dan Keana bukan sekedar datang bersama, mereka juga sama-sama terlambat datang ke kantor. Hal itu tentu saya mengundang orang julid, mereka berpikir Juna dan Keana sudah tidur bersama.
Kebetulan saat itu Juna dan Keana baru pulang dari pertemuan para pemegang saham, mereka tanpa sengaja mendengar dua orang karyawan yang membicarakan hal buruk tentang Keana. Katanya Keana yang lebih dulu menggoda Juna.
"Jadi ini pekerjaan kalian saat saya tidak ada di kantor? bergosip, heh?!" Tanya Juna memasang wajah datar, sama seperti Keana yang berdiri di belakangnya. Karyawan yang barusan sedang bergosip tersentak dan menatap Juna takut.
"M-maaf pak, kami--"
"Tahu siapa yang kalian sebut murahan? calon istri saya! kalian baru saja menyebut calon istri saya murahan, apa kalian sudah mulai bosan bekerja disini?!" Juna meninggikan suaranya dan membuat kedua karyawan itu menunduk takut.
Pasalnya selama ini Juna tidak pernah banyak bicara. Bahkan setiap kali ada yang menyapa atau berusaha bicara lebih dekat, Juna hanya membalas mereka seadanya. Sekarang sekalinya Juna bicara banyak malah dalam keadaan marah.
"Juna, sebaiknya kita kembali--"
"Kita bereskan ini sebentar, oke? aku tidak ingin kamu terus dianggap buruk oleh mereka." Ucap Juna menyela perkataan Keana dan mengusap puncak kepala calon istrinya itu, sebelum dia kembali menatap karyawan yang tadi bergosip.
"Hm, baiklah." Ucap Keana pasrah. Padahal Keana mengajak Juna kembali ke ruangannya supaya tidak memperpanjang masalah, tapi dia hanya bisa mengikuti keinginan Juna. sepertinya Keana harus bersiap untuk gosip yang lebih parah nanti.
"Kalian dengar yang saya katakan tadi?" Tanya Juna mengintimidasi dan memberikan tatapan tajamnya, sangat berbeda dengan cara Juna menatap Keana tadi. "Saya benar-benar tidak tahu harus bagaimana membereskan kalian!"
"Maaf, pak. Kami salah. Kami tidak tahu kalau nona Audie calon istri anda. kami benar-benar minta maaf." Salah satu karyawan menjawab. Keana mendengus, tidak menyangka ada orang yang dengan entengnya mengatakan hal itu.
"Memang kalau Audie bukan calon istri saya, dia pantas menjadi bahan gosip kalian?" Tanya Juna yang membuat Jesica dan Sisi, karyawan yang tadi bergosip terdiam. Keana merasa puas karena itulah yang ingin dirinya katakan sekarang.
"B-bukan begitu ..."
"Saya tahu, banyak sekali dari kalian yang suka bergosip tentang kehidupan pribadi saya dan selama ini saya masih bisa menoleransi kalian. Tapi sekarang kalian dengan gamblangnya mengatakan kalau calon istri saya murahan?"
"Dan alasan kalian mengatakan itu karena kami berangkat ke kantor bersama?! padahal sangat wajar kalau pasangan kekasih apalagi pasangan yang akan menikah seperti kami berangkat bersama. Saya tidak mengerti pikiran kalian."
"Jesica, kamu manager disini. Tidak bisakah kamu memberi contoh pada bawahanmu? bukan malah mengajaknya bergosip!" Juna memberikan jeda pada kalimatnya, menunggu Jesica menjawab. Tapi Jesica hanya mengatakan maaf pada Juna.
"Juna, sudahlah. Sebentar lagi akan ada ..." Keana menghentikan kalimatnya karena Juna tiba-tiba saja menatap padanya. Keana menyengir kuda karenanya. "Maaf, aku hanya takut kamu lupa karena mengurus hal tidak penting seperti ini."
Jangan heran Keana memakai kosa kata aku dan kamu saat bicara dengan Juna. Mereka sudah menyepakati hal itu sebelumnya. Selain Juna meminta Keana untuk memanggil namanya, Juna juga meminta hal itu dari calon istrinya.
"Tidak penting katamu?" Tanya Juna mengulang perkataan Keana yang mengganggu telinganya, lalu Juna menarik pinggang Keana supaya lebih dekat dengan dirinya. "Sayang, kamu harus tahu apapun tentang dirimu sangat penting bagiku."
Keana menyembunyikan wajahnya pada lengan Juna karena itu, tidak membiarkan Juna melihat wajahnya yang mungkin sudah mirip kepiting rebus. Setelah itu Keana merasakan kepalanya disentuh dengan lembut oleh tangan Juna.
"Jesica, Sisi, kalian berdua tahu alasan saya tidak memecat kalian yang selama ini sudah sangat sering membicarakan hal buruk tentang Audie? itu karena Audie yang memintanya." Juna mengatakan itu tanpa melihat lawan bicaranya.
Juna masih melihat kearah Keana, orang lain yang melihat itu pasti akan beranggapan mereka memang saling mencintai. Apalagi sikap Keana yang jarang sekali mereka lihat dan Juna yang terlihat menspesialkan perempuan jutek itu.
"Saya rasa sudah cukup, kalian bisa kembali bekerja. Setelah ini saya harap kalian berhenti mengatakan hal buruk tentang calon istri saya, karena mulai sekarang saya tidak akan segan kepada kalian berdua." Ucap Juna mengakhiri.
Juna mengajak Keana pergi. Diam-diam Juna tersenyum, Keana berubah jadi menggemaskan semenjak tadi pagi mereka berdua baikan. Ah, sebenarnya mereka tidak bisa disebut bertengkar, hanya Juna merasa sudah mengecewakan Keana.
"Kenapa terus menutup wajahmu, hm? sayang, mereka sudah tidak ada dan kita hanya berdua sekarang." Ucap Juna memberitahu, tapi malah membuat Keana semakin tidak ingin melihat wajah laki-laki itu karena merasa semakin malu.
Bayangkan saja tadi pagi Juna sudah dua kali menyebut Keana calon istri dan sekarang juga Juna dua kali memanggil Keana sayang. Padahal sudah untung sebelumnya Keana masih bisa bersikap propesional. Berbeda dengan sekarang.
"Juna, apa kamu ingin membunuhku?" Tanya Keana dengan maksud lain. Keana merasa akan semakin terancam oleh orang yang mengagumi Juna, apalagi Juna sudah mengakui Keana sebagai calon istri. Tidak bisa dibayangkan ke depannya.
Sementara itu, berita tentang Juna dan Keana dengan cepat menyebar. Karena tadi ada yang tidak sengaja mendengar saat Juna memarahi Jesica dan Sisi. Bahkan berita itu sudah sampai ke telinga Willis yang berada di ruangan Juna.
Kebetulan Willis datang ke tempat Juna untuk membicarakan pekerjaan, tapi Willis mendengar karyawan yang membicarakan tentang Juna dan Keana yang akan menikah. Bahkan katanya Juna baru saja mengakui Keana sebagai calon istrinya.
Willis tidak bisa menyembunyikan emosinya saat mendengar berita perempuan icarannya akan menikah dengan sahabatnya sendiri, terlebih sekarang Willis melihat Juna dan Keana tertawa di luar sana melalui kaca di ruangan Juna.
"Sedang apa kamu di ruanganku?" Tanya Juna saat memasuki ruangannya dan melihat Willis sedang duduk di sofa. Juna berjalan santai menghampiri Willis tanpa tahu yang sudah terjadi. Willis mengatur sejenak nafasnya.
"Juna, benar kamu dan Audie akan menikah?" Tanya Willis tidak ingin basa-basi dan tanpa menjawab pertanyaan Juna terlebih dahulu. Juna tidak menyangka hal itu cepat sekali menyebar sampai Willis repot-repot datang ke ruangannya.
"Ya, aku dan Audie akan menikah. Aku sudah mengalahkanmu, jadi jangan pernah mengajakku bersaing lagi." Jawab Juna tenang. Bahkan masih bisa membahas persaingan yang pernah mereka bicarakan. Willis mendesah tidak percaya.
"Bukankah kamu tidak menyukai Audie? kenapa sekarang tiba-tiba ingin menikahinya?" Tanya Willis menyambar penjelasan Juna. Benar-benar sulit di percaya Juna dengan mudah mengubah prinsipnya dan membuat Willis semakin emosi.
"Perasaan orang bisa berubah. Maaf, aku tidak bermaksud menikungmu dengan cara yang tidak sehat. Tapi aku dan Audie sudah memutuskan untuk menikah, lebih baik kamu menyerah dari sekarang. Karena aku tidak akan melepaskannya."
Arumi datang ke rumah sakit, tepatnya ruang rawat Joanna dengan memasang wajah cemberut. Arumi kesal karena sampai siang hari Gilang tidak membalas pesan darinya. Bahkan untuk sekedar membacanya saja tidak Gilang lakukan.
"Gilang!" Panggil Arumi saat memasuki ruangan Joanna dan menemukan Gilang sedang menyuapi Joanna. Sekarang sudah jam makan siang, Gilang menyuapi Joanna tanpa tahu Arumi tidak bisa makan karena terus menunggu kabar darinya.
Gilang dan Joanna menatap kearah Arumi secara bersamaan. Gilang yang melihat Arumi datang buru-buru menyimpan mangkuk bubur yang ada di tangannya ke meja nakas dan menghampiri kekasihnya yang berdiri di ambang pintu itu.
"Rumi, kenapa tidak memberitahuku kalau kamu mau datang kesini?" Tanya Gilang setelah berdiri tepat di depan Arumi dan hal itu mampu membuat Arumi memutar mata. Bisa-bisanya Gilang mengatakan itu padanya sekarang.
"Aku berkali-kali menelponmu, bahkan aku juga mengirim banyak pesan padamu. Tapi tidak ada satu pun yang kamu gubris! sekarang kamu memintaku menghubungimu? apa aku tidak salah dengar, heh?!" Arumi mulai terpancing emosi.
"Maaf." Hanya itu yang keluar dari mulut Gilang setelah mendengar Arumi bicara panjang. Dasar laki-laki, tidak peka jika yang Arumi butuhkan bukan sekedar permintaan maaf, tapi sebuah penjelasan yang masuk akal di balik itu semua.
Joanna hanya mampu terkekeh melihat wajah sahabatnya dari kejauhan, pucat karena sudah mendengar Arumi mengomel. Padahal selama ini Gilang tidak pernah takut apapun bahkan siapa pun. Dan sepertinya Juna harus mengetahui itu.
Benar. Juna memang tidak tahu sang kakak pacaran dengan Gilang. Baik Arumi maupun Gilang, keduanya pintar menyembunyikan hubungan mereka. Bahkan meskipun Joanna, Juna, Gilang dan Arumi sering jalan bersama.
"Sudahlah, untung saja aku tidak jadi datang ke restoran tadi malam." Ucap Arumi malas dan memilih untuk menghampiri Joanna daripada semakin sebal karena bicara dengan Gilang. Karena tujuan Arumi datang juga untuk Joanna.
"Anna, aku ingin memberitahu sesuatu padamu. Ini tentang Juna, dia akan menikah dengan Audie." Arumi kembali bicara saat Gilang akan kembali meminta maaf padanya. Joanna maupun Gilang nampak terkejut mendengar hal itu.
"Sekretaris Juna?" Tanya Joanna memastikan orang yang Arumi maksud. Arumi mengangguk membenarkan. Joanna tersenyum tipis dan kembali bicara. "Itu bagus, akhirnya Juna akan menikah. Aku ikut senang mendengarnya."
Arumi menatap Joanna iba, sebenarnya Arumi mengatakan ini supaya Joanna memikirkan kembali untuk memberitahu Juna penyakitnya. Setidaknya dengan begitu Juna dan Joanna berpisah tanpa harus merasakan penyesalan.
Arumi tahu seberapa besar cinta Juna kepada Joanna dan Arumi tidak bisa membayangkan semenyesal apa Juna setelah Joanna meninggal nanti. Terlebih saat Juna tahu kalau Joanna meninggal karena mengidap penyakit kanker.
"Aku tahu Audie perempuan baik, setidaknya aku bisa pergi dengan tenang nanti." Joanna menunjukan senyuman palsunya. Memang siapa yang akan benar-benar senang atau mungkin bahagia berada diposisi Joanna seperti sekarang.
"Hanya saja Audie adalah salah satu orang yang berjasa dalam hubungan kami. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana bisa Audie hidup bersama laki-laki yang pernah menyuruhnya melayani aku, mantan kekasih suaminya sendiri."
Tanpa sadar Joanna mulai meneteskan air mata, dia serius mengatakan hal itu. Joanna ingat betul peran Keana dalam hubungan dirinya dan Juna. Sebagai sesama perempuan, Joanna merasa bahwa itu akan sangat sulit bagi Keana nanti.
"Anna!" Arumi ikut meneteskan air matanya dan langsung memeluk Joanna yang saat itu sedang duduk di ranjangnya. "Aku mewakili Juna minta maaf padamu, seharusnya disaat seperti ini Juna di sampingmu bukan menikahi perempuan lain."
"Tidak. Itu tidak benar. Memang ini yang aku inginkan. Aku ingin Juna memiliki seseorang di sampingnya saat aku pergi nanti. Aku tidak ingin Juna terlalu lama menangisiku saat tidak ada orang di sampingnya." Joanna semakin terisak.
Gilang berusaha keras untuk menahan air matanya supaya tidak keluar melihat kedua orang yang paling dia sayangi menangis. Tapi tidak bisa karena air mata itu memaksa untuk keluar dan Gilang juga menangis, lalu memeluk keduanya.
"Ah, kenapa kalian berdua menangis?"
~ TBC
Terimakasih sudah membaca It's Okay, That's Fate. Mari berhubungan baik antara penulis dan pembaca. Jangan lupa juga untuk memberi dukungan kalian terhadap karyaku. Makasih 💙
Regards,
Nur Alquinsha A | IG: light.queensha