It'S Okay, That'S Fate

It'S Okay, That'S Fate
Special #2



Arumi sengaja datang ke tempat biasa Gilang berkumpul bersama teman-temannya tanpa mengabari Gilang terlebih dahulu, Arumi ingin kedatangannya kesana menjadi sebuah kejutan untuk Gilang, tapi setibanya di tempat biasa Gilang dan teman-temannya berkumpul, malah Arumi yang mendapat kejutan. Arumi melihat seorang perempuan sedang menempel pada Gilang.


Arumi tidak menemukan teman Gilang yang lain, Gilang dan perempuan yang menempelinya hanya berdua disana. Arumi ingin sekali menyeret perempuan itu supaya menjauhi Gilang, tapi kakinya terasa sangat sulit untuk sekedar melangkah, Arumi hanya berdiri di tempatnya menyaksikan kekasihnya bersama perempuan lain sampai akhirnya mulut Arumi yang berhasil bersuara.


"Gilang!" Tegur Arumi dengan tangan yang terkepal akibat menahan emosinya.


"Sayang?" Gilang menjauh dari perempuan yang tadi menempel padanya dan buru-buru menghampiri tempat Arumi berdiri. Gilang masih bisa tersenyum meski terlihat kemarahan di wajah Arumi.


"Kenapa kamu tidak memberitahuku kalau mau datang kesini?" Tanya Gilang menambah emosi dan amarah dalam diri Arumi.


Jadi, Arumi tidak boleh mendadak datang karena Gilang sedang bersama perempuan lain?


"Siapa perempuan itu?" Tanya Arumi menunjuk perempuan yang di maksud tanpa menjawab pertanyaan Gilang padanya. Yang ditujuk menatap Arumi dari jarak yang lumayan jauh.


"Oh, dia temanku di panti asuhan dulu." Jawab Gilang seadanya. Perempuan bernama Muthia yang tadi menempel pada Gilang adalah teman Gilang saat mereka masih sama-sama tinggal di panti asuhan.


"Apa teman harus menempel seperti tadi?" Arumi kembali bertanya dan menurunkan tangannya yang semula menunjuk teman Gilang yang katanya dari panti asuhan itu.


"Sayang, ayolah. Kamu tidak mungkin cemburu kan?" Tanya Gilang hendak menyentuh kepala Arumi namun Arumi menepisnya.


"Tidak mungkin cemburu?" Tanya Arumi tidak menyangka, ingin rasanya Arumi bertanya bagaimana perasaan Gilang kalau dirinya menempel dengan laki-laki lain, Arumi berani menjamin Gilang akan emosi dan menghabisi laki-laki yang akan dekat dengan Arumi nantinya.


Gilang adalah laki-laki berandalan, pernah suatu hari ada seorang yang terus memperhatikan tubuh Arumi, detik itu juga Gilang memberikan pelajaran. Gilang termasuk budak cinta, dia sangat menurut dan patuh kepada Arumi, tapi Gilang akan menjadi orang yang berbeda kalau sampai ada orang yang berani mengganggu kekasihnya itu.


"Jadi kamu cemburu?" Tanya Gilang kemudian mengacak rambut Arumi. Gilang tahu betul kalau Arumi sedang cemburu, tapi masih berpura-pura tidak tahu. Gilang merasa Arumi cemburu adalah momen langka, makanya sekarang Gilang sangat menikmati momen itu.


Arumi tidak menjawab, seharusnya Gilang tahu tanpa harus mendengar jawaban dari mulut Arumi, lagipula siapa yang tidak akan cemburu melihat perempuan lain menempeli kekasihnya. Arumi menyingkirkan tangan Gilang dari kepalanya karena merasa risih. Sementara perempuan yang katanya teman Gilang di panti asuhan memandangi mereka berdua dari tempat duduknya.


"Kamu tenang saja, sayang. Kamu masih menjadi perempuan satu-satunya yang aku cintai." Ucap Gilang sambil tersenyum memamerkan deretan giginya.


"Kamu pikir aku akan percaya?" Arumi melipat kedua tangannya di dada menatap Gilang dengan wajah galaknya.


"Aku melakukan apa supaya kamu percaya padaku, hm?" Tanya Gilang menantang Arumi, dia tidak pernah takut dengan tantangan untuk membuktikan cintanya kepada Arumi.


"Tidak perlu melakukan apapun, sekarang antar aku ke rumah Juna, baru aku akan memikirkan kembali kebenaran dari ucapanmu." Ucap Arumi ingin segera pergi dari tempat itu.


Tempat yang biasanya membuat Arumi enggan pulang ke rumah sekarang menjadi tempat yang membuat Arumi tidak betah karena keberadaan orang asing disana. Perempuan yang katanya teman Gilang itu terlihat cantik dan memiliki tubuh yang lumayan menarik, pantas Gilang tidak keberatan meski ditempeli seperti perangko.


Gilang terdiam untuk waktu yang cukup lama, dia kira Arumi sudah melupakan keinginannya untuk pergi ke rumah baru Juna dan istrinya. Padahal Gilang sudah cukup lega karena mengira Arumi tidak jadi mengajaknya kesana.


"Kenapa? Kamu tidak mau? Bukankah kamu sudah berjanji akan menemaniku?" Tanya Arumi melihat Gilang terdiam. Gilang kemudian menghela nafasnya.


"Maaf sayang, tapi aku sudah berjanji untuk mengantar teman lamaku." Ucap Gilang pada akhirnya sambil menoleh kepada Muthia, teman lamanya di panti asuhan. Muthia mengerutkan dahinya, tidak percaya Gilang membohongi kekasihnya sendiri, padahal tadi Gilang terus menolak untuk mengantar Muthia ke makam Joanna.


"Sudah berjanji? Lalu bagaimana dengan janjimu padaku? Kamu sudah berjanji akan menemaniku ke rumah Juna!" Ucap arumi tidak terima.


"Sekali lagi aku minta maaf, aku sudah terlanjur berjanji akan mengantar Muthi ke makam Anna, kita bisa pergi ke rumah adikmu lain kali." Ucap Gilang tidak enak hati.


Sebenarnya, Gilang khawatir Arumi marah, tapi rasa tidak ingin pergi ke rumah adik Arumi lebih mendominasi dirinya. Karena Gilang merasa kurang nyaman setiap kali berada dalam ruangan yang sama dengan perempuan yang sekarang berstatus sebagai istri.


"Lain kali? Kenapa kamu tidak lain kali saja pergi ke makam Anna?" Tanya Arumi tidak mau kalah. Sementara Muthia hanya menyaksikan pertengkaran pasangan kekasih itu.


Muthia dan Gilang tidak memiliki hubungan apapun selain teman saat mereka berada di panti asuhan. Muthia tahu Gilang sudah memiliki kekasih dan Muthia menempeli Gilang hanya supaya Gilang mau mengantarnya ke makam Joanna. Muthia baru pulang dari Korea selatan dan sudah lama tidak tinggal di Indonesia, oleh karena itu Muthia meminta bantuan Gilang untuk mengantarnya ke makam Joanna.


"Sayang!" Ucap Gilang dengan suara lirih.


"Kamu harus memilih aku atau dia!" Ucap Arumi berharap Gilang berubah pikiran dan mau mengantarnya ke rumah Juna, tapi harapan Arumi hancur karena Gilang tetap tidak sudi untuk mengantarnya dan memilih menemani teman yang bernama Muthi itu.


"Sayang, aku selalu menuruti keinginan kamu selama ini, tapi untuk sekarang aku minta maaf, aku benar-benar tidak bisa mengantar kamu ke rumah adikmu." Ucap Gilang menunduk, tidak ingin melihat wajah kecewa Arumi.


"Baiklah, aku bisa pergi sendiri." Putus Arumi pada akhirnya.


"Aku akan memesan taksi online untuk kamu." Ucap Gilang kembali mengangkat wajahnya. Gilang tahu Arumi pasti naik taksi kesana. Karena Arumi tidak pernah membawa mobil sendiri ke basechamp Gilang dan teman-temannya itu.


"Tidak usah, aku bisa menelpon supir pribadiku untuk menjemputku, kamu urusi saja teman lamamu itu." Ucap Arumi kemudian berlalu pergi, tapi Gilang dengan cepat menahan tangannya.


"Kamu yakin akan menyuruh supir kesini?" Tanya Gilang memastikan, Gilang hubungan mereka akan terbongkar kalau supir pribadi Arumi datang ke basechamp-nya dan Gilang sama sekali tidak siap untuk putus dari Arumi.


"Ya." Sahut Arumi singkat membiarkan Gilang memegang tangannya.


"Kamu marah? Cuma karena aku tidak bisa mengantar kamu ke rumah adikmu, kamu marah padaku?" Tanya Gilang semakin memperburuk suasana hati Arumi.


"Cuma?" Tanya Arumi mengulang satu kata yang membuatnya merasa tidak berarti apapun bagi Gilang.


"Sudahlah, kehadiranku disini hanya akan mengganggu kalian kan?" Ucap Arumi menepis tangan Gilang dan melanjutkan langkahnya meninggalkan tempat itu.


"Sayang, tunggu. Aku belum selesai bicara." Ucap Gilang mengejar Arumi dan kembali menahan kepergian Arumi, kali ini dengan menghadang langkah Arumi sehingga Arumi terpaksa berhenti melangkah. Gilang memegang bahu dan menatap lekat mata Arumi.


"Aku belum selesai bicara." Ucap Gilang mengulangi perkataan sebelumnya.


Arumi membuang nafas kasar.


"Ada apa lagi?! sudahlah, tidak ada yang perlu kita bicarakan!" Ucap Arumi menyingirkan tangan Gilang dari bahunya.


"Arumi, bukankah selama ini aku selalu bersedia mengantar kamu kemana pun? kenapa kamu tidak bisa bersikap dewasa? kamu tidak pantas marah hanya karena hal kecil seperti ini!" Ucap Gilang membuat Arumi mendengus tidak terima. Karena hal kecil yang Gilang maksud bukanlah hal kecil bagi Arumi


"Aku rasa kita memang tidak cocok. Kamu lebih muda dariku, kamu tidak akan mengerti aku." Ucap Arumi membuat Gilang mengepalkan tangannya.


Memang benar Arumi lebih tua dari Gilang, tapi selama ini Gilang selalu berusaha mengerti dan memahami Arumi, lagipula siapa yang sebenarnya tidak bisa mengerti?


"Arumi!" Ucap Gilang lirih.


"Gilang, aku tidak pernah menyukai orang yang ingkar dengan janjinya." Ucap Arumi menyambar perkataan Gilang.


"Aku tahu dan aku benar-benar minta maaf. Aku bukan tidak mau mengantar kamu, tapi aku sudah terlanjur berjanji kepada Muthi untuk mengantarnya ke makam Anna. Aku mohon mengertilah." Gilang meraih tangan Arumi.


"Aku juga minta maaf, aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita, mungkin lebih baik kita putus." Ucap Arumi menurunkan tangan Gilang dari tangannya dengan perlahan.


"Putus?" Tanya Gilang mengulangi perkataan yang tidak ingin didengar dari mulut Arumi.


"Kamu serius ingin putus? apa kamu sudah memiliki laki-laki lain? kenapa tiba-tiba kamu ingin kita putus?!" Ucap Gilang menuduh Arumi.


"Kamu yang sudah memiliki perempuan lain." Ucap Arumi tidak terima Gilang menuduhnya, sudah jelas Gilang yang memilih mengantar perempuan lain dibandingkan Arumi. "Gilang, lihatlah dirimu. Kamu berubah padaku semenjak temanmu itu datang!"


Gilang mengacak rambut frustasi.


"Baiklah, kamu ingin aku antar ke rumah Juna kan? ayo sekarang kita pergi kesana!" Putus Gilang pada akhirnya. Gilang tidak ingin hubungannya berakhir sehingga memutuskan untuk mengalah dan mengantar Arumi ke rumah Juna.


"Tidak perlu, aku bisa pergi sendiri. Bukankah kamu bilang sudah memiliki janji dengan dia?" Ucap Arumi menunjuk Muthia dengan dagunya.


Gilang melihat kearah yang Arumi maksud, Muthia mengikuti mereka dan pasti semuanya akan menjadi runyam. Gilang baru akan bicara kepada Arumi, tapi Arumi sudah lebih dulu pergi entah kemana. Kenapa perempuan yang sedang marah cepat sekali menghilang? apa mereka memiliki kekuatan semacam kekuatan super?


"Dasar bodoh. Kenapa kamu membiarkan kekasihmu pergi sendiri? bukankah kamu juga tidak mau mengantar aku ke makam Anna?" Ucap Muthia mencibir dengan sedikit berteriak karena jarak diantara mereka.


Muthia mengikuti Gilang dan Arumi bukan untuk menguping, Muthia hanya ingin memastikan tidak ada hal buruk yang terjadi antara Gilang dan sang kekasih, sayang sekali Arumi menyadari keberadaan Muthia.


"Kenapa masih berdiri disana, bodoh? cepat kejar kekasihmu! bukankah kamu bilang kamu sangat mencintai kekasihmu? atau kamu ingin hubungan kalian benar-benar berakhir?" Muthia masih bicara dengan berteriak karena jarak diantara mereka.


Tanpa menjawab, Gilang langsung berlari mengejar Arumi, namun Arumi sudah masuk ke dalam sebuah taksi dan Gilang langsung bergegas mengambil motor sportnya untuk mengejar Arumi, semoga saja belum terlambat untuk Gilang memperbaiki kesalahannya kepada Arumi.


Gilang kehilangan jejak Arumi karena motornya sempat mengalami sedikit masalah, tapi Gilang tahu betul kemana Arumi pergi, setelah motornya selesai diperbaiki, Gilang langsung melajukan motor sportnya menuju tempat yang sedang Arumi datangi yang tidak lain adalah rumah Juna.


Kalau tahu akan seperti ini jadinya, Gilang pasti akan memilih untuk mengantar Arumi ke rumah Juna. Tapi Gilang sudah terlanjur membuat semuanya menjadi kacau, bahkan Arumi sampai mengucapkan kata putus karena Gilang tidak ingin pergi ke rumah Juna.


Gilang menghentikan motornya di depan gerbang rumah Juna, meski halaman rumahnya luas, Gilang bisa melihat teras rumah Juna dari sana. Saat Gilang memandangi pintu rumah Juna, tiba-tiba pintu itu terbuka dan Gilang bisa melihat Juna keluar dari sana dengan pakaian yang sudah terlihat rapih, sepertinya Juna akan pergi ke kantor.


Gilang buru-buru mendorong motornya dan bersembunyi supaya Juna tidak menyadari keberadaan dirinya disana. Gilang mengejar Arumi untuk memperbaiki kesalahannya, tapi kalau Gilang masuk ke dalam rumah Juna sekarang, Gilang akan menjadi satu-satunya laki-laki disana, makanya Gilang memilih untuk bersembunyi. Mungkin lebih baik Gilang menunggu Arumi selesai dengan urusannya di rumah Juna.


Ternyata Juna tidak sendirian, Juna bersama dengan Keana di teras sana, Gilang melihat Keana mencium tangan Juna dan berlanjut dengan Juna yang mencium kening Keana lama. Gilang melihat mereka sebagai pasangan yang bahagia, sayangnya hal itu membuat hati Gilang sakit. Gilang teringat dengan harapan Joanna di masa lalu saat melihat Juna yang sudah berstatus menjadi suami orang.


Joanna mengharapkan Juna menjadi suaminya, tapi kenapa takdir Joanna sangat memilukan? bahkan Joanna harus merelakan laki-laki yang sangat dicintainya bersama perempuan lain!



Special Chapter adalah bab-bab yang berisi masa lalu para pemeran atau bagian yang sebelumnya sengaja aku skip. Aku membuat special chapters ini supaya kalian bisa mengenal lebih jauh semua pemeran, jadi aku mohon baca dengan lebih teliti.


Selain penulis, aku juga membaca cerita orang lain dan menurut pengalaman selama membaca cerita orang, aku tidak bisa memahami ceritanya kalau aku melewatkan kata yang tertulis dalam cerita itu, meski hanya melewatkan satu kata.


Jadi, aku harap kalian membaca ceritaku dengan lebih teliti, supaya kalian lebih memahami alur ceritanya. Jangan sampai kalian bertanya tentang hal-hal yang sudah jelas aku tulis. Bukan tidak mau menjawab, tapi kalau sudah jelas aku tulis?


Terimakasih sudah membaca It's Okay, That's Fate. Mari berhubungan baik antara penulis dan pembaca. Jangan lupa juga untuk memberi dukungan kalian terhadap karyaku. Makasih 💙


Regards,


Nur Alquinsha A | IG: light.queensha