It'S Okay, That'S Fate

It'S Okay, That'S Fate
IOTF #41



Keana sedang bersantai di taman belakang rumahnya saat tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang, tanpa menoleh Keana sudah tahu siapa yang memeluknya, Juna, pelukan laki-laki itu terasa tidak asing bagi Keana. Hangat dan nyaman, itulah yang selalu Keana rasakan saat Juna memeluk tubuhnya.


Tapi tunggu! jam berapa sekarang? kenapa Juna sudah pulang?


"Aku lapar, sayang." Ucap Juna manja. Juna langsung pulang setelah pekerjaannya di kantor selesai dan belum sempat makan siang di kantor. Sekarang perutnya membutuhkan sesuatu untuk dimakan, tapi tadi tidak ada makanan apapun diatas meja makan, bahkan katanya Keana juga belum makan siang.


"Memang jam berapa sekarang?" Tanya Keana mengutarakan pikirannya. Keana terlalu lama mengobrol dengan Arumi sampai lupa waktu. Arumi sudah pulang dua jam yang lalu dan selama itu Keana belum melihat jam, Keana bahkan tidak tahu kalau sekarang sudah lewat dari jam makan siang.


Juna tidak langsung menjawab, dia melepaskan pelukannya kemudian berjongkok di hadapan Keana yang saat itu sedang duduk di kursih yang berada di taman belakang rumah mereka. Juna menggenggam tangan Keana dan mencium tangan itu cukup lama sebelum akhirnya bicara.


"Sekarang sudah jam satu siang dan aku tidak sempat makan siang di kantor." Jawab Juna membuat mata Keana terbuka lebar dengan satu tangan yang menutupi mulutnya.


"Oh, astaga. Aku belum membuat makan siang untukmu. Maaf, aku benar-benar lupa. Tunggu sebentar, aku akan masak untukmu." Ucap Keana berniat beranjak dari tempat duduknya, namun Juna lebih dulu menahannya dan memintanya untuk tetap duduk.


"Tidak perlu masak, sayang. Kita memiliki asisten rumah tangga, kenapa kamu tidak membiarkan mereka melakukan tugasnya? dan kenapa mereka masih bisa bersantai padahal majikan mereka saja belum makan? kamu juga belum makan siang kan?!" Sungut Juna keheranan. Karena asisten rumah tangga mereka sangat berbeda dengan yang ada di mansion keluarga Juna.


"Membuat makanan untuk kamu juga sudah menjadi tugasku sebagai istri." Ucap Keana tanpa menjawab pertanyaan Juna padanya.


Memang benar seharusnya asisten rumah tangga lebih peduli tentang tugas mereka, tapi sekarang bukan waktunya Keana memikirkan itu, karena suaminya sedang kelaparan.


"Ana!" Ucap Juna lirih.


Juna tahu istrinya sudah terbiasa hidup mandiri, tapi sekarang bukan saatnya untuk Keana bersikap mandiri, masalahnya kedua asisten mereka harus memikirkan tugas yang seharusnya, bukan malah membiarkan Keana kelaparan di rumah sendiri.


Keana tersenyum lembut. Sebenarnya, Keana masih belum terbiasa dengan panggilan Juna padanya, setiap Juna memanggil Ana, Keana merasa Juna sedang memanggil Joanna, tapi Keana berusaha untuk membiasakan dirinya dan berusaha untuk tidak berpikir macam-macam.


"Sudahlah, aku masak sebentar." Ucap Kena beranjak dari tempat duduknya.


Juna ikut beranjak dan kembali menahan tangan Keana, dia tidak terima kalau harus membiarkan Keana memasak sementara asisten rumah tangga mereka enak bersantai.


"Kita makan diluar saja." Putus Juna pada akhirnya.


Sepertinya itu pilihan yang paling tepat daripada membiarkan Keana memasak. Juna menyukai masakan Keana, rasanya enak seperti masakan ibunya, tapi Juna tetap tidak ingin Keana memasak makan siang hari ini.


"Aku sudah benar-benar lapar, akan lama kalau menunggu kamu masak, jadi kita makan diluar saja." Ucap Juna melanjutkan kalimat sebelumnya, tidak ingin Keana salah paham dan mengira Juna tidak mau memakan masakan istrinya itu. Karena jujur Juna sangat menyukai masakan yang dibuat Keana.


"Kita bisa makan di tempat makan yang dekat dengan rumah kita." Ucap Juna lagi saat melihat Keana masih terdiam tanpa mengatakan apapun. Juna takut Keana tidak bisa menerima alasan darinya.


"Baiklah, kalau begitu aku akan bersiap sebentar." Ucap Keana akhirnya membuat Juna bernafas lega. Syukurlah Keana tidak keberatan untuk makan diluar.


Juna tersenyum menatap kepergian Keana, perempuan itu terlihat bersemangat untuk makan diluar. Juna berdoa dalam hati, meminta Tuhan untuk menjaga istrinya. Karena entah mengapa Juna merasa ada yang tidak beres dengan asisten rumah tangga mereka. Tapi Juna tetap berharap kalau itu hanya perasaannya saja.


Setelah ini, Juna harus memberi peringatan kepada asisten rumah tangga mereka. Karena kedua asisten rumah tangga itu sudah berani membiarkan Keana telat makan. Sepertinya Juna juga harus mengingatkan kalau asisten rumah tangga ada untuk meringankan pekerjaan Keana sekaligus menjaga Keana di rumah.


Juna tidak terima meski katanya asisten rumah tangga tidak memasak karena Keana tidak meminta mereka membuat makan siang. Lagipula, para asisten rumah tangga seharusnya inisiatif bertanya kalau memang Keana tidak meminta untuk dibuatkan makan siang. Karena memang begitulah mereka semua di bayar.


"Aku sudah siap, ayo berangkat." Ucap Keana memecahkan lamunan Juna.


Juna menatap istrinya, pantas Keana cepat sekali kembali, Keana pergi hanya untuk mengambil tasnya. Keana tidak bersiap seperti yang dilakukan perempuan kebanyakan, penampilannya saja masih sama seperti sebelumnya.


Keana memang perempuan yang nyaris sempurna yang Tuhan ciptakan untuk Juna. Meski terlahir kaya, Keana termasuk perempuan yang sederhana, tidak seperti perempuan dari keluarga kaya pada umumnya. Bahkan Keana terbiasa menggunakan kendaraan umum dan berdesak-desakan.


"Sayang, ada apa? kamu lapar kan? ayo!" Keana menarik tangan Juna untuk keluar dari rumah.


Juna hanya pasrah tangannya ditarik. Sebelum benar-benar keluar dari rumah, Juna sempat melihat asisten rumah tangga bernama Amel memandangi mereka dengan tatapan yang sulit untuk diartikan dan membuat kecurigaan Juna bertambah, seperti ada makna tertentu dalam tatapan Amel.


Semua asisten rumah tangga dikirim langsung oleh Jung Hwa, bukankah seharusnya papah mertua Juna itu mengirim asisten terbaik untuk putri kesayangannya?


"Tunggu!" Juna tiba-tiba menahan langkahnya dan membuat langkah Keana ikut terhenti.


"Kenapa, hum?" Tanya Keana berbalik menatap Juna yang berada di belakang tubuhnya. Juna bisa melihat dengan sudut matanya, Amel buru-buru bersembunyi dibalik tembok dan memperkuat kecurigaan Juna.


Juna tidak akan terlalu curiga kalau Amel dan Indah, asisten di rumah mereka, hanya kurang peduli terhadap pekerjaan, tapi sekarang kasusnya sudah berubah, pergerakan Amel terlihat sangat mencurigakan. Juna harus secepatnya bertemu papah mertuanya dan menanyakan tentang Amel.


"Apa kamu berubah pikiran? kita makan di rumah saja?" Tanya Keana gregetan melihat Juna terdiam.


Juna menatap Keana, sepertinya Juna sudah membuat istrinya kesal, Juna tersenyum dan mencubit gemas hidung Keana kemudian menggandeng Keana keluar dari rumah. Sekarang bukan saatnya Keana tahu tentang kecurigaan Juna terhadap asisten rumah tangga mereka, biar Juna menyelidikinya terlebih dahulu.


"Kami pergi keluar sebentar." Teriak Juna kepada asisten rumah tangga mereka.


Juna berteriak karena mereka sudah berada di pintu utama rumah, Juna khawatir suaranya tidak terdengar kalau bicaranya terlalu pelan. Keana mendengus karena merasa diabaikan,


"Bagaimana kalau setelah makan siang, kita pergi menemui Angel?" Tanya Juna menoleh kepada Keana. Juna merasa tindakan saja sudah cukup untuk menjawab Keana sehingga tidak menjawab pertanyaan istrinya itu.


"Baiklah, terserah kamu saja." Jawab Keana malas.


Juna menoleh kearah Keana dan mengangkat sebelah alisnya, ternyata Keana benar-benar kesal sekarang, tapi bukannya merasa bersalah, Juna malah senang bisa melihat wajah kesal istrinya yang baginya menggemaskan.


"Kamu mau makan dimana?" Tanya Juna menanti jawaban Keana.


"Terserah." Jawab Keana singkat.


"Sudah aku bilang terserah, kenapa kamu masih saja bertanya?" Ucap Keana masih dengan nada yang sama seperti sebelumnya.


Keana menoleh menatap Juna dan langsung menahan nafas saat menyadari wajahnya berdekatan dengan wajah Juna. Sementara Juna dengan santainya membuka pintu mobil untuk Keana dan membuat Keana semakin tidak berani untuk sekedar menghembuskan nafasnya.


"Sayang, kamu sedang datang bulan, hm?" Tanya Juna lagi, kini disertai hembusan nafas di sekitar telinga Keana. Karena jarak mereka yang terlalu dekat.


Keana hanya menggelengkan kepalanya tegas sebagai jawaban, Keana sudah menstruasi bulan ini, bahkan Juna sendiri mengetahuinya, karena waktu itu Juna melihat darah menembus di celana Keana di hari pertama Keana menstruasi. Ah, Keana malu kalau harus mengingatnya.


"Kamu sensitif hari ini, aku kira kamu sedang datang bulan." Ucap Juna terdengar sensual di telinga Keana, padahal Juna bicara seperti biasanya.


Keana memilih untuk tidak menanggapi perkataan Juna dan masuk ke dalam mobil begitu saja. Keana tidak kuat untuk terlalu lama menahan nafasnya sehingga memilih masuk ke dalam mobil dan membuang wajahnya dari Juna, dengan begitu Keana bisa lebih leluasa untuk bernafas.


Juna masih sempat-sempatnya mencium kepala bagian belakang Keana sebelum menutup pintu mobilnya dan masuk ke dalam mobil melalui pintu lain. Juna sudah terbiasa bersikap semanis itu kepada perempuan yang dicintainya dan Keana menjadi perempuan kedua yang mendapatkan sikap manis Juna.


Sayang sekali dulu Juna tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaannya kepada Keana, kalau saja dulu Juna bisa lebih berani, mungkin Keana akan menjadi perempuan pertama dan satu-satunya dalam segala hal, termasuk dalam mendapatkan sikap manis Juna.


Tapi mau bagaimana lagi, memang begitulah skenario yang Tuhan tulis untuk Juna dan Keana, mereka harus sama-sama mencintai orang lain dan mengalami sakit hati sebelum mereka disatukan dalam sebuah ikatan yang dinamakan pernikahan.



Keana dan Juna benar-benar pergi menemui Angel setelah makan di restoran seafood yang tidak jauh dari rumah mereka, Sekarang Keana dan Juna berada di depan rumah Willis menunggu seseorang membuka pintu untuk mereka, semoga saja Angel sudah pulang dari sekolah.


"Sa, kamu ada disini?" Tanya Keana saat pintu rumah Willis terbuka dan Neysa keluar dari sana. Keana tersenyum manis, sangat berbeda dengan Juna yang menatap Neysa heran.


Juna ingat Willis ingin mengejar Cindy dan keberadaan Neysa di rumah Willis sekarang menjadi tanda tanya besar bagi Juna, memang dasar Willis brengsek, bisa-bisanya Willis masih memanfaatkan Neysa sementara laki-laki itu menginginkan kakak kandung Neysa.


"Hm, Willis harus pergi ke luar kota dan akan pulang larut malam, aku sengaja kesini karena kebetulan tidak ada jadwal kuliah." Jawab Neysa seadanya. Keana menangguk mengerti.


"Wilis memintamu menjaga Angel?" Tanya Juna spontan. Keana menoleh sekilas kepada suaminya itu, Juna tidak cerita tentang Willis yang ingin mengejar Cindy, makanya pemikiran Keana tentang keberadaan Neysa di rumah Wiliis jauh berbeda dengan Juna.


"Ya, begitulah." Jawab Neysa mendadak tidak nyaman, rasanya seperti ada sesuatu dibalik pertanyaan Juna padanya.


"Kalian?" Tanya Neysa detik berikutnya.


"Kami ingin bertemu Angel." Jawab Keana dengan senyuman dibibirnya.


"Oh, Angel ada di dalam. Silahkan masuk." Ucap Neysa sambil menyingkir dari pintu supaya Keana dan Juna bisa masuk ke dalam rumah Willis.


"Terimakasih." Ucap Keana menarik tangan Juna memasuki rumah Willis. Neysa hanya tersenyum menanggapinya.


"Mommy, siapa yang datang? apa daddy pulang? ah, aunty?" Angel tersenyum lebar melihat Keana dan langsung berlarian menghampiri aunty kesayangannya itu.


"Jangan berlari, sayang. Nanti kamu jatuh." Keana berjongkok saat Angel hampir mendekat supaya bisa menyesuaikan tinggi mereka.


Angel tidak terlalu mendengarkan perkataan Keana, kedua tangan mungilnya memeluk tubuh Keana. Meski sudah bertemu orang yang disebut sebagai ibu kandungnya, Neysa, Angel masih belum melupakan keingianannya untuk menjadikan Keana pengganti ibunya. Karena Keana orang pertama yang membuat Angel merasakan pelukan dari seorang ibu.


"Angel senang aunty datang." Ucap Angel memeluk Keana erat.


Juna diam-diam melirik Neysa yang menatap Angel dengan penuh kasih sayang, Willis pasti akan sangat menyesal kalau sampai mencampakkan perempuan itu. Juna berharap Willis akan cepat menyadari kesalahannya, Juna tidak ingin sahabatnya menghancurkan dirinya sendiri dengan bermain api.


"Aunty juga senang datang kesini." Ucap Keana membalas pelukan Angel, senyuman di wajahnya seketika luntur saat menyadari Juna mencuri pandang kepada Neysa.


"Kalian duduklah, aku akan mengambil minum dan cemilan." Ucap Neysa menatap Juna dan tanpa sengaja tatapan mereka bertemu. Keana yang melihatnya sampai berdecak.


"Kalian mau minum apa?" Tanya Neysa beralih menatap Keana, dia tidak merasakan apapun saat menatap Juna. Karena hatinya setia kepada Willis seorang.


"Apa saja." Jawab Keana memaksakan dirinya untuk tetap tersenyum kepada Neysa, melihat Juna terdiam sambil menatap Neysa membuat hatinya terbakar sampai tersenyum saja rasanya sulit.


"Baiklah, aku akan mengambilnya sebentar." Ucap Neysa kemudian berlalu pergi. Keana tidak terlalu mendengarkan Neysa, matanya fokus melihat Juna yang terus menatap ke tempat Neysa berdiri, bahkan meskipun Neysa sudah tidak berada lagi disana.


"Angel, aunty datang kesini untuk bertanya tempat mana yang ingin kamu datangi untuk liburan kita nanti?" Keana sengaja menekan setiap kata pada kalimatnya supaya Juna ingat tujuan mereka datang ke rumah Willis, yang jelas bukan supaya Juna bisa memandangi kekasih Willis.


"Huh?" Juna menatap Keana menyadari nada bicara Keana yang seperti sedang menahan kesal, entah apalagi yang membuat istri Juna itu kesal sekarang.


"Wah, memang kapan kita akan pergi liburan?" Tanya Angel antusias dan bersemangat sambil melepaskan pelukannya dari tubuh Keana. Mata berbinar Angel menatap lurus mata Keana. Hampir saja mulut Keana terbuka untuk bertanya kepada Juna, tapi tidak jadi karena ingat sedang kesal.


"Mungkin akhir pekan, jadi Angel mau pergi kemana?" Tanya Keana lagi dan berpura-pura tidak sadar kalau Juna sedang menatap padanya. Keana sengaja ingin membuat Juna merasa terabaikan disana, supaya Juna tahu kalau Keana tidak suka Juna terlalu lama menatap perempuan lain.


"Hum .." Angel berpikir sambil mengetuk dagunya dengan jari telunjuk. Angel terlihat sangat polos berada diantara orang dewasa yang mungkin saja akan berperang karena sebuah kesalahpahaman.


Sebenarnya, Angel bukan satu-satunya orang yang memasang wajah polos, Juna pun memasang wajah demikian, Juna memasang wajah polos karena tidak mengerti penyebab Keana tiba-tiba terlihat sangat kesal.


~TBC


Terimakasih sudah membaca It's Okay, That's Fate. Mari berhubungan baik antara penulis dan pembaca. Jangan lupa juga untuk memberi dukungan kalian terhadap karyaku. Makasih 💙


Regards,


Nur Alquinsha A | IG: light.queensha