
Juna datang ke pernikahan Rafael dan Amelia sendirian, Juna tidak yakin Keana melewatkan pernikahan sahabatnya sendiri, makanya Juna sengaja datang ke pernikahan itu, tapi siapa sangka Keana benar-benar tidak ada disana.
Bahkan sampai akad nikah Rafael dan Amelia selesai pun, Juna tidak bisa menemukan Keana, sepertinya Keana benar-benar tidak bisa datang karena masalah kesehatan dan sekarang Juna malah kembali melakukan kesalahan besar.
Juna seharusnya mampir ke apartemen Keana sebelum datang ke pernikahan Rafael dan Amelia, bukan malah curiga Keana akan datang bersama laki-laki lain. Sepertinya apapun keputusan Juna selalu salah kalau berhadapan dengan Keana.
"Rafael, selamat atas pernikahanmu." Suara itu berhasil mengalihkan perhatian Juna, bisa dilihat seseorang yang begitu familiar sedang berdiri di pelaminan dan menjabat tangan Rafael, orang itu merupakan presdir dari shinhwa, Shin Jung Hwa.
Juna mengenal Jung Hwa, rekan bisnis sekaligus pemilik sejumlah saham di perusahaannya. Juna melangkah menghampiri keberadaan Jung Hwa untuk menyapa orang penting di perusahaannya itu sekalian mengucapkan selamat kepada Rafael.
"Pak Shin." Ucap Juna menyapa Jung Hwa yang sedang memeluk tubuh Rafael sebagai ucapan selamat. Jung Hwa melepaskan pelukannya dari Rafael dan membalikan tubuhnya, ternyata yang menyapa barusan itu adalah calon menantunya.
"Oh, Juna. Apa kabar?" Balas Jung Hwa disertai senyuman, bisa-bisanya dia bersikap seramah itu terhadap orang yang sudah menyakiti hati putri kesayangannya. Dia memang dikenal sebagai orang yang suka bermain cantik dalam segala hal.
"Kabar baik, bagaimana dengan anda?" Tanya Juna sambil menjabat tangan Jung Hwa yang terulur kearahnya. Juna tidak tahu kalau Jung Hwa adalah orang tua tunggal calon istrinya sendiri yang nanti akan menjadi mertuanya.
"Seperti yang kamu lihat, aku sangat sehat dan baik-baik saja." Jawab Jung Hwa masih dengan nada biasa, seolah tidak ada hal buruk diantara mereka, lalu Jung Hwa melihat sekitar. "Oh ya, kamu datang sendiri? dimana kekasihmu?"
"Saya tidak memiliki kekasih, tapi doakan saja dalam waktu kurang dari dua bulan saya akan menikah menyusul Rafael." Ucap Juna menjawab pertanyaan Jung Hwa padanya yang berhasil mengundang tawa Jung Hwa dan juga Rafael.
Jung Hwa merasa ada yang lucu dari perkataan Juna barusan begitu pun yang Rafael rasakan, Jung Hwa tidak menyangka calon menantunya bicara sepolos itu, sementara Rafael merasa Juna lebih pantas menjadi salah dari pemeran komedi.
Rafael tidak percaya Juna masih bermimpi ingin menikahi Keana, dia ingin sekali memberitahu Juna kalau Keana sudah pergi dan akan memulai hidup barunya, tapi Rafael sudah berjanji tidak mengatakan apapun tentang Keana kepada Juna.
"Kalau begitu selamat, aku akan menunggu kabar baik itu secepatnya." Ucap Jung Hwa memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana, melihat calon menantunya itu membuat Jung Hwa merasa bersalah karena mempercepat kepergian Keana.
"Terimakasih." Ucap Juna disertai senyuman yang membuat Rafael mendecih. Rafael memaki Juna dalam hatinya, tidak disangka Juna begitu bodoh karena tidak mengenali calon mertuanya sendiri. "Omong-omong, apa nona Amelia kerabat anda?"
"Oh." Jung Hwa tersenyum, semakin menarik juga obrolan bersama calon menantunya. "Bukan, aku kesini untuk keponakanku, Rafael, bagaimana denganmu?" Jung Hwa membalikkan pertanyaan membuat Juna dan Rafael terkejut bukan main.
"Jadi ..."
"Ya, Rafael adalah keponakanku, dia anak adikku." Jung Hwa menjelaskan dan menyela perkataan Juna, baik Juna maupun Rafael, keduanya tidak bisa mempercayai telinga mereka. "Kalau tidak salah, kamu dan Rafael teman kuliah bukan?"
"Tunggu!" Ucap Rafael menyela obrolan Jung Hwa dan Juna, ada hal yang harus Rafael pastikan dari perkataan Jung Hwa yang sulit untuk dicerna oleh akal pikirannya. "Maksud anda? keponakan? anda dan saya, bagaimana mungkin saya menjadi ..."
"Masih ada tamu, aku berjanji akan menjelaskan semuanya setelah acaranya selesai." Giliran Jung Hwa menyela perkataan Rafael. Ha, memang itu alasan Jung Hwa tidak membiarkan perasaan Rafael dan Keana tumbuh, mereka sepupuan.
Dulu, Jung Hwa berniat menjodohkan Keana dan Juna setelah tahu keponakan dan putrinya saling mencintai, tapi perjodohan itu batal karena Juna sudah memiliki kekasih. Beberapa bulan berlalu, Jung Hwa bertemu Amelia dan juga keluarganya.
Jung Hwa menemukan sesuatu yang menarik dari Amelia, makanya dia sengaja mengatur supaya perempuan itu bisa dekat dengan keponakannya. Jung Hwa sudah lama menyusun skenario antara Amelia dan Rafael tanpa diketahui keduanya.
Bahkan Amelia baru tahu Rafael keponakan Jung Hwa satu minggu yang lalu, Jung Hwa memang sudah merencanakan semuanya dengan matang. Dan lagi, Jung Hwa juga sedang merencanakan sesuatu untuk pernikahan Juna dan Keana.
"Juna, kalau bisa kamu ikut dengan kami, ada yang harus aku bicarakan padamu." ucap Jung Hwa beralih kepada Juna, dia merasa Juna juga perlu tahu tentang sesuatu, termasuk tentang siapa Rafael dan statusnya sebagai keponakan.
"Maaf, saya tidak bisa. Sebenarnya sudah terjadi sesuatu antara saya dan calon istri saya ..."
"Bagaimana kalau ini menyangkut calon istrimu? apa kamu tidak bisa meluangkan waktu untuk kita bicara?" Tanya Jung Hwa menyela perkataan Juna dan berhasil membuat Juna diam, ternyata benar yang dikatakan orang tentang Jung Hwa.
Jung Hwa adalah sosok misterius dan ambisius, tidak heran banyak sekali orang yang tidak ingin berhadapan langsung dengan Jung Hwa. Karena hanya orang yang berani mengambil resiko yang akan berani menghadapi orang seperti Jung Hwa.
"Anda tidak mengerti, calon istri saya ..."
"Nama calon istrimu Keana Audie Jovanka bukan? aku mengenalnya, bahkan aku tahu dimana gadis itu sekarang, kamu yakin tidak ingin mengetahui sesuatu tentang calon istrimu itu?" Tanya Jung Hwa, sekarang giliran Amelia yang terkejut.
Bagaimana bisa Jung Hwa mengenali Keana dan tahu keberadaan perempuan itu? Amelia memang tidak tahu bahwa Keana anak Jung Hwa, makanya Amelia berani mengatakan hal-hal buruk kepada Keana, yang ternyata anak dari penolongnya itu.
"Baiklah, saya tertarik." Ucap Juna pada akhirnya, dia curiga Jung Hwa memiliki hubungan dengan Keana sampai mengetahui nama lengkap calon istrinya. Mungkin saja kan Keana membalas Juna dengan selingkuh dengan si pria tua, Jung Hwa.
Juna akhirnya bisa bernafas lega setelah terlibat obrolan panjang, dugaannya ternyata salah, Jung Hwa dan Keana tidak memiliki hubungan seperti yang ada dalam pikirannya, ternyata Jung Hwa hanya ayah kandung Keana dan itu tidak buruk.
Juna tidak begitu peduli tentang hubungan Jung Hwa dan Rafael, bagaimana bisa mereka memiliki darah yang sama sampai bagaimana Rafael bisa diangkat menjadi anak dari orang tua Rafael yang sekarang. Juna hanya peduli tentang Keana.
"Jadi, dimana Audie? bisa saya bertemu dengan Audie sekarang?" Tanya Juna kepada Jung Hwa, sementara Rafael masih terlihat shock karena pembicaraan mereka, ternyata Rafael hanya anak yatim piatu yang diasuh oleh orang tua angkat.
"Lia, ayo pulang." Ucap Rafael menyela Jung Hwa yang akan membuka mulutnya, lalu dia menarik tangan Amelia pergi tanpa mengatakan apapun kepada Jung Hwa maupun Juna. Rafael butuh waktu untuk menerima semua kenyataan itu.
Jung Hwa hanya menatap kepergian Rafael, dia tidak berniat mencegah keponakannya pergi karena mengerti Rafael pasti butuh waktu untuk menerima semuanya. Jung Hwa merasa bersalah karena tidak mengatakan semua itu sejak awal.
"Putriku berada di Paris, sebaiknya kamu tidak berusaha untuk mengejarnya." Ucap Jung Hwa setelah melihat Rafael menghilang dari balik pintu, mereka ada di sebuah ruangan di gedung yang sama dengan gedung pernikahan Rafael.
Kebetulan gedung itu milik Jung Hwa sehingga mereka bisa bebas berada disana. Juna terkejut mendengarnya, Jung Hwa berusaha menjauhkan Keana darinya, mungkin Keana sudah bercerita tentang hubungan mereka kepada ayahnya itu.
"Kalau Ana tidak berubah pikiran, dia pasti akan kembali dalam waktu satu bulan dari sekarang untuk mempersiapkan pernikahan kalian." Ucap Jung Hwa menjelaskan, tapi Juna masih belum puas dengan penjelasan calon mertuanya itu.
"Tapi bagaimana kalau Audie tidak kembali? apa saya tetap tidak boleh mengejarnya?" Tanya Juna mengutarakan pikirannya, dia takut Keana tidak kembali ke Indonesia setelah waktu yang sudah ditentukan dan membatalkan pernikahan mereka.
"Bukankah putriku pantas bahagia? kalau Ana tidak kembali, berarti Ana lebih bahagia disana, lalu apa aku bisa menghalangi kebahagiaannya?" Jung Hwa membalikan pertanyaan dengan sarkas, namun dengan nada bicara yang cukup tenang.
Juna tidak bisa membalas perkataan Jung Hwa, sepertinya itu karma karena Juna selalu berbuat semaunya kepada orang lain, termasuk kepada Keana, tapi Juna tidak bisa membiarkan Keana bahagia di negara orang dengan orang lain pula.
"Ana tidak mudah memaafkan orang lain kalau hatinya sudah tersakiti dan kamu termasuk orang yang sudah menyakiti hatinya. Meski aku tidak melarangmu mengejarnya, kamu tidak akan bisa memaksanya kembali, Ana tidak suka dipaksa."
Juna semakin kehilangan kata-kata mendengar perkataan Jung Hwa, dia tidak menyangkal sudah menyakiti Keana dan itu yang disesalinya. Andai Juna bisa lebih pandai menghadapi semua yang terjadi, mungkin Keana tidak harus pergi ke Paris.
"Ana mencintaimu, itu yang ingin aku katakan padamu. Kalau nanti Ana memutuskan untuk tidak kembali, aku harap kamu menjadikan ini pelajaran bahwa kamu hanya bisa memilih satu wanita di dunia ini, mereka tidak mau berbagi."
Jung Hwa menjeda kalimatnya, memperhatikan wajah calon menantunya, sepertinya dugaannya benar, Juna juga mencintai Keana, tapi memang Juna tidak bisa memilih prioritasnya, sehingga laki-laki itu keliru dan melakukan kesalahan.
"Aku dan putriku tidak berhubungan baik karena suatu masalah yang membuat Ana kehilangan mamahnya. Ana membenciku, bahkan dia tidak ingin menerima sepersen pun uang dariku, tapi aku harap hal itu tidak akan terjadi padamu."
Juna membisu dan mengusap wajahnya kasar, dia sudah kehilangan harapan untuk menikahi Keana, bahkan hanya untuk bertemu Keana sepertinya tidak mungkin. Kalau bisa, Juna ingin memutar waktu dan memperbaiki semua kesalahannya.
Jung Hwa memang mengatakan Keana mungkin akan kembali setelah melewati satu bulan, tapi Juna merasa tidak akan ada kemungkinan itu, dia lebih yakin Keana tidak akan kembali, seperti yang pernah perempuan itu katakan kepada Juna.
Keana menyerah.
~TBC
Gak ada Keana dulu ya, diganti sama bapaknya 🤭 ini aku kasih foto Keana di Paris 😁
Terimakasih sudah membaca It's Okay, That's Fate. Mari berhubungan baik antara penulis dan pembaca. Jangan lupa juga untuk memberi dukungan kalian terhadap karyaku. Makasih 💙
Regards,
Nur Alquinsha A | IG: light.queensha