It'S Okay, That'S Fate

It'S Okay, That'S Fate
Special #3



Gilang sudah berjam-jam menunggu Arumi keluar dari rumah besar dan mewah milik Juna, tapi belum ada tanda-tanda Arumi akan keluar dari rumah itu. Meski cuaca terik dan mentari seakan mentertawakan kebodohan yang sudah Gilang lakukan, Gilang tidak berniat pergi dan akan tetap menunggu sampai Arumi keluar dari rumah Juna.


Gilang bergerak gelisah di tempatnya sambil sesekali melihat ke rumah besar dan mewah di depannya, atau lebih tepatnya kearah pintu rumah itu. Beruntung rumah Juna belum memiliki penjaga, kalau sudah, pasti Gilang akan dikira memiliki niat buruk, orang-orang yang kebetulan lewat saja sampai banyak yang mengamati Gilang disana.


Gilang melirik jam yang melingkar di tangannya, sudah hampir jam sebelas siang, Arumi masih belum keluar dari rumah Juna dan Keana, padahal seharusnya Arumi berada di butik dari beberapa jam lalu. Gilang menebak Arumi sedang curhat kepada Keana di dalam sana. Memang dasar perempuan tidak kenal waktu kalau curhat.


"Gilang, sedang apa kamu disini?" Suara itu mengejutkan Gilang, entah  kapan Arumi keluar dari rumah Juna dan Keana, sekarang tiba-tiba saja Arumi sudah berdiri di hadapan Gilang.


"Sayang, kita harus bicara." Ucap Gilang meraih tangan Arumi, tapi Arumi menolak tangannya di pegang, Arumi masih kesal karena Gilang lebih mementingkan teman perempuannya.


"Menurutku, tidak ada yang perlu kita bicarakan!" Ucap Arumi berniat meninggalkan Gilang disana, tapi tangan Gilang lebih cepat menahan tangan Arumi dan terpaksa Arumi menahan langkahnya.


"Sayang, tolong beri aku kesempatan untuk bicara." Ucap Gilang memohon. Gilang bisa melihat Arumi memutar mata dan membuang nafas kasar, sepertinya Arumi benar-benar marah padanya.


"Maaf, aku tidak memiliki waktu untuk bicara denganmu." Ucap Arumi kemudian menepis tangan Juna sampai tangan itu terlepas dari tangannya.


"Oh ya, berhentilah memanggil aku sayang, kita sudah putus." Ucap Keana sebelum melangkah menjauhi Gilang yang masih terpaku disana.


"Tunggu! tolong beri aku alasan kenapa kamu ingin putus dariku?" Tanya Gilang membuat Arumi kembali menahan langkahnya dan berbalik menatap Gilang.


"Kita sudah lama pacaran dan belum ada sedikitpun kemajuan, ditambah kamu yang dengan gamblangnya lebih memilih perempuan lain dibandingkan aku." Jawab Arumi mengungkap keluhannya.


"Tapi aku--"


"Aku perempuan, Gilang. Usiaku sudah hampir dua puluh sembilan tahun dan adik laki-lakiku sudah menikah." Ucap Arumi menyela perkataan Gilang.


Gilang terdiam memandangi Arumi dalam jarak yang memisahkan mereka. Gilang maupun Arumi tidak menyadari Keana yang sedang berada di teras dan memperhatikan mereka dari kejauhan.


"Selama ini aku tidak menuntut kamu untuk bisa memahami keadaanku, meski sebenarnya aku membutuhkan kepastian darimu, kejelasan hubungan kita." Arumi menghela nafas sejenak.


"Aku berharap dengan berjalannya waktu, kamu akan bisa serius dengan hubungan kita, tapi sepertinya aku salah, kamu bahkan masih bisa bermain-main dan menghancurkan harapanku."


"Kamu salah. Aku tidak pernah bermain-main dengan hubungan kita." Ucap Gilang menyangkal perkataan Arumi. Karena Gilang memang tidak pernah menganggap hubungan mereka sebagai permainan dan Gilang serius terhadap Arumi.


"Tapi kamu juga tidak bisa lebih serius dengan hubungan ini. Maaf, mobil yang menjemputku sudah datang. Aku harus pergi ke butik." Ucap Arumi saat melihat mobil yang menjemputnya datang.


"Bagaimana kalau aku menemui orang tuamu dan meminta restu dari mereka?" Tanya Gilang membuat Arumi menahan langkah untuk yang kesekian kalinya.


"Kita sudah putus, kenapa harus repot-repot menemui orang tuaku?" Ucap Arumi sebelum akhirnya pergi meninggalkan Gilang dan juga Keana yang masih berdiri di teras rumahnya.


Gilang mengepalkan tangan melihat mobil Arumi pergi tanpa berniat mengejarnya, ternyata Arumi memendam hal besar yang tidak pernah Gilang pikirkan sebelumnya. Karena selama ini Gilang terlalu takut kalau orang tua Arumi tidak menyetujui hubungan mereka dan hubungan mereka akan berakhir saat itu juga.


Tapi, sekarang ketakutan Gilang menjadi kenyataan, bahkan sebelum orang tua Arumi mengetahui hubungan mereka, Arumi sudah lebih dulu mengakhiri hubungan mereka.



Gilang berusaha untuk menutup mata sambil menahan sesuatu yang begitu menyiksanya. Gilang sedang berada di basecamp sendirian, Gilang memutuskan pergi kesana setelah bertengkar dengan Arumi.


Gilang sudah menceritakan masalahnya dengan Arumi kepada teman-temannya, lalu salah satu temannya bernama Kevin memberikan solusi sampai Gilang bisa seperti ini sekarang. Gilang tersiksa karena obat perangsang.


Gilang sudah menolak mentah-mentah ide gila Kevin, tapi sialnya Kevin diam-diam memasukan obat perangsang itu ke dalam minuman Gilang. Sekarang Kevin dan teman Gilang yang lainnya pergi entah kemana, memang dasar teman-teman yang di dalam otaknya hanya ada ************, Gilang meminta solusi malah memberi petaka.


"Gilang, kamu baik-baik saja?" Suara itu membuat Gilang membuka matanya. Gilang bisa melihat Arumi datang dengan wajah cemasnya.


"Arumi, kamu kesini?" Tanya Gilang dengan suara lemas. Karena obat perangsang semakin bereaksi.


"Kevin bilang padaku kalau kamu sakit." Jawab Arumi menyimpan tasnya di dekat kaki Gilang, posisi Gilang saat ini sedang tiduran di sofa dan Arumi terduduk di bawah sofa tempat Gilang berbaring.


"Ah, anak itu benar-benar." Gilang mencibir dalam hati. Pasti ini bagian dari rencana Kevin.


"Gilang, kamu baik-baik saja? kenapa tubuh kamu berkeringat seperti ini?" Tanya Arumi sambil mengusap keringat yang ada pada kening dan pelipis Gilang. Karena tagi Gilang belum menjawab pertanyaaan Arumi padanya.


"Hm, aku baik-baik saja." Jawab Gilang menahan tangan Arumi, bagaimana pun Gilang harus bisa melawan obat perangsang yang sudah terlanjur masuk ke dalam perutnya itu. Gilang tidak boleh melibatkan Arumi ke dalam rencana temannya.


"Tapi kamu terlihat tidak baik-baik saja." Arumi terlihat cemas sekaligus merasa bersalah.


"Itu hanya perasaan kamu saja." Ucap Gilang masih dengan senyuman dibibirnya.


Arumi dan Gilang saling terdiam setelahnya, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing dan Gilang senang karena ternyata Arumi masih peduli padanya. Apalagi Arumi sampai datang malam-malam ke basecamp setelah Kevin memberitahu kalau Gilang sakit.


"Arumi | Gilang." Gilang dan Arumi memanggil nama mereka masing-masing, setelah itu mereka kembali terdiam.


"Apa kamu membutuhkan sesuatu?" Tanya Arumi tidak ingin terlalu lama saling terdiam.


"Tidak, terimakasih." Jawab Gilang menolak tawaran Arumi secara halus.


"Jangan sungkan, katakan saja kalau memang kamu membutuhkan sesuatu." Ucap Arumi menatap Gilang dengan perasaan bersalahnya.


Gilang sakit pasti karena Arumi sudah keterlaluan, padahal selama ini Arumi tahu kalau Gilang selalu berusaha melakukan yang terbaik untuknya. Tapi apalah daya, tadi siang Arumi terlalu dikuasai oleh emosinya yang sudah sampai meledak-ledak.


"Kalau begitu bisa tolong bantu aku melepaskan bajuku?" Tanya Gilang membuat Arumi melotot.


"A-apa?" Arumi mendadak salah tingkah.


"Aku kepanasan, tolong bantu aku melepaskan baju." Ucap Gilang memperjelas perkataan sebelumnya barangkali Arumi tidak mendengar itu.


"Maaf, aku tidak bisa." Ucap Arumi menunduk tidak berani untuk sekedar menatap wajah Gilang.


"Pasti karena kita sudah putus." Gilang tersenyum miris. Gilang belum terbiasa dengan status mereka sebagai mantan. Ini seperti sebuah mimpi buruk.


"Tidak. Bukan karena itu." Ucap Arumi dengan cepat menyangkalnya dan mengangkat wajahnya.


"Lalu?" Tanya Gilang menatap lekat mata Arumi.


Arumi tidak menjawab.


"Baiklah, aku akan membantumu." Putus Arumi akhirnya membantu melepaskan baju kaus Gilang.


Gilang berbeda dengan Juna, penampilan laki-laki itu seperti berandalan pada umumnya, tapi Gilang tetap menjaga kebersihan dirinya dan tubuhnya memiliki aroma maskulin seperti Juna.


"Terimakasih." Gilang merasa geli melihat Arumi menunduk seperti tidak berani melihat tubuhnya, padahal Arumi sudah terbiasa melihat bagian atas tubuh Gilang saat mereka pergi ke tempat gym.


"Sudah tidak panas?" Tanya Arumi tanpa melihat lawan bicaranya dan hanya menatap pada lantai.


"Masih sedikit panas." Gilang berbohong. Karena sebenarnya dirinya masih sangat kepanasan.


"Sudah minum obat? aku antar kamu ke rumah sakit saja bagaimana?" Tawar Arumi mengangkat wajah dan berusaha supaya hanya menatap wajah Gilang, status mereka membuat Arumi tidak berani melihat tubuh Gilang.


"Tidak usah, aku sudah minum obat." Jawab Gilang.


"Kamu serius sudah minum obat?" Tanya Arumi memastikan.


"Hm, lebih baik sekarang kamu pulang." Gilang tidak ingin mengambil resiko, dia terpaksa meminta Arumi pulang karena takut tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menyentuh Arumi malam ini. Padahal Gilang masih sangat merindukan Arumi.


"Gilang, kamu terlihat tidak baik-baik saja. Aku akan mengantar kamu ke rumah sakit." Ucap Arumi tidak terlalu mendengarkan perkataan Gilang.


"Kenapa kamu masih peduli padaku? ingat, kita sudah putus!" Gilang sengaja mengatakan itu demi kebaikan Arumi, dia ingin Arumi pulang supaya Arumi selamat darinya. Gilang tidak ingin sampai menyentuh Arumi sebelum waktunya.


"Tapi--"


"Pulanglah." Ucap Gilang menyela perkataan Arumi dengan halus. Gilang menyentuh puncak kepala dan tersenyum hangat, berharap Arumi menurut padanya.


"Aku tidak bisa meninggalkan kamu dalam keadaan seperti ini." Ucap Arumi menolak pergi.


"Aku baik-baik saja, jadi lebih baik sekarang kamu pulang." Ucap Gilang tetap meminta Arumi untuk pulang. Gilang tidak ingin Arumi melihat dirinya tersiksa akibat obat perangsang, dan yang paling penting Gilang tidak ingin Arumi menjadi korban.


"Tapi kamu bilang tubuhmu kepanasan! Gilang, kita memang sudah putus, tapi bukan berarti aku tidak boleh peduli padamu!" Ucap Arumi tetap pada pendiriannya untuk tetap berada disana dan menemani Gilang yang dipikirnya sedang sakit.


"Harus berapa kali aku katakan? aku baik-baik saja! aku kepanasan karena Kevin memasukan obat perangsang ke dalam minumanku!" Gilang tanpa sadar mengatakan itu karena mulai terbawa emosi oleh sikap keras kepala Arumi.


"A-apa?" Arumi tergagap dan bisa mempercayai telinganya sendiri.


"Sekarang kamu sudah tahu kan? lebih baik kamu pulang! aku takut tidak bisa menahan diriku kalau kamu berada disini!" Ucap Gilang membuang muka dari Arumi. Gilang berharap dengan begitu Arumi akan menurut dan meninggalkan dirinya.


Tapi yang terjadi diluar perkiraan, Gilang melihat Arumi melepaskan pakaian di hadapannya dan hanya pakaian dalam yang membalut pada tubuh mulus perempuan itu. Gilang melotot saat Arumi berniat melepaskan resleting celananya.


"Arumi, apa yang kamu lakukan?!" Gilang dengan cepat menahan tangan Arumi supaya berhenti melakukan hal bodoh, Arumi tidak seharusnya berbuat demikian, akan sangat percuma usaha Gilang kalau mereka akan berakhir seperti ini.


"Aku akan membantumu." Ucap Arumi membuat Gilang tertegun. Gilang tidak pernah mengira Arumi akan menyerahkan tubuhnya begitu saja.


"Jangan gila! aku tidak memintamu melakukan ini!" Ucap Gilang geram. Gilang mengambil posisi duduk dengan tangan yang mencengkram tangan Arumi, bisa-bisanya Arumi merendahkan dirinya seperti ini dan membuat Gilang emosi.


"Tapi kamu membutuhkan bantuanku sekarang." Arumi terlihat lebih santai dari Gilang, padahal dalam rencana Kevin seharusnya Gilang yang memaksa Arumi untuk making love.


"Gilang, mungkin ini satu-satunya cara yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan hubungan kita." Ucap Arumi terdengar putus asa, mungkin ini akibat dari pembicaraan mereka tadi siang.


"Tidak. Bukankah sudah aku katakan padamu? aku akan mendapatkan restu dari orang tuamu dengan cara yang lebih baik!" Ucap Gilang tidak ingin merusak masa depan perempuan yang sangat dicintainya.


"Aku akan berhenti balapan dan aku juga akan mencari pekerjaan yang lebih baik supaya aku bisa lebih pantas bersanding dengan kamu dan keluargamu." Ucap Gilang berusaha meyakinkan Arumi supaya Arumi bisa sedikit lebih tenang.


"Arumi, aku tidak ingin merusak perempuan yang paling aku cintai. Lebih baik aku tersiksa daripada mengorbankan kesucianmu." Gilang melonggarkan tangannya yang memegang tangan Arumi dan menarik Arumi supaya duduk di pangkuannya.


"Aku masih sangat mencintaimu, jadi tolong terima bantuan dariku, aku tidak keberatan kalau harus memberikan tubuhku padamu." Ucap Arumi saat dirinya terduduk di pangkuan Gilang.


"Tapi aku keberatan!" Ucap Gilang memeluk tubuh Arumi dari belakang dan mencium tengkuk Arumi. "Aku juga mencintaimu, tapi bukan berarti kita harus melakukannya. Aku berjanji akan tetap menjaga kesucianmu sampai kita menikah."


"Gilang." Ucap Arumi lirih.


"Kamu harus pulang. Aku berjanji, besok aku akan datang ke rumahmu untuk meminta restu orang tuamu dan kamu tidak perlu memberikan tubuh kamu sekarang." Ucap Gilang dengan tangan yang mengambil pakaian yang tadi Arumi buang.


"Tapi kamu--"


"Aku baik-baik saja, pulanglah." Ucap Gilang lagi membantu Arumi memakai kembali pakaiannya. Suaranya terdengar lembut karena Gilang jarang sekali bicara kasar di depan Arumi, meski Gilang termasuk orang yang pergaulannya kurang baik.


"Tidak. Aku akan tetap disini." Ucap Arumi masih belum ingin meninggalkan Gilang sendirian. Dia takut Gilang akan melakukannya dengan orang lain kalau pulang sekarang. Dan Arumi tidak rela kalau itu sampai terjadi, Gilang hanya miliknya.


"Jangan keras kepala! Arumi, aku khawatir orang tuamu tidak memberi restu kalau sampai kita melakukan itu sekarang!" Ucap Gilang masih bisa berpikiran sehat meski sedang di pengaruhi obat perangsang. Itu karena Gilang mencintai Arumi.


"Maaf, aku sudah bersikap kekanak-kanakan. Aku tidak serius ingin putus darimu. Sebenarnya aku sangat takut kehilanganmu." Ucap Arumi lirih.


Malam itu tidak terjadi apapun, Gilang berhasil membujuk Arumi untuk pulang sementara dirinya tersiksa sendirian di basecamp. Gilang tidak bisa mengantar Arumi pulang, sehingga Arumi pulang ke apartemen dengan diantar oleh si tengik Kevin.


Sementara hubungan Gilang dan Arumi kembali seperti biasanya, mereka tidak jadi putus karena masing sama-sama mencintai. Besok rencananya Gilang akan pergi menemui orang tua Arumi dan meminta restu supaya Gilang menikahi Arumi.



Special Chapter adalah bab-bab yang berisi masa lalu para pemeran atau bagian yang sebelumnya sengaja aku skip. Aku membuat special chapters ini supaya kalian bisa mengenal lebih jauh semua pemeran, jadi aku mohon baca dengan lebih teliti.


Selain penulis, aku juga membaca cerita orang lain dan menurut pengalaman selama membaca cerita orang, aku tidak bisa memahami ceritanya kalau aku melewatkan kata yang tertulis dalam cerita itu, meski hanya melewatkan satu kata.


Jadi, aku harap kalian membaca ceritaku dengan lebih teliti, supaya kalian lebih memahami alur ceritanya. Jangan sampai kalian bertanya tentang hal-hal yang sudah jelas aku tulis. Bukan tidak mau menjawab, tapi kalau sudah jelas aku tulis?


Terimakasih sudah membaca It's Okay, That's Fate. Mari berhubungan baik antara penulis dan pembaca. Jangan lupa juga untuk memberi dukungan kalian terhadap karyaku. See you 💙


Regards,


Nur Alquinsha A | IG: light.queensha