
Arumi mencuri kesempatan saat Juna membawa Keana ke kamar, Arumi menghubungi orang tua mereka supaya cepat pulang, karena tidak mungkin Arumi menjelaskan semuanya sendiri. Arumi membutuhkan bantuan orang tua mereka.
Arumi sesekali melirik kearah tangga, kebetulan tangga itu bisa dilihat dari ruang keluarga. Arumi benar-benar takut menghadapi adik laki-lakinya. Selama ini Juna sering mengalah kepada Arumi, tapi kalau sudah marah Juna akan menakutkan.
Arumi mendadak panik saat melihat Juna mulai menuruni anak tangga, lalu Arumi menyimpan ponselnya ke dalam saku. Satu hal yang Arumi banggakan terhadap dirinya sendiri sekarang, Arumi tidak pernah meninggalkan ponselnya.
Arumi selalu membawa ponselnya kemana pun dia pergi sehingga sangat berguna untuk situasi darurat seperti sekarang. Arumi berusaha untuk tenang saat Juna mendekat sambil mengucap mantra, semoga mamah dan papah cepat datang.
Tadi katanya, orang tua mereka sedang dalam perjalan pulang ke mansion, Erina dan Bisma kebetulan sudah selesai dengan urusan mereka. Arumi tidak yakin dimana posisi orang tuanya sekarang, tapi sepertinya sebentar lagi datang.
"Kak Rumi, aku masih menunggu jawabanmu. Kenapa kakak tidak memberitahuku kalau Anna sakit?" Tanya Juna terdengar tenang namun juga sedikit menuntut, Juna tidak memiliki banyak waktu untuk membahas hal itu berulang kali.
"Kalian berdua sudah putus, jadi aku pikir ..."
"Itu bukan jawaban yang aku inginkan." Juna menyela perkataan Arumi dengan rahang yang mengeras, suaranya sampai terdengar ke lantai atas dimana Keana berada. "Kakak tahu selain aku, Anna tidak memiliki siapapun lagi?!"
"Aku tahu, makanya aku sering datang ke rumah sakit untuk menjenguknya. Kalian sudah putus, kamu juga akan menikah dengan Audie ..."
"Kak, untuk sekarang tolong berhenti membahas pernikahanku dengan Audie. Kami tidak akan menikah dalam situasi seperti ini, aku ..."
"Apa maksudmu?" Suara itu menyela perdebatan Arumi dengan adik laki-lakinya, Erina dan Bisma akhirnya datang dan mendengar perkataan Juna sehingga Erina membuka suaranya. "Arjuna, apa kamu berniat membatalkan pernikahanmu?"
Kebetulan saat Arumi menelpon, posisi mobil Erina dan Bisma sudah berada di dekat mansion, keduanya tidak menyangka Juna sampai berani mengatakan tidak akan menikahi Keana padahal baru kemarin Juna meminta restu mereka.
Arumi dan Juna menatap orang tua mereka secara bersamaan. Arumi bersyukur karena orang tuanya datang di waktu yang tepat, berbeda dengan Juna yang merasa terganggu dengan kedatangan orang tuanya. Juna hanya ingin bicara dengan Arumi.
"Bukan begitu ... mah, Anna sakit kanker dan kak Rumi mengetahui itu, tapi kak Rumi ..."
"Mamah dan papah juga tahu Anna sakit kanker, tapi memang Anna yang meminta kami untuk tidak memberitahumu." Ucap Erina yang seakan mengerti arah pembicaraan anak laki-lakinya, kebetulan Arumi juga sudah memberitahunya.
Juna nyaris tidak mempercayai telinganya, dia menjatuhkan rahangnya dan menatap anggota keluarganya dengan tatapan tidak menyangka. Jadi hanya Juna yang tidak tahu Joanna sakit? laki-laki macam apa Juna sampai tidak tahu?
Selama ini, Juna merasa dirinya yang mengetahui semua hal tentang Joanna, tapi sepertinya Juna sudah melalukan kesalahan, ternyata masih ada hal besar yang tidak Juna ketahui. Juna sampai kehilangan kata-kata mendengar semua itu.
"Sejak kapan kalian tahu Anna sakit?" Tanya Juna berusaha setenang mungkin, nada bicara laki-laki itu lebih rendah dari sebelumnya. Juna tidak bisa bicara nada tinggi di depan ibunya sendiri. "Mah, tolong beritahu aku sejak kapan kalian tahu itu?"
"Kami baru tahu Anna sakit setelah kalian berdua putus. Mamah merasa ada sesuatu yang kurang beres diantara kalian, mamah mengajakku untuk menemui Anna dan sejak itu kami tahu ternyata Anna sedang sakit kanker darah stadium empat."
Arumi mewakili Erina menjawab pertanyaan Juna, kalimat terakhirnya sedikit tercekat karena Arumi tidak kuat mengatakannya. Arumi bisa melihat adik laki-lakinya itu mengusap wajah kasar dan sepertinya Juna sudah dikuasai oleh emosinya.
Arumi tahu seberapa besar cinta Juna terhadap perempuan yang sekarang menjalani perawatan di rumah sakit dan pastinya akan berat menerima kenyataan orang yang disayanginya sakit parah, terlebih kanker Joanna sudah stadium empat.
"Juna, kamu harus tahu, Anna tidak selingkuh atau menghianatimu. Gilang menggendong Anna waktu itu karena Anna pingsan. Anna ..." Arumi menghentikan kalimatnya karena tidak sanggup untuk menceritakan yang terjadi lebih jauh.
Juna memejamkan mata, berusaha menahan air matanya supaya tidak keluar. Tapi percuma, Juna tidak bisa menahan air matanya. Juna menangis di depan semua keluarganya, ternyata yang dilihatnya waktu itu cuma sekedar salah paham.
Juna tidak tahu apa yang sudah dirinya lakukan, perempuan yang dia sayang menderita penyakit mematikan dan Juna malah memutuskan untuk menikahi perempuan lain. Tapi harus bagaimana lagi, Juna juga tidak bisa menarik perkataannya.
"Ini juga alasan papah memintamu memikirkan kembali keputusanmu untuk menikahi Audie. Karena papah takut kamu akan menyakiti Audie saat mengetahui semuanya." Bisma, sang ayah yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara.
Juna menatap sendu Bisma, hari dimana dirinya memutuskan untuk menikahi Keana kembali berputar dalam pikirannya. Entah mengapa Juna menyesal karena sudah terlalu cepat mengambil keputusan untuk menikahi perempuan lain.
"Tapi papah harap ..."
"Kalau kamu ingin membatalkan pernikahanmu dengan Audie, kamu pindahlah ke apartemen, karena mamah tidak ingin melihat wajahmu di mansion ini." Ucap Erina menyela perkataan suaminya, Bisma menghela nafas karenanya.
Bisma tahu betul Erina tidak serius mengatakan itu, istrinya hanya sedang melakukan ancaman supaya Juna tidak berani mengambil keputusan yang tidak diinginkan. Tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk mengancam Juna.
"Juna, mamahmu tidak pernah bermain dengan perkataannya. Jadi sebaiknya kamu memikirkan kembali keputusanmu." Ucap Bisma yang berada di pihak istrinya. Juna tidak percaya orang tuanya malah membahas pernikahannya dengan Keana.
Arumi yang melihat adiknya pergi begitu saja bergegas menahan pergelangan tangannya, dia tidak suka adiknya itu membantah perkataan orang tua mereka. Juna dengan malas berbalik dan menatap Arumi dengan mata berairnya itu.
"Juna, apa kamu benar-benar akan membatalkan pernikahanmu dengan Audie? kamu tidak ingat siapa yang sudah merawat kita dari kecil? mamah mengatakan tidak ingin melihat wajahmu, tapi kamu tidak peduli itu?" Arumi terlihat kecewa.
Juna tidak menjawab, dia perlahan menurunkan tangan Arumi dari tangannya, kemudian kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar. Juna sudah benar-benar malas sekarang dan hal itu semakin menambah kekecewaan Arumi padanya.
Keana menangis sepanjang perjalanan menuju apartemen, dia memutuskan pulang dari tempat Juna setelah mendengar perkataaan Juna yang menyakiti hatinya. Keana mendengar saat Juna mengatakan mereka tidak mungkin menikah.
Sebenarnya, Juna sudah meminta Keana supaya tidak keluar kamar sampai Juna kembali, tapi rasa penasaran dalam diri Keana memberontak dan Keana diam-diam menguping pembicaraan Juna beserta keluarganya sehingga Keana menangis.
Keana pergi dari mansion tepat disaat Juna pergi dari ruang keluarga, tanpa mereka sadari bahwa tadi keduanya saling memunggungi satu sama lain. Keana dan Juna juga berjalan kearah yang berlawanan dengan satu dan yang lainnya.
Keana sadar sejak awal dirinya hanya dijadikan pelampiasan, tapi Keana tidak tahu kalau rasanya akan sesakit ini saat Juna memilih membatalkan pernikahan mereka. Padahal Keana berharap semuanya akan lancar sampai hari pernikahan.
Keana pulang naik taksi, dari pertama kali masuk sampai turun dari taksi itu, Keana terus diam dan hanya air mata yang mewakili hatinya. Supir yang merupakan pria setengah baya saja sampai harus memastikan Keana baik-baik saja saat turun.
"Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan, lebih baik tenangkan dulu dirimu, baru setelah itu kamu memikirkan cara untuk menyelesaikan masalah yang kamu hadapi." Itu adalah nasehat dari supir taksi yang Keana tumpangi barusan.
Keana berjalan lemas menuju apartemen dengan tatapan yang terlihat kosong, dia tanpa sengaja berpapasan dengan Rafael dan Amelia saat tiba di depan apartemennya. Keana tersenyum miris, tidak disangka hari ini menjadi hari yang buruk.
Setelah Juna berniat membatalkan pernikahan mereka, sekarang malah Keana harus berpapasan dengan orang yang paling dihindarinya, Amelia, atau lebih tepatnya Keana tidak ingin melihat Amelia yang sedang bersama sahabat baiknya.
Karena meskipun Keana sudah mulai menyimpan perasaan terhadap Juna, perasaannya terhadap Rafael belum berubah dan Keana masih tetap saja merasa sakit saat melihat pasangan yang minggu depan akan resmi menjadi suami-istri tersebut.
"Ana | Audie." Suara itu bersautan antara suara Amelia dan juga seseorang yang sangat familiar, atau bisa dikatakan menjadi satu-satunya orang yang selalu memanggil Keana dengan nama Audie, siapa lagi orang itu kalau bukan Arjuna.
Keana membalikkan tubuhnya dan melihat Juna yang berdiri tidak jauh darinya dengan nafas tidak beraturan. Juna langsung mengejar Keana saat maid di mansion memberitahunya kalau Keana baru saja pergi dari mansion sambil menangis.
Juna sudah berusaha memanggil Keana saat melihat perempuan itu akan memasuki lift, tapi Keana sepertinya tidak mendengar panggilan Juna sehingga Juna memutuskan untuk mengejar Keana dengan menggunakan tangga darurat.
Keana melihat Juna yang perlahan mendekatinya, ingin rasanya Keana pergi dari sana, tapi sesuatu seperti menahannya. Keana tidak melakukan apapun selain berdiri menatap Juna sampai Juna berdiri tepat di hadapannya, dia tidak berkutik.
Juna menarik Keana ke dalam pelukannya, ada perasaan takut mengetahui Keana mendengar pembicaraan keluarganya. Juna tidak sadar apa saja yang sudah dirinya katakan, tapi mungkin saja perkataan itu sudah menyakiti hati Keana.
"Maaf ..." Hanya itu yang keluar dari mulut Juna setelah sekian lama mereka saling terdiam. Keana tidak tahu pasti alasan Juna meminta maaf, tapi mungkin karena Juna membatalkan pernikahan mereka, makanya sekarang Juna meminta maaf.
"Maaf sudah membuatmu berada dalam situasi yang sulit, tapi kamu harus tetap percaya padaku apapun yang terjadi." Juna kembali berbicara saat Keana masih terdiam sambil menatap padanya, perasaannya saat ini benar-benar sangat kacau.
Keana mengatur nafasnya sejenak dan berusaha menahan dirinya supaya tidak menangis setelah mendengar perkataan Juna barusan. Meskipun permintaan maaf Juna malah semakin membuat Keana ingin sekali menangisi nasibnya sekarang.
"Bagaimana kalau kita bicara di dalam? Aku akan membuat kopi untukmu." Ucap Keana tanpa mau menanggapi perkataan Juna. Dan Keana berusaha menunjukkan senyuman supaya terlihat baik-baik saja, dia tidak ingin Juna terus merasa bersalah.
Setelah itu Keana dan Juna berjalan ke apartemen Keana, pasangan yang tadi menyapa Keana sudah pergi entah kemana. Kalau boleh berharap, Keana ingin Rafael ada disampingnya sekarang, sayang sekali laki-laki itu sibuk dengan calon istrinya.
Meski Rafael tidak bisa melakukan apapun untuk membantunya, Keana percaya kehadiran Rafael akan mampu membuatnya lebih tenang. Tapi sudahlah, Keana tidak mungkin terus bergantung pada Rafael yang sudah menjadi milik orang lain.
Keana harus bisa menghadapi semuanya sendiri!
~TBC
Terimakasih sudah membaca It's Okay, That's Fate. Mari berhubungan baik antara penulis dan pembaca. Jangan lupa juga untuk memberi dukungan kalian terhadap karyaku. Makasih 💙
Regards,
Nur Alquinsha A | IG: light.queensha