It'S Okay, That'S Fate

It'S Okay, That'S Fate
IOTF #26



Keana tiba di Bandar Udara Internasional Halim Perdanakusuma setelah sekitar enam belas jam menempuh perjalanan. Keana sengaja pulang ke Indonesia untuk bertemu Juna dan akan kembali ke Paris setelah urusannya di Indonesia selesai.


Keana ingin memastikan keadaan Juna setelah kepergian Joanna secara langsung, dia khawatir Juna akan melakukan hal bodoh karena merasa kehilangan cinta sejatinya dan Keana juga ingin berada di dekat Juna disaat laki-laki itu sedih.


Keana belum sempat menikmati liburannya di Paris, dia terlalu sibuk mengurus kepulangannya ke Indonesia. Meskipun Juna tidak memintanya pulang, Keana tetap tidak bisa merasa tenang setelah keduanya melakukan panggilan video.


"Kamu pasti masih mengantuk." Ucap Keana pada orang yang menjemputnya di bandara. Keana tiba sekitar jam empat pagi, tidak heran kalau orang yang menjemputnya masih mengantuk, memang masih waktunya orang-orang untuk istirahat.


"Saya sudah terbiasa bangun pagi." Ucap laki-laki yang menjemput Keana di bandara. Dia adalah Azka, sekretaris baru Juna, Erina meminta Azka untuk menjemput Keana. Karena memang Keana sudah mengabari kepulangannya kepada Erina.


Keana dan Azka tidak terlibat pembicaraan lagi setelahnya, mobil yang mereka tumpangi melaju menuju mansion Juna dengan kecepatan sedang dan tanpa ada pembicaraan. Keana hanya sekali menanyakan bagaimana Juna saat di kantor.


Keana merasa canggung mengobrol dengan Azka karena laki-laki itu tidak banyak bicara. Keana jadi teringat saat hari pertama menjadi sekretaris Juna, suasananya terasa sangat canggung karena keduanya kesulitan untuk memulai pembicaraan.


Setelah sekitar setengah jam perjalanan, mobil Azka berhenti di depan mansion Juna, lalu Azka bergegas keluar dari mobilnya dan membukakan pintu mobil untuk Keana. Azka sudah terbiasa melakukan itu kepada perempuan di mobilnya.


"Maaf, saya hanya bisa mengantar anda sampai disini." Ucap Azka setelah membuka pintu mobil Keana. Ada satu hal yang perlu diketahui tentang Azka, dia adalah anak dari Soraya, sahabat Erina, makanya Erina meminta Azka menjemput Keana.


Katanya, Erina ingin memberi Juna kejutan dan sengaja tidak memberitahu kepulangan Keana kepada anak laki-lakinya itu. Karena kejutan, jadi tidak mungkin Erina meminta Juna menjemput Keana di bandara dan kebetulan juga Juna sakit.


Erina akhirnya meminta Azka menjemput Keana karena tidak bisa mempercayakan keselamatan calon menantunya kepada orang lain. Erina hanya percaya Azka, padahal Erina baru bertemu Azka dan belum mengenal baik anak sahabatnya itu.


"Baiklah, terimakasih." Ucap Keana, lalu keluar dari mobil Azka. Keana hendak mengatakan hal lain, tapi seorang penjaga keamanan lebih dulu menghampiri mereka dan mengajak Keana bicara, hal itu membuat Keana menahan ucapannya.


"Nona Audie, tuan dan nyonya sudah menunggu anda di dalam." Ucap penjaga tersebut kepada Keana. Berhubung Azka tidak kunjung membuka bagasi mobilnya, penjaga itu pun kembali bicara. "Nona, tidak ada barang yang perlu saya bawa?"


"Tidak ada, Pak. Saya tidak akan lama disini, saya hanya ingin memastikan Juna baik-baik saja, jadi tidak bawa barang." Jawab Keana, lalu dia beralih pada Azka yang masih berada disana. "Azka, kamu tidak mau mampir untuk minum teh atau kopi?"


"Tidak, tolong sampaikan saja salam saya kepada om dan tante. Maksud saya, tuan Bisma dan juga nyonya Erin. Saya ada sedikit urusan di rumah, jadi tidak bisa mampir." Ucap Azka sebelum dia masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil itu.


"Silahkan masuk, nona. Tuan dan nyonya berada di ruang tamu." Ucap penjaga tadi setelah melihat mobil Azka menjauh dari perkarangan mansion. Keana mengangguk mengerti, kemudian berjalan masuk ke dalam mansion Juna dan keluarganya.


Dan benar saja, kedua calon mertua Keana sudah menunggu di ruang tamu, mereka terlihat senang saat Keana datang. Erina bahkan memeluk Keana untuk melepaskan rindunya, dia bersyukur Keana masih mau ke mansion setelah kejadian hari itu.


"Audie, lama tidak bertemu." Ucap Erina dalam pelukan mereka. Akhirnya, Erina bisa bertemu Keana dan memeluk calon menantunya seperti sekarang. Erina berpikir tidak akan bisa bertemu Keana, tapi syukurlah sekarang Keana datang.


Keana tersenyum dan membalas pelukan Erina, pelukan itu hangat seperti pelukan mendiang ibunya dan membuat Keana teringat akan orang yang sudah melahirkannya ke dunia ini. Tapi itu tidak lama karena Erina melepaskan pelukannya.


"Apa kabar, mah, pah?" Tanya Keana setelah Erina melepaskan pelukannya, dia kemudian mencium tangan Erina dan Bisma secara bergantian. Jujur, Keana sangat senang bisa kembali menginjakkan kakinya disana dan tidak sabar bertemu Juna.


Keana berusaha untuk tidak terbawa suasana dan melupakan tentang ibunya. Sekarang tujuannya ke mansion Juna hanya untuk memastikan calon suaminya itu baik-baik saja. Keana tidak memiliki waktu untuk memikirkan hal lainnya selain itu.


"Baik, kamu bagaimana?" Erina mengusap kepala Keana sayang. Sementara Bisma memperhatikan kedua perempuan itu dengan tatapan lembut, dia sudah menduga Keana akan datang sebagai calon menantunya dan Juna pasti akan sangat senang.


"Kita bisa mengobrol nanti, lebih baik sekarang kamu menemui Juna, dia pasti akan senang kamu datang." Ucap Bisma menyela supaya dirinya dan Erina memiliki waktu untuk melanjutkan sesuatu yang sempat tertunda. Pasti kalian tahu bukan?!


"Juna berada di kamarnya." Ucap Bisma seolah mengerti pikiran Keana, ayolah Bisma sudah tidak bisa menahannya terlalu lama. Bisma tidak tahu Keana akan datang, makanya Bisma masih bisa meminta haknya kepada Erina disaat seperti ini.


"Tap---"


"Tidak apa-apa, lagipula sebentar lagi kalian akan menikah dan kamar Juna akan menjadi kamarmu juga." Ucap Bisma memotong perkataan Keana. Erina menggelengkan kepalanya, hidup bersama bertahun-tahun membuatnya mengenal Bisma.


Semenjak anak mereka dewasa, Bisma tidak bisa menahan dirinya untuk hal yang satu itu. Erina saja tidak habis pikir dengan perubahan Bisma, suaminya semakin tua malah semakin sering meminta jatah, Erina saja sampai malu sendiri.


"Benar kata papah. Juna tidak pernah mengunci pintu kamarnya, kamu bisa langsung masuk dan menemui Juna disana. Mamah percaya Juna akan merasa lebih baik melihat kamu." Ucap Erina yang akhirnya angkat bicara dan membantu suaminya.



"Buka saja, tidak perlu sungkan, Juna tidak akan keberatan kamu masuk." Ucap Bisma melihat Keana masih berdiri di depan pintu kamar Juna, dia bukan calon mertua kejam yang membiarkan menantunya begitu saja dan bersenang-senang.


Kebetulan kamar Juna dan orang tuanya lumayan berdekatan sehingga Bisma bisa melihat Keana belum juga masuk ke dalam kamar Juna. Karena Bisma dan Erina pun belum sempat masuk kamar, mereka tidak tega membiarkan Keana begitu saja.


Keana menelan ludah gugup, lalu dia memegang kenop pintu kamar Juna dan membuka pintunya perlahan. Sebenarnya Keana tidak untuk masuk ke dalam kamar Juna, tapi calon mertuanya terus berusaha mendorongnya untuk masuk kesana.


"Masuklah, Audie." Tekan Bisma gregetan, Keana lebih lambat dari yang Bisma pikirkan sampai rasanya Bisma ingin mendorong Keana masuk ke dalam kamar Juna. "Kamar itu nanti akan menjadi kamar kalian, kamu harus membiasakan dirimu."


Keana hanya tersenyum kaku sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar Juna dan menutup pintu kamar itu dari dalam. Bisma menghela nafasnya lega, akhirnya Keana berhasil masuk ke dalam kamar Juna, itu artinya Bisma bisa masuk juga.


Erina hanya pasrah, meskipun sebenarnya Erina masih ingin melepas rindu dengan menantunya, tapi lebih penting untuk memuaskan suaminya. Ah, rasanya Erina dan Bisma seperti pengantin baru saja, mereka masih saja sering bermesraan.


Sementara di dalam kamar Juna, Keana menatap laki-laki yang terlelap diatas kasur, wajah damai itu membuat Keana mengulas senyuman. Keana sangat merindukan Juna, meskipun belum lama tinggal di Paris, tapi selama itu Keana tersiksa.


"Syukurlah kamu baik-baik saja dan bisa tidur selelap ini." Keana berniat menyentuh wajah Juna, tapi tanpa disangka Juna menepis tangan Keana dan hampir membuat Keana terjatuh ke lantai, beruntung sekali Juna langsung bangun.


Juna menahan tangan Keana dengan kesadaran yang belum terkumpul sepenuhnya dan menatap Keana tepat pada matanya. Juna terpaku melihat perempuan yang berada di kamarnya, sementara Keana terlihat membeku di tempatnya sekarang.


Keana hampir terjatuh karena Juna tiba-tiba saja mendorongnya, tolong catat itu. Jantung Keana berdetak begitu cepat karena terkejut, tapi tidak lama Keana menerima pelukan yang membuat jantungnya lebih tenang, Juna memeluknya erat.


"Keana, benar ini kamu?" Tanya Juna semakin memeluk Keana erat. Entah sejak kapan laki-laki itu berdiri sampai bisa memeluk Keana seperti sekarang. Semuanya begitu cepat untuk kerja otak Keana yang tiba-tiba saja menjadi lambat.


"Apakah aku bermimpi? kamu pulang? sayang, aku sangat merindukanmu! setiap detik, menit, jam, bahkan hari yang aku lewatkan tanpamu terasa sangat menyiksa, kamu tahu itu?!" Juna rasanya tidak ingin melepaskan pelukan itu.


"Juna, apa kehilangan wanita yang kamu cintai membuat otakmu bermasalah, hm?" Tanya Keana yang kemudian membalas pelukan Juna dengan tidak kalah erat. Keana merasa perkataan Juna terdengar manis, tapi juga sangat berlebihan.


Keana belum lama di Paris, tapi perkataan Juna seakan Keana sudah bertahun-tahun tinggal di ibu kota Prancis itu. Keana tahu Juna senang dengan kedatangannya, tapi tidak perlu sampai mengatakan gombalan ala remaja pacaran juga.


"Aku tahu, aku juga mencintaimu, sayang. Sangat, sangat mencintaimu, kamu harus tahu itu." Juna membuat Keana kehilangan kemampuan untuk bicara, masalahnya perkataan Juna barusan itu terdengar horor dan membuat Keana merinding.


Tapi, bukan berarti Keana tidak suka mendengar pernyataan cinta Juna padanya, Keana hanya merasa sekarang bukan momen yang tepat untuk membicarakan tentang cinta. Ingatlah, bahwa baru saja Keana sedang menyinggung Joanna.


"Juna, pelukanmu membuatku kesulitan bernafas, bisa kamu lepaskan ini sekarang, huh?" Tanya Keana dengan tangan yang menyentuh punggung calon suaminya, Keana senang berpelukan seperti itu, tapi tenaga Juna memeluknya berlebihan.


Juna tidak menjawab, tapi tetap menuruti Keana dan melepaskan pelukan mereka. Seakan belum puas melampiaskan rindunya, lalu Juna menatap wajah Keana dalam jarak yang lumayan dekat dengan tangannya yang menyentuh wajah Keana.


"Sayang, luka di wajahmu ini, apa mereka yang melakukannya?" Tanya Juna saat melihat bekas luka di wajah Keana dan menyentuh bekas luka itu dengan lembut. Juna tidak melihat bekas luka Keana saat mereka melakukan panggilan video.


"Maksud kamu?" Tanya Keana berpura-pura tidak mengerti, lalu dia menurunkan tangan Juna dari wajahnya secara perlahan. Keana tidak tahu Juna sudah mengetahui semuanya tentang penggemar Joanna yang sudah meneror dan melukainya.


"Juna, aku kesini hanya untuk memastikan kamu baik-baik saja, besok aku akan kembali ke Paris untuk melanjutkan liburanku." Ucap Keana dan berusaha mengalihkan pembicaraan. Juna yang mendengarnya nampak sekali wajah itu kecewa.


Tapi, tidak lama Juna tersenyum dan membelai wajah Keana dengan tangannya yang lain, tidak masalah kalau Keana hanya pulang sebentar, setidaknya kurang dari satu bulan Keana akan kembali dan hidup bersama Juna selamanya.


"Aku baik-baik saja, kamu tidak perlu khawatir. Kenapa harus repot-repot datang hanya untuk memastikan itu? bukankah kita bisa melakukan panggilan video, hm?" Setelah mengatakan itu, Juna mencium bekas luka di pipi kiri Keana.


"Aku tidak akan membiarkan orang lain melukai wanitaku lagi, aku berjanji akan membalas luka ini secepatnya dan mereka yang menyakitimu harus mendapatkan hukuman setimpal, bahkan akan lebih menyakitkan dari luka di wajahmu ini."


Keana tidak tahu apa yang Juna bicarakan, tapi dia senang karena ternyata Juna peduli. Keana sempat berpikir untuk menghilang supaya Juna merasa kehilangan dirinya, tapi memilih untuk bertahan dan pergi liburan ternyata lebih baik.


"Kamu tahu---"


"Maaf, waktu itu aku tidak melindungimu. Aku tidak menyangka penggemar Joanna bisa sampai nekad dan melukaimu." Ucap Juna memotong perkataan Keana. Kalau di pikir-pikir, memang baru sekarang ada orang yang berani nekad.


"Tapi aku berjanji, tidak akan ada lagi yang berani melukaimu, aku juga akan membuat orang yang sudah melukaimu menebus kesalahannya, semua orang harus tahu konsekuensi sudah menyentuh milikku." Ucap Juna menatap dalam mata Keana.


"Apa aku harus merasa tersentuh sekarang? Juna, lama tidak bertemu membuat mulutmu manis!" Keana tersenyum, tentu sambil berusaha untuk menyembunyikan rasa senang bercampur malu yang sekarang sedang perempuan itu rasakan.


"Benarkah? bagaimana kalau kamu merasakan sendiri seberapa manisnya itu?" Tanpa meminta persetujuan Keana, Juna melahap bibir ranum Keana dan itu menjadi ciuman pertama mereka setelah Keana menghadapi masalah yang terjadi.


Keana diam-diam tersenyum dan menyambut ciuman itu. Kadang, cinta membuat perempuan seperti Keana bodoh, mereka pernah disakiti oleh laki-laki yang mereka cintai, lalu begitu saja lupa dengan rasa sakit itu hanya karena rasa cintanya.


Tapi ketahuilah, perempuan yang masih bertahan setelah tersakiti memiliki hati yang sangat tulus. Karena masih banyak perempuan atau bahkan mungkin laki-laki yang memilih untuk menyerah setelah tersakiti dan mereka adalah orang yang tidak mau terluka untuk kedua kalinya. Bukan berarti mereka tidak tulus, mereka pernah tulus mencintai, tapi terkalahkan oleh sakit hatinya.


~TBC


Siapa yang sudah menunggu momen Keana dan Juna? Maaf lama, kemarin tiba-tiba aja yang aku ketik hilang, jadi kembali ngetik dari awal 😭


Terimakasih sudah membaca It's Okay, That's Fate. Mari berhubungan baik antara penulis dan pembaca. Jangan lupa juga untuk memberi dukungan kalian terhadap karyaku. Makasih 💙


Regards,


Nur Alquinsha A | IG: light.queensha