It'S Okay, That'S Fate

It'S Okay, That'S Fate
IOTF #8



Keana tidak bisa fokus pada pekerjaan, dia terus mengingat kejadian beberapa menit lalu. Keana merasa sangat terganggu dengan perkataan dan perlakuan Juna padanya. Selain mengajak Keana menikah, Juna juga melakukan hal-hal asing.


Makanan yang ada di meja Keana contohnya, Juna secara khusus memesan makanan untuk Keana. Keana sempat bingung ada orang yang tiba-tiba mengantar makanan, sampai Juna mengirimnya pesan dan mengucapkan selamat makan padanya.


Juna sudah meminta Keana untuk tidak terlalu memikirkan perkataannya, tapi perlakuan Juna berkata sebaliknya. Keana merasa seperti orang yang dianggap spesial oleh Juna, karena Juna tidak biasanya melakukan hal semacam itu.


Keana teringat akan sesuatu, dia dan Juna tidak pernah bertukar nomer ponsel sebelumnya, lalu darimana Juna mendapatkan nomer ponselnya? Keana berusaha mengingat, dia memang tidak pernah memberikan nomer ponsel kepada Juna.


"Kenapa tidak makan?" Tanya Juna mengagetkan Keana yang sedang melamun. Keana berdiri saat menyadari keberadaan Juna, bosnya itu semakin membuatnya kehilangan fokus. "Apa kamu tidak menyukai makanan yang saya pesan, hm?"


"Bukan begitu, hanya saja sekarang sudah lewat jam makan siang." Ucap Keana pelan menjawab pertanyaan Juna kepadanya, lalu Keana melirik karyawan lain yang berada disana. Keana merasa khawatir akan ada lagi gosip tentang dirinya.


Juna mengikuti arah pandangan Keana, sekarang dia mengerti alasan Keana tidak juga menyentuh makanan yang di pesannya untuk perempuan itu. Juna menghela nafas, lalu mengambil makanan diatas meja Keana dan menarik Keana pergi.


Keana maupun Juna mendengar ada karyawan yang berbisik membicarakan mereka, namun Juna tidak terlalu memperdulikan hal itu. Juna menarik tangan Keana untuk masuk ke dalam ruangannya, sementara Keana hanya mengikuti.


"Audie, apa perkataan mereka mulai berpengaruh padamu?" Tanya Juna yang melihat wajah murung Keana. Bukan pertama kali Keana menjadi bahan gosip oleh karyawan lain, tapi baru sekarang Juna melihat Keana murung karena gosip mereka.


Keana dan Juna sudah berada di ruangan besar yang tidak lain ruangan Juna, hanya ada mereka berdua di ruangan itu dan membuat Keana ingat saat Juna mencium bibirnya. Keana mungkin tidak akan terpengaruh kalau itu tidak terjadi.


Juna menghela nafas melihat Keana diam. Dia kemudian menarik tangan Keana menuju sofa yang ada di ruangan kerjanya dan memerintah sekretarisnya itu untuk duduk. Keana tidak melakukan apapun selain menuruti Juna.


"Sebaiknya kamu makan, saya tidak ingin kamu sakit." Ucap Juna yang mulai menata makanan yang di bawanya tadi keatas meja. Keana masih memperhatikan Juna tanpa mengatakan apapun, dia semakin merasa asing terhadap bosnya itu.


"Saya tidak tahu makanan kesukaanmu, jadi saya asal memesan makanan. Kalau kamu tidak suka, saya bisa memesan makanan lain." Ucap Juna melanjutkan kalimatnya masih sambil menata makanan diatas meja dan fokus pada makanan.


"Pak, tolong jangan bersikap seperti ini. Karyawan lain bisa semakin salah paham." Ucap Keana pada akhirnya. Dia mulai tidak nyaman dengan semua perlakuan berlebihan Juna. Terlebih saat Keana ingat Juna sempat mengajak dirinya menikah.


Keana tidak tahu lelucon seperti apa yang sedang bosnya mainkan. Tapi Keana benar-benar tidak ingin terjebak di dalamnya. Sikap Juna begitu asing, apalagi sebelumnya Juna sempat mengusap puncak kepala Keana dan tersenyum hangat.


"Audie, kamu tidak makan siang gara-gara saya mengajak kamu kembali ke kantor." Ucap Juna tenang, lalu memberikan sendok kepada Keana. "Makanlah. Kamu tidak perlu terlalu memikirkan perkataan orang yang tidak mengetahui apapun."


"Tapi pak ..."


"Saya tidak suka mengulangi perkataan, apa perlu saya menyuapimu hum?" Juna menyela perkataan Keana. Bahkan Juna menyendok nasi beserta lauk pauknya untuk Keana, dia memang bukan tipe orang yang suka bercanda dengan perkataannya.


"Buka mulutmu!" Titah Juna sambil menyodorkan sendok berisi nasi dan lauknya ke depan mulut Keana. Hal itu membuat Keana menatap kosong wajah Juna, sepertinya masalah percintaan Juna dan kekasihnya serius sampai Juna seperti ini.


Juna kembali menghela nafas, melihat Keana tidak menuruti perkataannya membuatnya geram. Juna tidak mengerti mengapa Keana berubah keras kepala, padahal Juna melakukan itu semua untuk kebaikan perempuan itu.


"Audie, saya tidak suka kamu seperti ini. Mungkin semua yang terjadi membuat kamu bingung, tapi saya tidak suka kamu mengabaikan kesehatanmu. Sekarang buka mulutmu, hm." Juna masih belum menyerah dan berusaha membujuk Keana makan.


"Terimakasih, pak Juna. Tapi saya bisa makan sendiri." Ucap Keana pada akhirnya, dia merebut sendok dari tangan Juna dan mulai menyantap makanan. Keana merasa leluconnya tentang Juna yang hari ini lupa minum obat menjadi sia-sia.


Keana pikir lelucon itu bisa membuat semuanya berjalan seperti biasa, tapi ternyata tidak. Juna sudah terlanjur membuat hubungan diantara mereka kurang baik dan itu membuat Keana harus menghadapi siatuasi seperti sekarang.


Ah, sebenarnya hubungan diantara mereka tidak bisa di kategorikan tidak baik. Hanya saja aneh rasanya menerima perlakuan Juna. Perhatian Juna membuat Keana merasakan sensasi tidak biasa, yang tidak pernah Keana alami sebelumnya.


"Pelan pelan, jangan sampai tersedak." Ucap Juna mengingatkan disertai senyuman yang jarang Keana lihat. Juna benar-benar menunjukkan perubahannya hari ini, laki-laki itu sampai bisa menunjukkan senyuman selain di dekat Joanna.


Keana berusaha untuk tetap fokus pada makanan, tapi dia mendadak teringat akan sesuatu. Keana ingat bahwa Juna juga belum makan siang. Dia tiba-tiba berhenti makan dan menatap Juna yang kebetulan juga sedang menatap padanya.


"Pak, anda juga belum makan. Kenapa memesan makanan untuk saya, tapi tidak untuk diri anda sendiri?" Tanya Keana yang membuat senyuman Juna semakin merekah, tidak tahu kenapa Keana tidak bisa mengalihkan tatapannya dari Juna.


"Saya kenyang hanya dengan melihatmu makan, jadi sebaiknya habiskan makananmu." Jawab Juna masih dengan senyumannya. Boleh Keana merasa Juna mendadak murahan? iyah murahan, karena sudah mengumbar senyuman mahalnya itu.


Rafael mengalami hal yang sama di tempatnya bekerja. Dia tidak bisa fokus terhadap pekerjaan. Karena terus memikirkan nasib persahabatannya dengan Keana, bedanya Rafael sudah satu minggu tidak bisa fokus bekerja terhitung sampai hari ini.


Rafael sampai berkali-kali menerima teguran dari atasannya. Amelia yang melihat itu benar-benar dibuat kesal, dia menyalahkan Keana yang sudah membuat pikiran Rafael kacau. Padahal Keana tidak melakukan apapun yang merugikan Amelia.


Namanya juga cinta, perasaan itu bisa membuat orang seperti Amelia tidak waras. Masalahnya, Rafael bisa tidak fokus karena cintanya yang begitu besar untuk Keana, tapi Amelia malah menyalahkan Keana yang juga merasa tersakiti.


"Rafa, apa perlu aku melakukan hal gila supaya kamu bisa melupakan Keana?!" Tentu Amelia tidak mengatakan hal itu secara langsung, dia tidak cukup berani menghadapi kemarahan Rafael kalau tahu dirinya berniat jahat kepada Keana.


"Ana, jika memang kita tidak ditarkdirkan untuk bersama, tidak bisakah kita kembali seperti dulu? aku tahu aku salah, aku mengatakan sesuatu yang menyakitimu. Tapi tidak bisakah kamu memberi aku kesempatan?" Hati Rafael bertanya-tanya.



"Masih tidak mau cerita?" Tanya Willis kepada Angel yang duduk disampingnya. Mereka sedang berada di sebuah taman dekat sekolah Angel dan sudah sekitar sepuluh menit Willis menunggu Angel cerita padanya. Sampai Willis tidak sabar.


"Sayang ..."


"Kenapa mommy pergi?" Tanya Angel menyela perkataan Willis. Gadis kecil itu menatap Willis dengan mata sembab. Willis menutup mulutnya yang tadinya terbuka. Dia bingung harus bicara apa untuk menjawab pertanyaan Angel padanya.


"Angel, apa masih ada orang yang mengatakan hal buruk padamu? kalau benar, siapa orang itu? daddy berjanji akan menegurnya untukmu, hum?" Willis akhirnya hanya bisa mengalihkan topik pembicaraan, seperti yang selalu dia lakukan.


"Daddy, kenapa daddy tidak pernah mau cerita tentang mommy?" Angel tidak memberi Willis jawaban, malah kembali melempari ayahnya dengan pertanyaan. "Daddy, kapan Angel bisa seperti teman Angel yang memiliki mommy?"


Willis menarik nafasnya. Ini alasan Willis ngotot mendekati Keana, meskipun Juna sudah beberapa kali melarangnya. Setidaknya, jika Willis berhasil mendapatkan ibu untuk Angel, gadis kecilnya itu akan berhenti menanyakan ibu kandungnya.


Willis bukan tidak ingin cerita, dia hanya tidak memiliki sesuatu yang bisa di ceritakan. Willis juga tidak mungkin bercerita tentang Angel yang bukan anak kandungnya, dia tidak bisa membayangkan reaksi Angel nantinya.


"Sayang, daddy berjanji akan memberi mommy yang kamu inginkan. Tapi daddy mohon bersabar sebentar." Hanya itu yang bisa Willis katakan kepada gadis kecil kesayangannya. Dia berjanji akan memberikan yang terbaik untuk Angel.


Sementara ditempat lain, lebih tepatnya di rumah sakit tempat Joanna di rawat. Gilang dan Joanna baru saja memasuki ruangan VVIP nomer 61 atau ruangan Joanna. Gilang buru-buru membaringkan Joanna yang pingsan keatas tempat tidurnya.


Tidak lama dokter dan beberapa perawat masuk ke dalam ruangan itu. Ya, apa yang Juna lihat tidak seperti yang laki-laki itu pikirkan. Gilang menggendong Joanna karena pingsan, padahal Joanna pergi ke restoran untuk melihat Juna.


Sebelumnya, dokter mengatakan kondisi Joanna semakin memburuk. Oleh karena itu Joanna ingin melihat Juna untuk yang terakhir kalinya, Joanna merasa tidak akan ada kesempatan lain untuk melihat Juna jika dirinya tidak sekarang juga.


Tapi, kedatangannya ke restoran yang sering Juna kunjungi saat makan siang malah membuat Juna salah paham terhadapnya. Joanna pingsan di waktu yang kurang tepat, sepertinya takdir tidak memihak pada hubungannya dan Juna.


~TBC~


"Kadang sesuatu terasa begitu menyakitkan hanya karena kamu melihatnya dari sudut pandang yang salah. Dan yang terjadi pada akhirnya adalah penyesalan." @light.queensha


Kurang greget ya ...


Apa mungkin pada akhirnya Rafael jujur tentang perasaannya terhadap Keana?


Bagaimana kalau Juna sampai mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Joanna?


Lalu, cara apa yang akan Willis lakukan supaya menjadikan Keana mommy untuk Angel?


Terimakasih sudah membaca It's Okay, That's Fate. Mari berhubungan baik antara penulis dan pembaca. Jangan lupa juga untuk memberi dukungan kalian terhadap karyaku. Makasih 💙


Regards,


Nur Alquinsha A | IG: light.queensha