
"Terimakasih sudah mau menemaniku kesini, aku benar-benar sudah bosan berada di kamar setiap hari." Ucap Joanna saat dia dan Juna tiba di taman rumah sakit. Joanna memperhatikan pasien lain disana, salah satunya seorang anak laki-laki kecil.
"Kita harus segera kembali, aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu." Ucap Juna tanpa menanggapi perkataan Joanna, dia mengikuti arah pandangan Joanna dimana ada anak kecil disana. Juna ingat kalau perempuan itu sangat menyukai anak kecil.
"Kita baru saja datang." Ucap Joanna tanpa mau mengalihkan pandangannya dari anak kecil yang sedang bermain bersama wanita yang dia yakini sebagai ibu dari anak kecil itu. Joanna tersenyum melihat bagaimana aktifnya anak itu bermain.
Joanna sering membayangkan suatu hari dirinya akan menikah dan memiliki anak, rasanya pasti sangat menyenangkan bisa menemani anaknya bermain, apalagi kalau nanti Joanna memasak sendiri makanan favorit anak dan keluarganya.
Tapi, sepertinya tidak mungkin Joanna menjadi seorang ibu, Joanna saja tidak tahu apa Tuhan masih memberinya kesempatan untuk melihat matahari terbit besok. Joanna merasa hidupnya sudah tidak lama, bisa jadi besok dia sudah mati.
"Baiklah, kita kembali ke kamarmu lima menit lagi." Ucap Juna memberi sedikit waktu kepada Joanna untuk melihat anak kecil yang menjadi pusat perhatian mereka saat ini, lalu dia beralih menatap Joanna yang sedang tersenyum manis.
Joanna tidak menanggapi perkataan Juna, hanya terus memperhatikan anak kecil dan wanita yang sedang menemaninya bermain. Joana menyukai anak kecil, dia bisa merasakan kebahagiaan anak dan ibunya itu hanya dengan melihat mereka.
"Anna, kamu harus kembali sekarang." Ucap Juna sambil melihat jam yang melingkar di tangannya, Juna benar-benar hanya memberi Joanna waktu lima menit untuk tetap berada disana, tanpa lebih sedetikpun Juna mengajak Joanna untuk kembali.
"Tunggu sebentar, Juna. Aku masih mau melihat anak kecil itu." Ucap Joanna memegang tangan Juna yang hendak mendorong kursih rodanya tanpa menoleh pada laki-laki itu. Joanna terus menatap anak kecil yang mencuri perhatiannya.
Juna menghela nafas dan mengurungkan niatnya untuk mengajak Joanna kembali ke kamar, Juna menuruti Joanna meski khawatir keadaan Joanna akan benar-benar memburuk. Beruntung akhirnya anak kecil itu duluan pergi meninggalkan taman.
"Dia sudah pergi, bisa kita kembali ke kamarmu sekarang?" Tanya Juna menatap kepergian anak kecil itu. Juna bersyukur, dengan begitu Joanna tidak memiliki alasan untuk menolak kembali ke kamarnya. "Anna, tolong pikirkan kesehatanmu."
Joanna seperti tuli, dia tidak mendengarkan Juna dan masih tidak ingin pergi dari taman. Bahkan, Joanna meminta tambahan waktu supaya Juna tetap mengizinkannya berada disana dan Juna hanya bisa menuruti keinginan perempuan itu.
"Juna, kalau aku mati, apa kamu akan sedih? apa nanti kamu akan menangisi kepergianku?" Tanya Joanna tiba-tiba. Juna tidak mengerti maksud Joanna, malah Juna meminta Joanna untuk tidak membicarakan hal aneh semacam itu sekarang.
"Kamu harus kembali ke kamarmu, Anna. Aku rasa udara dingin di tempat ini membuat kamu berpikiran hal aneh." Ucap Juna merasa enggan menjawab pertanyaan Joanna padanya. Joanna tertawa pelan, apa perkataannya terdengar aneh?
Joanna benar-benar merasa waktunya sudah tidak lama lagi. Bahkan, Joanna berdoa kepada Tuhan supaya mempercepat kematiannya, Joanna sudah tidak tahan dengan rasa sakit pada tubuhnya dan ingin mengakhiri semua rasa sakitnya selama ini.
"Juna, aku serius. Sekarang kamu sudah memiliki perempuan lain di hatimu, aku tidak tahu kamu akan menangisi kepergianku atau tidak, tapi jika nanti kamu menangisiku, berjanjilah untuk tidak menangis sendirian, datanglah ke tempat Audie."
"Anna, aku akan tetap berusaha supaya kamu bisa sembuh. Kamu hanya perlu memikirkan satu hal, yaitu berusaha bertahan." Ucap Juna menyambar perkataan Joanna, dia hendak mendorong kursih roda Joanna, tapi Joanna menghentikannya lagi.
"Kamu tidak mengerti ..."
"Kamu yang tidak mengerti, bukan aku. Anna, aku membencimu untuk beberapa alasan dan aku membenci diriku karena satu alasan, tanpa sadar aku sudah membagi hatiku kepada perempuan lain." Juna menyambar perkataan Joanna lagi.
"Maaf, aku sudah berusaha menyangkal perasaan ini, tapi tidak bisa. Aku menyayangi Audie dan ingin menjaganya. Aku tahu, disaat seperti ini seharusnya aku lebih memikirkan kesembuhan kamu dibandingkan perasaanku atau lainnya ..."
Juna menjeda kalimatnya sejenak sambil menatap perempuan yang duduk di kursih roda. " ... tapi meskipun begitu aku sudah berjanji kepada diriku sendiri, aku akan berusaha supaya kamu sembuh dan aku tidak akan pernah menyerah untuk itu."
"Jadi aku mohon jangan bicara seolah kamu sudah kehilangan harapan." Juna melanjutkan dengan suara lirih. Joanna meneteskan air mata setelah sekian lama menahan air matanya, perasaannya saat ini tidak bisa di gambarkan oleh kata-kata.
"Baiklah." Joanna menyeka air matanya, lalu dia menarik tangan Juna supaya berdiri di depannya. Juna menurut dan berpindah posisi, Juna berdiri di hadapan Joanna seperti yang perempuan itu minta. "tapi tetap saja Allah yang memutuskan."
"Aku akan terus bertahan dan berharap untuk bisa sembuh. Tapi aku tidak mungkin bisa melawan takdir, jadi kamu harus tetap menerima apapun yang terjadi padaku nanti." Joanna menjelaskan perkataan sebelumnya dan menatap wajah Juna.
"Kamu juga harus ingat yang aku katakan, jangan pernah menangis sendirian. Kamu tidak perlu lagi merasa bersalah atas perasaanmu, aku malah lega karena kamu memiliki seseorang saat aku pergi nanti." Joanna memegang kedua tangan Juna.
"Dulu aku sering menegaskan kepada Audie kalau kamu hanya mencintaiku. Meski cara bicaraku padanya halus, aku sangat yakin Audie mengerti maksudku. Sebagai sesama wanita, aku percaya Audie mengerti kekhawatiranku terhadap kalian."
Juna hanya menyimak semua perkataan Joanna dan baru tahu bahwa dirinya pernah membuat Joanna khawatir terhadap kedekatannya dengan Keana. Ternyata masih ada lagi yang tidak Juna ketahui tentang perempuan di hadapannya itu.
"Kamu dan Audie sangat dekat. Kalian juga sering hadir bersama dalam suatu acara. Bahkan dulu aku pernah sekali melihatmu memukul seseorang karena menggoda Audie. Kamu pasti tidak tahu, waktu itu aku juga berada di acara yang sama."
"Anna ..."
"Aku mengatakan ini karena aku ingin kamu tahu, aku sudah menyadari perasaanmu terhadap Audie jauh sebelum kamu sendiri menyadarinya, tapi aku selalu berusaha menyangkalnya." Joanna masih belum memberi kesempatan Juna bicara.
Tapi, sepertinya Juna semakin merasa bersalah, laki-laki itu bahkan terlihat tidak ingin menatap Joanna. Saat Joanna berniat untuk kembali bicara, tiba-tiba hidungnya mengeluarkan darah yang lumayan banyak sampai memenuhi tangannya.
"Kamu memang keras kepala." Suara itu tiba-tiba saja menginterupsi mereka, Gilang menghampiri Joanna dengan wajah cemas dan tanpa aba-aba membersihkan darah pada tangan Joanna. "Kita harus kembali ke kamar rawatmu sekarang juga."
Juna baru menyadari yang terjadi dan dia terkejut melihat banyaknya darah. Juna berdiri secepat kilat dan berniat membantu Gilang membawa Joanna kembali ke kamar rawatnya, tapi Joanna mengatakan sesuatu yang menahan langkahnya.
"Juna, tolong ingatlah yang aku katakan padamu, jangan menangis sendirian." Joanna tersenyum, tangannya yang semula memegang tangan Juna terjatuh dan detik itu juga Joanna menghembus nafas terakhirnya, Joanna meninggal dunia.
Juna dan Gilang terpaku, tubuh mereka lemas melihat Joanna. Tapi itu tidak berlangsung lama, Juna berlarian dengan mendorong kursih roda dan berteriak meminta dokter supaya menolong Joanna, dia belum percaya Joanna meninggal.
Gilang menjadi saksi bagaimana kerasnya Juna berusaha menyelamatkan Joanna yang sudah jelas-jelas meninggal. Juna juga menyalahkan semua dokter dan suster yang bertugas karena tidak becus untuk melakukan pekerjaan mereka.
Tidak hanya itu, Juna juga menyalahkan dirinya sendiri karena menuruti keinginan Joanna untuk pergi ke taman. Kalau saja Juna menuruti Gilang dan tidak memenuhi keinginan konyol Joanna, mungkin Joanna tidak harus meninggal dunia.
Sebuah video tersebar menyusul berita kematian Joanna. Video yang awalnya di unggah dari akun sosial media milik Rafael itu mendapatkan ribuan views dalam waktu singkat. Karena video tersebut berisi cuplikan Joanna sebelum meninggal dunia.
Joanna memakai baju pasien dengan wajah yang terlihat pucat pasi disana, Joanna tersenyum dan malambaikan tangan ke kamera sebelum Joanna menyapa semua orang. "Hay, saya Joanna. Kalian mungkin terkejut melihat keadaanku seperti ini."
Joanna nampak berusaha menahan air matanya. Sebagai seseorang yang di idolakan oleh banyak orang pastinya sedih menunjukkan dirinya dalam keadaan seperti itu. Hal utama yang membuat Joanna sedih adalah kesedihan penggemarnya.
"Saya ucapkan terimakasih kepada penggemar yang sudah mendukung dan mencintai saya sejauh ini, keberadaan saya sebagai publik figur tidak akan ada apa-apanya tanpa kalian semua. Selain itu, saya juga minta maaf sudah membuat semuanya khawatir." Joanna menjeda kalimatnya.
"Saya melihat berita yang masih heboh sampai sekarang dan berita tersebut tentang kisah cinta saya. Kalian salah kalau berpikir Juna selingkuh, karena yang terjadi sebenarnya kami sudah putus dan bukan orang ketiga penyebab semuanya."
"Saya secara khusus menyapa kalian disini untuk meluruskan kesalahpahaman yang terjadi. Saya dan Juna putus secara baik-baik, makanya saya minta kepada kalian untuk berhenti memberikan komentar jahat terhadap Juna dan calon istrinya."
"Saya sangat bersyukur bertemu pria yang penuh cinta seperti Juna, tanpa Juna, saya tidak akan bisa meraih kesuksesan seperti sekarang. Dulu, sebelum saya terkenal dan masuk dunia hiburan, saya bukan apa-apa, hanya gadis panti asuhan."
"Juna selalu ada disetiap jalan yang saya tempuh menuju kesuksesan yang saya peroleh. Sebelum saya memiliki penggemar, Juna yang memberikan dukungan dan cinta, makanya saya merasa sedih karena Juna menerima kebencian dari kalian ..."
" ... Kalian pasti tahu betul, semua yang berawal akan bertemu akhir, seperti saya yang terlahir ke dunia ini dan akan diakhiri kematian. Begitu juga dengan hubungan saya dan Juna, hubungan kami harus berakhir karena Juna pantas bahagia ..."
" ... Saya sakit kanker, waktu itu saya tidak bisa memikirkan apapun selain jalan keluar supaya Juna tidak harus merasa sedih. Saya sengaja menyembunyikan penyakit saya dari Juna dan meminta putus tanpa memberikan alasan ..."
" ... Saya berpikir keputusan saya adalah yang terbaik, tapi ternyata banyak yang tersakiti oleh keputusan saya itu, termasuk Juna dan calon istrinya. Saya merasa bersalah, tapi saya tidak bisa melakukan apapun selain meminta maaf ..."
" ... Kepada penggemar saya, saya tahu kalian sangat mencintai saya, saya juga berterimakasih atas cinta kalian. Ketahuilah, saya juga mencintai kalian semua. Tapi saya minta satu hal, tolong berhenti menyakiti Juna dan calon istrinya ..."
" ... Saya tahu kalian mencintai saya, tapi bukan berarti kalian boleh membenci orang lain karena saya. Ingatlah, apapun alasannya, perasaan benci tidak boleh kalian tanam dalam hati karena itu hanya akan menyakiti diri kalian sendiri ..."
" ... Oh ya, saya ingin memberitahu kalian, saya memiliki sahabat yang selalu menemani suka dan duka saya. Saat video ini tersebar, berarti saya sudah pergi, jadi saya minta tolong kepada kalian, kalau kalian bertemu dia disuatu tempat dan melihat dia menangis, tolong kasih dia permen. Gilang adalah sahabat saya, Gilang mungkin terlihat menyebalkan, penampilan dia juga selalu berantakan, tapi Gilang tetap sahabat yang paling baik. Gilang selalu memakan permen yang saya belikan meskipun dia bilang tidak suka makanan manis ..." Joanna terisak setelah mengatakannya.
"Gilang, tolong jangan menangis." Video Joanna berakhir setelah itu dan tidak sedikit penggemar yang menangis setelah melihat video tersebut. Joanna sangat baik kepada semua orang, bahkan meskipun orang itu membencinya, tidak heran banyak sekali yang merasa kehilangan karena kepergian mantan kekasih Juna itu. Gilang saja masih belum percaya Joanna meninggalkannya.
~TBC
Semoga kalian puas dengan bagian ini. Maaf lama update, karena beberapa hari ini aku sakit.
Terimakasih sudah membaca It's Okay, That's Fate. Mari berhubungan baik antara penulis dan pembaca. Jangan lupa juga untuk memberi dukungan kalian terhadap karyaku. Makasih 💙
Regards,
Nur Alquinsha A | IG: light.queensha