It'S Okay, That'S Fate

It'S Okay, That'S Fate
IOTF #31



"Huh, selesai." Ucap Keana setelah membereskan semua barangnya ke koper, Keana tidak sendirian, Juna berada disana membantunya membereskan barang, mereka pulang ke Jakarta besok dan Juna berencana tidur di kamar Keana untuk malam ini.


Keana merasa puas jalan-jalan bersama Juna hari ini, banyak hal tidak terduga yang Juna lakukan dan membuat Keana senang, salah satunya yaitu Juna yang sengaja menyewa tempat untuk mereka makan, padahal sekarang mereka berada di Paris.


Keana tahu Juna orang kaya dan menyewa tempat makan bukan perkara besar, tapi menyewa tempat makan di Paris hanya untuk mereka berdua, bagi Keana itu luar biasa. Keana merasa senang dan menikmati semua yang Juna lakukan untuknya.


"Kamu yakin sudah semua? jangan sampai nanti ada barang yang tertinggal dan kamu harus kesini mengambilnya!" Ucap Juna sedikit menyinggung tentang Keana yang pernah menjadikan barang alasan kembali ke Paris dan meninggalkan Juna.


Keana tersenyum menatap Juna yang mendadak terlihat lucu, mantan bosnya itu memang punya cara tersendiri dalam membuatnya gemas, Keana sangat mengagumi Juna meskipun laki-laki itu sudah memberikan banyak sekali luka di hatinya.


"Aku yakin calon suamiku bisa menyuruh orang untuk mengambilnya, kalau benar barangku ada yang tertinggal disini." Ucap Keana menanggapi perkataan Juna barusan yang sedikit menggelitiki perutnya. Juna mendengus pelan mendengarnya.


"Oh ya, aku baru tahu ternyata kamu putri dari grup shinhwa." Ucap Juna tiba-tiba membahas latar belakang keluarga Keana. Juna sudah lama ingin membicarakan hal itu, tapi baru sekarang Juna memiliki kesempatan untuk membahasnya.


Juna merasa mengenal Keana lebih dalam adalah sesuatu yang sangat penting karena mereka akan segera menikah. Juna ingin tahu mengapa Keana menyembunyikan latar belakang keluarganya itu sampai harus menjadi korban bully di masa lalu.


Juna yakin ada penyebab dari semua yang terjadi, dia yakin Keana tidak mungkin menyembunyikan latar belakang keluarganya tanpa sebuah alasan. Dulu Keana sampai harus kuliah sambil bekerja, padahal keluarganya termasuk orang kaya di Asia.


Juna teringat Jung Hwa pernah mengatakan sudah terjadi masalah yang membuat Keana kehilangan ibunya sekaligus membuat Keana membenci sang ayah, sepertinya masalah Keana dan keluarganya tidak sesederhana yang Juna pikirkan selama ini.


"Sayang, kemarilah." Ucap Juna menepuk tempat kosong disampingnya. Juna sedang duduk di sofa yang ada di kamar itu dan meminta Keana supaya duduk disampingnya. Juna melihat tubuh Keana bergetar semenjak Juna membahas keluarganya.


Juna semakin penasaran tentang masalah yang terjadi dalam keluarga Keana, sebagai laki-laki yang akan menyandang status sebagai menantu grup shinhwa, Juna merasa berhak mengetahui semua masalah yang terjadi dalam hidup Keana.


Juna menghela nafasnya dan menghampiri Keana saat calon istrinya itu masih berdiri di tempatnya. Juna mengusap puncak kepala Keana sayang dan tersenyum hangat. Keana menatap ke dalam mata Juna, mencari sesuatu yang dia butuhkan disana.


Keana belum siap membahas keluarganya, dia masih tidak bisa menerima yang terjadi dalam keluarganya. Meski sekarang Keana sudah mulai menerima kehadiran Jung Hwa sebagai ayahnya, Keana masih belum melupakan luka di hatinya.


Grup shinhwa tidak sehebat yang orang pikirkan, karena ada hal menyedihkan dibalik kesuksesan grup shinhwa, sampai Keana harus kehilangan ibunya. Karena Jung Hwa lebih mementingkan perusahaan dibandingkan penyakit ibu Keana.


Keana ingin tahu darimana Juna mengetahui latar belakang keluarganya, tapi lidahnya kaku untuk sekedar menanyakan sesuatu yang berhubungan dengan grup shinhwa. Keana membenci shinhwa yang sudah menjadi penyebab ibunya meninggal.


"Aku bertemu ayahmu di pernikahan Rafael, kami mengobrol dan beliau memberitahuku tentang itu." Ucap Juna menyadari ada yang sedang Keana pikirkan. Juna menebak Keana memikirkan dari mana dirinya bisa tahu tentang keluarga Keana.


"Sayang, apa kamu ingin menceritakan sesuatu? aku berjanji akan menjadi pendengar yang baik untukmu. Jangan menyimpan apapun sendirian, mulai sekarang aku yang akan menggantikan Rafael dan melindungimu." Ucap Juna serius.


Juna melihat kesedihan di mata Keana sekarang, sepertinya Keana sedang teringat sesuatu yang menyedihkan di masa lalu dan Juna tidak tahu hal apa itu. Juna menarik Keana ke dalam pelukannya dan berusaha membuat perempuan itu nyaman.


"Kenapa, hm?" Juna mengecup Kening Keana dan mengeratkan pelukannya, berharap itu akan bisa membuat Keana merasa tenang. Juna tidak ingin Keana sedih apapun alasannya. "Kalau tidak mau cerita apapun padaku, sebaiknya kamu istirahat."


"Jadi kamu menghadiri pernikahan Rafael? aku pikir kamu tidak akan mau datang kesana karena yang aku tahu kalian tidak terlalu akrab." Ucap Keana mengalihkan pembicaraan dan Juna bisa merasakan Keana meremas baju belakangnya.


Keana sepertinya tidak ingin membahas tentang dirinya yang merupakan putri dari salah satu pria terkaya di Asia, Juna memahami hal itu dan tidak ingin membahasnya lebih jauh lagi, lagipula yang terpenting sekarang itu mereka saling mencintai.


Keana sendiri tidak ingin menceritakan apapun kepada Juna karena yang pertama kali laki-laki itu bahas adalah grup shinhwa. Keana bisa saja menceritakan tentang keluarganya, tapi Keana tidak ingin menceritakan tentang grup shinhwa.


"Hm, aku datang kesana hanya untuk mencarimu, aku tidak ingin kamu datang ke pernikahan Rafael sendiri, tapi ternyata kamu tidak datang dan pergi ke Paris." Ucap Juna seadanya, dia mungkin tidak mau datang kesana kalau bukan Keana alasannya.


"Aku pergi ke Paris untuk menghindarimu, kamu tahu?! aku sengaja pergi supaya kamu mencariku, tapi kemudian aku sadar, aku tidak mungkin pergi hanya untuk dicari, makanya aku memberitahu orang tua kita kalau aku akan liburan di Paris."


"Jadi, kamu sengaja lari dariku waktu itu?" Juna menyambar perkataan Keana, tidak menyangka ternyata Keana memang berniat untuk pergi dari hidupnya. Meski sekarang mereka bersama, Juna tidak terima Keana berniat pergi dari hidupnya.


Juna melepaskan Keana dari pelukannya begitu saja dan menatap manik perempuan itu, mereka saling menatap sekarang, Juna memberi tatapan mematikannya sebagai peringatan karena Keana sudah memiliki niat untuk pergi dari hidupnya.


Juna tahu alasan Keana ingin pergi karena ingin dicari dan Keana juga tidak serius melakukannya, tapi tetap saja Juna tidak menerima itu. Karena berawal dari niat, Keana benar-benar melakukan itu dan Keana pergi selamanya dari hidup Juna.


"Hm, kamu lebih peduli Anna dibandingkan calon istrimu sendiri, bagaimana aku tidak kesal? aku ingin sekali mengatakan padamu kalau aku tidak suka kamu terus menemui Anna, aku tahu kamu mencintai Anna dan cinta kalian menyakitiku."


Tatapan Juna kepada Keana seketika berubah, dia tidak menyangka bahwa Keana tersakiti olehnya dan itu membuatnya merasa bersalah. Sungguh, Juna tidak bermaksud menyakiti Keana, dia malah berpikir Keana masih sangat mencintai Rafael.


"Maaf." Ucap Juna pelan, hanya kata itu yang bisa mewakili semuanya, termasuk rasa bersalah Juna karena sudah menyakiti Keana. "Aku tidak tahu kalau itu akan menyakitimu, tapi kenapa kamu tidak memarahiku atau menegurku waktu itu?"


"Sayang, aku mencintaimu. Sekarang, besok dan seterusnya aku hanya akan mencintaimu seorang, jadi kedepannya, kalau aku menyakitimu, tolong tegur aku, aku juga mengijinkanmu memukulku dan aku berjanji tidak akan menyakitimu lagi."


"Aku tahu. Aku juga mencintaimu, Juna." Keana masih memamerkan senyumannya, lalu memeluk Juna. Hal yang Keana ketahui adalah langkahnya yang akan diambil saat Juna menyakitinya. Keana sudah memikirkan semuanya dengan matang.


Hari itu sepertinya menjadi hari terbaik bagi Juna, selain Keana akan pulang ke Jakarta, dia akhirnya bisa mendengar dengan jelas Keana mengatakan cintanya. Juna tersenyum dan membalas pelukan Keana, berharap ini akan menjadi awal yang baik.


Juna mungkin belum tahu masalah yang terjadi dalam keluarga Keana, tapi Juna akan berusaha untuk mencaritahunya sendiri semua. Juna tidak bisa menanyakannya kepada Keana karena yang Juna lihat, Keana tidak ingin memberitahunya.


"Oh ya, apa yang papah katakan padamu? dan bagaimana perasaanmu bertemu calon mertua?" Keana sedikit mengangkat wajahnya. Juna tidak langsung menjawab, dia mengambil kesempatan itu untuk memberi kecupan pada bibir Keana.


Juna menyukai bibir Keana, entah mengapa saat ada di dekat Keana, Juna selalu ingin mencium bibir perempuan itu. Bibir Keana sudah menjadi candu bagi Juna dan sebenarnya Juna tidak yakin bisa benar-benar tidur di kamar Keana malam ini.


"Aku dan papahmu sudah pernah bertemu, tapi beda rasanya saat kami bicara sebagai menantu dan papahnya. Papahmu bilang, aku tidak boleh mengejarmu dan aku tidak bisa bicara apapun saat itu." Ucap Juna mengadu itu kepada Keana.


Keana berdehem pelan, bukan karena perkataan Juna, tapi karena laki-laki di depannya itu sudah kesekian kalinya memberi kecupan di bibirnya. Bukan tidak suka Juna menciumnya, hanya saja Keana merasa malu sendiri karena ciuman itu.


"Sudah malam, sebaiknya kita tidur." Ucap Keana bergegas naik keatas kasur setelah mendapatkan kesadarannya. Keana sempat blank karena Juna mengecup bibirnya dan sekarang Keana menutup seluruh tubuhnya untuk bersembunyi dari Juna.


Keana tidak ingin Juna melihat wajah merahnya!



"Sudah siap?" Tanya Kaisar kepada Nara ketika melihat perempuan itu keluar dari rumah. Kaisar tersenyum tipis, Nara langsung menghampirinya dan bergelayut manja pada tangan Kaisar. Nara selalu seperti itu setiap Kaisar menjemputnya.


Kaisar tahu tujuan Nara adalah pamer kemesraan di depan Neysa. Yaps, tepat saat Nara bergelayut manja di tangan Kaisar, Neysa baru keluar rumah dan melihat kemesraan mereka. Kaisar tahu Nara ingin membuat Neysa semakin menjauh darinya.


Nara dan Neysa bertetangga dan halaman rumah mereka tidak memiliki pagar yang tinggi sehingga bisa saling melihat. Nara mengetahui Neysa baru keluar dari rumah, Nara sengaja bersikap manja kepada Kaisar supaya Neysa melihat mereka.


Kaisar tidak menyukai Nara dan mereka pacaran hanya karena Neysa memohon supaya Kaisar mau membuka hatinya untuk Nara. Nara mengira jika Neysa ingin merebut Kaisar. Padahal yang terjadi sebenarnya Kaisar yang selalu mendekati Neysa.


"Ayo berangkat." Ucap Nara dan menarik tangan Kaisar supaya mereka segera naik mobil. Kaisar hanya menurut dan menatap Neysa yang saat itu juga membuang wajah darinya. Kaisar tahu Nara cemburuan, tapi masih memperdulikan Neysa.


"Kai!" Tegur Nara mengetahui pandangan Kaisar terus tertuju kepada Neysa. Nara bukan orang jahat, sebenarnya Nara hanya berusaha menjaga miliknya supaya tidak direbut oleh orang lain, tapi memang keadaan yang membuatnya jahat.


Kaisar kembali menunjukkan senyuman kepada Nara, kemudian membukakan pintu mobil untuk perempuan itu. Kalau saja Neysa tidak memohon padanya untuk tidak menyakiti Nara, mungkin Kaisar tidak akan mau melakukan sandiwara itu.


"Hati-hati, Sa." Ucap Kaisar memasang tangannya sebagai pelindung supaya kepala pacarnya tidak mengenai mobil. Didalam hati dan pikiran Kaisar hanya ada Neysa sampai Kaisar salah menyebut nama. Kaisar meringis pelan saat menyadarinya.


"Sa?" Tanya Nara tidak menyangka, bisa-bisanya Kaisar menyebut nama perempuan lain dan itu teman Nara sendiri. Nara tidak tahu kesalahan yang sudah dirinya perbuat sampai hati Kaisar berpaling dan sekarang Kaisar mendekati Neysa.


Well, hubungan Nara dan Kaisar sudah berjalan sekitar empat bulan. Awal mereka pacaran, Nara masih berteman baik dengan Neysa dan mereka selalu bersama kemana pun, sampai suatu hari Nara memergoki Kaisar dan Neysa berciuman.


Nara mulai menjauhi Neysa semenjak kejadian itu, Nara bahkan tidak segan menyebut Neysa sebagai perempuan munafik dan perebut pacar orang. Nara membenci Neysa sebanyak Nara mencintai Kaisar. Neysa teman terburuknya.


"Tidak. Kamu salah dengar, bee." Ucap Kaisar, dia tidak ingin Neysa menjadi pelampiasan Nara lagi dan langsung melakukan pembenaran terhadap perkataannya. "Oh ya, kamu sudah sarapan? kita sarapan dulu di kantin ya? aku belum sarapan!"


Nara tahu Kaisar sedang berusaha mengalihkan pembicaraan dan hanya bisa memutar matanya. Nara tidak ingin bertengkar dengan Kaisar seperti minggu lalu. Nara marah Kaisar makan malam bersama Neysa, tapi Kaisar balik memarahinya.


Nara ingin hubungannya bersama Kaisar terus berjalan, tidak boleh sampai ada pertengkaran, Nara hanya harus memastikan Kaisar terus ada disampingnya, itu sudah lebih dari cukup. Hal lainnya Nara bisa memikirkannya lain waktu.


"Baiklah, aku juga belum sarapan." Nara berusaha keras menekan kata sabar dalam hatinya, Kaisar tidak boleh tahu dirinya marah, cukup Neysa yang harus Nara peringatkan supaya tidak menggoda atau berusaha mendekati pacarnya, Kaisar. Lagi.


Sementara itu, Neysa, perempuan itu tersenyum miris menatap kepergian mobil Kaisar. Mencintai tanpa harus memiliki, tidak ada yang benar-benar menginginkannya. Neysa ingin sekali mencintai sekaligus memiliki Kaisar, tapi itu tidak mungkin.


~ TBC


Terimakasih sudah membaca It's Okay, That's Fate. Mari berhubungan baik antara penulis dan pembaca. Jangan lupa juga untuk memberi dukungan kalian terhadap karyaku. Makasih 💙


Regards,


Nur Alquinsha A | IG: light.queensha