
Satu minggu telah berlalu, Keana selalu merasa canggung setiap kali berbicara dengan Juna sejak kejadian tempo lalu. Tidak jarang, Keana mencari aman dengan menghindari Juna supaya tidak saling terlibat pembicaraan bersama bosnya itu.
Seperti sekarang, Keana mengantar berkas ke ruangan Juna dan berbicara seadanya, sebelum akhirnya pamit keluar. Keana mengaku, dia merasa hangat mengingat apa yang terjadi di apartemen Juna, tapi Keana merasa itu salah.
Keana tidak ingin menjadikan Juna sebagai pelampiasan dirinya dari Rafael atau mungkin sebaliknya, Juna yang menjadikan Keana sebagai pelampiasan. Karena Keana tahu hubungan Juna dan Joanna sedang mengalami sedikit masalah.
"Tunggu!" Ucap Juna tiba-tiba membuat Keana menahan langkahnya. Keana tidak berbalik, hanya tetap berdiri di tempatnya. "sebentar lagi jam makan siang, bagaimana kalau kita makan bersama di luar?" Tawar Juna kemudian.
Keana berusaha memutar otak untuk menolak, lalu dia berbalik menatap Juna yang juga sedang menatap padanya. Keana kesulitan untuk bicara, kalimat yang sudah dia susun untuk menolak berantakan setelah bertatapan dengan Juna.
"Nona Audie!" Tegur Juna yang entah sejak kapan berdiri di hadapan Keana dan membuat tubuh Keana terdorong kebelakang saking terkejutnya, beruntung Juna dengan cepat menahan tubuh Keana sehingga gadis itu tidak sampai terjatuh.
Keana semakin linglung, terlebih tangan Juna melingkar di pinggangnya dan hampir memeluk tubuhnya. Keana dan Juna berada dalam posisi yang sama dalam waktu yang cukup lama sampai seseorang masuk dan menegur mereka berdua.
"Nona Ana! Juna!" Tegur seseorang yang tidak lain adalah Willis. Dia memang sudah terbiasa masuk tanpa permisi ke ruangan Juna, namun sepertinya kedatangan Willis sekarang kurang tepat. Keana dan Juna buru-buru menjaga jarak.
"Maaf, saya permisi." Keana tidak menanggapi ajakan Juna untuk makan bersama dan bergegas keluar dari ruangan Juna tanpa ingin menunggu persetujuan. Juna dan Willis menatap gadis itu sampai akhirnya menghilang di balik pintu.
"Juna, kamu tahu aku mengincar sekretarismu, huh?!" Ucap Willis. Entah itu sebuah pertanyaan atau mungkin pernyataan. Willis merasa Juna sedang menikung dirinya. Padahal Juna sudah tahu Willis sedang berusaha mendekati Keana.
Juna mengalihkan pandangannya dari pintu dan menatap Willis. Mata elangnya seakan berusaha memberi peringatan kepada Willis untuk tidak terlalu berharap. Seharusnya Willis lebih tahu Juna sudah melarangnya mendekati Keana.
"Cih, aku akan mengerti jika kamu melarang ku mendekati Ana karena aku bukan laki-laki baik. Tapi aku tidak bisa mengerti jika kamu melarang ku karena kamu juga menyukainya." Ucap Willis yang mengerti arti dari tatapan Juna padanya.
"Aku tidak menyukai Audie! dan tolong jangan memanggil dia Ana!" Ucap Juna menyambar perkataan Willis barusan. Willis hanya mampu memutar matanya malas. Kadang Willis tidak mengerti alasan Juna bersikap seperti itu.
"Baiklah. Tapi jika benar kamu menyukai Audie, mari kita bersaing secara sehat dan berhentilah membawa nama Angel." Ucap Willis menantang. Willis mungkin belum bisa berhenti bermain wanita, tapi Willis serius telah menyukai Keana.
Angel atau Angelica zhafira bagaskara adalah gadis kecil yang sempat Juna singgung di klub malam. Hubungan Willis dan gadis itu sangat spesial, antara ayah dan anak perempuannya. Dan Angel merupakan malaikat kecil Willis.
Willis belum menikah, Angel hanya anak angkat bagi laki-laki itu. Willis menemukan Angel di depan rumahnya sekitar lima tahun yang lalu. Tapi Juna menyebut Angel sebagai anak yang sengaja diberikan kepada ayah kandungnya.
"Maaf? bukankah sudah jelas yang aku katakan barusan?! aku tidak menyukai Audie! menurutmu bagaimana bisa aku tidak membawa nama Angel? kamu masih belum mengubah dirimu, padahal Angel sangat membutuhkan kasih sayangmu!"
"Angel juga menyukai Audie! bahkan Angel yang memintaku mencari ibu yang baik seperti Audie!" Ucap Willis sengaja memberi penekanan pada setiap kata. Kali ini Willis tidak ingin kalah dari Juna, sudah cukup dirinya yang selalu mengalah.
Willis tidak berbohong, Angel memang sangat menyukai Keana dan pernah mengatakan ingin memiliki ibu seperti Keana. Ah, Willis hampir melupakan tujuannya datang ke ruangan Juna karena lebih dulu terselimuti rasa cemburu.
"Sudahlah, menurutku tidak pantas membahas itu disini." Ucap Willis yang memilih lebih dulu mengakhiri perdebatan mereka tentang Keana. "Oh ya, aku datang kesini untuk memberitahu mu, barusan aku melihat mantan kekasihmu."
Kontan tatapan Juna kepada Willis yang semula di kuasai oleh emosi berubah mendengar itu. Juna langsung menanyakan dimana Willis melihat Joanna. Ya, siapa lagi mantan kekasih Juna kalau bukan Joanna, cinta pertama bagi laki-laki itu.
Juna bergegas keluar dari ruangannya setelah diberitahu Joanna berada di restoran depan kantor mereka. Willis yang melihat itu hanya mampu menggelengkan kepala, merasa heran sekaligus tidak mengerti yang sudah terjadi.
Sementara itu, Keana mendengar semua yang Juna dan Willis bicarakan. Tapi dibandingkan merasa senang, Keana justru merasa sedih setelah mendengar pengakuan Juna yang tidak menyukainya. Tidak tahu kenapa seperti itu.
Lagipula, Keana memang tidak sepantasnya merasa senang. Keana tidak menyukai kedua laki-laki yang berada di ruangan Juna. Sampai sekarang, hati Keana masih utuh untuk Rafael. Meski sering merasa aneh berada di dekat Juna.
Keana berpura-pura sibuk dengan dokumen saat mengetahui Juna keluar dari ruangannya. Lalu Keana mencuri pandang setelah Juna berhasil melewati meja kerjanya. Rasanya, Keana ingin sekali menghentikan Juna supaya tidak pergi.
"Nona Ana, bagaimana kalau kita makan siang bersama?" Ucap Willis yang membuat jantung Keana nyaris melompat. Terlebih ketika Keana menyadari jarak wajah Willis dekat dengan wajahnya, hampir saja Keana berteriak.
"Kamu terlihat kurang fokus, saya rasa kamu membutuhkan air mineral." Willis menarik tangan Keana tanpa meminta persetujuan. Dia terlihat menarik sudut bibirnya karena Keana tidak memberikan penolakan yang cukup berarti.
"Angel, doakan daddy agar berhasil mendapatkan hati tante cantik." Gumam Willis dalam hatinya. Kadang Willis merasa kasihan setiap Angel menceritakan temannya yang di anter jemput oleh sang mamah. Berbeda dengan Angel.
Juna menyebrang jalan dengan tergesa-gesa, dia tidak sabar ingin bertemu Joanna. Sudah lebih dari satu minggu mereka resmi putus dan tidak saling bertemu. Juna sampai menerobos jalan raya dan menerima protes dari para pengendara.
Tapi, belum sempat Juna tiba di tempat tujuan, langkahnya tiba-tiba terhenti melihat Joanna digendong Gilang keluar dari restoran. Juna merasa terbakar dan ingin memberi Gilang pelajaran, tapi kakinya berat untuk melangkah.
"Brengsek!" Juna hanya mengumpat tanpa bisa melakukan apapun. Dia berdiri disana menatap Joanna dan Gilang sampai kedua manusia itu berhasil menghilang dari pandangannya. Baru setelah itu Juna berniat kembali ke kantor.
"Sudah bertemu Anna, heh?" Tanya Willis yang tanpa sengaja berpapasan dengan Juna. Heran rasanya melihat Juna yang berjalan kembali ke kantor mereka. Sementara Keana melepaskan tangannya dari Willis karena Juna melihat itu.
Juna terus menatap Keana sampai membuat yang ditatap bergerak tidak nyaman. Keana berdehem pelan untuk mengatur suaranya. Keana hendak membuka mulutnya karena tidak betah berada di situasi itu, tapi Juna sudah lebih dulu bicara.
"Ikut saya ke kantor!" Ucap Juna, lalu menarik paksa tangan Keana. Willis mendengus dan berbalik menatap Keana yang berjalan semakin menjauh dari tempatnya berdiri. Juna bersikap semaunya seperti biasa. Sangat menyebalkan.
Rasanya, Willis ingin mengejar dan menarik tangan Keana supaya makan bersama dirinya, seperti yang terjadi dalam drama cinta yang di tontonnya. Tapi ponselnya berbunyi di waktu yang kurang tepat. Angel menelpon laki-laki itu.
"Hallo, sayang." Ucap Willis setelah menggeser ikon hijau di layar ponselnya. "Bukankah kamu sekolah? kenapa menelpon, hum?" Willis terkejut mendengar di sebrang sana Angel menangis. sepertinya terjadi sesuatu pada gadis kecil itu.
"Sayang, kamu dimana sekarang? siapa yang sudah membuatmu menangis, hm?" Tanya Willis lembut. Willis menghela nafas mendengar Angel terus menangis. Sepertinya memang sudah terjadi sesuatu dan Willis tidak tahu hal apa itu.
"Angel, daddy tidak tahu apa yang terjadi kalau kamu diam. Katakan kamu dimana? daddy akan menjemputmu kesana." Willis masih berusaha bicara lembut. Dia tidak ingin membuat Angel semakin menangis jika sampai terburu-buru.
Sementara di tempat lain, Juna baru saja masuk ke dalam ruang kerjanya, masih dengan tangan yang menarik tangan Keana. Entah setan apa yang memasuki Juna sampai berani mencium bibir Keana setelah pintu ruangannya tertutup.
Juna sedikit menekan tengkuk Keana untuk memperdalam ciumannya. Keana berusaha berontak, tapi tenaganya tidak sebanding dengan Juna sehingga perempuan itu hanya mampu memukuli dada bidang Juna dan menangis.
Juna terus mencium bibir Keana sampai terdengar nafasnya yang memburu. Dia sudah memberitahu Keana untuk tidak terlalu dekat dengan Willis, tapi apa yang terjadi barusan? Keana membiarkan Willis memegang tangannya di hadapan Juna.
"Maaf ..." Kalimat itu yang pertama keluar dari mulut Juna setelah melepaskan ciumannya. Juna merasa dirinya sudah benar-benar gila karena sudah mencium Keana dan satu hal yang Juna yakini, ciuman itu bukan sebagai pelampiasan.
Ya, Juna tidak merasa sedang melampiaskan emosi atau rasa cemburunya setelah melihat Joanna dan Gilang. Yang terjadi barusan murni karena Juna melihat Keana bersama Willis. Juna tidak suka melihat kedekatan Keana dan Willis.
"Pak Juna ..."
"Mari kita menikah!" Ucap Juna menyela Keana yang hendak bicara. Keana benar-benar tidak bisa mempercayai telinganya. Keana tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi kepada Juna sampai laki-laki itu mengajaknya untuk menikah.
Setelah sebelumnya Juna mengatakan tidak menyukai Keana, sekarang laki-laki itu mengajak Keana menikah? apa itu lelucon?! Keana terdiam untuk waktu yang lumayan lama, dia hanya menatap Juna tanpa mengatakan apapun.
Keana dan Juna hanya berjarak beberapa senti, bahkan tangan Juna masih terlihat memeluk tubuh mungil Keana. Meskipun akal sehat mereka saling mengatakan posisi itu salah, tapi tubuh keduanya seakan membenarkan yang terjadi.
Juna serius mengajak Keana menikah. Bukan sekedar untuk membuang perasaannya terhadap Joanna, tapi karena Juna juga tidak rela Keana dekat dengan laki-laki lain. Termasuk Willis. Juna tidak akan membiarkan Keana dan Willis dekat.
"Pak, apa anda hari ini lupa minum obat?" Tanya Keana dengan wajah polos dan berhasil membuat Juna tertawa. Kalau boleh jujur, baru sekarang Juna menedengar Keana bicara konyol dan apa ini artinya Juna ditolak secara halus oleh Keana?
Tidak apa-apa, lagipula kalau di pikir-pikir Juna juga baru saja mengatakan hal konyol dengan mengajak Keana menikah. Tapi Juna sudah bertekad untuk menikah dengan Keana, sebagai orang yang sama-sama mengalami patah hati.
Mungkin ini keputusan yang terkesan buru-buru, tapi Juna tidak akan membiarkan Willis lebih dulu mendapatkan Keana. Laki-laki itu tidak akan membiarkan Keana menjadi ibu tiri Angel. Karena Keana miliknya. Ya, Keana hanya milik Juna.
Joanna? perempuan itu bahkan sudah berkhianat!
~TBC~
Konflik besar akan segera di mulai ...
Aku membuat kisah cinta mereka rumit, tapi aku tetap berharap kalian mau mengikuti kisahnya.
Juna dan Keana, entah sejak kapan perasaan mereka tumbuh. Keduanya bahkan belum sadar memiliki perasaan terhadap satu sama lain.
Willis menginginkan Keana menjadi ibu dari anak perempuannya. Tapi apa benar perasaan yang Willis miliki tulus? bukan hanya karena Angel?!
Lalu, kemana Rafael setelah mengatakan hal buruk terhadap sahabatnya sekaligus perempuan yang sangat dicintainya? Tidak peduli kah?
Silahkan temukan semua jawaban dengan terus mengikuti novel ini. Jangan lupa like, favorit dan komentar. Kalau bisa kalian share juga ya ...
Btw, menurut kalian alurnya kecepetan enggak sih? serius ini hasilnya diluar ekspektasi.
Terimakasih sudah membaca It's Okay, That's Fate. Mari berhubungan baik antara penulis dan pembaca. Jangan lupa juga untuk memberi dukungan kalian terhadap karyaku. Makasih 💙
Regards,
Nur Alquinsha | IG: light.queensha