
Hari ini Keana dan Juna memiliki janji bersama wedding organizer di resto. Keana datang kesana sendiri karena tempatnya berada di dekat kantor Juna dan Keana tidak ingin sampai merepotkan calon suaminya, lagipula masih ada ojek online.
Keana semangat ingin melihat desain pernikahan yang menurut Juna bagus. Tapi setibanya di resto, Keana merasa bukan desain pernikahannya yang bagus, melainkan orang yang bekerja dan Keana melihat Juna sedang asik bersama wanita disana.
Keana baru tiba di resto, dia melihat Juna sedang bersama wanita yang diyakini sebagai orang yang bekerja di wedding organizer yang akan mereka sewa nantinya. Juna dan wanita itu terlihat akrab, bahkan Keana melihat mereka tertawa bersama.
"Sayang, kamu sudah datang?" Juna berdiri saat melihat Keana, lalu dia bergegas menarik kursih untuk calon istrinya itu. Juna baru sadar Keana datang setelah cukup lama Keana berdiri disana, karena tadi Juna terlalu asik membahas sesuatu.
Juna dan Cindy membahas sesuatu di masa lalu, tidak disangka ternyata mereka nyambung dalam melakukan pembicaraan, Cindy sangat asik untuk diajak mengobrol dan barusan mereka membahas tentang cinta pertama mereka waktu kuliah dulu.
Keana tidak menjawab, dia menghampiri tempat Juna dan duduk di kursih yang sudah Juna siapkan untuknya tanpa mengatakan apapun. Juna tidak tahu bahwa saat itu Keana sedang kesal, padahal Keana berusaha menunjukkan rasa kesalnya itu.
"Sayang, ini Cindy dari wedding organizer. Cindy, ini dia calon istriku." Juna memperkenalkan Cindy dan Keana. Meski pernah satu kampus, Keana dan Cindy sudah lama tidak bertemu, Keana mungkin melupakan Cindy, apalagi Cindy banyak berubah.
"Hay, apa kabar?" Cindy mengulurkan tangannya kearah Keana dan tersenyum ramah. Keana hanya menjabat malas tangan Cindy dan menunjukkan senyuman palsunya tanpa menjawab pertanyaan Cindy padanya. Keana sedang malas untuk bicara.
"Oh ya, sayang kamu ingin pesan makanan atau mungkin minuman?" Tanya Juna menengahi, dia tersenyum tidak enak kepada Cindy karena sikap Keana, tidak biasanya Keana bersikap tidak sopan dan mengabaikan pertanyaan orang seperti itu.
"Tidak, aku tidak lapar." Jawab Keana sekenanya dan menatap tidak suka kepada perempuan yang duduk di depannya. Juna semakin merasa tidak enak sekaligus bingung dengan perubahan sikap Keana, karena sebelumnya mereka baik-baik saja.
"Bagaimana kalau minuman? kamu ingin minum apa, hm?" Juna masih belum menyerah dan masih berusaha menawarkan sesuatu pada Keana. Juna kembali duduk di kursih dan memanggil pelayan. Tidak lama seorang pelayan mendatangi mereka.
"Ingin menambah pesanan anda, tuan?" Pelayan itu kembali memberikan menu dan bersiap untuk mencatat pesanan. Juna memberikan daftar menu kepada Keana barangkali Keana berubah pikiran dan ingin pesan makanan, tapi Keana menolak.
"Juna, aku sudah bilang padamu, aku tidak lapar dan aku juga tidak ingin minum apapun." Keana mengembalikan menu itu kepada Juna dan Juna menghela nafas karenanya. Juna tidak tahu yang sudah terjadi sampai Keana bersikap seperti itu.
"Saya pesan orange juice satu." Ucap Juna kepada pelayan. Juna sudah memesan minuman sebelum Keana datang dan sengaja memesan orange juice untuk Keana. Pelayan tadi pamit setelah selesai mencatat dan memastikan tidak ada pesanan lagi.
"Sayang, kamu kenapa, hum?" Tanya Juna setelah memastikan pelayan itu pergi. Juna merasa Keana berbeda dari biasanya. Setelah pulang dari Paris, semakin hari hubungan Juna dan Keana semakin membaik, tapi sekarang Keana tiba-tiba berubah.
Cindy tersenyum memandangi Juna dan Keana, sebagai perempuan, Cindy lebih memahami yang terjadi, Keana cemburu melihat kedekatan dirinya dan Juna. Dan sebenarnya, dia sudah menyadari kedatangan Keana sebelum Juna menyadarinya.
Cindy tidak bermaksud buruk, lagipula dia sudah memiliki Chandra, laki-laki yang memiliki seribu cara untuk membuatnya bahagia. Meski Chandra sering sibuk mengudara, mereka saling memberi kabar dan belum pernah merasa hilang kontak.
Cindy hanya ingin menguji cinta Keana dan Juna. Ya, Cindy memang tidak berhak menguji mereka, tapi tidak salah membantu Juna untuk mendapat jawaban tentang perasaan Keana. Karena barusan Juna mengatakan masih meragukan cinta Keana.
"Aku tidak punya banyak waktu, Juna. Bisa lihat wedding desainnya sekarang?" Tanya Keana tanpa mau berbasa-basi. Juna mengusap wajahnya kasar dan berusaha untuk meredam emosi. Keana yang seperti itu sudah berhasil membuat Juna emosi.
"Baiklah. Cindy, tolong tunjukan desain yang aku lihat kemarin." Ucap Juna pada Cindy. Kalau saja tidak sedang mengurus wedding organizer, Juna pasti akan memaksa Keana untuk memberitahu apa yang sebenarnya terjadi pada perempuan itu.
Tapi, emosi hanya akan menambah masalah, Juna akan menunggu sampai Keana tenang, baru nanti Juna akan menanyakan itu baik-baik. Keana pasti memiliki alasan yang masuk akal, perempuan itu tidak mungkin seperti sekarang jika tanpa alasan.
Cindy mengangguk dan mulai membuka laptop, dia mencari desain yang sebelumnya sudah Juna pilih, tidak hanya ada satu desain, Juna sengaja memilih beberapa rekomendasi untuk Keana dan Juna berharap Keana akan memilih salah satunya.
"Pak Juna sudah memilih beberapa desain untuk anda lihat, silahkan." Cindy menunjukan gambar yang ada di layar laptopnya kepada Keana. Cindy melirik Juna dan tersenyum seakan memberitahu sesuatu, tapi Juna kurang memahami maksudnya.
Keana tiba-tiba menggebrak meja dan membuat semua orang terkejut, termasuk Juna dan Cindy yang hampir terjungkal karenanya. Keana kesal mengetahui Cindy diam-diam tersenyum pada Juna sampai menggebrakan meja di depannya.
"Juna, aku menyerahkan semuanya padamu dan aku sama sekali tidak peduli bagaimana wedding desain kita nantinya." Ucap Keana beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan tempat itu. Juna berniat mengejar, tapi Cindy menahannya.
"Sayang, tunggu!" Teriak Juna dan melirik tangan Cindy yang sedang memegang tangannya. Juna melepaskan tangan Cindy dan berniat pergi, tapi lagi-lagi Cindy menahannya. "Cindy, ada apa? aku harus mengejar Audie! lepaskan dulu tanganmu!"
"Juna, kamu harus membayar dulu pesanannya dan memilih wedding desain kalian, kita tidak mungkin terus bertemu hanya untuk membahas hal yang sama. Lagipula, menurutku, Ana hanya sedang cemburu, jadi jangan terlalu khawatir."
Juna terdiam menahan langkahnya, lalu menatap Cindy untuk memastikan perempuan di depannya tidak berbohong. Keana cemburu, haruskah Juna mempercayai itu? tapi apa yang membuat Keana harus cemburu? Juna tidak melakukan apapun!
"Hey, jangan memasang ekspresi konyol seperti itu, menurutku wajar Ana cemburu, kamu tidak memberitahu Ana kalau kita teman sekampus dulu." Cindy menegur Juna yang melamun sambil memasang ekspresi yang menurutnya konyol.
"Ana mungkin sudah jauh sekarang, kamu tidak memiliki banyak waktu, bayar pesanannya dan pilih wedding desain yang kamu inginkan, cepat." Ocehan Cindy membuat Juna meringis. Benar juga, Juna tidak punya banyak waktu sekarang.
"Kamu perempuan, aku yakin seleramu tentang wedding desain bagus, jadi aku serahkan semua padamu, aku harus pergi sekarang dan mengejar Audie." Ucap Juna menyimpan beberapa lembar uang diatas meja membayar pesanan mereka.
Setelahnya, Juna pergi meninggalkan resto itu dan mengejar calon istrinya. Cindy menggeleng menatap kepergian Juna, bisa-bisanya mantan teman satu kampusnya itu meminta perempuan lain memilihkan desain untuk pernikahannya.
Cindy tidak ingin pekerjaannya terancam karena pernikahan clientnya batal, tapi mau bagaimana lagi, Juna sudah pergi entah kemana, sepertinya Cindy mau tidak mau terpaksa memilih wedding desain untuk pernikahan Juna dan Keana nanti.
Cindy berniat membereskan barangnya dan pergi membayar pesanan mereka, tapi sesuatu menarik perhatiannya dan membuat tangannya berhenti bergerak, Cindy melihat cinta pertamanya berada disana bersama gadis yang sangat Cindy kenali.
Neysa.
Cindy melihat cinta pertamanya menarik kursih untuk Neysa, sikap manis yang Cindy impikan dari laki-laki yang selalu Cindy kejar saat kuliah, sekarang didapatkan oleh adik Cindy sendiri dan Cindy harus melihat sendiri momen manis itu.
"Sayang." Sebuah suara dan tangan mengejutkan Cindy, perempuan itu menoleh melihat seseorang yang menyentuh bahunya, ternyata Chandra dan Cindy langsung menutup mulutnya karena kaget sekaligus bahagia melihat kekasihnya datang.
"Rindu padaku?" Chandra melebarkan tangannya meminta Cindy untuk datang ke pelukannya, dia sangat merindukan perempuan yang sudah lama tidak ditemuinya. Cindy yang mengerti keinginan Chandra langsung berdiri dan memeluk Chandra.
"Kenapa kamu baru datang sekarang, huh?! aku sangat merindukanmu!" Cindy semakin memeluk Chandra erat untuk melepaskan rindu yang sudah ditahan sangat lama. Chandra memang jarang sekali datang dan menemuinya seperti sekarang.
"Aku tahu, makanya aku datang." Ucap Chandra menanggapi perkataan kekasihnya dan membalas pelukan Cindy tidak kalah erat. Hal itu membuat Cindy melupakan sejenak tentang cinta pertama yang sebenarnya masih tersimpan dalam hatinya.
Hidup bukan sekedar tentang cinta, tetapi juga tentang kebahagiaan, bertahan mencintai orang yang tidak mencintainya dan mengabaikan orang yang memiliki ribuan cara membuatnya bahagia, Cindy tidak sebodoh itu untuk melakukannya.
Juna mengejar Keana dan langsung memeluknya dari belakang, dia mengatur nafasnya yang tidak beraturan akibat berlari sambil memeluk Keana karena takut perempuan itu pergi lagi darinya. Juna bicara setelah berhasil mengatur nafasnya.
"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Juna menyimpan dagunya pada pundak Keana dan mengeratkan pelukannya. Keana membuang nafas kasar, tidak menyangka Juna masih bertanya kenapa, padahal sudah jelas-jelas Juna yang membuatnya kesal.
"Maaf, kalau aku melakukan kesalahan padamu, tapi aku mohon jangan pergi seperti ini, kita bisa membicarakan semua masalah baik-baik. Jangan pernah pergi tanpa bicara apapun lagi." Ucap Juna yang sekarang terdengar lirih di telinga Keana.
"Sayang, jangan diam seperti ini. Tolong katakan sesuatu supaya aku bisa tenang." Ucap Juna, lalu melepaskan pelukan mereka dan membalik tubuh Keana. Juna memegang kedua sisi wajah Keana. "Kamu kenapa? kenapa tiba-tiba marah, hum?"
"Aku tidak marah, aku malah tidak mengerti yang sedang kamu bicarakan." Ucap Keana membalas tatapan Juna dan membiarkan tangan laki-laki itu berada di wajahnya. Keana tidak tahu mengapa dirinya bisa menjadi emosi karena kejadian tadi.
Tapi, Keana gengsi mengaku dirinya emosi, jadi berpura-pura tidak mengerti maksud Juna. Ya, meskipun sebenarnya Keana sangat mengerti yang sedang Juna bicarakan. Keana kemudian menurunkan tangan Juna dari wajahnya lembut.
"Aku lihat kamu dan perempuan bernama Cindy tadi sangat dekat, apa mungkin kalian ..." Keana menahan perkataannya, dia pikir tidak mungkin bertanya sesuatu yang nanti akan membuat Juna besar kepala. Keana tidak akan membiarkan itu.
"Kalian?" Tanya Juna menunggu perempuan di depannya melanjutkan perkataannya, lalu Juna tersenyum, ternyata benar yang Cindy katakan, sepertinya Keana cemburu dengan kedekatan Juna dan Cindy. "Jadi benar kamu cemburu, hm?"
"T-tidak, jangan asal bicara! mana mungkin aku cemburu?!" Keana langsung memalingkan wajah dari Juna dan menyembunyikan wajah malunya. Keana cemburu, tapi tidak ingin mengakui itu. "Sudahlah, aku pulang, aku masih ada urusan."
Juna menahan tangan Keana dan mencubit gemas hidung Keana, lalu Juna kembali menarik Keana ke dalam pelukannya. Sekarang Juna bisa percaya Keana sudah benar-benar membuka hatinya dan pernikahan mereka bukan sekedar pelampiasan.
Keana tidak bisa berbuat apapun selain diam dan menerima perlakuan Juna, meskipun sebenarnya Keana masih kesal kepada Juna, tapi Keana tidak bisa menolak pelukan Juna, karena Keana selalu merasa nyaman berada di pelukan laki-laki itu.
"Sayang, Cindy adalah teman kampus kita dulu, kamu ingat mahasiswi berkacamata yang cupu di kampus kita? sekarang Cindy sudah berubah menjadi wanita cantik dan mempesona." Juna menjerit diakhir kalimat karena cubitan Keana.
"Kamu bilang Cindy cantik dan juga mempesona? apa aku tidak salah dengar?" Tanya Keana yang saat itu juga mendorong Juna supaya menjauh dari pelukan mereka, bisa-bisanya Juna memuji perempuan lain di hadapannya. Menyebalkan!
"Eh, bukan begitu maksudku ..."
"Sudahlah, sekarang tolong antar aku pulang dan jangan lupa jemput aku nanti malam, kamu tidak lupa nanti malam pertemuan keluarga kita kan?" Keana mengoceh dan membuat senyuman Juna mengembang, lalu Juna mengecup bibir Keana.
"Jadi, kita pulang sekarang?" Tanya Juna setelah mengecup bibir Keana cukup lama. Keana tidak menjawab, dia membuang wajah dari Juna dan pergi begitu saja menuju parkiran. Terserah apa yang Juna pikirkan nantinya, Keana tidak peduli.
Juna tersenyum menatap punggung Keana yang perlahan menjauh, sebelum akhirnya mengejar Keana dan mereka berdua pun pulang bersama. Nanti malam, kedua keluarga akan bertemu dan membicarakan pernikahan mereka lebih jauh.
~TBC
Terimakasih sudah membaca It's Okay, That's Fate. Mari berhubungan baik antara penulis dan pembaca. Jangan lupa juga untuk memberi dukungan kalian terhadap karyaku. Makasih 💙
Regards,
Nur Alquinsha A | IG: light.queensha