It'S Okay, That'S Fate

It'S Okay, That'S Fate
IOTF #10



Bisma benar-benar mengajak Juna bicara setelah makan malam selesai. Dia merasa harus bicara serius dengan anak laki-lakinya. Bisma bukannya tidak menyetujui keputusan Juna menikah, dia hanya takut Juna mengambil langkah yang salah.


Sekarang Bisma dan Juna sedang berada di ruang kerja Bisma, hanya ada mereka berdua disana karena Erina dan Arumi sedang menemani Keana di ruang tengah. Bisma berusaha untuk mengatur nafasnya sebelum membuka pembicaraan.


Sebenarnya Bisma sudah meminta supir untuk mengantar Keana pulang, tapi Juna mengatakan akan mengantarkan Keana setelah pembicaraan dengan sang ayah selesai dan meminta Keana untuk menunggunya sebentar di ruang tengah.


"Juna, papah sarankan kamu memikirkan kembali keputusanmu untuk menikahi Audie." Ucap Bisma tenang. Sebagai seorang ayah, Bisma tidak akan menunjukan emosi di depan anaknya. Terlebih Juna anak satu-satunya dan butuh nasehat.


Semua orang tahu, memberi nasehat tidak boleh di bumbui emosi supaya yang diberi nasehat tidak merasa sedang dimarahi. Lagipula menunjukan amarah di depan anak hanya akan menciptakan jiwa pembangkang terhadap anak itu sendiri.


"Pah-"


"Kecuali kamu berniat menyakiti dua perempuan sekaligus." Ucap Bisma memotong perkataan Juna namun masih dengan nada yang tenang. Jika dulu Bisma adalah laki-laki yang takut istri, sekarang dia sudah menjelma sebagai ayah yang hebat.


Bisma tidak pernah membentak anaknya, senakal apapun Juna saat kecil. Bisma selalu menasehati anaknya dengan kepala dingin. Bisma melakukan hal yang sama terhadap Arumi, meskipun Arumi bukan anak kandungnya tapi perlakuannya sama.


"Pah, aku melihat Anna selingkuh dan aku tidak mungkin menyakiti Audie." Ucap Juna meminta Bisma untuk percaya bahwa dirinya tidak akan menyakiti siapapun, termasuk Joanna yang sudah lebih dulu berkhianat dan menyakiti hatinya.


Bisma menghela nafasnya. Dia tidak mengerti apa yang sedang Juna bicarakan, Joanna sakit bagaimana mungkin perempuan itu selingkuh. Bisma merasa ada yang salah, tapi tidak berniat menanyakan kehidupan pribadi Juna lebih jauh.


"Baiklah, papah setuju kalau kamu memang mau menikahi Audie. Tapi papah minta satu hal, kamu harus berjanji tidak akan menyakiti Audie apapun yang terjadi. Baru setelah itu kalian bisa menikah." Ucap Bisma yang membuat Juna diam.


Bisma berharap Juna menyadari ada sesuatu yang berusaha dirinya sampaikan, mungkin suatu hari nanti Juna akan menyesal jika memutuskan untuk menikahi Keana. Karena Bisma tahu tidak mudah melupakan seseorang, terlebih cinta pertama.


Bukan berarti Bisma tidak percaya Juna akan mencintai Keana, hanya saja Bisma terlalu yakin Juna akan meninggalkan Keana jika tahu apa yang sedang Joanna alami. Bisma juga yakin kalau perselingkuhan Joanna hanyalah salah paham.


"Pah, aku berjanji tidak akan menyakiti Audie apapun yang terjadi. Aku akan seperti papah yang menyayangi mamah." Ucap Juna setelah lama terdiam. Juna terlihat percaya diri mengatakan hal itu dan membuat Bisma menarik nafasnya.


"Kamu tahu pria harus menepati janjinya? jangan sampai janjimu hanya bertahan dalam beberapa bulan atau bahkan beberapa hari!" Ucap Bisma menatap serius Juna. Dia masih belum bisa mempercayai janji yang sudah Juna ucapkan.


"Tidak akan terjadi hal seperti itu. Aku pasti akan menepati janjiku seumur hidup." Ucap Juna penuh percaya diri. Bahkan sebenarnya alasan Juna ingin menikahi Keana supaya bisa sama-sama menyembuhkan luka hati yang mereka alami.


Juna tidak yakin dirinya mencintai Keana, tapi menurutnya cinta akan datang karena terbiasa. Seperti yang terjadi pada orang tuanya, Juna berharap itu juga berlaku terhadap dirinya dan Keana. Yang berujung saling mencintai.


"Bagaimana jika kamu mengingkari janji yang sudah kamu buat?" Tanya Bisma masih belum sepenuhnya menyetujui keputusan Juna. Dia masih berharap supaya Juna tidak gegabah, bagaimana pun yang terjadi sangat rumit.


Tentang penyakit Joanna, di mansion itu hanya Juna yang belum mengetahuinya. Bahkan Bisma sudah pernah menjenguk Joanna di rumah sakit. Bisma dan yang lain tidak memberitahu Juna karena berpikir suatu hari Juna akan tahu sendiri.


Bisma, Erina dan Arumi juga sudah berjanji tidak memberitahu penyakit Joanna kepada Juna. Ya, meskipun Bisma tahu itu bukan jalan terbaik, dia tahu baik Juna maupun Joanna sama-sama terluka. Tapi Bisma tidak bisa melakukan apapun.


Dimasa lalu, Bisma membatalkan perjodohan Juna dan Keana karena Juna sudah memiliki kekasih. Bisma tidak keberatan jika memang karena itu perusahaan Shinhwa membatalkan kerja sama mereka. Bisma tidak peduli hal itu.


Bisma hanya peduli dengan kebahagiaan anak laki-lakinya, bahkan meskipun latar belakang keluarga Joanna kurang baik. Bisma membantu Joanna menjadi selebritis untuk memperbaiki latar belakang Joanna yang bisa dibilang buruk.


Sekarang disaat latar belakang Joanna berhasil di perbaiki, Joanna mengidap penyakit mematikan. Takdir sepertinya lebih berpihak pada perjodohan Juna dan Keana, bahkan tanpa disangka mereka sendiri yang memutuskan untuk menikah.


"Papah bisa melakukan apapun padaku jika aku sampai tidak menepati janjiku." Jawab Juna cepat. Dia sama sekali tidak mengerti sang ayah sedang berusaha menyampaikan sesuatu yang begitu penting dan merasa keputusannya sudah tepat.


"Baik, ingatlah untuk memegang janji yang sudah kamu buat." Ucap Bisma menyerah untuk berusaha menyadarkan anak laki-lakinya tentang hal rumit yang sedang terjadi. Bisma juga tidak bisa menghalangi keputusan yang Juna ambil.


"Kamu bisa keluar sekarang, papah akan disini mengurus pekerjaan dan tolong katakan kepada mamah kamu supaya tidur duluan." Ucap Bisma mengakhiri. Dia membutuhkan sedikit waktu untuk mematangkan keputusan anaknya.


"Pah, sepertinya ada yang mengganggumu. Apa terjadi masalah?" Tanya Juna yang enggan keluar dari ruang kerja sang ayah. Juna merasa ayahnya tidak benar-benar menyetujui keputusannya dan seperti ada sesuatu yang membebani sang ayah.


"Tidak, semuanya baik-baik saja. Pergilah, Audie sedang menunggumu." Ucap Bisma disertai senyuman yang terlukir dibibirnya. Meskipun sudah tidak muda lagi, ketampanan Bisma masih terlihat hanya dengan senyuman dibibirnya itu.


"Kenapa masih disana? cepat pergi, atau papah tidak jadi mengizinkan kalian menikah?" Ucap Bisma random. Juna yang mendengar itu hanya mendecih, bisa-bisanya sang papah mengancam dengan cara licik. Benar-benar sulit di percaya.


Memang benar yang Juna katakan, Bisma tidak pernah meminta Erina tidur duluan. Karena sejak Juna lahir, Erina berubah bawel dan semakin keras kepala. Erina selalu mengomel setiap Bisma lebih peduli pekerjaan dibandingkan kesehatan.


Pernah suatu hari Bisma meminta Erina untuk tidur duluan dan Erina mengatakan tidak akan tidur sebelum Bisma berbaring disampingnya. Bisma pikir Erina tidak serius, sampai lewat tengah malam Bisma masuk ke dalam kamar.


Bisma melihat istrinya masih terjaga dan sibuk memainkan ponsel. Erina benar-benar tidak tidur sebelum memastikan Bisma tidur disampingnya. Semenjak itu Bisma tidak pernah meminta Erina tidur duluan dan memilih menyimpan pekerjaan.



"Pak Juna, yang anda katakan di meja makan ... anda tidak serius ingin menikah dengan saya kan?" Tanya Keana tepat disaat mobil yang Juna kendarai melaju keluar perkarangan mansion, dia belum bisa memahami yang baru saja terjadi.


Keana mungkin bisa menganggap perkataan Juna tentang pernikahan sebagai candaan, kalau saja bosnya itu tidak bicara di depan keluarganya. Keana bahkan masih shock, terlebih setelah mendapat persetujuan anggota keluarga Juna.


"Kenapa? kamu tidak ingin menikah dengan saya? masih mengharapkan cinta Rafael, huh?" Juna membalikan pertanyaan masih dengan mata yang fokus ke jalanan. Dia tidak mengerti alasan Keana masih setia kepada cinta yang sudah berkhiat.


"Bukan begitu." Erina dengan cepat menyangkal perkataan Juna, dia bukan masih mengharapkan cinta Rafael atau apapun itu. Tapi keputusan Juna menikahinya benar-benar dadakan, terlebih mereka tidak memiliki perasaan satu sama lain.


"Papah, mamah dan kak Rumi sudah setuju kita menikah. Kamu hanya perlu mempersiapkan dirimu menjadi nyonya Radhika." Ucap Juna yang menoleh sekilas kearah Keana. Juna merasa bahagia sekarang sampai lupa sakit hatinya.


"Bagaimana dengan nona Joanna?" Tanya Keana spontan. Itu yang mengganggu pikiran Keana sejak tadi, Keana tahu bagaimana cinta Juna terhadap Joanna dan Keana berani menjamin cinta Juna masih utuh untuk Joanna seorang.


Juna berdehem tanpa menjawab, dia tidak tahu harus memberikan jawaban seperti apa dan memilih untuk mengabaikan pertanyaan Keana sampai mobilnya berhenti di depan apartemen Keana, baru saat itu Juna kembali berbicara.


"Audie, saya antar kamu sampai disini saja tidak apa-apa?" Juna menarik nafas dan memberi jeda perkataannya. Dia tidak ingin membahas Joanna sekarang, pikirannya selalu saja kacau mengingat mantannya itu. "Besok saya akan menjemputmu."


"Baiklah, hati-hati di jalan." Ucap Keana tidak ingin terlalu memikirkan hal itu, meskipun tetap saja Keana kepikiran. Keana turun dari mobil Juna tanpa ingin terlibat pembicaraan apapun lagi dengan bosnya, dia juga merasa sedikit lelah.


"Audie, tunggu!" Ucap Juna tiba-tiba menahan Keana yang hendak menutup pintu mobilnya. Juna melepaskan sabuh pengamannya, lalu mendekat kearah Keana dan mencium kening perempuan itu. "Salamat malam, calon istriku."


Keana membeku karena perlakuan tiba-tiba Juna, ternyata begini rasanya menjadi seorang wanita dari direktur muda seperti Juna. Keana merasa di istimewakan, meskipun Keana tahu bahwa semua itu bukan karena Juna sudah mencintai dirinya.


"Hm, selamat malam." Sahut Keana buru-buru menutup pintu mobilnya, tidak membiarkan Juna melihat wajahnya yang mungkin sudah memerah. Keana berjalan cepat menuju apartemen. Mulai sekarang Keana harus menjaga jarak dengan Juna.


Keana masuk ke dalam apartemen dan langsung mengunci pintu apartemennya itu. Kemudian Keana pergi menuju kamar dan tanpa sengaja melihat sebuah foto yang terbingkai rapih di dalam kamarnya, foto Keana dan juga Rafael.



"Rafa, aku tidak menyangka kamu akan menikahi perempuan lain dan aku lebih tidak menyangka Juna akan memintaku menjadi istrinya. Aku bingung, tapi sekarang aku tidak bisa meminta pendapatmu." Ucap Keana lirih pada foto mereka.


Keana menyentuh keningnya yang tadi dicium oleh Juna. Perasaannya sulit untuk di gambarkan, Keana merasa dadanya berdetak tidak normal saat Juna mencium keningnya, disamping itu hatinya juga sakit. Keana hanya pelampiasan.


Sementara itu di dalam mobil, Juna meruntuki dirinya sendiri yang sudah menyakiti Keana disaat janjinya terhadap sang ayah saja belum sampai satu jam. Tapi Juna memang tidak bisa menjawab pertanyaan Keana padanya tadi.


Juna menyadari selain keterkejutan, Keana juga menunjukkan kesedihan dan kekecewaan di wajahnya. Bisa jadi karena Juna tidak menjawab pertanyaan perempuan itu dan Juna benar-benar merasa bersalah, tidak seharusnya dia seperti itu.


Seharusnya Juna bisa lebih menjaga perasaan Keana seperti yang sudah dijanjikannya. Tapi mendengar Keana membahas Joanna tiba-tiba menghilangkan moodnya. Juna juga tidak bisa sepenuhnya disalahkan karena memilih diam.


"Maaf, mulai sekarang saya akan lebih menjaga perasaanmu." Ucap Juna sambil menatap gedung di depannya, dia berharap Keana tidak merasa tersingung atas kejadian tadi. Kemudian Juna mulai melajukan mobilnya dari tempat itu.


~TBC


Terimakasih sudah membaca It's Okay, That's Fate. Mari berhubungan baik antara penulis dan pembaca. Jangan lupa juga untuk memberi dukungan kalian terhadap karyaku. Makasih 💙


Regards,


Nur Alquinsha | IG: light.queensha