It'S Okay, That'S Fate

It'S Okay, That'S Fate
IOTF #38



Juna tidak tahu darimana datangnya pemikiran konyol Willis, tentu saja kasus mereka berbeda dan tidak bisa dibilang sama. Juna sudah lama mencintai dan memendam perasaan, berbeda dengan Willis yang dulu sudah menolak Cindy.


"Cindy sudah memiliki kekasih dan aku dengar mereka sudah berencana untuk menikah, lebih baik kamu mundur." Ucap Juna, dia sebenarnya tidak ingin ikut campur dengan urusan Willis, tapi sekarang Juna terpaksa harus ikut campur.


Juna tidak bisa membiarkan sahabatnya menjadi perusak hubungan orang lain, apalagi yang akan dirusak adalah hubungan Cindy yang dulu pernah tersakiti oleh Willis. Karena Juna yakin perbuatan Willis akan menambah pihak yang harus tersakiti.


"Lagipula, dulu kamu menolak Cindy, apa tidak malu sekarang kamu ingin berjuang mendapat hatinya lagi?" Tanya Juna terkesan sarkas, tapi memang begitulah kenyataannya. Kalau Juna, pasti akan merasa malu untuk mengejar Cindy.


"Mundur?" Tanya Willis kemudian tertawa, dia merasa ada yang lucu dari perkataan Juna dan Willis sama sekali tidak berniat untuk mundur. "Juna, kamu ingat dulu aku pernah mendukung kamu dan Ana? tapi kamu menolaknya kan?"


"Apa maksudmu?" Tanya Juna terpancing emosi karena Willis malah membalikan keadaan, Juna semakin tidak bisa memahami yang sebenarnya sedang Willis pikirkan, obrolan diantara mereka keluar jalur, akal sehat Willis sepertinya hilang.


"Ayolah, jangan pura-pura lupa. Sejak pertama kali Ana bekerja sebagai sekretarismu, aku terus mendukungmu untuk mendekati Ana, tapi waktu itu kamu menolak kan? Ah, kamu juga pasti ingat dengan alasan kamu mengubah panggilan Ana!"


Willis melihat langit-langit ruangan Juna dengan pandangan menerawang dan mengingat kembali saat Keana bekerja sebagai sekretaris Juna untuk yang pertama kalinya. Willis memberi semangat supaya Juna mendekati cinta pertamanya, Keana.


Bahkan, Willis sempat menawarkan dirinya untuk membantu Juna, tapi Juna langsung menolak itu dengan alasan sudah memiliki Joanna sekaligus sudah tidak memiliki perasaan apapun terhadap Keana sampai panggilan Keana harus diubah.


"Cinta kadang membuat kita egois dan munafik, contohnya kamu yang menolak untuk mendekati Ana, tapi akhirnya kalian menikah. Kita berdua sama-sama pernah menolak, menurutku tidak salah kalau aku juga ingin mendapatkan Cindy."


Juna hampir menganga mendengarnya, mungkin Willis sudah benar-benar kehilangan akal sehat, buktinya Willis sampai membawa Juna ke dalam masalahnya dengan Cindy, padahal sudah jelas banyak sekali perbedaan dalam kasus mereka itu.


"Berhenti basa-basi! katakan saja apa yang kamu ingin tanyakan tentang Cindy!" Ucap Juna mulai terbawa emosi, memang siapa yang tidak emosi kalau niat baiknya untuk memberi nasehat tidak dihargai. "Aku tidak punya banyak waktu, Willis!"


Juna tidak bisa mengontrol emosinya saat Willis tidak juga bicara setelah sebelumnya mengatakan hal konyol. Kalau saja Juna tidak mengingat siapa Willis, mungkin Juna akan memukul wajah Willis yang selalu di kagumi oleh para kaum wanita itu.


"Santai sedikit, Juna." Ucap Willis membuat Juna geram, ingin rasanya Juna berteriak di hadapan Willis untuk melampiaskan emosinya, tapi Juna tidak ingin sama tidak warasnya dengan Willis. "Kamu tidak berniat memberiku minuman, eh?"


"Kalau bicaramu masih saja berputar-putar, kamu tahu pintu keluar kan?" Ucap Juna berusaha tetap tenang, meskipun sebenarnya Juna ingin sekali melempar Willis ke sungai amazon. Juna berdiri dan melangkahkan kaki menuju meja kerjanya.


"Yak! aku belum selesai bicara, Juna!" Ucap Willis memprotes Juna yang sudah duduk di meja kerja. Juna terlihat tidak memperdulikan ocehan Willis dan mulai sibuk dengan dokumen yang berada di meja kerjanya. Willis yang melihatnya cemberut.


"Juna, kita sudah lama berteman, apa kamu tidak berniat mendukungku, huh?" Tanya Willis sambil beranjak dari tempat duduknya, lalu dia berjalan menghampiri meja kerja Juna. "Aku berjanji akan pergi setelah kamu memberitahu tentang Cindy."


Juna menghela nafas berat sebelum bicara.


"Aku tidak tahu apapun tentang Cindy, kecuali dia yang bekerja di wedding organizer, jadi percuma kamu datang padaku. Aku tidak mengenal Cindy dengan baik." Ucap Juna tanpa mau mengalihkan pandangan dari dokumen yang ada di tangannya.


"Bagaimana dengan nomor telpon? atau alamat rumahnya? kamu tahu?" Tanya Willis antusias, berbeda dengan lawan bicaranya yang terlihat malas. Bahkan, Juna tidak ingin untuk sekedar melihat wajah Willis yang memancing emosi itu.


"Tidak." Jawab Juna singkat sambil memeriksa dokumen. Juna berharap Willis puas mendengar jawabannya, tapi sepertinya Willis masih betah berada di ruangan Juna, bahkan sahabat Juna itu tidak beranjak sedikit pun dari tempatnya berdiri.


Juna menghela nafas untuk kesekian kalinya.


"Aku memiliki kartu nama tempat Cindy bekerja. Kalau kamu mau, aku bisa memberikan kartu itu padamu, asal kamu mau berjanji akan pergi dari ruanganku." Ucap Juna menyerah, kemudian dia mencari kartu nama yang dimaksud di laci meja.


Juna bisa melihat Willis tersenyum lebar setelah kartu nama itu ditemukan, Willis terlihat senang hanya karena sebuah kartu nama, tapi Juna tidak memberikan kartu nama itu begitu saja. Karena masih ada yang harus Juna katakan kepada Willis.


"Aku harap kamu tidak akan bermain api. Ingat Willis, apapun yang kamu lakukan, Angel harus menjadi prioritasmu atau aku tidak akan segan untuk memberimu pelajaran." Ucap Juna masih belum memberi daddy-nya Angel kartu nama.


"Iyah, bawel." Ucap Willis berniat untuk merebut kartu nama dari tangan Juna, tapi sayang sekali pergerakan Juna lebih cepat dari Willis dan kartu nama itu tidak berhasil direbut. Juna selalu saja mempersulit Willis saat membicarakan Angel.


"Jangan terburu-buru, Willis. aku belum selesai bicara. Aku harap kamu bisa menepati janjimu--"


"Iya iyah, aku akan pergi dari ruanganmu setelah aku mendapatkan kartu nama Cindy." Ucap Willis menyela perkataan Juna. Willis ingat sebelumnya Juna mengatakan tidak memiliki banyak waktu, tapi sekarang malah Juna yang menghambatnya.


"Bukan hanya itu, aku ingin kamu berjanji untuk menjadikan Angel prioritas, tidak peduli segila apapun kamu terhadap Cindy. Berjanjilah untuk menyerah kalau Angel memintanya." Ucap Juna memberikan persyaratan lainnya kepada Willis.


"Angel masih kecil dan Angel tidak akan mengerti apapun, kamu tidak perlu berlebihan." Ucap Willis dengan diakhiri helaan nafas, bicara dengan Juna membuatnya sedikit lelah, padahal Willis hanya menginginkan kartu nama tempat Cindy bekerja.


"Kamu salah, Willis. Memang benar Angel masih kecil, tapi akan terjadi masalah kalau nanti kamu mengejar Cindy, apalagi yang Angel tahu Neysa mommy-nya. Semua yang kamu anggap enteng ini akan menjadi masalah besar suatu hari nanti."


Juna menyimpan kartu nama tempat kerja Cindy di meja depan Willis. Bukan tidak ingin memberi Willis nasehat, Juna hanya terlalu malas untuk meladeni Willis. Karena tadi saja Willis sampai harus membalikan keadaan dan mendesak Juna.


"Kenapa diam? cepat ambil kartu namanya! aku memiliki banyak pekerjaan!" Ucap Juna kembali melihat dokumen dan berpura-pura fokus pada dokumen itu, padahal sebenarnya Juna sedang mengamati Willis menggunakan sudut matanya.


"Baiklah, terimakasih." Ucap Willis setelah sekian lama hanya memandangi kartu nama diatas meja kerja Juna, lalu Willis mengambil kartu namanya dan keluar dari ruangan itu tanpa bicara apapun, mungkin Willis terpengaruh oleh perkataan Juna.


Juna sengaja membawa nama Angel dan Neysa untuk membuat Willis sadar bahwa semuanya tidak sesederhana yang Willis pikirkan. Karena sekali lagi, kasus Juna dan Willis sangat berbeda dari sudut manapun mereka memandangnya.


Juna memang pernah menolak mendekati Keana, tapi semata-mata hanya untuk menjaga perasaan Joanna sebagai kekasihnya. Tidak seperti Willis yang dulu menolak Cindy karena penampilannya kurang menarik dan terlihat sangat kampungan.


Dan tentang Juna yang mengubah panggilannya terhadap Keana, itu berawal dari Willis yang terus meledek Juna karena nama panggilan Keana dan Joanna sama, yaitu Ana. Bahkan Willis menyebut itu sebagai alasan Juna sangat mencintai Joanna.


Karena nama panggilan Joanna yang sama seperti panggilan Keana yang merupakan cinta pertama Juna. Tentu Juna tidak terima sampai akhirnya memutuskan mengubah nama panggilan Keana menjadi Audie untuk menyangkal tuduhan Willis.


"Maafkan daddy, Angel."



Keana sibuk menata makanan di meja makan, dia tidak sendiri, ada dua asisten rumah tangga yang membantunya. Jung Hwa mengirim kedua asisten rumah tangga itu untuk meringankan pekerjaan Keana sebagai seorang istri di rumah barunya itu.


Keana tersenyum saat semua hidangannya sudah tertata rapih diatas meja makan, hasil kerja keras bersama kedua asisten rumah tangganya selama puluhan menit akhirnya membuahkan hasil. Dia berharap Juna akan menyukai hidangannya nanti.


"Ah, akhirnya selesai. Aku harus menelpon Juna sekarang." Ucap Keana, lalu mengambil ponsel dari saku dan berusaha menghubungi Juna, tapi malah suara operator yang terdengar menyapa telinga Keana, ponsel Juna sedang tidak aktif.


"Nona, kami permisi. Masih ada pekerjaan yang harus kami kerjakan." Ucap salah satu asisten rumah tangga yang diketahui bernama Indah. Keana hanya mengangguk menanggapinya dan berusaha sekali lagi menghubungi suaminya.


"Kenapa tidak aktif? bukankah Juna mengatakan akan pulang untuk makan siang?" Gumam Keana dan masih belum menyerah untuk menghubungi Juna, tapi berapakali pun Keana mencoba, ponsel suaminya itu tetap tidak bisa dihubungi olehnya.


"Sudahlah, mungkin Juna sibuk." Keana akhirnya menyerah dan memasukan ponselnya kembali ke dalam saku. Keana membalikan tubuhnya lemas dan berniat duduk di kursih meja makan, tanpa disangka Juna tiba-tiba berdiri di hadapannya.


"Aku pulang, istriku." Juna melebarkan tangannya, berharap Keana datang dan memberikan pelukan, sayang sekali Keana kurang peka untuk yang satu itu. Keana memang menghampiri Juna, tapi hanya untuk membantu Juna melepaskan jas kerjanya.


"Juna, sejak kapan kamu berdiri disini? Aku kira kamu tidak akan pulang!" Ucap Keana membawa jas kerja Juna dan meletakkan jas itu pada kursih kosong. Juna tersenyum, sebenarnya Juna sudah lumayan lama di rumah, tapi Keana tidak tahu.


"Mana mungkin, aku pasti pulang untuk makan masakan istriku." Ucap Juna menarik kursih di depan Keana, dia terlihat santai, berbeda dengan Keana yang sekarang terlihat sekidit kesal akibat ponsel Juna yang tidak bisa dihubungi olehnya.


"Kenapa nomor telpon kamu tidak aktif, huh? aku sudah beberapa kali menelponmu!" Ucap Keana mengutarakan apa yang menjadi pikirannya, dia tidak sepenuhnya kesal, perasaan khawatir lebih mendominasi, takut terjadi sesuatu kepada Juna.


"Maaf, mungkin ponselku kehabisan baterai. Oh ya, apa yang kamu masak?" Tanya Juna, padahal sudah terlihat jelas semua makanan yang berada diatas meja, menu yang pantas disebut sebagai makanan empat sehat dan juga lima sempurna.


"Kamu bisa lihat sendiri di meja makan. Aku tidak yakin kamu menyukainya, tapi kamu harus tetap memakannya." Jawab Keana masih terbawa rasa kesal. Juna tertawa pelan mendengar perkataan Keana yang memaksa tapi memiliki kesan lucu.


"Baiklah, sesuai permintaanmu, sayang. Aku akan makan masakanmu, kalau perlu aku akan makan semuanya sampai habis." Ucap Juna dengan sisa tawanya, Keana tidak ingin memperpanjang itu dan mulai mengisi piring untuk makan suaminya.


"Apa terjadi masalah di kantor, eh?" Tanya Keana sambil meletakan piring di meja depan Juna dan baru menyadari wajah suaminya berbeda, seperti ada beban. Keana menatap Juna dan menunggu jawaban, tapi Juna tidak memberinya jawaban.


"Memang kenapa?" Juna membalikan pertanyaan dan mulai melahap makanan di piringnya. Keana menghela nafas, mungkin memang sudah terjadi masalah di kantor. Karena biasanya hanya urusan kantor yang bisa membuat Juna terbebani begitu.


"Sayang, kamu sudah memiliki istri, apapun yang sedang kamu hadapi, kamu bisa mengatakannya padaku, mungkin aku bisa membantumu." Ucap Keana masih belum mengisi makanan di piring miliknya dan hanya memperhatikan Juna makan.


"Aku tahu, sayang. Aku tahu sekarang aku sudah memiliki istri dan kita bisa membagi masalah kita supaya lebih ringan. Tapi untuk sekarang, kamu tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Semuanya baik-baik saja." Ucap Juna disertai senyumannya.


"Kamu yakin?" Tanya Keana memastikan seakan tidak bisa mempercayai perkataan suaminya, dia menatap mata Juna mencari kebohongan disana, tapi sepertinya Juna serius dengan perkataannya. Juna menganggukan kepalanya menjawab Keana.


"Hm, satu-satunya yang menjadi bebanku saat ini hanya aku yang harus meninggalkanmu di rumah sendirian demi pekerjaanku di kantor." Ucap Juna tanpa menghilangkan senyuman dibibirnya, lalu Juna kembali memasukan makanan ke mulutnya.


"Sayang, kamu juga makanlah. Aku akan kembali ke kantor karena masih ada pekerjaan disana, tapi aku akan berusaha pulang secepatnya." Ucap Juna setelah menelan makanan di dalam mulutnya, dia mengambilkan nasi beserta lauknya untuk Keana.


"Oh ya, bagaimana dengan liburan kita bersama Angel? apa kamu memiliki rekomendasi tempat yang bagus?" Tanya Juna yang baru mengingat tentang janjinya terhadap Angel, dia tidak sabar menunggu hari dimana mereka bertiga liburan.


"Menurutku Angel lebih berhak untuk memilih tempat liburan kita, bagaimana kalau nanti kita bertanya langsung kepada Angel?" Ucap Keana memberi saran. Juna menyetujuinya dan mereka melanjutkan makan siang dengan lebih tenang.


--------------------


Aku menjadikan diriku rumah untuk perempuan yang aku cintai, lalu aku menjadi rumah tanpa penghuni karena pemilikku lebih nyaman tinggal di tempat lain. Aku pernah membenci keadaan sampai seseorang mendatangiku dengan segala kelemahan dan membuatku ingin melindunginya.


Waktu pun berlalu, aku bertemu pemilik lamaku, aku menutup pintu rumahku untuknya, tapi aku juga tetap membiarkan dia memegang kuncinya. Aku pikir meski dia memegang kunci itu, dia tidak akan mau masuk, tapi pada akhirnya aku sendiri yang membuka pintu dan meminta dia masuk.


Karena apapun yang terjadi, dia adalah pemilikku yang sesungguhnya. Tidak apa-apa meskipun dia pernah tinggal di tempat lain dan aku juga pernah ditinggali pemilik lain, aku dan dia tetap menjadi rumah dan pemiliknya, itu takdir diantara kami.


- Arjuna Yudhistira Radhika -


~TBC


Tahu kan alasan aku ngasih judul it's okay, that's fate? iyah, karena aku ingin menyampaikan pada kalian, apapun yang terjadi, apapun yang kalian hadapi, sesulit apapun itu, meski melelahkan ...


Tidak apa-apa, itulah takdir.


Tadinya sih mau bikin konflik yang lebih berat, tapi segini juga semoga kalian mengerti, aku takutnya gak kuat ngetik kalau terlalu berat 😅 Oh ya, jangan lupa kasih tahu kalau ada typo.


Terimakasih sudah membaca It's Okay, That's Fate. Mari berhubungan baik antara penulis dan pembaca. Jangan lupa juga untuk memberi dukungan kalian terhadap karyaku. Makasih 💙


Regards,


Nur Alquinsha A | IG: light.queensha