
"Yak! kenapa kakak memukulku?" Protes seorang laki-laki saat mendapat pukulan dari perempuan yang dua tahun lebih tua darinya. Lawan bicara laki-laki itu memutar matanya, lalu menghampiri perempuan lainnya yang berbaring di atas kasur.
"Tunggu sampai aku memberitahu mamah dan papah, kamu pasti akan mendapatkan yang lebih dari itu. Juna, kenapa kamu membiarkan Audie mabuk? aku tidak bisa membayangkan nasibmu jika mamah dan papah mengetahui hal ini!"
Well, mereka tidak lain adalah Juna dan kakak perempuannya, Arumi. Karena Keana muntah dan membuat mini dress yang di pakainya kotor, Juna akhirnya terpaksa menelpon Arumi supaya bisa membantunya mengganti pakaian Keana.
"Memang apa yang akan terjadi jika mamah dan papah sampai mengetahui hal ini? kak Rumi, aku tidak melakukan apapun. Aku hanya menemani Audie minum." Ucap Juna merasa tidak terima dengan perkataan Arumi yang memojokkannya.
"Menemani sekretarismu minum, huh?" Arumi mendengus, tidak mempercayai perkataan Juna barusan. "Juna, aku tahu kamu baru putus dari Anna, tapi menarik Audie ke dalam masalahmu itu bukanlah hal baik, kamu pasti tahu itu!"
Juna menarik nafas dalam, bicara dengan kakak perempuannya memang bukanlah hal mudah. Arumi itu bawel melebihi ibu mereka. Bahkan kalau diingat kembali, ibu mereka tidak terlalu banyak bicara, sangat berbeda dengan Arumi.
"Bisakah kakak membantuku mengganti pakaian Audie terlebih dahulu?" Tanya Juna bernegosiasi kepada sang kakak dan berusaha menunjukkan senyuman supaya Arumi menuruti keinginannya, tapi yang terjadi malah Arumi melotot padanya.
"Kamu memintaku mengganti pakaian Audie di hadapanmu? ha, aku akan melaporkan ini kepada mamah dan papah!" Arumi mengancam dengan mata yang terus melotot dan membuat Juna ngeri melihatnya, lalu Juna terlihat menghela nafas.
"Baiklah, aku keluar. Tapi aku mohon berhentilah berteriak, kakak bisa membangunkan Audie." Ucap Juna mengingatkan sebelum akhirnya dia meninggalkan kamar bernuansa putih itu dan menyisakan Arumi beserta Keana disana.
Juna tidak terlalu memikirkan ancaman Arumi padanya, lagipula Juna tidak merasa melakukan hal buruk. Juna hanya menemani Keana minum dan membawa perempuan itu ke apartemennya. Juna tidak melakukan apapun selain hal itu.
"Ya ya. Sana keluar!" Perintah Arumi kemudian mengambil pakaian dari dalam tasnya. Arumi mengganti pakaian Keana setelah melihat adik laki-lakinya keluar dari kamar. Arumi tidak mengerti bagaimana bisa Keana sampai mabuk.
Arumi mengenal Keana sebagai perempuan baik, mereka sering minum teh bersama di mansion. Arumi tidak menyangka Keana tertarik dengan minuman beralkohol, karena yang Arumi tahu keluarga Keana tidak akan membiarkan hal itu.
Mungkin tidak akan ada yang percaya jika Arumi mengatakan perempuan korban bullying seperti Keana berasal dari keluarga kaya. Keana adalah pewaris tunggal shinhwa grup, perusahaan besar yang berpusat di negeri ginseng, Korea selatan.
Arumi bisa mengetahui itu karena Keana hampir menjadi adik iparnya. Lima tahun yang lalu, ayah Keana dan Bisma sepakat untuk menjodohkan anak mereka, tapi karena Bisma mengetahui Juna memiliki kekasih, akhirnya perjodohan itu batal.
Setelah berhasil mengganti dress Keana dengan pakaian yang di bawanya dari mansion, Arumi keluar kamar menghampiri Juna yang saat itu sedang membuat kopi di dapur. Arumi merebut kopi yang baru selesai Juna buat tanpa permisi.
"Sudah selesai?" Tanya Juna tanpa memprotes kelakuan Arumi yang sudah sangat biasa baginya. Arumi tidak langsung menjawab, karena sibuk mengesap kopi panas buatan adiknya. Kopi panas harus di minum perlahan supaya terasa nikmat.
"Juna, kamu serius hanya menemani sekretarismu minum? bukan kamu yang sengaja mengajaknya, hoh?" Tanya Arumi setelah mengesap kopi, lalu mengembalikan kopi yang barusan di minumnya kepada Bisma, tepat pada tangan laki-laki itu.
"Menurut kakak?" Juna membalikan pertanyaan, Arumi hanya mengangkat bahunya tidak tahu dan membuat Juna menghela nafas untuk kesekian kalinya. Juna tahu kakaknya bukan tipe orang yang mudah mempercayai perkataan orang lain.
"Sudahlah, aku pulang sekarang." Arumi menepuk bahu Juna sebelum akhirnya melangkah ke pintu utama apartemen itu. Juna hanya menggelengkan kepala menatap kepergian kakaknya, lalu laki-laki itu membawa kopi di tangannya ke dalam kamar.
"Rafa ..." Ucap Keana lirih dengan mata terpejam, tepat disaat Juna masuk ke dalam kamar. Juna terpaku dengan tangan yang memegang gagang pintu. Juna menatap perempuan yang berbaring di tempat tidur sampai kembali bersuara.
"Rafa, maaf ..." Ucap Keana masih dengan mata terpejam. Juna mendecih mendengar Keana terus memanggil nama Rafael, sesayang itukah Keana sampai memanggil nama laki-laki itu bahkan saat dalam keadaan mabuk dan tidur seperti sekarang.
Tidak lama Juna mendengar ponsel berdering, sepertinya ponsel itu milik Keana, karena nada deringnya terdengar asing. Lalu Juna mengambil ponsel Keana dari sakunya, sebelum mereka ke apartemen Keana tidak sengaja menjatuhkannya.
Juna mendengus melihat nama yang terlihat di layar ponsel Keana, Rafa dengan tambahan hati kosong di belakangnya. Juna tidak tahu sejak kapan Keana alay seperti itu sampai memberikan nama yang begitu menggelikan di ponselnya.
"Hallo!" Ucap Juna kepada laki-laki yang berada disebrang sana setelah menggeser ikon hijau di layar ponsel Keana. Nada bicaranya terdengar tidak bersahabat, bak seseorang yang menerima telpon dari laki-laki lain di ponsel kekasihnya.
"K-kamu? Juna, dimana Ana? kenapa handphone dia ada padamu?" Tanya Rafael beruntun. Karena malas menjawab, Juna memutuskan sambungan telpon mereka secara sepihak, lalu memasukan kembali ponsel milik Keana ke dalam sakunya.
Tidak tahu mengapa Juna begitu sensitif hanya dengan mendengar suara mantan teman satu kampusnya itu, terlebih jika ingat Rafael pernah melarang dirinya dekat dengan Keana di masa lalu. Juna kemudian menghampiri tempat Keana.
Juna menyimpan cangkir kopi keatas meja nakas dan membenarkan posisi selimut Keana sampai sebatas dada. Melihat Keana tidur dalam kondisi seperti itu membuat Juna merasa sedih, sangat tidak biasa Keana terlihat lemah di matanya.
"Saya berjanji akan menutup mulutmu, jika kamu terus memanggil nama laki-laki itu." Ucap Juna mengancam, lalu merapikan rambut Keana yang sedikit menutupi wajahnya. "Lihatlah siapa orang yang benar-benar patah hati diantara kita."
"Dimana aku?" Gumam Keana pelan. Kebetulan saat itu Juna sedang tidak ada di apartemen. Juna pergi ke mini market dan meninggalkan Keana di apartemennya sendirian. Keana semakin panik mengetahui dirinya sudah berganti pakaian.
"Ponselku ..." Keana berusaha mencari ponselnya di setiap tempat yang ada di kamar itu, namun hasilnya nihil. Keana tidak menemukan apapun, selain dressnya yang berada di tempat pakaian kotor sampai tiba-tiba seseorang masuk kamar.
"Sudah bangun?" Tanya orang yang masuk kamar, Juna. Hampir saja Keana memukul Juna dengan vas bunga yang berada disana, beruntung Keana langsung menyadari siapa orang yang bicara padanya. Keana akhirnya bisa bernafas lega.
"Pak Juna, aku kira siapa." Ucap Keana, kemudian menyimpan kembali vas bunga di tangannya. Dia tahu Juna sangat setia terhadap satu perempuan, sehingga tidak akan mungkin berbuat sesuatu terhadap dirinya. Keana sangat meyakini hal itu.
Juna mendecih, hampir saja bingkisan di tangan laki-laki itu terlepas saking kagetnya. Lalu Juna berdehem dan menyimpan bingkisan itu keatas tempat tidur. Tanpa mengatakan apapun, Juna mendekati Keana dan memeriksa suhu tubuhnya.
"Syukurlah kamu tidak demam." Ucap Juna pada detik berikutnya. Keana mengerjapkan matanya berkali-kali melihat wajah Juna dari jarak yang lumayan dekat, jantung Keana mendadak tidak karuan karena itu. Begitupun yang Juna rasakan.
"Pak ..." Lirih Keana merasa kurang nyaman saat tangan Juna terus menempel di keningnya, lalu Keana menurunkan tangan Juna perlahan. Juna masih setia menatap Keana, tidak biasanya dia selama itu menatap perempuan selain Joanna.
"Pak, apa aku sudah merepotkan? oh ya, apa anda melihat handphone saya?" Tanya Keana sengaja berusaha mencari topik untuk mereka bicarakan, setelah terjadi adegan yang sama sekali tidak bisa di mengerti oleh akal sehat perempuan itu.
Juna tidak menjawab, dia berjalan mendekati kasur dan duduk disana. Keana melihat Juna membuka bingkisan yang di bawanya tadi. Juna menepuk tempat tidur di sampingnya, meminta Keana untuk mengikutinya duduk disana.
"Audie, kemarilah. Kamu harus sarapan." Juna akhirnya bicara karena melihat Keana terdiam di tempatnya. Keana terlihat ragu menghampiri Juna, perempuan itu terus berdiri sambil memainkan kuku tangannya. "Kamu tuli, heh?"
Juna menarik tangan Keana, memaksa duduk di sampingnya. Juna kesal keana mengabaikan dirinya sampai bicara kasar. Padahal selama ini Juna tidak pernah berani untuk berbicara kasar, sekalipun pada perempuan yang tidak disukainya.
"Kamu makan sandwich dulu, saya akan membuat teh hangat untukmu." Juna beranjak dari tempat duduknya untuk menghindari suasana tidak enak yang dirinya perbuat. Juna tidak tahu mengapa dirinya mendadak emosional terhadap Keana.
Keana terdiam menatap punggung Juna yang kemudian menghilang di balik pintu, dia berpikir Juna sedikit aneh karena marah kepada dirinya yang mungkin tadi malam sudah merepotkan. Sementara Juna terlihat berdiri di depan pintu.
"Apa ini? kenapa aku kesal Audie menanyakan handphone nya padaku?!" Tanya Juna kepada dirinya sendiri. Benar, alasan Juna kesal karena Keana bertanya tentang ponsel. Mungkin perlu diceritakan tentang Rafael yang meneror Juna.
Tadi malam, Rafael terus menghubungi ponsel Keana sehingga akhirnya Juna memutuskan untuk mematikan ponsel itu. Tidak berhenti disitu, Keana terus mengigo nama Rafael dan membuat Juna semakin kesal sekaligus emosi.
Juna tidak tahu mengapa dirinya begitu kesal dan emosi karena hal itu. Cemburu? Tidak! sampai saat ini hati Juna masih untuk Joanna. Jadi tidak mungkin Juna cemburu. Juna hanya tidak suka Keana terus memanggil nama Rafael. Hanya itu.
Tidak ingin terlalu memikirkan itu, Juna akhirnya pergi ke dapur membuat teh hangat untuk Keana. Juna jarang tidur di apartemen, tidak heran jika hanya tersedia sedikit sekali bahan makanan di apartemennya dan Juna sampai harus belanja.
Juna kembali ke kamar membawa dua cangkir minuman berisi teh hangat dan kopi panas, dia melihat Keana belum menyentuh makanan yang di belinya untuk perempuan itu. Juna berusaha mengatur nafasnya supaya tidak emosian.
"Audie, kenapa belum di makan? kamu tidak suka rasa sandwich nya? atau mau makanan lain, hm?" Juna bicara lembut, lalu memberi cangkir berisi teh hijau hangat pada Keana yang langsung di terima oleh perempuan itu meski terlihat ragu.
"Terimakasih, pak." Ucap Keana kikuk. Juna hanya mengangguk menanggapinya. Juna merasa Keana lebih irit bicara hari ini, mungkin karena tadi Juna bersikap berlebihan. Juna memutuskan tidak bertanya lagi karena Keana tidak menjawabnya.
"Kamu bisa mengatakan kepada saya jika kamu memang tidak menyukai makanannya" Hanya itu yang Juna katakan, sebelum keduanya kembali saling menutup mulut mereka. Juna maupun Keana terjebak dalam pikiran masing-masing.
~TBC~
Terimakasih sudah membaca It's Okay, That's Fate. Mari berhubungan baik antara penulis dan pembaca. Jangan lupa juga untuk memberi dukungan kalian terhadap karyaku. Makasih 💙
Regards,
Nur Alquinsha A | IG : light.queensha