It'S Okay, That'S Fate

It'S Okay, That'S Fate
IOTF #39



Malam kedua setelah Juna dan Keana menikah, mereka sedang berada di kamar membuka satu persatu hadiah pernikahan. Keana masih belum terbiasa satu kamar dengan suaminya sehingga sengaja mencari kegiatan agar tidak canggung.


"Sayang, tolong buka kado biru muda, seingatku itu hadiah dari mamah." Ucap Keana menunjuk kado yang dimaksud, lalu kembali sibuk dengan dirinya sendiri dan membuka satu persatu kado yang hampir semuanya berisi barang branded.


"Yang ini?" Tanya Juna membuat perhatian Keana sejenak teralihkan. Keana melihat kado yang Juna pegang, kalau tidak salah ingat, sepertinya itulah kado dari mamah mertuanya. Keana tidak terlalu ingat karena lumayan banyak kado berwarna biru.


"Hm, tolong kamu buka." Ucap Keana meski tidak yakin kado itu dari mamah mertuanya, lalu Keana kembali fokus dengan kado lain. Juna mengiyakan perkataan Keana dan membuka kado tersebut dan alangkah terkejutnya Juna mengetahui apa isinya.


"Kenapa, sayang?" Tanya Keana menyadari Juna terdiam setelah membuka kado. Juna berdehem pelan dan menyembunyikan kadonya dari Keana, tidak ingin istrinya melihat isi kado yang katanya pemberian mamahnya yang berisi lingerie hitam.


"Tidak apa-apa, sayang. Sepertinya kamu salah ingat, ini bukan kado dari mamah, mamah tidak mungkin memberi barang jelek." Ucap Juna yang langsung mengambil kado lainnya. Juna merasa Keana tidak perlu melihat baju tidak pantas itu.


"Memang apa isi kadonya?" Tanya Keana ingin tahu, dia penasaran barang seperti apa yang Juna anggap jelek. Keana curiga melihat tingkah laku Juna, sepertinya sesuatu yang ada di dalam kado biru muda tadi menjadi alasan Juna seperti itu.


Keana melihat suaminya mendadak salah tingkah ditambah dengan wajahnya yang terlihat sedikit memerah, padahal Juna hanya membuka sebuah kado, tapi reaksinya sampai seperti itu. Tentu saja Keana semakin mencurigai isi kado biru tersebut.


"Aku bisa membeli yang lebih bagus dari ini, jadi sebaiknya kita buang saja." Ucap Juna membuka kado lainnya dan sengaja tidak menjawab Keana. Mungkin lingerie berguna untuk membuat hasrat pria meningkat setelah melihat tubuh si pemakai.


Tapi, berbeda dengan tuan muda dari D.K grup, Juna tidak membutuhkan lingerie untuk tergoda oleh tubuh Keana. Karena Keana memakai baju tertutup pun, Juna sudah tergoda oleh istrinya sehingga lingerie hitam itu tidak akan berguna.


"Jangan begitu, sayang. Mana aku lihat dulu apa isinya." Ucap Keana berniat mengambil yang ada di belakang Juna, tapi Juna lebih cepat menahan tangan Keana dan menggelengkan kepala seakan tidak mengijinkan Keana untuk melihat kadonya.


"Tidak, sayang. Aku yakin kamu tidak akan suka dengan modelnya." Ucap Juna dan menurunkan tangan Keana perlahan. Keana menatap laki-laki di depannya dengan mata memicing, suaminya semakin mencurigakan dan membuat penasaran.


"Juna! berikan padaku!" Ucap Keana menaikkan suaranya, dia benar-benar dibuat penasaran oleh kado berwarna biru muda. Pasti ada alasan yang membuat Juna berusaha menyembunyikannya. Juna menghela nafas karena Keana keras kepala.


"Baiklah." Juna akhirnya terpaksa memberi kado itu dan langsung diterima oleh Keana. Juna tidak ingin melihat reaksi Keana dan memilih kembali membuka hadiah pernikahan mereka yang masih memenuhi kamar. Sungguh sangat melelahkan.


Keana menelan ludah melihat pakaian yang akan memperlihatkan tubuhnya dan hanya menutupi bagian intinya saja. Membayangkan pakaian itu melekat di tubuhnya saja sudah membuat Keana ngeri, apalagi membayangkan tatapan Juna nanti.


Keana menggelengkan kepalanya kuat, sekarang bukan waktunya untuk memikirkan itu. Lagipula tadi Juna mengatakan bahwa pakaian itu barang jelek, mungkin Juna tidak ingin melihat pakaian yang pantas untuk wanita seksi di tubuh Keana.


"Bagaimana? suka, hm?" Tanya Juna memecahkan lamunan Keana, laki-laki itu tidak menatap lawan bicaranya dan hanya melirik Keana dengan sudut matanya. Keana menoleh kearah Juna, beruntung suaminya tidak sedang memperhatikan wajahnya.


"Menurutku ini tidak terlalu jelek, aku masih bisa memakainya nanti." Ucap Keana dan menyimpan kado berisi lingerie di sampingnya. Juna menatap Keana mendengar jawaban sang istri, tidak dapat di percaya istrinya menyukai pakaian seperti itu.


"Benarkah? bagaimana kalau kamu mencobanya sekarang?" Tanya Juna menatap intens Keana, dia yakin Keana tidak akan berani mencoba pakaian terbuka seperti tadi. Karena biasanya istrinya itu memakai pakaian yang tertutup dan juga sopan.


"A-apa?" Tanya Keana mendadak gugup. Keana tidak berniat memakai lingerie itu, hanya tidak ingin membuang pemberian orang lain. Keana pikir Juna juga tidak akan menyuruhnya untuk memakai itu, tidak disangka dugaannya salah.


"Kamu mencobanya sekarang atau aku buang saja pakaian itu." Ucap Juna memberi pilihan melihat Keana terdiam. Keana tidak memiliki pilihan lain selain harus mencobanya. Karena tidak mungkin untuk Keana tiba-tiba berubah pikiran sekarang.


Keana berdiri sambil membawa pakaian wanita yang menurut orang modis, tapi memiliki kesan mengerikan bagi Keana. Lihat saja bagaimana pakaian itu akan meng-ekspose tubuhnya nanti. Keana yakin pakaian itu bukan dari mertuanya.


"Kamu mau kemana?" Tanya Juna melihat Keana berdiri, mata Juna tertuju pada lingerie yang ada di tangan Keana, mungkinkah istrinya itu berniat memakai pakaian wanita yang tidak layak untuk di pakai? Juna berharap Keana tidak akan berani!


"Aku akan mencobanya di kamar mandi." Keana tersenyum tipis kemudian berjalan menuju kamar mandi yang ada di kamar mereka. Juna langsung berdiri dan menahan tangan istrinya itu sebelum masuk ke kamar mandi, lalu merebut lingerienya.


"Kamu serius akan memakainya, hm?" Tanya Juna mengangkat lingerie ke udara supaya Keana tidak bisa merebutnya. Juna tidak ingin Keana sampai harus memaksakan dirinya memakai pakaian itu hanya karena Juna meminta istrinya mencobanya.


"Ya. Kamu tenang saja, aku hanya akan memakai itu di depanmu. Jadi tolong kembalikan padaku, bukankah kamu ingin aku mencobanya?" Keana terlihat tenang meski sebenarnya tidak percaya diri untuk memakai pakaian yang Juna pegang.


"Juna!" Tegur Keana melihat Juna hanya terdiam, lalu menarik lengan Juna sehingga pakaian yang ada di tangan laki-laki itu lebih mudah diambil. Juna tidak berniat menahan Keana untuk kedua kalinya sampai Keana berhasil ke kamar mandi.


Sebenarnya, Juna tidak siap melihat pakaian tadi di tubuh Keana. Tapi mau bagaimana lagi, Keana tidak bisa dicegah dan terpaksa membiarkannya. Juna harap bisa mengendalikan diri saat istrinya keluar dari kamar mandi dan semoga saja bisa.


Tidak lama pintu kamar mandi terbuka, tapi Juna tidak melihat Keana keluar dari sana untuk waktu yang lumayan lama. Keana baru keluar dari kamar mandi setelah sekian lama berdiri dibalik pintu mempersiapkan dirinya untuk menghadap Juna.


Keana dan Juna mengunci pandangan terhadap satu sama lain saat Keana berdiri di depan kamar mandi. Juna meneguk ludahnya, dia bisa melihat tubuh Keana dari balik lingerie yang membalut di tubuh itu dan tanpa sadar Juna mendekati Keana.


"Aku minta maaf, sayang. Pakaian itu sepertinya tidak bisa kamu pakai lagi." Ucap Juna menatap lurus mata Keana setelah berdiri tepat di depan istrinya itu. Juna memegang bahu Keana, dasar pria, Juna tergoda melihat lekukan tubuh Keana.


Juna akan menarik kembali perkataannya, Keana memang menggoda meskipun memakai pakaian yang tertutup, tapi Keana lebih menggoda kalau memakai lingerie yang sekarang hanya menutupi bagian intinya. Tidak salah, Juna itu pria normal.


"Kamu tidak berniat membuangnya kan? sayang, kamu tidak bisa membuang pemberian orang lain begitu saja!" Ucap Keana dengan wajah polosnya dan menambah kesan seksi bagi Juna. Memang terlihat berbeda orang yang dikuasai oleh nafsu.


Juna diibaratkan binatang yang sedang menatap mangsanya sekarang, berbeda sekali dengan Juna yang selalu santai dan selalu bisa mengendalikan dirinya saat berhadapan dengan perempuan. Juna menyungging senyumannya dan menarik Keana.


"A-ada apa, sayang?" Tanya Keana berusaha untuk menenangkan jantungnya sendiri, dia tidak ingin sampai terlihat konyol di hadapan suaminya. Juna tidak menjawab, hanya sebuah tindakan yang bisa mewakilinya, dia merobek sedikit pakaian Keana.


"Tapi kalau sudah robek seperti ini, kamu tidak mungkin memakainya bukan?" Juna berbisik di telinga Keana dan menghembuskan nafasnya disana, sengaja ingin memancing hasrat Keana. "Jangan diam. Oh ya, apa pakaiannya nyaman?"


"Kalau benar, aku akan membeli banyak pakaian seperti ini untukmu, tapi sekarang terpaksa kamu harus melepaskannya, karena pakaiannya sangat mengganggu, sayang." Juna berhasil melepaskan lingerie di tubuh Keana dengan sekali hentakan.


"Kamu yang membuatku seperti ini dan sekarang aku akan meminta hak ku sebagai suamimu. Aku akan menjadikan dirimu milikku seutuhnya, Ana." Juna membungkam mulut Keana dan mengecup bibir Keana dan Keana langsung mendorongnya.


"Anna?" Tanya Keana tidak menyangka, dia sudah memperlihatkan tubuh di hadapan Juna, tapi Juna malah menyebut nama mantan kekasihnya. Juna menatap Keana bingung, dia bertanya-tanya apa semuanya terlalu cepat sampai Keana menolak.


"Kenapa, sayang? kamu belum siap? Maaf---"


"Kamu tadi memanggilku Anna?!" Ucap Keana lebih pantas sebagai pernyataan dibandingkan sebuah pertanyaan. Keana memalingkan wajah dan menjauh dari Juna, tapi tangan Juna cepat menahan tangannya dan menghentikannya.


"Aku tidak salah bukan? kamu Keana dan orang terdekatmu memanggilmu Ana!" Juna berbicara seadanya. Juna tidak seperti yang ada di pikiran Keana, dia memang sengaja memanggil Keana dengan nama Ana. "Apa yang kamu pikirkan?"


Keana tidak menjawab dan masih memalingkan wajahnya dari Juna, pikirannya mendadak kacau hanya karena Juna memanggil nama Ana. Keana ingat Juna pernah mengatakan kalau panggilan itu adalah nama panggilan khusus untuk Joanna.


"Hey, kenapa diam?" Tanya Juna memberi arahan supaya Keana menatap padanya. Juna menghela nafas ketika Keana kembali memalingkan wajah seakan tidak sudi menatap padanya. "Istriku, apa yang kamu pikirkan? aku melakukan kesalahan?"


"Aku bukan hanya orang terdekat, aku suamimu, tidak salah kan kalau aku ingin memanggil nama kecilmu? atau kamu keberatan, hm?" Tanya Juna berasumsi, lalu Juna baru kepikiran tentang nama panggilan Joanna dan menghela nafasnya berat.


"Jangan memikirkan hal aneh, sekarang tidak ada perempuan lain dalam pikiranku." Juna membelai wajah Keana yang entah sejak kapan sudah berair dan menarik wajah Keana supaya wajah mereka lebih dekat. "Percayalah, kamu itu salah paham."


"Baiklah, aku percaya padamu." Ucap Keana serak akibat menangis. Keana tahu Joanna sudah tidak ada di dunia ini, tapi setiap kali mendengar Juna menyebut nama mantannya, Keana merasa ada sebuah ancaman. Juna tersenyum karena hal itu.


"Kalau begitu tenangkan dirimu dan istirahatlah, nanti aku yang akan membereskan kamar." Juna mengusap puncak kepala Keana. Padahal mereka hampir saja melewatkan malam indah, tapi Keana salah paham dan tidak mungkin bisa dilanjutkan.



Juna terbangun saat mendengar suara ketukan di pintu kamarnya, dia menoleh melihat perempuan yang berada di pelukannya. Keana terlihat pulas, mungkin kelelahan akibat pergulatan mereka tadi malam. Juna jadi teringat kejadian tadi malam.


Juna dan Keana berhasil menjadi pasangan yang seutuhnya, mereka melewati malam panjang tadi malam dan semua berkat Keana meminta Juna melanjutkan sesuatu yang sempat mereka tunda sampai akhirnya mereka berdua saling memiliki.


Suara Keana saat mendesah memanggil namanya tadi malam seperti sebuah kaset yang terus saja terulang di telinga Juna. Tidak disangka semalam berakhir indah meski Keana sempat sensitif dan mengira Juna menganggapnya sebagai Joanna.


"Tuan, ada nona Rumi di bawah." Ucap seseorang memecah bayangan Juna terhadap kejadian tadi malam. Juna menatap kearah pintu dimana ada pengganggu dibaliknya. Ya, pengganggu, karena orang tersebut mengganggu pagi indahnya Juna.


"Baik, sebentar lagi saya ke bawah. Tolong kamu buatkan minuman untuknya." Ucap Juna sedikit berteriak supaya yang ada di luar mendengarnya. Tapi Juna malah membuat Keana terbangun dan membuka mata karena suaranya yang keras itu.


"Sayang, ada apa hum?" Tanya Keana berusaha mengumpulkan kesadarannya. Keana memeluk Juna erat dan membuat Juna tersenyum, masih pagi tapi Keana berani membangunkan sesuatu yang ada di bawah sana, si pejuang masa depan.


"Kak Rumi datang." Ucap Juna memberitahu dan membuat kesadaran Keana langsung terkumpul. Keana melepaskan Juna dari pelukannya begitu saja dan mengambil posisi duduk. Gawat, kakak ipar datang dan Keana baru saja bangun tidur.


"Kenapa?" Tanya Juna yang masih bisa bersikap tenang meski tahu kakak perempuannya datang. Bahkan Juna hanya memperhatikan tingkah laku istrinya tanpa melakukan apapun dan masih saja berbaring di kasur, padahal Keana heboh sendiri.


"Sayang." Juna baru bangun saat melihat Keana kesulitan berdiri, sepertinya istrinya kesakitan akibat pergulatan mereka tadi malam. Mungkin Juna tanpa sadar sudah bermain kasar sehingga Keana kesakitan. "Kamu baik-baik saja, istriku?"


"Maaf, pasti aku penyebabnya." Ucap Juna merasa bersalah dan berhasil membuat Keana tertawa mendengar permintaan maaf laki-laki itu. Keana tidak tahu alasan Juna meminta maaf, tapi kalau karena tadi malam, Keana malah menikmatinya.


"Aku baik-baik saja, suamiku. Kamu tidak perlu meminta maaf, lebih baik sekarang kamu pergi menemui kakakmu. Aku akan menyusul kesana nanti." Ucap Keana disertai senyuman manisnya, lagipula bagian inti Keana hanya sedikit perih.


"Tapi kamu--"


"Jangan lupa pakai bajumu sebelum menemui kak Rumi." Ucap Keana menyela perkataan suaminya, mereka berdua memang tidak memakai satu helai benang pun sekarang, karena baik Keana maupun Juna, mereka tertidur setelah merasa kelelahan.


Keana bisa melihat perut kotak-kotak Juna yang mirip seperti roti sobek, tadi malam Keana sudah berhasil merabanya, bahkan memberikan sebuah tanda pada bagian dada Juna, terlihat samar ada tanda merah keunguan di dada Juna sekarang.


Kenapa tandanya tidak bisa terlihat jelas?!


"Ada apa? kenapa menatapku seperti itu? jangan bilang kamu ingin merayuku supaya tetap disini!" Keana hampir tersedak ludahnya sendiri karena mendengar perkataan narsis suaminya itu, Juna terlihat begitu percaya diri saat menuduhnya.


"Tidak, aku ingin kamu cepat pergi dari sini dan menemui kak Arumi." Ucap Keana menanggapi perkataan Juna barusan. Keana menatap tubuh Juna bukan untuk merayu, dia hanya mengamati hasil karyanya di tubuh suaminya. Tidak lebih.


"Baiklah, tapi setelah aku mendapat ciuman pagi dari istriku." Ucap Juna langsung mengecup bibir Keana, bukan hanya kecupan singkat, Juna juga memberi lumatan kecil, bahkan mereka bisa saja berakhir di ranjang kalau Keana tidak menolak.


Keana mengatakan akan ada lain waktu untuk itu.


~TBC


Kurang feeling gak sih? 🙈


Terimakasih sudah membaca It's Okay, That's Fate. Mari berhubungan baik antara penulis dan pembaca. Jangan lupa juga untuk memberi dukungan kalian terhadap karyaku. Makasih 💙


Regards,


Nur Alquinsha A | IG: light.queensha