
Malam yang semakin larut, Gilang tertidur di sofa ruangan Joanna. Dia nampak kelelahan setelah mengurus banyak hal untuk Joanna. Padahal malam itu seharusnya Gilang kencan, tapi dia lupa karena menemani Joanna di rumah sakit.
Praaangggg!!!
Gilang terbangun mendengar suara gelas pecah, dia senang bercampur panik saat melihat Joanna sudah sadarkan diri namun dalam keadaan yang memprihatinkan. Gilang melihat Joanna susah payah memaksakan dirinya turun dari ranjang.
"Anna!" Gilang dengan cepat menahan Joanna sebelum benar-benar turun dari ranjang rawat dan menyusun bantal supaya enak dipakai. "Apa yang kamu lakukan? mau minum? aku akan mengambilnya untukmu, istirahatlah!"
Gilang membantu Joanna duduk dan bersandar pada bantal yang sudah disusunnya tadi. Dengan begitu Joanna bisa merasa lebih nyaman. Joanna menatap Gilang dengan tatapan yang sulit untuk diartikan dan matanya mulai mengeluarkan air.
"Maaf, aku selalu merepotkanmu." Ucap Joanna membuat pergerakan Gilang terhenti. Gilang tersenyum pilu tanpa menanggapi perkataan Joanna barusan, lalu bergegas mengambil gelas lain dan menuangkan air minum untuk Joanna.
"Minumlah!" Ucap Gilang memberikan segelas air putih. Joanna menerima gelas itu dengan tangan lemas dan perlahan meminumnya. Gilang sempat memejamkan matanya sejenak sebelum bicara. "Katakan padaku kalau membutuhkan sesuatu."
Gilang duduk disamping tempat tidur Joanna dan memperhatikan sahabatnya itu minum. Semakin dilihat, Joanna semakin terlihat memprihatinkan. Gilang nyaris tidak mengenali perempuan pucat yang sekarang sedang duduk di depannya.
"Terimakasih, Gilang. Kamu satu-satunya orang yang selalu ada untukku." Ucap Joanna sambil melukis senyuman dibibir pucatnya, lalu Keana mengembalikan gelas yang tersisa sedikit pada Gilang dan langsung diterima oleh laki-laki itu.
"Anna, apa tidak sebaiknya kamu memberitahu penyakitmu kepada Juna? aku yakin setelah itu bukan hanya aku yang akan selalu ada untukmu, Juna pasti bersedia menemanimu." Ucap Gilang mengusulkan hal itu untuk kesekian kalinya.
"Tidak. Juna tidak boleh tahu penyakitku. Kalau bisa dan Tuhan mengizinkan, aku ingin melihat ada perempuan yang mendampingi Juna sebelum aku pergi. Aku ingin memastikan dia baik dan tidak akan meninggalkan Juna seperti aku."
"Anna!"
"Aku tidak punya harapan, Gilang. Bahkan dokter sudah mengatakan hidupku tidak lama lagi. Aku tidak boleh egois sekarang, Juna berhak bahagia bersama perempuan lain yang lebih pantas." Joanna kembali meneteskan air matanya.
"Kamu juga pantas bahagia, Anna. Aku masih berharap akan ada keajaiban dan penyakitmu ini sembuh total." Ucap Gilang menyambar perkataan Joanna, laki-laki yang dikenal sebagai berandalan itu tidak bisa untuk menahan air matanya.
Joanna tersenyum simpul, tangannya perlahan menyentuh wajah Gilang yang berair. Lucu sekali laki-laki yang biasanya menjengkelkan berubah cengeng. Joanna harus berterimakasih kepada Tuhan, Gilang berubah baik berkat penyakitnya.
"Kak Rumi bisa cemburu kalau tahu kamu sampai menangis untukku." Ucap Joanna meledek Gilang. Pasalnya Gilang itu budak cintanya Arumi. Iyah, Gilang dan kakak perempuan Juna sudah lama menjalin kasih, hampir menuju dua tahun.
"Ck, Rumi tidak sekekanak kanakan itu." Gilang memutar mata karena Joanna mengubah topik pembicaraan, lalu Gilang mendadak teringat kencannya dengan Arumi dan Gilang langsung menepuk jidad karena melupakan kencan itu.
"Kenapa, heh?" Tanya Joanna heran saat Gilang menurunkan tangannya, terlebih setelah itu Gilang menyimpan gelas ke meja nakas dan terburu-buru mengambil ponsel dari saku celananya, lalu terlihat mengecek ponselnya.
"Mampus!" Gumam Gilang melihat puluhan pesan dan belasan panggilan tidak terjawab dari Arumi. Gilang kemudian kembali menatap Joanna yang sedang menatapnya bingung. "Anna, lebih baik kamu tidur sekarang. Aku ada sedikit urusan."
Gilang baru akan melangkahkan kakinya, tapi kemudian dia kembali duduk di kursih samping ranjang Joanna. Tidak mungkin Gilang pergi ke rumah Arumi selarut ini. Selain dimarahi mertua, Gilang juga tidak mungkin meninggalkan Joanna.
"Gilang, ada apa?" Tanya Joanna penasaran melihat wajah Gilang yang mendadak murung. Joanna yakin ini berbeda dari sebelumnya, Gilang murung bukan karena kasihan melihat Joanna sakit. Tapi ada hal lain yang tidak Joanna ketahui.
"Aku lupa ada janji dengan Arumi." Jawab Gilang lesu. Arumi tidak cemburuan seperti yang Joanna katakan tadi, malah Gilang yang sering cemburu buta. Tapi Gilang merasa tidak enak jika Arumi tahu dirinya melupakan janji karena Joanna.
"Maaf." Ucap Joanna merasa bersalah, dia tahu alasan Gilang sampai melupakan janji dengan Arumi adalah dirinya. Gilang memang selalu ada untuk Joanna, tapi malah Joanna yang tidak tahu diri dan terlalu mengandalkan kehadiran Gilang.
"Anna, kamu tidak perlu meminta maaf." Gilang memaki dirinya sendiri yang sudah membuat Joanna merasa bersalah. Gilang tidak bermaksud menyalahkan Joanna, sikap yang Gilang tunjukan tadi hanya karena memikirkan perasaan Arumi.
"Maaf, aku terlalu takut merepotkan Juna dan tidak ingin membuatnya bersedih, tapi malah merepotkanmu." Ucap Joanna menyesal, tapi tidak bisa dipungkiri Joanna membutuhkan kehadiran Gilang disaat terakhir hidupnya.
"Anna, kita sahabat. Tidak perlu sungkan padaku."
Sementara itu di tempat lain, Arumi belum bisa tidur. Arumi berkali-kali mengecek ponselnya, barangkali Gilang membalas pesan atau mungkin menelponnya. Arumi tahu Gilang sedang berada di rumah sakit menemani Joanna sekarang.
Tapi setidaknya Arumi membutuhkan kabar, dia juga menantikan reaksi Gilang dan Joanna saat mengetahui apa yang terjadi di ruang makan keluarganya. Ya, Arumi memberitahu Gilang hal itu melalui pesan singkat, tapi belum dibaca.
"Gilang, kamu memang menyebalkan dan aku tidak mengerti hubungan seperti apa yang sedang kita jalani." Gumam Arumi sambil menatap layar ponselnya. Memang tadi Gilang hanya melihat notifikasi tanpa membukanya terlebih dahulu.
Arumi dan Gilang memang sudah lama sekali pacaran. Tapi hubungan mereka tidak banyak diketahui orang, bahkan Juna dan orang tuanya saja tidak mengetahui itu. Arumi takut mamah dan papahnya tidak menyetujui hubungannya.
Keana keluar apartemen tanpa memperdulikan perutnya yang meminta untuk diisi makanan. Karena sekarang bukan hanya telat, tapi sangat terlambat. Sudah lebih dari setengah delapan, Keana akan terancam dipecat oleh Juna.
Keana mengunci pintu apartemennya dengan tergesa-gesa sampai seseorang tiba-tiba saja memeluknya dari belakang dan membuatnya terkejut bukan main. Keana hendak mendorong orang yang sudah memeluknya itu.
"Kamu sudah membuat aku khawatir!" Ucap seseorang yang tiba-tiba memeluk tubuh Keana. Suaranya familiar, hanya saja bicaranya terdengar asing. Barusan Juna, laki-laki yang memeluk Keana menggunakan kosa kata aku-kamu.
Keana tidak jadi mendorong Juna, aroma tubuh laki-laki itu seakan membiusnya dan membuat Keana tidak bisa melakukan apapun selain diam di pelukan bosnya atau Keana akan menyebutnya calon suami. Ah, tapi Keana kurang yakin.
"Audie, aku serius ingin menikah denganmu. Masalah Joanna, kamu tahu sendiri kita sudah putus. Jadi Joanna tidak berpengaruh apapun lagi bagiku." Ucap Juna menahan Keana yang akan membuka mulutnya. Bohong jika Keana tidak senang mendengar pengakuan Juna.
Keana sangat menantikan kalimat itu keluar dari mulut Juna, dengan begitu Keana yakin pilihan yang sudah diambilnya sudah tepat. Keana tidak harus merasa menyesal karena memilih tidak menolak keinginan Juna untuk menikahinya.
"Maaf, tadi malam aku tidak memberi penjelasan apapun padamu. Aku benar-benar minta maaf." Ucap Juna melanjutkan kalimat sebelumnya dan yang Keana rasakan setelah itu pelukan Juna menguat. Keana teringat kejadian tadi malam saat laki-laki itu memang membuatnya kecewa.
"Pak Juna, apa tidak sebaiknya kita ke kantor sekarang? saya ingat hari ini ada pertemuan para pemegang saham dan anda harus menghadirinya." Ucap Keana memecahkan suasana yang sulit untuk digambarkan oleh akal sehatnya.
Juna mendengus mendengar perkataan Keana, perempuan ini benar-benar merusak momen romantis yang berusaha Juna ciptakan dengan pekerjaan. Baiklah, untuk saat ini Juna akan memaafkan Keana. Karena memang calon istrinya merangkap peran sebagai sekretaris pribadinya.
Juna melepaskan Keana dari pelukannya dan menatap manik perempuan ini lembut. Juna baru menyadari Keana cantik, wajahnya yang mulus terawat dan dilapisi make up tipis memberikan pesona tersendiri. Sayang sekali perempuan secantik Keana harus mengalami kisah cinta yang buruk. Rafael akan menikahi perempuan lain.
"Pak Juna!" Tegur Keana melihat Juna yang terus menatap wajahnya dan menciptakan suasana canggung. Beruntung Keana bisa menyembunyikan hal itu dengan bersikap propesional, dia masih bisa bersikap biasa saja meskipun sebenarnya Juna sudah membuat jantungnya berdetak tidak karuan.
"Kita sudah terlambat!" Keana menarik tangan Juna menjauh dari apartemennya, dia tahu yang di lakukannya sebagai sekretaris sangat tidak sopan. Tapi Keana berhak melakukan itu sebagai calon istri. Lagipula tidak akan ada yang bertanggung jawab jika Keana harus menghadapi Juna sebagai sosok yang berbeda di apartemennya, terlebih terhadap jantung Keana yang sedang berdetak diatas normal.
Keana terus memegang dan menarik tangan Juna sampai mereka berdua tiba di parkiran. Keana merasa ada yang kurang, pak Budi tidak ada diantara mereka. Bahkan di dalam mobil pun Keana tidak melihat keberadaan pak Budi.
"Kenapa? kamu mencari seseorang? pak Budi ada di mansion, aku sengaja mengendarai mobil sendiri khusus untuk menjemput calon istriku." Ucap Juna seperti mengerti isi pikiran Keana. Ini sudah kedua kalinya Juna menyebut Keana calon istrinya dan jujur saja ada kebahagiaan tersendiri yang Keana rasakan saat mendengarnya.
"Audie, mulai sekarang aku akan mengantar jemput kamu ke kantor. Bahkan kalau kamu ingin pergi kesuatu tempat, aku akan siap menjadi supir pribadimu." Ucap Juna dengan senyum yang mengembang. Baru kali ini Keana melihat senyuman Juna selepas itu untuknya.
"Saya tidak berani menjadikan direktur utama sekretaris pribadi." Ucap Keana dengan senyuman yang tidak kalah lebar. Bumi dan langit menjadi saksi bahwa kedua manusia yang dikenal cuek dan dingin bisa tersenyum selebar itu.
"Kalau begitu kamu harus mulai berani sekarang, karena bagaimana pun kita berdua akan segera menikah dan kamu akan menjadi istriku." Juna membuka pintu mobil untuk Keana. Manisnya, Juna menggunakan tangannya supaya Keana tidak terbentur saat masuk mobil dengan menyimpan tangannya diatas kepala Keana.
Keana yang menerima perlakuan seperti itu tidak bisa melakukan apapun selain berterima kasih dan menunjukkan senyuman tulusnya. Kalau boleh, Keana berharap Juna akan melakukan lebih banyak hal manis untuknya. Keana menantinya.
Juna masuk dari pintu lain setelah Keana duduk dan menutup kembali pintu mobilnya. Juna sempat menoleh kearah Keana dan menunjukan senyuman sebelum melajukan mobilnya dalam kecepatan sedang. Dia direktur jadi tidak masalah kalau memang terlambat. Juna yang berkuasa.
"Oh ya, Audie. Mamah memintamu datang ke mansion untuk membicarakan persiapan pernikahan kita." Ucap Juna yang baru mengingat hal itu. Hampir saja Juna lupa karena terlalu senang melihat senyuman Keana, akhirnya dia berhasil mengusir kekecewaan Keana tadi malam.
"Dan satu lagi, mulai sekarang kamu tidak perlu memanggilku pak Juna. Cukup panggil aku Juna. Itu adalah panggilan khusus untuk calon istriku." Juna menambah kalimat sebelumnya. Keana hanya membalasnya dengan seulas senyuman.
~TBC
"Juna, aku tidak merasakan apapun saat orang lain menghinaku, bahkan saat ada yang berani memukulku. Kamu tahu? aku pernah dipukul oleh penggemarmu di kampus hanya karena kita satu kelompok! tapi aku tidak merasakan apapun. Berbeda dengan sekarang, aku sakit." _Keana
Sekarang tahu alesan Rafael gak suka Keana dan Juna dekat? Kutipan yang mengungkit masa lalu Keana dan Juna! bagaimana menurut kalian?
Akhirnya ada nyempil cerita tentang Gilang.
Terimakasih sudah membaca It's Okay, That's Fate. Mari berhubungan baik antara penulis dan pembaca. Jangan lupa juga untuk memberi dukungan kalian terhadap karyaku. Makasih 💙
Regards,
Nur Alquinsha A | IG: light.queensha