It'S Okay, That'S Fate

It'S Okay, That'S Fate
IOTF #42



Keana dan Juna pulang dari rumah Willis setelah makan malam, mereka menuruti permintaan Angel dan menemani putri Willis itu makan malam karena sang ayah belum pulang dari luar kota. Keana tidak tega melihat Angel memohon, dia membayangkan kalau nanti dirinya memiliki anak sementara Juna sibuk dengan pekerjaan, sehingga akhirnya Keana memutuskan untuk makan malam di rumah Willis dan menyuruh Juna untuk menelpon orang rumah supaya tidak masak makan malam, itu pun kalau asisten rumah tangga mereka ingat untuk memasak.


"Sayang, aku perhatikan kamu banyak diam selama di rumah Willis, kenapa?" Tanya Juna saat mereka berada dalam perjalanan pulang.


"Aku tidak diam." Sahut Keana tanpa menoleh kearah Juna dan hanya menatap jalanan dari kaca mobil yang berada di sampingnya.


"Kamu mengacuhkan aku. Ayolah sayang, apa aku ada salah padamu?" Tanya Juna lagi.


"Kamu pikirkan saja sendiri." Jawab Keana acuh.


"Aku tidak bisa berpikir, dipikiranku hanya ada kamu dan masa depan kita." Sahut Juna menoleh sekilas kepada Keana sebelum akhirnya kembali fokus menyetir. Juna bisa melihat Keana tersenyum meski hanya sekilas.


"Cih, kamu belajar kata-kata seperti itu darimana?" Tanya Keana masih dengan mata yang tertuju keluar kaca mobil.


"Aku senang melihat kamu tersenyum." Ucap Juna tanpa menjawab pertanyaan Keana. Lagipula Juna tidak butuh belajar hanya untuk mengatakan kebenaran kepada istrinya sendiri.


"Siapa yang tersenyum, huh?" Tanya Keana yang akhirnya menyerah dan mengarahkan pandangannya kepada Juna.


Juna tidak menjawab, hanya tangannya yang bergerak menyentuh tangan Keana kemudian menyatukan jemari mereka. Juna kembali menoleh kepada Keana sebentar dan menunjukan senyuman yang membuatnya berkali-kali lipat lebih tampan. Juna masih sempat-sempatnya mencium punggung tangan Keana meski sedang menyetir.


Keana mendecih melihat Juna menyetir hanya dengan satu tangan, berkat wajah tampannya, Juna selamat dari omelan Keana. Keana memandangi wajah tampan Juna yang sekarang tengah fokus terhadap jalanan. Keana bisa melihat betapa indahnya ciptaan Tuhan itu dengan bibir tipis, hidung mancung dan jakun yang terlihat di lehernya.


"Sayang, kamu membuat aku gugup. Tolong biarkan aku menyetir sampai rumah, kamu bisa bebas memandangi wajahku disana." Ucap Juna yang lagi dan lagi menoleh kepada Keana.


Keana buru-buru memalingkan wajahnya saat Juna menoleh padanya. Keana masih kesal kepada Juna dan tidak ingin mereka berbaikan dengan semudah itu. Ingat, Juna sudah memandangi perempuan lain di hadapan Keana.


Tidak ada lagi percakapan diantara mereka untuk waktu yang cukup lama, Juna dan Keana sibuk dengan pikiran masing-masing sampai Juna teringat akan sesuatu, sebuah berita yang Juna baca di internet tentang virus.


"Sayang, aku dengar di luar negeri sedang terinfeksi virus. Apa itu artinya bulan madu kita batal?" Tanya Juna mengungkapkan isi kepalanya. Juna meremas tangan Keana yang berada di genggamannya.


"Oh?" Keana kembali mengarahkan pandangan kepada Juna, cukup penasaran dengan virus yang Juna bicarakan.


"Kamu belum melihat berita? ada turis China berusia delapan puluh tahun meninggal karena virus itu di rumah sakit Perancis." Ucap Juna memberitahu.


"Maksud kamu virus corona?" Tanya Keana menebak, kebetulan Keana pernah membaca berita yang membawa virus tersebut, tapi hanya membaca sedikit karena Keana termasuk orang yang malas membaca berita.


"Hm, sepertinya kita tidak bisa bulan madu ke Paris. Aku dengar virus itu berbahaya dan mematikan. Sepertinya kita harus membatalkan sementara bulan madunya sampai dipastikan semuanya baik-baik saja dan aman dari virus, bagaimana menurut kamu?" Tanya Juna menyerahkan keputusan kepada Keana.


"Kenapa harus membatalkan bulan madu? bukankah di negara kita banyak tempat bagus?" Keana membalikan pertanyaan, lagipula Keana sudah tidak terlalu menginginkan bulan madu di Paris. Keana hanya ingin terus berada disamping Juna, sayangnya Juna sudah mulai berani untuk melirik perempuan lain.


"Ah, kamu benar. Kamu pilih saja tempatnya, biar aku yang akan mengurus semuanya nanti." Ucap Juna menyetujui perkataan Keana, memang dasar Juna kurang peka kalau istrinya sedang cemburu buta.


"Baiklah." Sahut Keana kemudian kembali menatap keluar kaca mobil.


"Kamu masih marah?" Tanya Juna mengetahui Keana terdiam. Perjalanan mereka menuju rumah terasa sangat lama entah karena hal apa.


"Siapa yang marah? aku hanya sedikit kesal!" Jawab Keana sekenanya.


"Kesal kenapa?" Tanya Juna menanggapi Keana dengan kepala dingin.


"Entahlah." Jawab Keana acuh namun masih membiarkan Juna memegang tangannya.


"Apa karena aku?" Tanya Juna tanpa sedikitpun emosi yang terlihat di wajahnya. Juna adalah sosok laki-laki yang sulit untuk kita temui di dunia, bukan berarti laki-laki seperti Juna tidak ada, ada, tapi mungkin hanya ada beberapa laki-laki yang seperti itu dan Keana termasuk ke dalam salah satu perempuan yang beruntung di dunia ini.


"Jadi benar aku yang menyebabkan kamu kesal?" Tanya Juna lagi karena Keana belum juga menjawab.


"Sayang, kamu tidak biasanya seperti ini. Ana yang aku kenal tidak pernah tiba-tiba kesal dan mengacuhkan aku." Ucap Juna sedikit mengeluh, tidak salah Juna mengeluh karena Juna tidak tahu alasan Keana kesal sementara Keana masih enggan untuk menjawab pertanyaan darinya.


"Itu karena dulu kamu bosku." Jawab Keana singkat.


Keana dan Juna saling terdiam, ramainya jalanan tidak membuat keheningan diantara mereka enyah. Keana mencuri pandang kearah Juna yang sedang fokus menyetir. Keana bertanya kepada dirinya sendiri, apa mungkin dirinya sudah berlebihan? mungkin saja apa yang terjadi tidak seperti yang Keana lihat dan pikirkan!


"Apa kamu menyukai Neysa?" Tanya Keana setelah lama terdiam. Membicarakan mungkin akan lebih baik daripada Keana terus menduga-duga, Keana tidak ingin mereka bertengkar karena kebodohannya sendiri, sekalipun Juna mengiyakan pertanyaannya, setidaknya Keana tidak akan disalahkan atas pertengkaran mereka.


"Heh!" Juna ingin sekali tertawa terbahak-bahak detik itu juga, pertanyaan Keana membuat Juna merasa geli, tapi Juna berusaha untuk menahan tawanya, Juna tidak menyangka Keana bisa memikirkan hal semenggelikan itu.


"Kamu terus menatap Neysa, apa kamu menyukainya?" Tanya Keana sedikit menuntut untuk mendapat jawaban. Keana tidak menyukai ekspresi wajah yang sedang Juna tunjukan sekarang.


Juna tidak kuasa untuk menahan tawanya dan tertawa keras sampai membuat Keana mendengus jengkel.


"Bagaimana mungkin aku menyukai Neysa? ayolah sayang, aku tidak akan menyukai perempuan yang dekat dengan sahabatku sendiri!" Ucap Juna setelah berhasil mereda tawanya.


"Berarti kalau Neysa dan Willis tidak dekat, kamu akan menyukainya?" Tanya Keana sambil menepis tangan Juna yang masih menggenggam tangannya.


"Tidak." Jawab Juna mantap. Juna tidak mungkin menyukai perempuan lain setelah menikah dengan cinta pertama sekaligus cinta sejatinya.


"Aku malah tidak mengerti kenapa kamu bisa berpikir kalau aku menyukai Neysa." Ucap Juna jujur.


"Tatapan kamu kepada Neysa." Ucap Keana menuding Juna.


"Memang kenapa dengan tatapan aku kepada Neysa?" Tanya Juna namun Keana tidak menjawab dan hanya membuang wajahnya.


"Sayang dengar, aku tidak pernah berniat untuk melihat perempuan manapun. Sekali pun aku melihat mereka, itu karena Tuhan memberiku mata, tidak lebih, dan aku tidak akan pernah tergoda oleh perempuan lain." Ucap Juna serius dan kembali meraih tangan Keana untuk di genggam.


Juna menghela nafas dan menghentikan mobilnya di tepi jalan.


"Kenapa berhenti disini? kamu tidak takut ada penjahat di sekitar sini?" Tanya Keana ketus.


"Aku ingin kamu melihat tatapan yang berbeda itu dariku." Jawab Juna sambil mengarahkan Keana supaya menatap wajahnya. Juna memegang kedua sisi wajah Keana yang pada dasarnya sudah terlihat dingin dipadu dengan tatapan tajamnya.


Keana berdehem pelan dan berusaha untuk tidak menatap mata teduh Juna. Karena tatapan teduh Juna adalah bagian dari kelemahan Keana. Keana memaki dirinya sendiri saat tubuhnya tidak bisa bersahabat, Keana ingin melakukan sesuatu supaya Juna menjauh, tapi anggota tubuhnya tidak bisa untuk bergerak, apalagi jantungnya yang heboh di dalam sana, Keana hanya bisa berharap Juna tidak sampai mendengar detak jantungnya itu.


"Sayang, tolong tatap mata aku." Ucap Juna lembut. Perkataan Juna seperti sebuah mantra ajaib yang membuat Keana tidak bisa menolak dan menurutinya, Keana menatap Juna tepat pada matanya.


"Kamu bisa melihatnya kan? tatapanku padamu masih jauh berbeda dengan tatapanku kepada Neysa!" Ucap Juna disertai senyuman dengan tangan kanannya yang membelai wajah Keana dan membuat jantung Keana semakin berdetak kencang.


Keana membeku untuk sekian detik sampai akhirnya kesadaran Keana yang sudah direnggut Juna kembali. Keana melihat kearah lain asalkan itu bukan pada mata Juna sambil perlahan menurunkan tangan Juna dari wajahnya.


"Menjauhlah! Jangan sampai ada yang merazia kita!" Ucap Keana dengan suara rendah. Keana berharap Juna tidak melihat wajahnya yang sekarang sudah memerah akibat malu.


Juna tersenyum dan mengusap puncak kepala Keana dengan kasih sayang.


"Tidak akan ada yang berani merazia kita, sekalipun ada kita bisa menunjukan buku pernikahan kita." Ucap Juna santai.


"Jadi kamu ingin kita di razia?" Tanya Keana sarkas.


"Bukan begitu, tapi---"


"Juna!" Ucap Keana tidak ingin mendengar pembelaan apapun dari mulut Juna. Juna menghela nafasnya sejenak.


"Baiklah, aku akan menjauh untuk sekarang." Ucap Juna menyerah, Juna tidak langsung melajukan mobilnya, Juna sempat membisikan sesuatu kepada telinga Keana.


"Tapi aku tidak ingin menerima penolakan di rumah. Kamu harus mendapat hukuman karena sudah menuduhku menyukai perempuan lain dan barusan kamu juga menolakku." Setelahnya Juna menjauh dari Keana dan mulai melajukan mobilnya kembali.


Keana menelan ludah, mendengar kata hukuman saja pikiran Keana sudah kemana-mana. Keana berharap Juna tidak memberi hukuman seperti yang ada dalam pikiran kotornya. Ya, semoga saja ...



"Sepertinya Gilang tidak bisa menerima pernikahan kita." Ucap Keana saat Juna merangkak ke tempat tidur, mereka berdua baru selesai mandi dan Juna berniat untuk memberi hukuman yang sudah mereka bicarakan sebelumnya di mobil, tapi perkataan Keana tentang Gilang menahan niat Juna.


"Maksud kamu?" Tanya Juna tidak mengerti dan langsung terduduk di kasur, posisi mereka sedang berada diatas tempat tidur, Keana duduk dengan bersandar di sandaran ranjang, sementara Juna duduk bersila di hadapannya.


"Kakak kamu dan Gilang bertengkar." Ucap Keana membuat Juna semakin bingung dengan apa yang sedang Keana bicarakan. Karena selama ini Juna dan Arumi tidak pernah mau ikut campur dengan urusan percintaan mereka, kecuali ada hal yang mengharuskan mereka untuk saling ikut campur.


"Memang apa hubungannya dengan Gilang tidak bisa menerima pernikahan kita?" Tanya Juna menatap dalam mata Keana.


"Tentu saja ada hubungannya, Gilang tidak mau mengantar kakak kamu ke rumah kita karena keberadaan aku di rumah ini." Ucap Keana dengan diakhiri helaan nafas, sebenarnya itulah alasan Keana mendadak sensitif. Karena Keana terus memikirkan pembicarannya dengan Arumi tadi pagi.


Arumi mengatakan kalau Gilang tidak biasanya bicara kasar, tapi tadi pagi Gilang bicara kasar hanya karena Arumi meminta untuk ditemani ke rumah Juna, padahal Gilang sendiri sudah menyetujui hal itu dari jauh hari dan Keana langsung berasumsi kalau dirinya menjadi alasan Gilang tidak mau menemani Arumi. Karena Gilang merasa tidak nyaman bertemu Keana dan tidak terima laki-laki yang sangat dicintai oleh sahabatnya menikahi Keana.


Juna terdiam dan termenung untuk beberapa saat.


"Tidak perlu kamu pikirkan, kak Rumi dan Gilang mungkin bertengkar karena masalah lain, makanya Gilang tidak mau mengantar kak Rumi ke rumah kita." Ucap Juna berusaha menenangkan Keana supaya tidak berpikir macam-macam. Lagipula Juna masih belum mengerti darimana semua itu berhubungan bagi Keana.


"Gilang sahabat Joanna kan?" Ucap Keana yang tidak sepenuhnya sebuah pertanyaan, tanpa di jawab pun, Keana sudah tahu kalau Joanna dan Gilang memang bersahabat baik.


Juna menghela nafas mulai memahami Keana.


"Sayang, tolong berhenti membahas apapun yang bersangkutan dengan Joanna. Biarkan Joanna tenang di alam sana, hm?" Juna memegang tangan Keana dengan kedua tangannya.


"Baiklah." Ucap Keana kemudian menarik tangannya dari tangan Juna dan membuat Juna kembali menghela nafasnya.


"Aku hanya tidak ingin kamu sakit hati." Ucap Juna saat melihat Keana akan membaringkan tubuhnya.


"Hm." Keana hanya menyahut dengan gumaman dan menarik selimutnya.


"Aku tahu kamu akan merasa sakit hati setiap kali kita membahas Joanna dan aku tidak ingin menyakitimu lagi, jadi aku mohon mengertilah." Ucap Juna menatap punggung Keana, tapi Keana bergeming.


"Gilang bukan tidak menerima pernikahan kita, dia hanya belum menerima takdir kita dan Joanna. Aku yakin Gilang akan menerima semuanya dengan berjalannya waktu." Juna melanjutkan kalimat sebelumnya berhasil membuat Keana berbalik dan menghadap padanya.


"Aku harap begitu, sekarang sebaiknya kita tidur, bukannya nanti pagi kamu ada meeting penting?" Tanya Keana mengalihkan dengan hal lain. Mungkin memang Keana yang sensitif sampai hal seperti itu saja di permasalahkan.


Juna tidak mengatakan apapun dan langsung membaringkan tubuhnya di samping Keana, hukuman untuk Keana mungkin Juna bisa diberikan lain kali. Juna harus menuruti perkataan istrinya untuk sekarang.Karena Juna tidak ingin Keana marah. Juna kemudian menjadikan lengannya sebagai bantal untuk Keana dan memberikan kecupan pada kening istrinya itu.


"Selamat malam, sayang."


~TBC


Terimakasih sudah mampir dan membaca It'S Okay, That'S Fate. Jangan lupa like, favorit, komentar, rating 5 dan vote poin sebanyak-banyaknya. Kalau ada dan berkenan, kalian juga bisa memberikan koin untuk novel ini 💙


Regards,


Nur Alquinsha A | IG: light.queensha