
Keana baru pulang ke apartemen sekitar jam sembilan malam setelah bertemu dengan calon mertua. Langkah Keana tiba-tiba terhenti saat melihat Rafael berdiri di apartemennya, entah apa yang sedang laki-laki itu lakukan disana.
"Ana, akhirnya kamu pulang." Rafael tersenyum menyadari kedatangan Keana, kemudian bergegas menghampiri perempuan itu. Tidak sia-sia Rafael menunggu Keana pulang hanya untuk membahas sesuatu yang belum sempat mereka selesaikan.
"Ada apa, Raf?" Tanya Keana datar dengan tangan yang memegang erat tasnya. Ingatan saat Rafael menyatakan cinta disusul kedatangan Amelia berputar kembali di otak Keana dan itu membuat Keana malas untuk sekedar melihat wajah Rafael.
"Ana, boleh minta waktumu sebentar? ada hal yang perlu aku bicarakan padamu." Ucap Rafael ragu, dia takut dan khawatir kalau nanti Keana tidak ingin bicara dengannya setelah kejadian kemarin. Keana menarik nafasnya sebentar.
"Baiklah, sebaiknya kita bicara di dalam." Ucap Keana masih dengan nada dan raut wajah yang sama. Sebenarnya, Keana bisa saja menolak bicara dengan Rafael mengingat Keana sudah benar-benar malas melihat wajah laki-laki itu.
Tapi, Keana tidak cukup tega melihat raut wajah Rafael. Terlebih tatapan Rafael seperti sedang memohon padanya. Mungkin memang lebih baik Keana mengesampingkan dulu perasaan diantara mereka dan memberi Rafael kesempatan bicara.
"Tidak apa-apa aku masuk ke dalam apartemen kamu?" Tanya Rafael memastikan. Rafael cukup sadar dirinya tidak cukup pantas untuk masuk ke dalam apartemen Keana setelah semua yang terjadi diantara mereka. Rafael menyadari itu.
Bahkan untuk bicara dengan Keana pun, Rafael merasa sudah tidak pantas. Keana mungkin akan menganggap Rafael brengsek. Berani menyatakan cintanya disaat akan menikahi perempuan lain, memang apalagi kalau tidak disebut brengsek.
Tapi Rafael merasa itu lebih baik daripada Keana akan lebih membencinya karena perkataan buruk yang pernah di ucapkannya tempo lalu. Rafael tahu perjuangan hidup Keana tanpa sepersen pun uang dari orang tua dan itu sangat tidak mudah.
Dan seharusnya memang Rafael tidak pernah menuduh Keana menemani Juna hanya karena uang. Karena tanpa perlu melakukan hal itu pun, Keana sudah lahir dengan harta yang melimpah. Hanya saja Keana nekad mencari uang sendiri.
"Kenapa bertanya? bukankah selama ini kamu bebas keluar masuk apartemen ku?" Tanya balik Keana, kali ini dengan mengulas sedikit senyuman. Kalau dipikir kembali, sebenarnya Keana dan Rafael memiliki banyak kesamaan.
Ya, Keana dan Rafael sama karena baik Keana maupun Rafael akan menikahi orang lain disaat mereka berdua saling mencintai. Rafael hanya tersenyum mendengar perkataan Keana barusan. Kemudian mereka masuk apartemen Keana.
Tanpa sadar ada seseorang yang memperhatikan dari kejauhan. Juna berniat mengembalikan ponsel Keana yang tertinggal di mobilnya harus melihat pemandangan yang tidak enak dilihat. Juna menggenggam erat ponsel ditangannya.
"Aku akan membiarkan kalian sekarang." Juna menggertakan giginya, berusaha untuk menahan emosi yang hampir meluap dengan tangan yang semakin memegang erat ponsel Keana yang ada di tangannya. "Sampai bertemu besok, Audie."
"Apartemen mu tidak berubah ya, Ana?" Rafael memulai pembicaraan saat memasuki apartemen Keana yang tidak berubah sedikit pun. Rafael juga melihat sebingkai foto di tempat mereka berada, tepatnya ruang tamu, foto dirinya dan Keana.
"Hm. Duduklah. Aku akan mengambil minuman sebentar." Ucap Keana kemudian berlalu menuju dapur untuk mengambil minuman. Rafael hanya menurut dan diam disana sambil memperhatikan foto mereka yang diambil beberapa tahun lalu.
Tidak lama kemudian Keana datang dengan membawa dua minuman cola dan memberikan salah satunya kepada Rafael yang langsung Rafael terima diakhiri ucapan terimakasih. Keana duduk di depan Rafael sambil membuka tutup colanya.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" Tanya Keana setelah meneguk sedikit cola. Rafael mengatur nafasnya sejenak sebelum menyimpan sesuatu diatas meja yang sekarang menjadi pemisah diantara mereka, sebuah undangan pernikahan.
"Aku dan Amelia dijodohkan." Ucap Rafael tepat disaat Keana melihat undangan pernikahannya dengan Amelia. "Ana, aku serius saat mengatakan aku mencintaimu. Aku serius, tapi aku tidak bisa melakukan apapun terhadap perjodohan ini."
"Jadi kedatanganmu kesini untuk mengatakan itu?" Tanya Keana, lalu meneguk kembali cola yang ada di tangannya. "Rafa, kamu dijodohkan atau mungkin saling mencintai, sebenarnya itu tidak terlalu penting untuk aku mengetahuinya."
"Aku tahu hal itu memang tidak terlalu penting untukmu. Selain itu aku datang kesini untuk memastikan kita masih tetap berteman." Rafael menatap Keana penuh harap, berbeda dengan Keana yang menatap Rafael tanpa ekspresi.
"Kamu bicara padaku hanya untuk memberikan undangan ini, kan? sekarang aku sudah menerima undangannya, kamu bisa pergi!" Ucap Keana tanpa ingin memperpanjang pembicaraan yang menyakiti hatinya itu. Keana tidak cukup kuat.
Memang Keana akan menikah dengan Juna dan pernikahan mereka sudah di tetapkan, tapi Keana masih sangat mencintai Rafael. Meskipun hati Keana kini tidak sepenuhnya milik Rafael, tapi perasaannya terhadap Rafael lebih mendominasi.
"Rafael, aku tidak pernah mengatakan kalau kamu menikahi Amelia berarti pertemanan kita berakhir. Bagaimana pun keadaannya kita tetap teman, tapi mungkin kita tidak bisa seperti dulu. Aku sadar kalau calon istrimu tidak menyukaiku."
Keana berbohong, alasan yang sebenarnya karena hatinya tidak berani untuk mengambil resiko saat mereka kembali dekat seperti dulu. Perhatian Rafael, cara Rafael menatapnya, Keana takut hal itu akan menghambat dalam melupakan Rafael.
"Oh ya, aku rasa aku juga harus memberitahu sesuatu padamu. Rafa, dua bulan lagi aku akan menikah dengan Juna." Ucap Keana saat melihat Rafael terus terdiam sambil menatapnya, lalu zona waktu diantara mereka terasa berhenti.
Keana baru selesai mandi saat bel apartemennya berbunyi, lalu dia bergegas keluar kamar dengan handuk diatas kepala dan membuka pintu utama. Keana terkejut saat melihat siapa yang bertamu, Juna, calon suaminya, sedang berdiri didepannya.
"Boleh aku masuk?" Tanya Juna yang memecah keterkejutan Keana, lalu laki-laki itu menggeser tubuh Keana yang menghalangi pintu dan masuk begitu saja ke dalam apartemen Keana. "Kamu tidak bertanya alasan aku datang pagi kesini?"
Keana berdecak, entah apa yang terjadi kepada bos sekaligus calon suaminya itu, tiba-tiba saja berubah semaunya dan bertanya hal yang konyol. Sudah jelas Juna datang untuk menjemput Keana ke kantor, memang apalagi kalau bukan itu.
"Sudahlah, lupakan. Tolong buatkan makanan untukku, aku belum sarapan." Ucap Juna beberapa detik berikutnya, dia seakan bicara pada dirinya sendiri dan membuat Keana tersenyum lucu. Kemudian Keana menutup pintu apartemennya.
Juna terlihat menelusuri setiap sudut yang ada di apartemen itu, beruntung tadi malam Keana sudah mengamankan fotonya bersama Rafael di ruang tamu, jadi Juna tidak harus melihat pemandangan tidak enak untuk kedua kalinya.
"Yakin mau aku buatkan makanan? disini tidak tersedia makanan yang sesuai dengan seleramu! bagaimana kalau makan di luar saja?" Ucap Keana kurang yakin Juna mau memakan makanan yang ada di apartemennya, Keana tahu selera Juna.
"Tidak masalah, aku akan memakan apapun yang kamu masak. Hari ini aku ingin makan disini, aku ingin merasakan bagaimana selera makananmu, calon istriku." Ucap Juna yang menekan dua kata terakhir tanpa melihat kepada lawan bicaranya.
"Baiklah, aku akan membuat sarapan untukmu. Tunggu sebentar." Ucap Keana kemudian berlalu pergi menuju dapur. Juna mengekori perempuan itu masih dengan mata yang terus menelusuri setiap sudut ruangan yang di lewati olehnya.
"Semalam apa yang kalian lakukan?" Tanya Juna membuat langkah Keana terhenti di ruang makan. Keana berbalik menatap Juna dengan tatapan bingung yang kentara, Juna berdecak kesal. "Aku melihat Rafael masuk ke dalam apartemenmu."
Juna yang sejak tadi menunggu cerita Keana tentang kedatangan Rafael tadi malam akhirnya tidak tahan. Jangan salah paham, Juna tidak sedang cemburu karena tadi malam melihat Rafael masuk ke dalam apartemen calon istrinya.
"Oh, tadi malam Rafael mengantar undangan pernikahannya. Tapi bagaimana bisa kamu melihat Rafael datang ke apartemenku?" Tanya Keana heran, pasalnya Keana sempat melihat mobil Juna pergi sebelum masuk apartemennya.
Juna tidak menjawab, hanya berusaha mencari kebohongan dari perkataan Keana. Dan hal itu membuat Keana tidak ingin memaksa Juna untuk memberitahunya, sehingga Keana memutuskan untuk melanjutkan langkahnya menuju dapur.
"Tunggu!" Juna mengejar Keana yang sudah tiba di dapur, dia sejenak mengamati pergerakan Keana sebelum akhirnya kembali bicara. "Kamu akan menghadiri pernikahan Rafael? Heh, apa kamu akan membuat mie instan untuk sarapan?!"
Juna tidak bisa bersikap biasa saja saat melihat perempuan di depannya mengambil dua mie instan dari laci dapur. Juna langsung merebut mie dari tangan Keana dan menyimpan kembali mie itu ke tempat sebelumnya, laci depan Keana.
"Jangan makan mie instan, itu tidak baik untuk kesehatan." Ucap Juna setelah menyimpan mie itu di laci, posisinya saat ini sedang berada tepat di belakang tubuh Keana. Keana menoleh dan membuat wajah mereka saling berdekatan.
Sesaat Keana mengagumi wajah tampan Juna yang kini berdekatan dengan wajahnya, lalu dia menahan nafas saat nafas Juna berhembus pada wajahnya. Juna lebih dulu sadar dengan posisi mereka saat ini dan beralih membuka laci lain.
Sayangnya, Juna tidak menemukan makanan lain yang tersedia disana. Juna melangkah kearah kulkas dan meninggalkan Keana yang masih membeku, tapi masih belum menemukan makanan apapun yang layak mereka makan.
Juna tidak menyangka orang yang di percaya untuk menyiapkan makanan empat sehat dan lima sempurna Joanna malah mengkonsumsi makanan instan. Kesadaran Keana perlahan kembali dan melihat Juna di depan kulkasnya.
"Sudah aku katakan, disini tidak ada makanan yang sesuai dengan seleramu." Ucap Keana yang membuat Juna menatap padanya. Bukan hanya Keana yang terjebak dalam situasi mereka tadi, Juna juga, makanya Juna tadi mengalihkan.
"Tunggu sebentar, aku akan bersiap. Kita sarapan di luar saja." Keana berniat pergi, tapi tangan Juna menahannya. Keana melihat kearah tangan Juna yang ada di tangannya. "Juna, aku akan bersiap." Lalu Keana menurunkan tangan Juna perlahan.
"Tidak perlu, aku bisa makan mie instan." Juna kembali menahan tangan Keana dan membuat perempuan itu tersenyum lembut, nyaris tidak percaya Juna akan memilih makan mie instan. Juna melepaskan tangan Keana karena hal itu.
"Aku akan masak mie instannya." Ucap Keana kikuk. Keana mengambil kembali mie instan dari laci dan mulai memasaknya, sampai Juna tiba-tiba mengambil handuk di kepala Keana, membantu Keana mengeringkan rambutnya.
"Setelah ini kita belanja semua kebutuhanmu, aku tidak ingin calon istriku mengkonsumsi mie instan terus menerus." Ucap Juna, suaranya yang berat ditambah sentuhan laki-laki itu membuat fokus Keana terhadap mie instan terpecah.
~TBC
Terimakasih sudah membaca It's Okay, That's Fate. Mari berhubungan baik antara penulis dan pembaca. Jangan lupa juga untuk memberi dukungan kalian terhadap karyaku. Makasih 💙
Regards,
Nur Alquinsha A | IG: light.queensha