
Juna kembali melalui hari tanpa Keana setelah tadi pagi mengantar calon istrinya itu ke bandara. Juna sudah tahu bagaimana rasanya berada jauh dari Keana, rasanya itu begitu menyiksa dan Juna akan merasakannya sampai Keana pulang nanti.
Juna sudah mulai terbiasa tidak melihat Keana di kantor sehingga bisa melakukan pekerjaannya dengan sangat baik, meskipun tanpa keberadaan Keana disampingnya. Lagipula, Azka tidak jauh berbeda dari Keana dalam melakukan pekerjaan.
Tapi, Juna tidak bisa membohongi perasaannya sendiri, bahkan ciuman perpisahan mereka saja tidak cukup untuk mengobati rasa rindunya yang harus di pendam selama lebih dari tiga minggu, tapi bagaimana lagi Keana menginginkan itu.
Juna mengambil sesuatu dari saku jasnya, sebuah kotak kecil berisi cincin pernikahan, dia memesan cincin itu tanpa mengukur jari manis Keana dan hanya mengandalkan ukuran jari kelingkingnya sendiri, tapi semoga cincinnya pas di jari Keana.
Kata orang, jika jari manis perempuan ukurannya sama dengan jari kelingking laki-laki, itu artinya mereka berjodoh. Entah itu mitos darimana, yang jelas Juna mengukur jari kelingkingnya sendiri karena waktu itu Juna bertengkar dengan Keana.
Juna sudah memesan undangan yang menurutnya sesuai dengan selera Keana dan berniat menemui wedding organizer nanti sore. Ah, jika waktu itu Juna bisa memahami perasaan Keana, mungkin saja Juna tidak harus menyiapkan semua sendiri.
Juna tahu Keana pulang sebelum mereka menikah dan mungkin masih ada waktu untuk mengurus wedding organizer atau hal lainnya bersama, tapi Juna tidak termasuk tipe orang yang suka mepet dalam mengerjakan sesuatu, apalagi hal penting.
Juna harus memastikan dulu wedding organizer itu bagus, baru setelah itu Juna meminta Keana memilih desainnya. Juna ingin membuat momen yang hanya terjadi sekali seumur hidup berkesan sekaligus membahagiakan bagi perempuan itu.
Tidak apa-apa Juna mengurus semuanya sendiri, yang paling penting nanti Keana menjadi istrinya dan Keana tidak akan liburan tanpa Juna seperti sekarang, hal itu sudah lebih dari cukup bagi Juna dan Juna tidak sabar menunggu saat-saat itu tiba.
"Pak Juna, bodyguard yang menyusul nona Audie sudah berangkat." Ucap Azka memasuki ruangan Juna dan membuat perhatian Juna teralih. Juna melihat kearah Azka dan memasukan kotak yang berisi cincin pernikahan itu ke dalam saku jasnya.
Ya, Juna meminta beberapa bodyguard menyusul Keana ke Paris untuk berjaga-jaga barangkali ada yang mengganggu Keana disana. Juna tidak bisa melarang Keana pergi dan hanya bisa melakukan ini supaya bisa memastikan Keana aman di Paris.
"Baiklah, tolong terus ingatkan mereka, lindungi istriku tanpa mengganggu liburannya. Aku tidak ingin liburan istriku kacau karena mereka tidak hati-hati." Ucap Juna tegas. Azka mengangguk menyiakan permintaan sekaligus perintah Juna.
"Oh ya, di depan ada pak Willis, apa anda ingin menemuinya? sepertinya pak Willis baru patah hati." Ucap Azka yang membuat kening Juna berkerut, Willis patah hati terdengar seperti sesuatu yang tidak mungkin. Azka bercanda?!
Pemain wanita mana mungkin merasakan patah hati, Juna mengenal baik sahabatnya, Willis tidak pernah mengalami patah hati, putus dari kekasih pun Willis masih bisa bersenang-senang. Karena Willis tidak pernah serius dalam hal mencintai.
"Hm, terserah." Jawab Juna dan membuat Azka meringis, karena sudah biasa Juna mengatakan terserah kalau berhubungan dengan Willis dan membuat Azka serba salah. Masalahnya, Juna pernah mengatakan malas menghadapi Willis.
Kata terserah itu memiliki dua arti, mengijinkan Willis masuk dan membiarkan Juna menghadapi rasa malasnya atau membohongi Willis supaya Willis pergi. Tapi apapun itu, Azka akan merasa tidak enak hati dengan keputusannya sendiri.
"Maaf, bisa anda mengatakan spesifiknya? saya takut salah mengambil keputusan." Ucap Azka memberanikan dirinya, lebih baik daripada nanti Azka melakukan kesalahan. Juna tertawa pelan, ini adalah salah satu kesamaan Azka dan Keana.
Azka maupun Keana selalu meminta Juna untuk mengatakan sesuatu yang spesifik karena takut melakukan kesalahan. Ah, Juna kembali teringat saat Keana masih bekerja sebagai sekretarisnya. Andai saja Juna tidak pernah meminta Keana cuti.
"Pak Juna!" Tegur Azka karena Juna tiba-tiba saja terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu, lalu Azka melihat Juna tersenyum dan membuatnya sedikit khawatir. Azka tahu bosnya ditinggalkan calon istrinya. "Pak Juna, anda baik-baik saja?"
"Azka, harus berapa kali aku ingatkan? tidak usah berbicara formal! kita teman, ingat? aku baik-baik saja dan sekarang kamu bisa membiarkan Willis masuk. Aku ingin tahu alasan Willis datang." Juna tersenyum dan membuatnya terlihat berwibawa.
"Kita masih berada di kantor, anda bos saya dan tidak mungkin saya bersikap tidak sopan kepada bos saya sendiri." Ucap Azka masih memegang prinsipnya untuk bersikap sewajarnya di kantor. "Saya permisi, saya akan memanggil pak Willis."
Juna mendecih melihat Azka keluar, Azka sangat berbeda dengan Willis yang lebih sering bersikap seenaknya. Padahal mereka berteman baik saat SMA, hanya karena Azka kuliah di kampus yang berbeda, sekarang Azka berubah menjadi asing.
Tidak lama Willis masuk ke dalam ruangan Juna dengan wajah kusut, pantas saja Azka mengira Willis mengalami patah hati, penampilan Willis terlihat berantakan, lihat dasinya tidak terpakai dengan baik, sepertinya memang terjadi sesuatu.
"Audie kembali ke Paris?" Tanya Willis kemudian duduk di sofa yang ada di ruangan itu, wajahnya telihat putus asa dan membuat Juna keheranan. Juna beranjak dari meja kerja dan menghampiri Willis tanpa memberi sahabatnya itu jawaban.
"Benar, kamu patah hati?" Juna bertanya setelah duduk di depan Willis. Pertanyaan itu membuat Willis memberikan tatapan tajamnya, apa Juna sedang berusaha mengejeknya? memang siapa yang patah hati? Willis sekarang sedang kesal!
"Mana mungkin aku patah hati, kamu bercanda, heh? wajah tampanku sia-sia kalau aku mengenal yang namanya patah hati!" Ucap Willis menekan kata tampan, Willis sangat membanggakan wajah tampannya yang kata orang mirip aktor Korea.
Juna memutar matanya mendengar ocehan Willis karena merasa wajahnya jauh lebih tampan. Juna serius, Willis memang terlihat sedang patah hati. Entah perempuan mana yang berhasil membuat Willis patah hati, perempuan itu pasti luar biasa.
"Aku serius, aku tidak patah hati, aku hanya tidak habis pikir gadis itu mau makan malam bersama kekasih sahabatnya, padahal dia yang memintaku berpura-pura menjadi kekasihnya supaya kekasih sahabatnya berhenti mengganggu." Oceh Willis.
Juna tidak mengerti yang sedang Willis bicarakan sampai menjatuhkan rahangnya. Juna tidak tahu gadis yang Willis maksud, tapi pasti gadis itulah yang sudah membuat Willis patah hati, ternyata memang Willis berantakan karena perempuan.
"Juna, kamu mendengarkanku kan?" Tanya Willis saat melihat Juna terdiam, dia datang ke ruangan Juna untuk mencurahkan isi hatinya. Willis kesal karena gadis bodohnya makan bersama laki-laki lain, disaat Willis terus memikirkan si bodoh itu.
"Ya, aku hanya tidak mengerti yang sedang kamu bicarakan." Jawab Juna jujur. Juna sudah pusing dengan urusannya sendiri, sekarang Willis malah menambahkanya dengan sesuatu yang tidak bisa Juna mengerti. "Jadi maksudnya kamu cemburu--"
"Tidak, aku tidak cemburu." Willis dengan cepat menyangkal itu, dia tidak cemburu hanya karena gadis bodohnya makan bersama laki-laki. Willis hanya tidak menyangka gadis bodoh itu masih dekat dengan laki-laki yang sudah menyakitinya.
Willis merasa tidak ada perempuan yang menarik selain Keana. Sayangnya, perempuan itu sebentar lagi akan menikah dengan Juna dan Willis tidak mungkin merebut Keana dari sahabatnya sendiri. Tapi, perasaan Willis masih untuk Keana seorang.
"Terserah kamu mau mengakuinya atau tidak, itu urusanmu. Aku hanya ingin memberi saran, kamu harus memikirkan tentang Angel, siapapun yang kamu sukai, kamu harus memastikan perempuan itu juga menyukai Angel." Juna terdengar serius.
Tapi, sepertinya Willis tidak menanggapi dengan serius, Willis sempat-sempatnya membuat Juna kesal dengan membawa nama Keana yang tidak ada hubungannya dengan pembicaraan mereka. Willis memang sepertinya terobsesi oleh Keana.
"Aku rasa Audie perempuan yang tepat menjadi mommy untuk Angel, aku menyayangi Audie dan Audie sudah pasti menyukai Angel." Ucap Willis yang membuat Juna memberinya hadiah pukulan di kepalanya. Willis mengusap kepalanya sendiri.
"Yak! aku bisa melaporkan perbuatanmu, kamu pasti akan mendapat hukuman dan aku yang akan menikah dengan Audie saat kamu masuk penjara. Angel pasti senang memiliki mommy seperti ..."
"Sudah selesai?" Tanya Juna memotong perkataan Willis, ternyata mengijinkan Willis masuk bukan pilihan yang tepat. Juna menyesal tidak meminta Azka mengusir Willis, sahabatnya menjengkelkan seperti biasa. "Pak Willis, keluar dari ruanganku!"
Juna bertemu wedding organizer di sebuah resto yang berada tidak jauh dari kantor, Juna langsung datang ke resto itu setelah pekerjaan di kantornya selesai. Sepertinya orang dari wedding organizer terlambat datang dan Juna sedang menunggunya.
Juna melirik benda yang melingkar di tangannya, lewat lima belas menit dari waktu yang mereka janjikan, tapi orang dari wedding organizer belum juga menunjukan batang hidungnya, padahal Juna sudah berusaha datang tepat waktu di tempat itu.
"Pak Juna?" Seorang perempuan cantik membuat perhatian Juna teralihkan, perempuan yang Juna ketahui bernama Cindy itu berdiri dengan nafas yang tidak beraturan, sepertinya perempuan itu habis berlari. "Maaf, saya terlambat, pak Juna."
"Tidak apa-apa, duduklah." Ucap Juna mengamati perempuan di hadapannya. Juna merasa pernah bertemu Cindy, tapi Juna tidak ingat dimana dan kapan. Cindy duduk di depan Juna sehingga Juna bisa dengan jelas melihat wajah perempuan itu.
Juna masih belum mengingat apapun, tapi Cindy benar-benar tidak asing, mungkin Juna memang pernah bertemu Cindy sebelumnya. Cindy merasa kurang nyaman dengan tatapan Juna, tapi masih berusaha bersikap propesional di depan client.
"Maaf, kalau boleh tahu dimana pasangan anda? kenapa anda sendirian?" Tanya Cindy sopan, lalu mengeluarkan laptop dimana disana ada contoh desain untuk pernikahan. Cindy sendiri adalah orang yang dulu pernah mengejar cinta Willis.
Juna merasa pernah bertemu Cindy karena dulu, saat mereka kuliah Cindy sering memberi Willis bekal berupa makanan buatannya sendiri. Cindy masih mengingat Juna dan mengenal dengan baik siapa Juna, apalagi berita tentang Juna menyebar.
"Calon istri saya sedang di Paris. Oh ya, saya ingin melihat dulu desainnya." Ucap Juna menanggapi perkataan Cindy, sekilas Juna melihat perempuan di depannya bergumam sesuatu, tapi Juna tidak bisa mendengar dengan jelas yang Cindy katakan.
"Oh, Ana di Paris." Gumam Cindy. Selain tentang laki-laki di depannya, Cindy juga mengenal siapa calon Juna, perempuan yang menjadi korban bully seperti dirinya. Bedanya, Keana masih memiliki teman baik sementara Cindy selalu sendirian.
Sudah jelas alasan Cindy di bully karena selalu berusaha mengejar cinta Willis yang merupakan salah satu mahasiswa populer di kampus. Cindy tidak peduli apapun waktu itu, cinta membuatnya buta, sampai akhirnya Cindy memilih menyerah.
Cindy menyerah karena Willis tidak pernah sekali pun melihatnya, mungkin karena saat itu Cindy tidak semenarik perempuan lain. Cindy memang mahasiswi cupu, laki-laki yang tidak tampan dan tidak populer pun sepertinya tidak akan tertarik.
"Maaf, bisa saya melihat desainnya?" Ucap Juna mengulangi pertanyaan sebelumnya membuat Cindy berdehem pelan. Cindy mengiyakan dan menunjukan layar laptopnya kepada Juna, dia merasa tidak ada yang berubah dari wajah Juna.
Juna masih terlihat tampan dan berkharisma di mata Cindy, padahal mereka sudah lama tidak bertemu. Cindy ingat, Juna termasuk mahasiswa populer di kampus sama seperti Willis, bahkan penggemar Juna sampai nekad melukai Keana.
Cindy tidak tahu pasti bagaimana kejadiannya, penggemar Juna memang terkenal berbahaya di kampus dan Keana menjadi salah satu korbannya. Tidak disangka ternyata Juna dan Keana berjodoh setelah kejadian memilukan mereka di masa lalu.
"Saya tidak tahu selera wanita, tapi menurut saya desain ini lumayan bagus." Juna melihat desain pernikahan di laptop cindy dengan serius, bahkan sampai tidak menyadari Cindy sedang menatap wajahnya. "Apa masih ada di desain yang lain?"
Juna menoleh sehingga tanpa sengaja wajahnya berdekatan dengan wajah Cindy. Kebetulan saat itu Cindy masih memandangi Juna dan suasana canggung pun hadir diantara mereka. Tidak lama Juna berdehem dan mengalihkan padangannya.
"Maaf." Ucap Juna pelan. Juna tidak merasakan apapun saat wajahnya berdekatan dengan Cindy, meski Juna penasaran tentang siapa Cindy, dia tidak merasakan apapun terhadap perempuan di depannya, sekedar berusaha untuk mengingat.
Juna termasuk laki-laki yang sangat setia kalau sudah mencintai seseorang, bahkan saat masih bersama Joanna dulu, Juna selalu menyangkal perasaannya terhadap Keana yang sebenarnya sudah lama tumbuh dan Juna belum berubah.
Juna dan Cindy melanjutkan pembicaraan mereka tentang perencanaan pernikahan setelah suasana canggung diantara mereka terusir. Pembicaraan mereka begitu panjang sampai Juna akhirnya tahu bahwa Cindy pernah mengejar Willis di masa lalu.
~TBC
Terimakasih sudah membaca It's Okay, That's Fate. Mari berhubungan baik antara penulis dan pembaca. Jangan lupa juga untuk memberi dukungan kalian terhadap karyaku. Makasih 💙
Regards,
Nur Alquinsha A | IG: light.queensha