It'S Okay, That'S Fate

It'S Okay, That'S Fate
IOTF #43



Pukul 14:00 di hari sabtu, Juna dan Keana datang ke rumah Willis menjemput Angel, mereka sudah sepakat untuk liburan ke puncak. Angel memilih puncak sebagai tujuan liburan mereka karena dia merasa tertarik dengan cerita teman di sekolah.


"Sebenarnya aku masih tidak setuju kalau kalian mengajak putriku liburan." Ucap Willis saat Juna mengambil tas gendong milik Angel yang akan di masukan ke dalam mobil. Angel, Juna dan Keana menatap tajam Willis karena mendengar hal itu.


"Tapi karena aku sudah berjanji, jadi aku terpaksa akan membiarkan kamu membawa Angel, dengan syarat kamu harus menjaga Angel selama kalian berada di puncak." Willis melanjutkan kalimatnya dan membuat semua orang menghela nafas lega.


"Kamu tenang saja, Willis. aku janji akan menjaga Angel seperti menjaga anak sendiri, lagipula kami hanya akan pergi sehari." Ucap Juna meyakinkan.


"Aku tahu kalian hanya pergi satu hari ke puncak, tapi aku juga ingat kamu dan Ana pengantin baru, aku khawatir Angel akan terlantar disana." Ucap Willis terus terang membuat pengantin baru itu saling bertukar pandang, lalu mereka berdehem.


"Memang apa hubungannya dengan kami yang baru menikah?" Tanya Juna tidak mengerti. Juna berbeda dengan Willis yang di dalam pikirannya hanya ada wanita, ranjang dan kesenangan. Juna tidak mungkin menelantarkan Angel.


"Sudahlah, lebih baik kalian pergi sekarang. Atau kalian akan kemalaman datang ke puncak." Ucap Willis tidak ingin memperpanjang pembicaraan mereka. Karena wajah polos Juna tiba-tiba saja membuat daddy Angel itu merasa kesal.


"Lagipula, kenapa kalian harus memilih liburan ke puncak? tidak bisakah kalian liburan ke tempat yang biasa di kunjungi anak kecil seperti Angel?" Omel Willis di detik berikutnya, padahal tadi dia menyuruh untuk segera pergi takut kemalaman.


Tapi Willis sudah dari kemarin ingin mengatakan itu dan baru sempat sekarang karena baik dirinya maupun Juna sama-sama sibuk dengan pekerjaan, kebetulan sedang ada sedikit masalah dalam data keuangan kantor dan Juna sibuk mengejar cuti.


"Bukan aku yang ingin pergi kesana, tapi putrimu, jadi tolong jangan menyalahkan aku." Jawab Juna membela dirinya. Karena memang kenyataannya Angel yang ingin ke puncak, sementara Juna dan Keana hanya menuruti keinginan gadis kecil itu.


"Angel bilang padaku banyak teman-temannya di sekolah yang pernah liburan ke puncak, jadi aku tidak tega kalau tidak menuruti keinginannya." Tambah Juna membuat Willis menatap putrinya yang kini bersembunyi di belakang tubuh Keana.


"Angel." Panggil Willis pada putri kecilnya. Willis memang jarang sekali mengajak putrinya liburan, selama ini Willis terlalu sibuk dengan pekerjaan di kantor dan juga bisnis pribadinya yang berupa klub malam sehingga waktu untuk Angel sedikit.


Tapi, Willis pasti akan berusaha meluangkan waktu kalau Angel berterus terang padanya, tidak perlu sampai merepotkan pengantin baru untuk menemani Angel liburan ke puncak, Willis pasti akan berusaha meluangkan waktu untuk Angel.


"Kamu tidak bisa menyalahkan putrimu! karena kamu memang terlalu sibuk dengan pekerjaan!" Juna menyambar takut Willis memarahi Angel.


"Baiklah, aku tahu. Aku tidak akan protes dan banyak bicara lagi, tapi sebelum kalian pergi, aku perlu bicara dengan putriku." Ucap Willis mengangkat kedua tangannya pertanda Willis tidak akan berani untuk menyalahkan Angel.


Lagipula, Willis cukup sadar kalau dirinya bukan daddy yang baik untuk Angel, kadang Willis lebih suka menghabiskan waktu diluar dibandingkan menemani putrinya di rumah. Willis selalu egois dan mementingan dirinya sendiri diatas apapun.


"Kamu tidak berniat untuk memarahi Angel kan?" Selidik Juna, padahal Willis sudah mengatakan tidak akan protes, tapi Juna memang diharuskan waspada terhadap segala kemungkinan. Karena Willis bisa saja memarahi Angel di belakang Juna.


"Tentu saja tidak, aku bukan daddy yang jahat, kamu tahu?!" Ucap Willis tidak suka dicurigai.


"Entahlah, aku hanya tahu kamu bukan daddy yang baik." Sahut Juna seraya mengangkat bahunya acuh.


"Kamu juga bukan teman yang baik, kamu harus tahu itu, pak Juna." Balas Willis tidak mau kalah dengan menekan dua kata terakhir supaya Juna sadar kalau Juna juga bukan teman yang baik.


Keana menghela nafas menatap Juna dan Willis yang baginya sangat kekanak-kanakan. Berdebat hanya untuk menentukan siapa yang baik dan tidak baik, apa ada yang lebih kekanak-kanakan dari itu? mungkin ada, tapi tidak ada bagi Keana.


"Kalian berdua sudahlah, kalau kalian berdebat seperti ini, bisa-bisa nanti kita akan kemalaman tiba di puncak." Ucap Keana menengahi kedua laki-laki di hadapannya, lalu Keana melirik Angel yang masih bersembunyi di belakang tubuhnya.


"Kamu harus mendengarkan perkataan istrimu, atau nanti malam kamu tidak akan mendapat jatah." Ucap Willis meledek Juna dan membuat Juna menatap tajam padanya. Sementara Keana hanya menggelengkan kepala mendengarnya.


Juna hanya mengumpat dalam hati tanpa berniat menanggapi ocehan Willis yang terdengar sangat menjengkelkan di telinganya. Juna tidak berani menimpali karena takut Keana benar-benar tidak memberinya jatah, bisa tersiksa si kecilnya nanti.


"Angel kemarilah, daddy ingin bicara." Ucap Willis beralih pada Angel dan melambaikan tangannya supaya Angel menghampiri dirinya. Angel dengan ragu menghampiri Willis dan melangkah dengan kedua kaki kecilnya sambil menundukkan kepala.


Willis berjongkok saat Angel berjalan kearahnya, lalu mengusak puncak kepala putrinya itu dengan penuh kasih sayang. Willis memang menyayangi Angel meskipun Angel belum tentu terlahir dari wanita yang dulu pernah di tanam benih olehnya.


"Kenapa kamu tidak pernah cerita kalau memang kamu ingin pergi ke puncak, hum?" Tanya Willis lembut seperti biasa. Willis termasuk ayah yang baik meski lebih sering sibuk dengan pekerjaan. Willis tidak pernah kasar senakal apapun Angel.


Angel hanya terus menunduk tanpa menjawab.


"Sayang, lihat daddy." Pinta Willis berharap Angel mau menatap padanya. Willis menghela nafasnya dan mengangkat dagu Angel sehingga gadis kecil itu mau tidak mau harus menatap wajah ayahnya.


Andai Willis memiliki banyak waktu untuk Angel, mungkin Willis akan menjadi seorang ayah yang sempurna. Sayang sekali waktu yang Willis miliki lebih banyak untuk dirinya sendiri dan pekerjaan.


"Maaf." Hanya kata itu yang Angel katakan, kedua matanya sudah mulai berkaca-kaca karena takut daddy-nya marah. Angel tahu daddy-nya bukan pemarah, tapi tetap saja sekarang Angel takut.


Kalau di perhatikan, Angel mirip dengan Willis, kulit yang putih seperti susu, bibir tipis, hidung mancung, semuanya, Angel menuruni wajah bule Willis, bahkan kebiasaan mereka juga memiliki kebiasaan yang sama, hanya saja belum ada bukti nyata tentang hubungan darah diantara mereka.


Willis tersenyum hangat menatap Angel.


"Tidak perlu minta maaf, tapi kalau nanti kamu menginginkan sesuatu lagi, kamu bisa langsung bicara kepada daddy, kamu mengerti?" Tangan Willis beralih menyentuh hidung Angel, sebuah kebiasaan kecil saat Willis menasehati Angel.


"Baiklah, asal daddy berjanji akan berusaha untuk meluangkan waktu, bagaimana?" Angel akhirnya bersuara meski terdengar ada keraguan disetiap ucapannya. Angel mengangkat jari kelingkingnya di hadapan Willis sebagai bukti mereka berjanji.


"Oke, daddy berjanji." Ucap Willis menyambut jari kelingking Angel dengan jari kelingkingnya disertai senyuman. Sementara Juna dan Keana hanya memperhatikan momen haru itu tanpa berniat untuk mengganggu Willis dan Angel.


"Dan satu lagi." Ucap Angel saat jari kelingking mereka masih bertautan, gadis kecil itu seperti tidak ingin membuang kesempatan langka dan ingin membuat perjanjian lain yang selama ini menjadi impiannya, tinggal bersama ibunya.


"Apa?" Tanya Willis membuat Angel tersenyum semringah. Willis mengerutkan keningnya, tidak biasa Angel sampai sesenang itu, mencurigakan.


"Aku ingin mommy tinggal bersama kita disini."


"Heh!" Ternyata benar dugaan Willis, putrinya mencari kesempatan dalam kesempitan, entah siapa yang sudah mengajari Angel seperti itu.


"Aku ingin seperti temanku, dad. Aku ingin kita bertiga tinggal bersama." Rengek Angel sambil memasang wajah memelas. Willis hanya diam tanpa mengiyakan keinginan putri kecilnya itu.


"Aku mohon." Angel kembali merengek dan masih memasang wajah lucu yang di melas-melaskan.


"Dasar gadis kecil licik!" Gumam Willis di dalam hatinya, tapi Willis tidak berani mengatakan itu secara langsung, takut membuat putrinya sedih.


"Baiklah, daddy akan meminta mommy tinggal bersama kita." Putus Willis meski setengah hati.


Angel nampak girang.


"Serius? daddy tidak berbohong kan? mommy akan benar-benar tinggal bersama kita?" Angel memastikan karena takut dirinya salah dengar.


"Memang daddy pernah berbohong padamu?"


Angel terlihat seperti berpikir sebelum menjawab pertanyaan sang daddy. Willis dan yang lainnya menanti jawaban dari gadis kecil itu, mengamati dengan seksama pergerakan Angel dengan tubuh mungilnya itu sampai akhirnya Angel menjawab.


"Hum, sebenarnya daddy sudah sering berbohong. Tapi sepertinya daddy lupa." Jawab Angel sambil memasang wajah polos. Arjuna dan Keana nyaris tertawa mendengar jawaban polos putri Willis itu.


"Puft, anak kecil seperti putrimu memang tidak pintar berbohong!" Ucap Juna tidak bisa menahan tawanya lebih lama. Juna sampai terbahak-bahak mentertawakan kepolosan Angel dan juga wajah melongo yang sedang Willis tunjukan sekarang.


"Sayang, kamu tidak boleh seperti itu pada teman kamu sendiri." Tegur Keana kepada Juna karena suaminya itu sudah merusak suasana. Tapi Keana tidak menyangkal bahwa dirinya merasa terlibur mendengar jawaban polos Angel pada daddy-nya.


"Maaf, tapi ini benar-benar lucu." Ucap Juna tanpa bisa menghentikan tawanya dan membuat Willis kesal. Berbeda dengan Angel yang masih terlihat polos. Bahkan Angel sama sekali tidak mengerti alasan uncle kesayangannya tertawa seperti itu.


"Ck, kamu memang menyebalkan, pak Juna."


~TBC


Terimakasih sudah mampir dan membaca It'S Okay, That'S Fate. Jangan lupa like, favorit, komentar, rating 5 dan vote poin sebanyak-banyaknya. Kalau ada dan berkenan, kalian juga bisa memberikan koin untuk novel ini 💙


Regards,


Nur Alquinsha A | IG: light.queensha