
Sepekan lebih di Paris, Keana baru menyadari ada beberapa orang yang mengawasinya. Keana sedang jalan-jalan di Tuileries Garden sambil menikmati keindahan taman itu dan beberapa orang memakai jas hitam terus mengikutinya.
Keana berusaha menelpon Shin Hwa barangkali orang yang mengikutinya suruhan ayahnya, tapi Shin Hwa tidak menjawab dan membuat Keana waspada, takut orang-orang itu berniat buruk, lalu tanpa sengaja Keana menabrak seseorang.
Keana terlalu takut melihat orang-orang berjas hitam yang mengikutinya itu sampai Keana tidak meminta maaf pada orang yang sudah dia tabrak. Keana hampir saja meninggalkan tempat itu, tapi tiba-tiba seseorang menahan tangan bergetarnya.
"Sayang, kamu mau pergi kemana?" Tanya orang yang menahan tangannya, Keana menoleh cepat ke belakang, ternyata laki-laki yang memegang tangannya adalah Juna. Keana langsung memeluk tubuh tegap itu dan bersyukur atas kehadirannya.
Keana tidak peduli alasan Juna berada disana, dia benar-benar tidak peduli. Keana hanya tahu Juna akan menyelamatkannya dari orang-orang berjas hitam. Keana sudah tidak melihat orang-orang itu sekarang, pasti mereka semua takut melihat Juna.
"Kamu baik-baik saja, hum?" Ucap Juna membalas pelukan Keana dan Keana menjawabnya dengan anggukan. Keana sangat takut, Juna bahkan bisa merasakan detak jantungnya, seperti orang yang sudah di kejar ******, cepat dan tidak beraturan.
"Juna, tadi ada yang terus mengikutiku, aku takut mereka orang jahat." Ucap Keana suaranya sedikit bergetar saking takutnya. Keana sedang berada di negara orang, kalau sampai ada yang melukainya, mungkin tidak akan ada yang menolong Keana.
Ketakutan Keana semakin menjadi, tanpa tahu bahwa biang keroknya sedang bersandiwara dan sekarang berada tepat di pelukannya. Juna tidak sengaja membuat Keana takut, Juna menyuruh orang-orang tadi mengawasi calon istrinya itu.
Tapi, ternyata mata Keana jeli, dalam seminggu perempuan itu akhirnya menyadari bahwa ada orang yang terus mengikutinya. Juna tidak bisa menyalahkan para bodyguard, karena memang Keana yang lumayan awas terhadap sekitarnya.
"Tenanglah, sayang. Aku ada disini, mereka tidak akan berani mengganggumu." Ucap Juna berusaha menenangkan Keana, dia merasa bersalah sudah membuat Keana ketakutan seperti sekarang. Juna melepaskan pelukan mereka dan menatap Keana.
"Hey, kenapa menangis?" Tanya Juna mendadak panik melihat air mata di wajah Keana, Juna tidak bisa melihat Keana menangis, apalagi sekarang Juna sendiri menjadi penyebabnya. Juna merasa gagal melindungi Keana untuk kesekian kalinya.
Keana tidak menjawab, hanya memperlihatkan tatapan sendunya. Juna semakin merasa bersalah melihat tatapan Keana , perempuan hebatnya itu berubah lemah karena Juna mengutus bodyguard untuk mengawasi dan melindunginya di Paris.
Juna menghapus air yang membahasi pipi Keana lembut, wajah cantik itu tidak boleh ada air mata, karena Juna tidak suka wanitanya menangis dan tentu saja Juna tidak akan membiarkan air mata itu terlalu lama berada di wajah cantik wanitanya.
"Juna, aku mau pulang, aku takut disini sendirian, aku takut orang-orang tadi kembali mengikutiku. Aku benar-benar takut." Lirih Keana memberikan tatapan memohon kepada Juna, padahal barusan Keana diikuti oleh bodyguard utusan laki-laki itu.
Juna tersenyum senang, sepertinya bodyguardnya harus mendapatkan bonus, meski karena mereka Keana ketakutan, tapi berkat mereka juga Keana memutuskan untuk pulang, padahal masih tersisa banyak sekali waktu untuk Keana liburan di Paris.
Ternyata benar masih ada hikmah dalam masalah yang terjadi, Juna tidak harus memohon supaya Keana pulang ke Jakarta, perempuan itu meminta pulang atas keinginannya sendiri. Juna langsung menarik tubuh Keana kembali dalam pelukannya.
"Terimakasih, sayang." Ucap Juna dan membuat kening Keana berkerut. Keana tidak tahu alasan Juna mengucapkan terimakasih, padahal Keana yang seharusnya berterimakasih. Karena Juna sudah membuat orang yang mengikutinya pergi.
"Juna, bisa lepaskan pelukanmu sekarang? kita masih harus pergi ke tempat penginapan untuk membereskan barangku disana!" Ucap Keana berusaha terlepas dari pelukan Juna, tapi Juna menahan dan memeluk tubuhnya begitu erat.
"Tunggu sebentar, tolong ijinkan aku melepaskan rinduku padamu lebih lama, kita sudah lebih dari satu minggu tidak bertemu. Aku merindukanmu, sayang." Juna mengecup kening Keana sehingga perempuan itu merasakan sebuah kehangatan.
"Kita tidak usah terburu-buru pulang ke Jakarta, aku bisa menemanimu jalan-jalan sebentar di tempat ini dan kalau orang-orang yang kamu maksud tadi kembali, aku pasti akan menghajar dan menghabisi mereka." Juna terdengar serius.
Keana tidak bisa menolak, tapi tetap saja mereka sedang berada di tempat umum dan Keana tidak nyaman harus berpelukan disana. Keana memang merindukan Juna, tapi masih banyak waktu untuk mereka melepaskan rindu, bukan di tempat itu.
"Baiklah, kita bisa jalan-jalan, tapi lepaskan dulu pelukanmu." Ucap Keana kembali berusaha untuk terlepas dari pelukan Juna. Tidak tahu mengapa, Keana merasa kekuatan Juna sangat besar dalam hal memeluk dan Keana kesulitan untuk terlepas.
"Hm, baik. Tapi aku butuh imbalan darimu. Baru setelah itu aku akan melepaskanmu." Ucap Juna lembut, namun mampu membuat Keana bergidik, entah imbalan seperti apa yang Juna maksud itu, sekarang Keana merasa sedang di manfaatkan.
Tanpa menunggu persetujuan, Juna mengambil imbalannya yang berupa kecupan manis di bibir Keana. Juna memegang dagu Keana dengan satu tangan yang berada di pinggang perempuan itu dan Juna memberikan sedikit lumatan kecilnya.
"Sudah, terimakasih. Kita jalan-jalan sekarang, oke?" Juna dengan santai menggandeng tangan Keana, tidak peduli dengan reaksi perempuan itu sekarang. Keana blank, Juna membuat pikirannya kosong karena menciumnya di tempat umum.
"Kamu tenang saja, lipstikmu tidak berantakan, sayang." Juna menahan langkah sejenak karena Keana tidak kunjung melangkahkan kakinya, dia memegang wajah Keana dan menyentuh bibirnya lembut. "Aku menyukai lipstik yang kamu pakai."
"Ayo, kita jalan-jalan sekarang." Ucap Keana tanpa sadar sudah menepis tangan Juna di bibirnya dan langsung berjalan menjauhi laki-laki itu. Keana salah menganggap Juna penyelamat, karena Juna sepertinya lebih berbahaya dari orang-orang tadi.
Keana merasa jantungnya bekerja kurang baik dan Juna penyebabnya. Juna mungkin saja akan membuatnya terkena serangan jantung dadakan karena sikapnya itu, Keana harus mulai hati-hati dan berusaha menjaga jarak dari laki-laki itu.
Juna tersenyum menatap punggung Keana yang perlahan menjauh, dia datang ke Paris karena sebuah pekerjaan sekaligus melihat bagaimana keadaan Keana di Paris, tanpa disangka Juna malah akan membawa Keana pulang dari sana.
Keana dan Juna jalan-jalan menikmati keindahan Tuileries Garden dan menyatukan jemari mereka. Ternyata lebih enak kalau ada Juna bersamanya di Paris dan mungkin Keana akan memikirkan kembali ajakan Juna untuk bulan madu disana.
"Sayang, bukankah yang tadi Ana?" Tanya Amelia kepada Rafael, kebetulan keduanya sedang bulan madu di Paris dan mereka tanpa sengaja melihat Keana bersama Juna di Tuileries Garden. Amelia merasa tidak salah lihat, tapi Rafael tidak peduli.
Rafael masih belum sepenuhnya menerima Keana sebagai sepupu, bukan karena Rafael membenci Keana atau apapun itu, Rafael hanya merasa akan banyak yang berubah setelah tahu Keana dan juga dirinya sepupuan. Rafael belum siap untuk itu.
Rafael sempat berpikir semuanya akan baik-baik saja, tapi setelah melihat Keana pemikiran itu mendadak berubah, terlebih melihat Keana dan Juna bersama, seperti ada api yang membakar tubuhnya. Rafael tidak tahu mengapa begitu.
Rafael berpikir perasaan yang sudah tumbuh di hatinya untuk Amelia sudah cukup membuatnya melupakan perasaannya terhadap Keana, tapi ternyata rasanya tetap sakit, melihat Keana dan Juna bersama sampai bermesraaan seperti tadi.
"Sayang." Tegur Amelia melihat Rafael terdiam sambil menatap ke depan, dimana tadi Keana dan Juna sempat berada disana. Amelia tahu Rafael belum sepenuhnya melepaskan Keana, mungkin saja pernikahan mereka menjadi penyebabnya.
Rafael mungkin melepaskan Keana hanya karena menikah dengan Amelia dan Keana memutuskan untuk menjadi istri orang lain. Amelia tahu kalau Rafael dan Keana sepupuan, tapi yang namanya cinta tidak mengenal sepupu atau siapapun itu.
Amelia percaya Rafael hanya terpaksa mengikuti takdirnya, Rafael mungkin selamanya tidak akan bisa menyayangi Amelia seperti rasa sayangnya untuk Keana, memang cinta pertama akan selalu berkesan dan cinta berikutnya itu seperti hiasan.
Ada. Tapi hanya sekedar mengisi kekosongan.
"Ana dan calon suaminya tadi serasi, bagaimana menurutmu?" Tanya Amelia disertai senyuman pahitnya. Amelia sengaja bertanya hal itu untuk menyembunyikan sakit hatinya melihat Rafael, suaminya itu terlihat masih mencintai Keana.
"Hm." Rafael hanya bergumam, lalu melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda dan membuat Amelia kecewa, bahkan Rafael sampai tidak sadar sudah melepaskan tangan Amelia, suami Amelia ternyata lebih peduli dengan perasaannya sendiri.
"Tidak apa-apa kamu masih menyimpan perasaan untuk Ana, tapi tidak bisakah kalau kamu tidak menunjukannya di depanku?" Lirih Amelia dalam hatinya. Sementara Rafael terus melangkah tanpa menyadari ada yang tertinggal di belakangnya.
Kesalahan yang sering kita temukan, seseorang mengabaikan yang ada disampingnya karena orang yang hanya ada di hatinya. Padahal sudah jelas, orang yang nyata adalah orang yang berada di sampingnya, bukan yang berada di hatinya.
"Sa, tumben Kai jarang mampir ke rumah, kalian berdua bertengkar ya?" Tanya Cindy kepada adik perempuannya sambil menuangkan air ke dalam gelas. Neysa, adik perempuan Cindy itu berhenti mengunyah sarapan karena pertanyaaan Cindy.
"Kai sibuk sama pacarnya." Jawab Neysa pada detik berikutnya, rasanya sesak mengatakan hal sederhana itu, tapi memang kenyataannya Kaisar sibuk dengan kekasihnya. Padahal Neysa, Kaisar dan kekasih Kaisar sudah berteman dari kecil.
"Nara maksud kamu?" Tanya Cindy lagi. Neysa hanya menjawabnya dengan anggukan. Cindy kurang memahami yang terjadi, tapi sepertinya Neysa dan kedua temannya terjebak dalam cinta segitiga. Rumit, mengingat mereka teman baik.
Neysa melanjutkan mengunyah sarapannya dan membuat Cindy menghela nafas, ternyata kisah cinta adiknya di masa kuliah tidak mulus, sama seperti yang Cindy alami, mereka sama-sama tidak bisa memiliki orang yang mereka cintai.
"Nara cemburuan sejak mereka pacaran, apalagi Kai sering banget nyuri kesempatan buat deketin aku. Pusing sumpah, kak." Neysa mencurahkan isi hatinya yang selama ini berusaha di pendam, dia menyukai Kaisar memang itulah kenyataannya.
Sebenarnya, Kaisar pernah nembak Neysa, tapi Neysa menolak karena tahu Nara juga mencintai laki-laki itu. Neysa yang meminta Kaisar pacaran bersama Nara, tapi Neysa sendiri yang sekarang merasa tersakiti oleh hubungan Kaisar dan Nara.
Memang dasar manusia, kadang mereka munafik kalau berurusan dengan cinta dan Neysa menjadi salah satunya. Neysa berpikir mencintai tanpa harus memiliki itu mudah, tapi nyatanya sesakit ini, sekarang Neysa dan Kaisar memiliki jarak.
Kaisar lebih tua satu tahun dari Neysa, mereka bisa berteman karena rumah mereka berdekatan dan Neysa teman yang sebenarnya adalah Nara, tapi sekarang mereka bertengkar karena terjadi kesalahpahaman, Kaisar menjadi penyebabnya.
"Oh ya, kak. Kapan kakak nikah? masa kakak terus ngurus pernikahan orang lain! kapan dong giliran kakak dan kak Chandra nikah?" Tanya Neysa yang sengaja mengalihkan pembicaraan mereka, dia tidak mau terus memikirkan tentang Kaisar.
"Heh! sudahlah, kakak mau berangkat, sekarang giliran kamu cuci piring, jangan lupa ya!" Cindy buru-buru kabur dari ruang makan karena tidak ingin membahas tentang Chandra, laki-laki yang sibuk mengudara itu pasti belum siap menikah.
"Cih, kabur." Ucap Neysa, lalu menuruti perkataan Cindy dan mencuci piring bekas sarapan mereka, sepertinya kakak beradik itu kurang beruntung dalam hal cinta, karena meskipun sekarang Cindy memiliki kekasih, Chandra selalu sibuk bekerja.
Chandra, kekasih Cindy bekerja sebagai pilot dan mereka jarang sekali bertemu. Karena Chandra yang sering sibuk mengudara. Cindy dan Chandra terpaksa menjalani hubungan jarak jauh, karena tuntutan Chandra yang bekerja sebagai pilot.
Neysa tiba-tiba teringat seorang duda beranak satu, entah bagaimana kabarnya, terakhir kali mereka bertemu duda beranak satu itu marah tidak jelas, hanya karena Neysa makan malam bersama Kaisar. Dengar, karena makan malam.
"Haish, buat apa aku memikirkan laki-laki yang hanya menjadikanku pengasuh anak?" Gumam Neysa dan kembali sibuk dengan piring kotor, itu lebih baik daripada harus memikirkan laki-laki menyebalkan dan suka seenaknya seperti Willis.
~TBC
Bagian ini supaya kalian tahu yang lainnya, akan ada selingan seperti ini supaya ceritanya lebih luas dari novel aku sebelumnya. Aku harap gak ada yang bosen sama jalan ceritanya IOTF ini.
Terimakasih sudah membaca It's Okay, That's Fate. Mari berhubungan baik antara penulis dan pembaca. Jangan lupa juga untuk memberi dukungan kalian terhadap karyaku. Makasih 💙
Regards,
Nur Alquinsha A | IG: light.queensha