
Keana menaruh kopi dan cemilan keatas meja, kemudian perempuan itu duduk di kursih depan Juna tanpa mengatakan apapun. Keana dan Juna sedang berada di ruang tengah, Keana memilih tempat itu supaya lebih nyaman untuk bicara.
Keana dan Juna menatap satu sama lain tanpa ada satu pun dari mereka yang ingin memulai pembicaraan, keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Keana hanya meremas celana jeans bagian paha yang sedang dipakainya itu.
Rasanya Keana belum siap mendengar apa yang akan keluar dari mulut Juna, tapi disisi lain Keana juga penasaran alasan Juna mengejar dirinya ke apartemen. Meski hanya ada satu kemungkinan, Juna datang untuk membatalkan pernikahan.
"Anna sakit kanker." Ucap Juna tiba-tiba membuat Keana bingung. Keana tahu mantan kekasih calon suaminya sakit kanker, tapi Keana tidak mengerti arah pembicaraan Juna, atau mungkin Juna akan benar-benar membatalkan pernikahan mereka?
Kalau boleh jujur Keana masih saja berharap Juna tidak membatalkan pernikahan mereka, meskipun hal itu sangat tidak mungkin, tapi Keana masih tetap berani untuk berharap. Keana masih belum bersuara, hanya menunggu Juna kembali bicara.
"Aku berjanji tidak akan membatalkan pernikahan kita, tapi kamu juga mengerti 'kan sekarang Anna membutuhkanku?" Ucap Juna yang melanjutkan kalimat sebelumnya, tapi sebenarnya bukan itu yang ingin Juna katakan kepada Keana sekarang.
Juna mengejar Keana supaya Keana tidak salah paham, Juna memang mengatakan tidak akan menikahi Keana dalam situasi seperti sekarang, tapi Juna juga tidak pernah mengatakan akan membatalkan pernikahannya dengan Keana.
Keana bisa melihat Juna membuang nafas, lalu perempuan itu memberanikan dirinya memegang tangan Juna dan menepuknya perlahan. Keana masih bisa berusaha menenangkan Juna disaat hatinya saja sedang hancur dan berantakan.
"Tidak usah terlalu memikirkan pernikahan kita, aku tahu nona Joanna sangat membutuhkanmu sekarang, lebih baik kamu fokus saja pada nona Joanna dan juga kesembuhannya." Ucap Keana berusaha menunjukkan senyuman terbaiknya.
Dalam hatinya, Keana meminta Juna memikirkan sedikit saja tentang hatinya, tidak ada perempuan yang akan serius menginginkan calon suaminya memikirkan perempuan lain, apalagi mengingat hubungan Juna dan juga Joanna di masa lalu.
Juna merasa serba salah mendengar perkataan Keana barusan, ada bagian dari hatinya yang kurang menyetujui hal itu. Juna tidak mungkin tidak memikirkan pernikahan mereka, tapi Juna setuju untuk memikirkan kesembuhan Joanna.
"Besok kita akan tetap ke toko perhiasan untuk memesan cincin pernikahan, baru setelah itu aku akan pergi ke rumah sakit menjenguk Anna, kamu bisa ikut kalau tidak keberatan." Ucap Juna tanpa berpikir panjang karena pikirannya sangat kacau.
"Maaf, tapi sepertinya aku tidak bisa menjenguk nona Joanna ke rumah sakit, kita juga sebaiknya tidak pergi ke toko perhiasan." Ucap Keana masih dengan tangannya yang berada diatas tangan Juna, tapi tidak lama dia melepaskan tangan itu.
Sebut saja Keana perempuan munafik, memang benar dia mengatakan lebih baik tidak pergi ke toko perhiasan, tapi hati kecilnya tidak berkata demikian. Keana ingin pergi ke toko perhiasan dan memesan cincin untuk pernikahan mereka.
Keana bisa melihat Juna menghela nafas, lalu laki-laki itu beranjak dari tempat duduk dan menghampiri Keana. Tidak lama setelahnya Keana merasa sebuah kehangatan sekaligus ketenangan, Juna memeluknya dari belakang.
"Besok kita akan pergi ke toko perhiasan sesuai rencana, dua bulan itu waktu yang singkat, aku takut cincinnya belum selesai dibuat kalau kita tidak memesan besok." Ucap Juna nyaris berbisik di telinga Keana dan membuat Keana merinding.
Keana bisa merasakan nafas Juna menyentuh permukaan kulit lehernya sehingga menciptakan sensasi yang cukup aneh, disaat bersamaan Juna mengeratkan pelukannya dan meski Keana ingin melepaskan dirinya, Keana tidak melakukannya.
"Sayang." Panggil Juna lembut dan saat Keana menoleh, dia langsung mencium bibir ranum itu tanpa permisi dan membuat sang empu melotot. Juna menekan tengkuk Kena untuk memperdalam ciumannya, tanpa memperdulikan reaksi Keana.
Keana tidak membalas ciuman Juna, tapi Keana juga tidak menolak itu, malah menerimanya dan bahkan menikmatinya. Tidak apa-apa kalau pada akhirnya Juna akan membatalkan pernikahan itu, mungkin memang takdir mereka tidak menikah.
Meski Juna terus berusaha meyakinkan Keana bahwa mereka akan tetap menikah, tapi Keana berpikir realitas, Juna pasti akan kembali pada Joanna saat perempuan itu sembuh dan Keana tetap menjadi orang yang akan dibuang Juna.
"Aku dan Joanna sudah putus, sementara kamu adalah perempuan yang akan menjadi istriku, meski dunia mengira kamu selingkuhanku, tapi bagiku kamu tetap menjadi calon istriku dan dalam dua bulan kita akan menjadi suami-istri."
Keana tidak tahu maksud perkataan Juna, tapi hal itu tidak mengubah pandangannya, Keana tetap percaya Juna akan meninggalkan dirinya ketika Joanna sembuh nanti, mungkin sekarang Juna hanya sedang antisipasi barangkali Joanna mati.
Keana berani menyimpulkan bahwa alasan Juna dan Joanna putus karena mantan kekasih Juna itu sakit, tapi semuanya akan kembali ketika Joanna sembuh, bisa dibilang keberadaan Keana hanya sebagai pengganti kalau Joanna tidak sembuh.
"Baiklah, besok kita berdua akan pergi ke toko perhiasan, tapi aku tidak bisa menemanimu ke rumah sakit, kamu bisa pergi sendiri 'kan?" Putus Keana akhirnya, lagipula mana ada orang yang mau berada diantara orang yang saling mencintai.
"Sekarang lebih baik kamu minum kopinya, aku takut keburu dingin, nanti tidak enak diminum." Keana menyarankan itu karena posisi Juna masih memeluknya dari belakang, mereka juga saling menatap dalam posisi itu dan membuatnya pegal.
"Hm, baiklah." Juna mengecup sekilas bibir Keana sebelum benar-benar melepaskan perempuan itu dari pelukannya. Dia merasa lebih lega sekarang, Keana sepertinya sudah mulai memahami situasi mereka, syukurlah Keana memang pengertian.
Juna kembali ke tempat duduknya, bisa dilihat wajah bahagia terlukis di wajah tampannya. Juna tidak langsung pergi ke rumah sakit menjenguk Joanna karena masalahnya dengan Keana belum selesai, tapi setelah ini Juna bisa menjenguknya.
"Oh ya, mulai besok sebaiknya kamu cuti." Ucap Juna setelah mengesap kopinya. Keana nyaris saja tidak mempercayai telinganya, sebenarnya peran seperti apalagi yang harus Keana mainkan, tidak cukup Keana mendapatkan peran menyakitkan?
"Hati-hati di jalan." Ucap Keana yang berusaha untuk tetap menunjukkan senyuman palsunya. Dia akan benar-benar menjadi pengangguran mulai besok, Juna menyuruh cuti meski Keana sudah memohon untuk membiarkannya bekerja.
"Baiklah, kamu juga jangan lupa untuk menjaga dirimu dan ingat jangan membuka pintu kecuali aku yang mengetuk pintu apartemenmu." Ucap Juna berusaha mengingatkan apa yang sudah mereka bahas, itu juga demi kebaikan Keana.
Keana sudah terkenal sebagai selingkuhan Juna oleh banyak orang, makanya Juna menyuruhnya untuk tidak membuka pintu kecuali Juna yang datang. Keana hanya mengangguk meresponnya, setelahnya Juna pergi meninggalkan tempat itu.
Keana menatap kepergian Juna sampai laki-laki itu menghilang dari pandangannya, dia berbalik dan berniat masuk ke dalam apartemennya, tapi sebuah suara yang sangat tidak asing menyapa telinganya dan membuatnya menahan langkah.
"Sayang, kamu baik-baik saja?" Tanya seseorang itu, Keana bisa melihat orang yang paling ingin dihindarinya namun selalu Keana rindukan. Dia adalah Lee Jung Hwa, ayah kandung Keana yang menetap di Korea, pemilik perusahaan besar.
"Papah ..." Keana tidak bisa lagi membendung air matanya dan memeluk sang papah. Keana tidak baik-baik saja, sekeras apapun Keana berusaha, kenyataannya Keana tidak bisa untuk baik-baik saja, hatinya yang sudah hancur semakin hancur.
Juna dan yang lainnya mungkin melihat Keana sebagai perempuan kuat, tapi sebenarnya Keana adalah perempuan paling lemah, bahkan dulu Keana merupakan anak manja, Keana seperti sekarang karena ada masalah dengan ayahnya.
"Kenapa menangis, hm?" Tanya Jung Hwa sambil membalas pelukan Keana dan mencium puncak kepala anak tunggalnya itu. Jung Hwa tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi Jung Hwa yakin ada hubungannya dengan berita yang heboh hari ini.
Jung Hwa sedang ada pertemuan bisnis di Jakarta, tanpa disangka ada berita yang membawa nama anak perempuannya. Jung Hwa langsung pergi ke apartemen Keana dan membatalkan pertemuan dengan rekan bisnisnya setelah mengetahuinya.
Jung Hwa tidak mengerti mengapa Keana sampai diberitakan sebagai selingkuhan Juna, pasalnya Jung Hwa tahu betul anaknya itu bekerja sebagai sekretaris Juna dan Jung Hwa juga tahu kalau Keana selalu mendampingi Juna sebagai bosnya.
Tapi entahlah! tidak akan ada asap kalau tidak ada api, mungkin saja memang Keana dan bosnya memiliki hubungan, apalagi Jung Hwa barusan tanpa sengaja berpapasan dengan mantan calon menantunya itu, sepertinya memang ada sesuatu.
"Ana!" Suara itu berhasil menginterupsi kedua orang yang sedang saling berpelukan, Keana yang belum sempat menjawab pertanyaan Jung Hwa melepaskan pelukannya dari sang ayah dan menatap Rafael yang barusan memanggilnya.
Rafael membeku melihat siapa yang berdiri di hadapan Keana, Rafael mengenal siapa orang itu dan melihat Keana memeluk Jung Hwa membuat Rafael yakin sahabatnya itu tidak baik-baik saja sampai mau memeluk orang yang dibencinya.
"Lama tidak bertemu, Raf. Bagaimana kabarmu? saya dengar kamu akan menikah?" Tanya Jung Hwa yang Rafael yakini hanya basa-basi, karena Jung Hwa lah yang mengatur sendiri perjodohan Rafael dengan Amelia, itu yang Rafael ketahui.
"Maaf, bukankah seharusnya anda bertanya kabar putri anda sendiri? saya yakin putri anda sedang tidak baik-baik saja sekarang!" Ucap Rafael sedikit menyindir Jung Hwa, karena Jung Hwa lah alasan dibalik semua yang sedang Keana alami sekarang.
Kalau saja Jung Hwa tidak menjodohkan Rafael dengan perempuan lain ...
Kalau saja Jung Hwa mengizinkan Rafael dan juga Keana untuk saling mencintai ...
Kalau saja ... mungkin Keana tidak harus memilih Juna dan mengalami semua ini.
Rafael dan Amelia baru pulang setelah membagi undangan saat mereka berpapasan dengan Keana tadi, dia baru tahu berita yang membawa nama Keana barusan, makanya Rafael membiarkan Keana bersama Juna dan meninggalkan mereka.
Tapi, setelah Rafael tahu berita yang membawa nama Keana, dia menyesal sudah membiarkan Keana dan Juna begitu saja, seharusnya Rafael melarang Juna mendekati Keana, bahkan kalau bisa pergi sejauh mungkin dari sahabatnya itu.
"Kamu masih tidak menyukai saya rupanya."
~TBC
Terimakasih sudah membaca It's Okay, That's Fate. Mari berhubungan baik antara penulis dan pembaca. Jangan lupa juga untuk memberi dukungan kalian terhadap karyaku. Makasih 💙
Oh ya, ada kabar baik buat kalian pengguna aplikasi noveltoon, kalian bisa masuk ke dalam grupku, supaya kita semua bisa lebih dekat 🤭
Regards,
Nur Alquinsha A | IG: light.queensha