It'S Okay, That'S Fate

It'S Okay, That'S Fate
IOTF #28



Keana kembali ke mansion membawa kantong plastik. Juna menyambutnya di teras, ternyata Juna datang lebih cepat dari perkiraan. Keana sudah berusaha kembali ke mansion sebelum Juna pulang, tapi ternyata Keana kurang cepat.


Keana menghentikan langkahnya di depan Juna sambil menenteng kantong plastik dan tersentak saat Juna tiba-tiba saja memeluk tubuhnya. Juna mencium puncak kepala Keana dan itu membuat Keana tersenyum sambil membalas pelukannya.


"Kenapa, hm?" Tanya Keana mengusap punggung Juna perlahan, dia masih belum terbiasa dengan sikap Juna, tapi tahu ada sesuatu yang membuat Juna memeluknya seperti ini. "Oh ya, aku punya minuman soda dan keripik kentang, kamu mau?"


Juna tidak menjawab, hanya semakin mempererat pelukannya pada tubuh Keana. Sebelum Keana datang, Juna sempat memarahi maid yang sudah membiarkan Keana pergi keluar sendirian. Karena khawatir terjadi sesuatu kepada calon istrinya itu.


Juna tahu Keana hanya pergi ke mini market, tapi tetap saja Juna merasa khawatir. Juna takut akan ada orang yang berniat melukai Keana, makanya Juna sampai memarahi maid. Juna terlalu takut kalau dirinya sampai gagal menjaga Keana lagi.


"Baiklah, mau berapa lama lagi kamu memelukku seperti ini?" Tanya Keana saat Juna masih terus memeluk tubuhnya tanpa mengatakan apapun. Bukan tidak mau dipeluk, malah Keana suka Juna memeluknya, tapi sekarang situasinya berbeda.


Keana melihat pintu mansion terbuka dan disana ada maid yang sedang melihat mereka dari dalam mansion. Keana tidak nyaman, ditambah dengan Juna yang membuatnya susah bernafas sehingga Keana ingin segera mengakhiri pelukan mereka.


"Kenapa ponselmu tidak aktif?" tanya Juna masih dengan tangan yang memeluk Keana. Juna tidak terlalu memperdulikan pertanyaan Keana. Keana menghela nafas dan menekan kata sabar dalam hatinya supaya tidak sampai mendorong Juna.


"Mungkin ponselku kehabisan baterai. Sekarang bisa lepaskan pelukanmu, sayang?" Ucap Keana menekankan kata terakhir. Keana benar-benar sudah tidak tahan dipeluk oleh Juna seperti itu, karena maid di dalam mansion melihat mereka.


Juna tersenyum mendengar kata sayang keluar dari mulut Keana, ini adalah pertama kalinya Keana memanggil Juna sayang dan suara Keana terdengar indah di telinga Juna, lalu laki-laki itu melepaskan pelukan mereka dan menatap Keana.


"Kamu bilang apa tadi?" Tanya Juna menatap ke dalam mata Keana sambil memegang kedua sisi wajah perempuan itu. Kening Keana berkerut, dia kurang memahami maksud Juna sampai laki-laki itu kembali bicara. "Kamu memanggilku sayang?"


Keana berdehem pelan, ekspresi wajah yang Juna tunjukkan membuatnya salah tingkah, terlebih Juna terlihat senang sekali mendengar Keana memanggil laki-laki itu dengan sebutan sayang. Keana sepertinya sudah melakukan kesalahan.


"Baguslah, ada sedikit kemajuan." Juna mengusap sayang puncak kepala Keana, lalu menggandeng Keana masuk ke mansionnya. Juna terlalu senang dengan kemajuan dalam hubungannya bersama Keana sampai hampir melupakan hal terpenting.


"Oh ya, aku hampir saja lupa." Juna menghentikan langkahnya sejenak dan menghadapkan tubuhnya kepada Keana. "Lain kali kamu tidak boleh keluar sendirian, kamu bisa meminta siapapun yang ada disini untuk mengantarmu atau telpon saja aku."


Keana menatap ke dalam mata Juna, dia tidak berani membantah Juna, tapi besok Keana sudah harus kembali ke Paris dan itu artinya Keana akan keluar mansion tanpa ada yang mengantar atau apapun itu, apa mungkin Juna melupakannya?


"Bukankah tadi kamu ada rapat, bagaimana bisa aku menelponmu?" Hanya itu yang bisa Keana katakan untuk menanggapi perkataan Juna, lalu Keana mengalihkan pandangannya kearah lain dan menurunkan tangan Juna dari wajahnya.


"Juna, besok aku juga akan kembali ke Paris, apa kamu lupa?" Tanya Keana sambil melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda. Keana hanya menahan nafasnya sejenak melihat maid disana menunduk saat Keana melangkah di depannya.


Keana menebak Juna sudah memarahi maid itu, dia tahu betul orang seperti apa calon suaminya, Juna akan memarahi orang disekitarnya kalau ada sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendaknya. Anehnya, itu tidak pernah berlaku untuk Keana.


Juna tidak pernah memarahi Keana meski Keana melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendaknya. Bahkan Juna tidak segan meminta maaf kepada Keana setiap Juna sudah marah di depan perempuan itu, begitulah Juna selama ini.


Tidak heran banyak karyawan yang mengira Juna dan Keana memiliki hubungan khusus, memang selama ini Keana selalu mendapatkan perlakuan khusus. Keana tidak tahu mengapa perlakuan Juna padanya berbeda, tapi begitu kenyataannya.


"Tunggu!" Ucap Juna membuat Keana menahan langkahnya. Juna berjalan cepat mengejar Keana yang sudah lumayan jauh darinya. Juna berdiri di depan Keana dan menatap perempuan itu serius. "Apakah kamu benar-benar ingin pergi ke Paris?"


"Kamu kenapa, Juna? kita sudah sepakat, sebelum menikah aku akan liburan di Paris!" Ucap Keana dan memberanikan dirinya menatap laki-laki di depannya. Keana tidak terlalu ingin liburan, dia hanya ingin meyakinkan keputusannya sendiri.


Menikahi laki-laki yang sudah menyakiti hatinya sekaligus penyebab dari hal buruk yang sudah di alaminya bukanlah keputusan yang mudah untuk Keana ambil. Keana tidak bisa tidur semalaman hanya untuk mengambil keputusan tentang itu.


Tapi, cinta mengalahkan sakit hati dan semua hal buruk yang dialami olehnya, Keana memutuskan untuk memaafkan Juna dan memulai semuanya dari awal. Selain liburan, tujuan utama Keana pergi ke Paris adalah meyakinkan keputusannya.


"Kalau kamu mau, kita bisa bulan madu ke Paris, kita akan menghabiskan waktu berdua selama yang kamu inginkan disana. Atau mungkin kamu mau bulan madu ke negara lain? kamu sebutkan saja kemana itu, aku pasti akan menyetujuinya."


Keana terdiam cukup lama dan mendengarkan perkataan Juna sampai selesai, tidak disangka Juna mengiming imingi bulan madu ke negara yang Keana inginkan. Tapi Keana tidak akan lemah hanya karena Juna mengatakan hal itu.


"Barangku masih ada di Paris, bahkan sekarang aku memakai kemejamu." Ucap Keana yang secara tidak langsung menolak tawaran Juna. Keana mengaku tertarik dengan tawaran Juna, tapi tidak mungkin Keana melupakan tentang barangnya.


Juna memperhatikan penampilan Keana dan baru menyadari Keana memakai kemeja putih miliknya yang terlihat kebesaran di tubuh perempuan itu. Juna beralih menatap wajah Keana tajam, Juna tidak percaya Keana keluar mansion tanpa celana.


"Apa? aku memakai celana kak Arumi! karena kak Arumi tidak ada di mansion, aku meminta maid mengambilnya untukku setelah meminta ijin kepada kak Arumi." Keana bicara panjang lebar seolah mengetahui yang Juna pikirkan sekarang.


Juna bernafas lega mendengarnya, tidak bisa di bayangkan bagaimana mata laki-laki di luar sana kalau Keana tidak memakai bawahan keluar dari mansion. Terlebih Juna ingat bagaimana mata kasir mini market yang dekat mansionnya itu.


"Maaf, aku tidak meminta ijin padamu sebelum meminjam kemeja." Suara Keana menjadi rendah karena Juna terdiam, Keana takut Juna keberatan kemajanya di pinjam, tapi mau bagaimana, tidak ada atasan milik Arumi yang sesuai dengannya.


"Tidak apa-apa, lagipula kemejanya terlihat pas di tubuhmu." Juna tersenyum dan mengusap kepala Keana lembut. Juna tidak serius mengatakan itu, calon istrinya terlihat lucu memakai kemeja yang membuat tangannya tidak terlihat sedikit pun.


"Oh ya, karena besok kamu akan kembali ke Paris, bagaimana kalau hari ini kita ke butik kak Rumi untuk fitting baju pengantin?" Tanya Juna dan berusaha untuk melupakan pembahasan mereka sebelumnya tentang kepergian Keana ke Paris.


"Kak Rumi ingin membuat sendiri gaun pengantin untukmu dan dia butuh ukuran tubuhmu supaya gaunmu cepat selesai." Juna menjelaskan kalimat sebelumnya dan membuat mereka terdiam dalam waktu lama, keduanya hanya saling menatap.


Sementara itu Maid yang tadi membiarkan Keana keluar dari mansion itu masih setia di tempatnya berdiri, maid itu belum menerima perintah untuk pergi, makanya sekarang masih berdiri disana dan berusaha untuk tidak melihat kearah majikannya.


"Baiklah, kalau begitu kita akan pergi ke butik kak Arumi, tapi nanti setelah aku menghabiskan ini, bagaimana?" Keana akhirnya kembali bicara dan menunjukan kantong plastik di tangannya, lalu Juna tersenyum dan mengiyakan ajakan Keana.


Dan di tempat lain, lebih tepatnya di perusahaan, Willis tidak henti-hentinya menggerutu karena harus mengerjakan pekerjaan yang sudah Juna tinggalkan, tapi meski sambil menggerutu Willis tetap menyelesaikan pekerjaan itu dengan baik.


Willis menarik nafas sebentar, lalu mengambil ponsel dari saku jasnya dan mengetikan sesuatu disana. Willis berpikir keras saat mengetik pesan untuk seseorang, bahkan dia sampai berkali-kali menghapus pesan itu karena kurang percaya diri.


"Haish, sudahlah. Aku tidak peduli kalau gadis itu mengakhiri kesepakatan kita. Angel bisa mencari ibu lain, terserah apapun yang ingin si bodoh itu lakukan. Aku tidak peduli." Willis melemparkan ponselnya keatas meja dan mengacak rambutnya.



"Gilang, apa yang kamu lakukan di butik kakakku? dan tadi kamu memanggil kak Rumi sayang? aku tidak salah dengar, heh?!" Tanya Juna beruntun mengintimidasi Gilang yang sekarang duduk di depannya. "Kak Rumi, bisa tolong jelaskan ini?"


Juna beralih kepada Arumi yang sekarang duduk disamping Gilang. Karena Gilang tidak menjawab, Juna akhirnya bertanya kepada kakaknya sendiri. Sementara Keana hanya duduk cantik disamping Juna dan membiarkan Juna bicara dengan Arumi.


Juna datang ke butik Arumi bersama Keana untuk fitting baju pernikahan mereka. Saat tadi Arumi sedang mengukur tubuh Keana, tiba-tiba Gilang datang dan memanggil Arumi dengan sebutan sayang, seperti pasangan yang sedang pacaran.


Sebenarnya, tidak masalah jika Arumi dan Gilang memang memiliki hubungan. Tapi Arumi adalah kakak kesayangan Juna, setidaknya Juna harus tahu dengan jelas hubungan seperti apa yang sedang Gilang dan kakak perempuannya jalani.


Juna bisa melihat Arumi menoleh kearah Gilang, lalu Arumi mengangguk dan memegang tangan laki-laki itu, semakin memperkuat dugaan Juna mengenai Arumi dan Gilang yang menjalin suatu hubungan. Atau biasa kita sebut sebagai pacaran.


"Bagini, aku dan Gilang sudah lama pacaran, tapi aku minta padamu, tolong jangan memberitahu mamah dan papah tentang ini, aku takut mereka tidak menyetujui hubungan kami, makanya aku dan Gilang pacaran diam-diam." Jawab Arumi.


Juna mendesah pelan, ternyata benar dugaannya, Gilang dan Arumi pacaran, pantas saja kakaknya itu terus menatap kearah Gilang saat pemakaman Joanna beberapa hari yang lalu. Juna sudah lama curiga dan semua menjadi begitu jelas sekarang.


"Baiklah, aku tidak mau ikut campur dan tidak akan memberitahu mamah atau papah, tapi ..." Juna menggantungkan kalimatnya dan menatap Gilang dengan tatapan yang sulit diartikan. "Aku akan mengawasimu mulai sekarang, kakak ipar."


Gilang dan yang lainnya tertawa, entah darimana letak lucu dari perkataan Juna barusan, yang jelas Keana bersyukur tidak terjadi drama keluarga dan itu artinya Keana tidak harus pusing. Padahal tadi Keana sudah bersiap untuk segala kemungkinan.


Juna tidak tahu alasan Arumi menyembunyikan hubungannya dengan Gilang, tapi Juna yakin sang kakak memiliki alasan yang kuat untuk itu, Juna percaya keputusan kakaknya adalah yang terbaik, Arumi pasti akan memberitahu semuanya nanti.


"Kak Rumi, saat kecil kakak selalu menjagaku, sekarang giliran aku yang akan menjaga kakak, aku tidak akan membiarkan siapapun membuat kakak sedih." Ucap Juna pada detik berikutnya. Keana menoleh kearah laki-laki itu karenanya.


Setahu Keana, Juna dan Arumi sering berdebat karena hal-hal kecil, tidak disangka dibalik itu semua Juna begitu peduli terhadap kakaknya. Juna hanya memiliki satu kakak, pasti saat kecil keduanya selalu bersama dan saling menjaga.


"Juna, aku tahu kamu sedih karena besok Audie akan kembali ke Paris, tapi jangan mengatakan hal aneh, aku merinding mendengarnya." Ucap Arumi yang membuat suasana haru itu berubah begitu menjengkelkan bagi sang adik laki-laki.


"Jangan mengejekku seperti itu, kak Rumi. Aku dan Audie akan menikah, tidak masalah berpisah sebentar, baru nanti kami akan menghabiskan waktu bersama." Juna menanggapi perkataan Arumi dengan wajah yang menahan rasa kesal.


Juna hanya pencitraan supaya Arumi berhenti mengejeknya, kakaknya memang menyebalkan, bisa-bisanya mengatakan itu disaat Juna serius. Keana dan Gilang mati kutu, karena pasangan mereka sedang berdebat sebagai kakak beradik.


"Seriously? kamu yakin Audie akan kembali dan menikah denganmu, huh?" Perdebatan Arumi dan Juna tidak berhenti disitu, mereka berdebat untuk sesuatu yang tidak bisa di mengerti oleh pasangan masing-masing dan berlangsung lama.


~TBC


Siapakah gadis bodoh yang Willis maksud? apa artinya dari ibu Angel? lalu bagaimana kisah Juna dan Keana setelah Keana kembali ke Paris nanti? lalu, bagaimana nasib cinta Arumi dan Gilang?


Terimakasih sudah membaca It's Okay, That's Fate. Mari berhubungan baik antara penulis dan pembaca. Jangan lupa juga untuk memberi dukungan kalian terhadap karyaku. Makasih 💙


Regards,


Nur Alquinsha A | IG: light.queensha