
Dalam sebuah ruangan di sebuah perusahan, dua orang laki-laki sedang terlibat suatu pembicaraan yang mereka sebut obrolan antar laki-laki sampai akhirnya suara ketukan pintu membuat obrolan itu terhenti dan salah satu dari mereka merespon.
"Masuk!" Ucap laki-laki tampan dengan setelan jas berwarna biru tua, lalu tidak lama seseorang memasuki ruangan tersebut, perempuan cantik dan menawan dengan pakaian casual. Keduanya nampak terkejut melihat perempuan cantik itu.
"Selamat pagi, Pak. Saya Keana, orang yang mulai sekarang akan menggantikan pekerjaan pak Tony sebagai sekretaris anda. Mohon bantuannya, saya berjanji akan bekerja keras." Ucap perempuan itu membuat kedua laki-laki disana saling menatap.
"Juna, bukankah kamu tidak menerima sekretaris wanita?" Tanya salah satu laki-laki di ruangan itu berbisik kepada sahabatnya yang bernama Juna, tapi Juna tidak terlalu mendengarkan sahabatnya dan mengarahkan pandangannya kepada Keana.
"Baiklah, Tony sudah memberitahu pekerjaanmu kan?" Ucap Juna membuat sahabatnya mendesah, berpikir Juna belum melupakan cinta pertamanya yang tidak lain adalah Keana, perempuan cantik yang saat ini sedang berdiri di hadapan mereka.
"Sudah, pak." Jawab Keana, dia memang dikenal tidak banyak bicara dan Juna bisa memahaminya sebagai laki-laki yang pernah menyukai Keana di masa lalu. Setelah sekian lama mereka berpisah karena lulus kuliah, akhirnya sekarang bertemu.
"Kalau begitu kamu bisa ke tempatmu dan mulai melakukan pekerjaanmu." Ucap Juna datar. Keana mengangguk dan pamit sebelum akhirnya keluar dari ruangan yang merupakan ruangan kerja Juna itu, sehingga hanya tersisa dua laki-laki disana.
"Oh, apa tidak salah? kamu menerima sekretaris wanita, karena dia mantan kamu? ah maksudku, mantan gebetan kamu!" Ucap sahabat Juna dan membuat Juna menunjukkan tatapan tajamnya. "Kenapa menatapku seperti itu? aku benar kan?"
Juna memutar mata malas.
"Sudah waktunya kamu pergi dari ruanganku dan kembali ke ruanganmu, Willis." Ucap Juna tanpa menanggapi perkataan Willis. Juna tidak tertarik untuk membahas masa lalunya, apalagi tentang mantan gebetan yang sedang Willis bicarakan.
"Oh ayolah, kamu tidak perlu malu mengakuinya, tidak salah kalau benar kamu belum melupakan Ana, aku tahu Ana cinta pertamamu, pasti sulit sekali melupakan dia." Ucap Willis melipatkan tangan di depan dada dan menatap intens Juna.
"Apa yang kamu bicarakan?!" Tanya Juna seakan tidak mengerti arah pembicaraan Willis, padahal dalam hati Juna membenarkan itu, rasanya sulit sekali melupakan Keana sebagai orang pertama yang mengisi hatinya, tapi tidak ingin mengaku.
Lagipula, Juna sudah memiliki Joanna sekarang dan cerita lamanya bersama Keana sudah tidak penting. Satu hal yang harus Willis tahu, Juna sudah melupakan Keana. Meski awalnya terasa sulit, tapi semua menjadi lancar berkat Joanna.
"Aku bisa membantu kalau kamu ingin melakukan pendekatan dengan Ana. Serahkan semua padaku, aku bisa jamin kalian akan bersama." Ucap Willis penuh percaya diri. Padahal Juna sudah meminta Willis untuk pergi dari ruangannya karena malas.
"Jangan membuat lelucon! aku sudah memiliki kekasih sekarang!" Ucap Juna dengan menekan setiap kata. Juna sudah memiliki kekasih dari kalangan artis, selain cantik, kekasihnya tidak kalah baik dari Keana dan Juna mencintainya.
"Benar. Hampir saja aku melupakan kekasihmu, bagaimana kalau kamu akhiri hubungan kalian? aku akan membantumu mendekati Ana setelah kamu dan Anna putus." Ucap Willis terdengar konyol dan tidak masuk akal untuk telinga Juna.
Juna tidak mungkin mengakhiri hubungannya dengan Joanna hanya karena kehadiran Keana dalam hidupnya. Lagipula, mungkin saja Keana sudah memiliki kekasih sekarang atau mungkin parahnya Keana sudah menikah dengan Rafael.
"Hey, aku baru sadar kalau nama panggilan Ana dan kekasihmu sama. Apa ini juga alasan kamu mencintai Anna?" Tanya Willis heboh, ternyata Juna memang budak cinta Keana sampai nama panggilan kekasihnya harus sama dengan Keana.
"Hentikan omong kosong mu itu dan keluar dari ruanganku." Ucap Juna geram dengan perkataan Willis, sahabatnya memang bukan laki-laki baik, tapi Juna tidak menyangka Willis akan memberi saran untuk melakukan hal yang tidak baik juga.
"Sebentar, ini terlalu sulit untuk aku deskripsikan karena kekasih dan mantan gebetanmu memiliki nama panggilan yang sama." Ucap Willis enggan keluar dari ruangan Juna, meski pemilik ruangan itu sudah terlihat ingin memberinya pelajaran.
"Willis, keluar dari ruanganku!" Ucap Juna masih berbaik hati tidak memaksa Willis keluar dengan cara kasar, tapi Willis bukan tipe orang yang akan menurut kalau jiwa resenya itu sedang kumat dan Willis masih duduk santai di sofa ruangan Juna.
"Aku belum selesai--"
"Sekarang!" Ucap Juna menyela perkataan Willis dan menunjuk kearah pintu dengan menggunakan matanya, memberi intruksi supaya Willis keluar. Tapi Willis tidak ingin meninggalkan ruangan itu dan membuat Juna mengepalkan tangan emosi.
"Baiklah, tapi kamu yakin tidak membutuhkan bantuan dariku? aku bisa--"
"Tidak, terimakasih. Kamu bisa pergi dari tempat ini sekarang?!" Ucap Juna menegaskan itu sekali lagi dan kembali menyela perkataan Willis. Ingin rasanya Juna mendorong Willis supaya keluar dari ruangannya, tapi Juna masih menghargai Willis.
Juna tidak ingin mempermalukan Willis di depan teman kampus mereka, Keana, sekretaris pribadi Juna yang baru bekerja hari ini. Atau malah Juna yang tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri karena perasaannya terhadap Keana. Entahlah.
"Kamu terlihat serius, bagaimana kalau aku saja yang melakukan pendekatan dengan Ana? kamu tidak keberatan?" Tanya Willis menggoda Juna, sayangnya iman Juna terlalu kuat, apalagi kalau masalah wanita, Juna tidak akan mudah tergoda.
Juna berbeda dengan Willis yang sering berganti pasangan. Juna termasuk laki-laki langka di muka bumi, laki-laki yang akan setia pada kekasihnya. Meski orang yang dulu mengisi ruang di hatinya hadir kembali, Juna tidak akan pernah berpaling.
"Terserah, asal kamu keluar dari ruanganku." Juna memasang ekspresi datar, seakan tidak masalah kalau Willis benar-benar mendekati Keana. Juna tidak akan terpengaruh karena Keana itu hanya perempuan yang hadir dari masa lalu, tidak lebih.
"Baik baik, tapi tidak perlu marah-marah seperti itu." Ucap Willis beranjak dari tempat duduknya, tapi Willis tidak langsung meninggalkan ruangan Juna, dia terdiam menatap Keana yang berada di luar ruang kerja Juna dan tersenyum penuh arti.
"Keluar!" Ucap Juna jengkel karena Willis belum juga meninggalkan ruangannya dan Juna semakin jengkel saat mengetahui siapa yang sedang Willis pandang. Juna tidak tahu arti tatapan Willis, yang jelas Juna merasa terganggu oleh sahabatnya itu.
"Baiklah, dasar cerewet. Ingat, jangan menyesal kalau aku dan Ana dekat." Ucap Willis dan masih saja belum keluar dari ruangan Juna, lama-lama Juna mungkin harus memanggil pihak keamanan untuk mengusir paksa Willis dari ruangannya itu.
"Tidak akan." Ucap Juna terkesan sangat acuh.
"Sebentar, Juna. Sebelum aku keluar, Kamu lihat kaca disana? kamu bisa puas memandangi Ana dari tempat ini, nanti katakan saja kalau kamu berubah pikiran dan membutuhkan bantuanku. Aku akan selalu siap untuk membantumu, hm?"
Willis kemudian pergi setelah mengatakan hal itu dan meninggalkan Juna yang masih menatap kearah kaca. Willis sengaja ingin menunjukan keseriusannya untuk mendekati Keana dan ingin membuat Juna memikirkan kembali tawarannya.
Juna bisa melihat Willis menghampiri meja kerja Keana dan Willis terlihat mengajak perempuan itu bicara, entah apa yang Willis katakan kepada Keana. Tidak lama Juna melihat Willis menoleh dan menunjukan senyuman seperti meledeknya.
Juna teringat masa lalu mereka disaat Juna hanya bisa memandangi Keana dari jauh, persis seperti yang sedang terjadi sekarang. Bedanya, dulu Juna selalu melihat Keana bersama Rafael, sementara sekarang Keana disana tanpa Rafael di dekatnya.
Juna tanpa sadar menarik sudut bibirnya keatas, akhirnya Keana sendirian tanpa seseorang yang selalu menempel padanya, Rafael, entah kemana perginya sahabat sejati Keana itu, Juna berharap tidak akan bertemu laki-laki pengganggu itu lagi.
"Ah, Juna. Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Juna kepada dirinya sendiri dan mengacak rambutnya frustasi, sepertinya perkataan Willis membuatnya berpikiran aneh. Memang susah memiliki sahabat seperti Willis, perkataannya sering menyesatkan.
"Aku baru sadar kalau nama panggilan Ana dan kekasihmu sama. Apa ini alasan kamu mencintai Anna?" Juna teringat perkataan Willis yang saat ini sangat mengganggu pikirannya. Juna tidak membenarkan itu, tapi tidak bisa menyangkal.
Juna tidak ingat bagaimana dirinya bisa terjatuh kepada cintanya Joanna, yang jelas saat itu Juna sedang putus asa karena cintanya tidak sampai, lalu Juna bertemu Joanna dan perasaan diantara mereka mengalir begitu saja seperti air di sungai.
Juna menggelengkan kepala, pertama bertemu nama panggilan Joanna bukan Anna, melainkan Joanna, waktu itu Joanna tidak punya panggilan khusus dan artinya Juna mencintai Joanna bukan karena nama panggilannya sama seperti Keana.
Dulu, orang pertama kali yang memanggil Joanna dengan nama Anna adalah Juna. Gilang dan yang mengikuti setelah mereka berdua resmi pacaran sehingga tidak mungkin Juna menjadikan nama panggilan itu sebagai alasan mencintai Joanna.
Atau mungkin ... Tidak. Anna adalah panggilan kesayangan Juna untuk Joanna. Tidak ada alasan lain selain itu dan seharusnya Juna tidak pernah terpengaruh oleh perkataan Willis yang sangat kurang ajar itu. Willis tidak mengetahui apapun.
Juna memutuskan keluar dari ruangannya supaya pikirannya teralihkan dari perkataan Willis atau kehadiran Keana. Juna tidak ingin melakukan hal bodoh hanya karena mereka berdua, lagipula Juna sudah bahagia memiliki kekasih seperti Joanna.
Juna menghentikan langkah tepat di depan meja kerja Keana, tujuan Juna keluar dari ruangannya bukan untuk menghampiri Keana, tapi tidak tahu kenapa kakinya mendadak ingin berhenti disana. Juna kemudian mengetuk pelan meja kerja Keana.
"Pak Juna? ada yang bisa saya bantu, pak?" Keana beranjak dari tempat duduk dan menunduk sopan kepada Juna. Jujur, Juna merasa kurang nyaman dengan sikap Keana yang terlewat sopan, Keana sampai harus menundukan kepalanya seperti itu.
"Audie, tolong buatkan saya kopi." Ucap Juna jauh berbeda dengan rencana awal. Juna melihat mata bulat Keana menatapnya, mungkin karena baru saja Juna memanggil perempuan itu Audie, tapi Keana Audie Jovanka memang nama asli Keana.
"Ah, maaf. Kamu tidak keberatan kan kalau saya memanggil kamu Audie? kebetulan nama kamu dan kekasih saya sama, jadi saya tidak mungkin memanggilmu seperti saya memanggil kekasih saya." Ucap Juna dengan wajah tanpa ekspresi.
Juna memaki dirinya sendiri setelah mengatakan itu, tentu saja karena Juna merasa tidak pantas mengatakannya. Juna tahu Keana tidak memiliki perasaan yang sama seperti dirinya, aneh rasanya Juna tiba-tiba membahas nama panggilan Keana.
"Tentu saja tidak, pak. Saya tidak akan keberatan, terserah bagaimana pun anda memanggil nama saya." Ucap Keana masih berusaha untuk sopan meski sebenarnya Keana sedikit keberatan nama panggilannya diubah begitu saja oleh bosnya itu.
Keana tahu kekasih yang Juna maksud itu adalah seorang artis cantik bernama Joanna, tapi nama Keana dan Joanna berbeda, kurang masuk akal rasanya kalau Juna memakai alasan itu supaya bisa memanggil Keana dengan panggilan lain.
Tapi, sebagai seorang bawahan yang baru bekerja, Keana tidak mungkin melakukan protes terhadap bosnya sendiri. Lagipula, Juna hanya mengubah nama panggilan Keana dan itu bukanlah masalah besar, Keana hanya perlu membiasakan dirinya.
"Bagus, sekarang tolong buatkan kopi. Saya akan menunggu di dalam." Ucap Juna kemudian pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban Keana, dia masuk ke dalam ruangannya dengan pikiran yang tambah kacau dan Juna memaki dirinya bodoh.
Juna tidak seharusnya terpengaruh oleh Willis dan satu hal yang baru Juna ingat, Keana tidak mengenalkan dirinya sebagai Ana melainkan Keana, itu artinya Juna sudah mempermalukan dirinya sendiri di depan sekretaris pribadinya.
Andai tadi Juna tidak menghampiri meja Keana, mungkin dia tidak harus mempermalukan dirinya sendiri. Gara-gara perkataan Willis yang sedikit mengganggunya, Juna menjadi kurang waras dan mengatakan hal yang kurang pantas pada Keana.
Tidak lama terdengar suara ketukan pintu disusul oleh Keana yang memasuki ruangan Juna dengan membawa nampan. Juna memperhatikan Keana yang berjalan semakin mendekat sampai akhirnya Juna melihat Keana berdiri tepat di hadapannya.
"Anda membutuhkan yang lainnya, pak?" Tanya Keana setelah meletakan secangkir kopi di meja kerja Juna, tidak ada jawaban untuk waktu yang lumayan lama, Juna hanya diam menatap Keana. "Pak, Juna. Apa ada yang bisa saya bantu lagi?"
Juna mengedipkan mata polos, saling menatap wajah dengan perempuan yang pernah menjadi bagian dalam hatinya membuat jantungnya itu berdetak lebih cepat dari biasanya. Juna sudah melupakan Keana, tapi hatinya masih bereaksi.
"Kalau tidak ada, saya permisi." Ucap Keana pada akhirnya. Keana tidak nyaman kalau terus berada disana dan bertatapan dengan bosnya itu. Keana tidak mau kehilangan pekerjaan hanya karena dia kepergok kekasih Juna dan Joanna salah paham.
Bukankah sudah biasa kekasih direktur cemburu buta kepada sekretaris direktur, lalu si kekasih itu meminta direktur untuk memecat sekretarisnya. Ah, apa itu sulit untuk dimengerti? tapi memang begitulah yang Keana lihat di sinetron-sinetron.
"Tunggu!" Ucap Juna membuat langkah Keana tertahan. Keana membalikan tubuhnya menatap Juna dan saat itu juga Juna lupa apa yang akan dirinya katakan kepada sekretarisnya, padahal tadi perkataan itu tersusun rapih dipikirannya.
"Saya harap kamu betah bekerja disini dan mohon untuk kerja samanya mulai sekarang." Ucap Juna melupakan apa yang ingin dirinya katakan, malah mengatakan hal lain dan Juna merasa semua hal bodoh yang dirinya lakukan itu gara-gara Willis.
"Hm, saya akan bekerja keras supaya anda puas dengan kinerja saya di perusahaan ini dan saya tidak akan membuat anda kecewa." Ucap Keana menanggapi perkataan Juna dengan percaya diri dan membuat Juna tersenyum menatap padanya.
Itulah yang Juna suka dari Keana.
Special Chapter adalah bab-bab yang berisi masa lalu para pemeran atau bagian yang sebelumnya sengaja aku skip. Aku membuat special chapters ini supaya kalian bisa mengenal lebih jauh semua pemeran, jadi aku mohon baca dengan lebih teliti.
Selain penulis, aku juga membaca cerita orang lain dan menurut pengalaman selama membaca cerita orang, aku tidak bisa memahami ceritanya kalau aku melewatkan kata yang tertulis dalam cerita itu, meski hanya melewatkan satu kata.
Jadi, aku harap kalian membaca ceritaku dengan lebih teliti, supaya kalian lebih memahami alur ceritanya. Jangan sampai kalian bertanya tentang hal-hal yang sudah jelas aku tulis. Bukan tidak mau menjawab, tapi kalau sudah jelas aku tulis?
Terimakasih sudah membaca It's Okay, That's Fate. Mari berhubungan baik antara penulis dan pembaca. Jangan lupa juga untuk memberi dukungan kalian terhadap karyaku. Makasih 💙
Regards,
Nur Alquinsha A | IG: light.queensha