It'S Okay, That'S Fate

It'S Okay, That'S Fate
IOTF #34



Keana dan Juna berdiri di depan pusara Joanna, tidak terasa satu minggu lagi mereka akan resmi menjadi pasangan suami-istri, persiapan dalam pernikahan hampir sempurna dan Keana sengaja meminta Juna mengantarnya ke makam Joanna.


Keana tidak bermaksud untuk menguji nyali hati dengan datang ke makam mantan kekasih calon suaminya, justru kedatangan Keana kesana untuk berdamai dengan masa lalu mereka dan sengaja berkunjung ke peristirahatan terakhirnya Joanna.


"Sayang, mana bunganya?" Tanya Keana sambil mengulurkan tangannya kearah Juna, ada sedikit perubahan setelah tiga minggu lamanya, Keana mengubah panggilannya terhadap Juna menjadi sayang. Karena Juna yang menginginkan hal itu.


Juna menarik nafasnya sejenak sebelum akhirnya memberi buket bunga yang sempat mereka beli di perjalanan kepada Keana, bunga itu adalah bunga yang biasa Juna belikan kepada Joanna saat masih pacaran dan sekarang Juna terpaksa membelinya.


Keana mengatakan bahwa masa lalu mereka tidak terlalu penting, yang terpenting masa depan yang sedang menanti mereka. Juna tahu Keana berniat baik mengunjungi makam Joanna, tapi tidak tahu mengapa Juna tidak menginginkan Keana disana.


Terlebih Keana meminta Juna membelikan bunga yang melambangkan cinta yang sempurna, yaitu bunga tulip. Juna merasa keberatan, Keana lebih pantas menerima bunga tulip itu, bukan Joanna. Meski hanya bunga, tetap saja Juna tidak setuju.


"Sayang, aku ingin mengatakan sesuatu padamu, bisa dibilang ini sebuah pengakuan." Ucap Juna saat Keana baru akan meletakan buket bunganya keatas pusara Joanna. Dengan nafas berat, Keana menoleh kepada Juna dan menatap laki-laki itu.


"Kita bisa bicarakan itu nanti---"


"Tidak bisa, aku harus memberitahumu sekarang juga." Ucap Juna memotong perkataan Keana dan sengaja merebut buket bunga dari tangan calon istrinya itu, perkara bunga saja Juna sampai tidak rela kalau bukan Keana yang menerima bunga itu.


"Baik, sebenarnya pengakuan seperti apa yang kamu maksud? ayolah, kita datang kesini untuk berkunjung dan mendoakan mantan kekasihmu, tidak bisakah kita bicarakan nanti saja?" Keana terlihat menahan kesal saat mengatakan hal itu.


"Kenapa kamu suka sekali menyebutnya sebagai mantan kekasihku? tidak bisakah kamu menyebut namanya saja?" Tanya Juna tidak kalah kesal, dia tidak suka setiap Keana menyebut Joanna mantan kekasihnya, meski memang itulah kenyataannya.


"Memang benar Joanna mantan kekasihmu, atau aku salah? kalian belum putus?" Keana bertanya dengan suara yang semakin pelan. Keana kurang sanggup mengatakan kalau calon suaminya dan Joanna belum putus, terasa sangat menyesakkan.


"Ayolah, kamu tahu sendiri aku dan Joanna sudah putus." Ucap Juna dengan suara lirih. Tidak bisa dipercaya, Keana mengatakan hal konyol seperti itu, padahal Keana sendiri menyaksikan momen saat hubungan Juna dan Joanna resmi berakhir.


"Bisa saja kan ..." Keana mengangkat bahu acuh.


"Sudah, jangan berpikir macam-macam, aku dan Joanna sudah putus, itulah kenyataannya." Juna memberikan penekanan disetiap kata, dia tidak suka Keana memiliki pemikiran dangkal tentang hubungannya dan Joanna yang sudah berakhir.


"Baiklah, sekarang kembalikan bunganya padaku! kita sudah tidak memiliki banyak waktu!" Keana berusaha untuk merebut bunga dari tangan Juna, tapi Juna lebih cepat mengangkatnya ke udara sehingga Keana kesulitan untuk mengambilnya.


"Kamu tahu makna yang terkandung dalam bunga tulip? bunga ini melambangkan pernyataan cinta, kepedulian, kemewahan dan secara umum bunga tulip juga melambangkan cinta yang sempurna, kamu ingin memberi bunga ini untuk Joanna?!"


Keana merapatkan mulutnya mendengar semua itu, tidak tahu maksud dari perkataan Juna, yang jelas Keana merasa sedikit tertampar oleh makna bunga yang Juna beli. Keana tidak terlalu paham tentang bunga dan baru tahu makna bunga tulip.


Tapi, Kalau Juna memikirkan makna bunga, lalu bagaimana dengan makna bunga yang setiap hari minggu Juna bawa ke makam Joanna? apa itu juga memiliki makna khusus? Keana butuh seseorang untuk menjelaskannya sekarang! siapapun itu!


Sebenarnya, tujuan Keana datang kesana supaya bisa memantapkan hatinya sendiri atas perasaan yang semakin tubuh untuk Juna. Keana mendapat kabar dari seseorang, Juna seminggu sekali akan berkunjung ke makam Joanna membawa bunga.


Keana tahu, tidak sepantasnya cemburu terhadap seseorang yang sudah meninggal, tapi Joanna ini berbeda. Meskipun sudah meninggal Joanna tetap saja perempuan yang sangat Juna cintai sampai sekarang. Keana tidak bisa untuk tidak cemburu.


Keana berpikir dengan datang ke makam Joanna dirinya akan merasa sedikit tenang. Siapapun bisa berkunjung ke makam Joanna dan membawakan buket bunga, termasuk Keana, tapi ternyata tidak sesederhana itu, bunga sebuah memiliki makna.


"Sayang---"


"Juna, kembalikan buket bunganya!" Ucap Keana memotong perkataan Juna tanpa ingin di bantah. Juna bisa melihat Keana sedang emosi sekarang, apalagi Keana sampai memanggil Juna tanpa ada embel-embel sayang, sudah jelas Keana emosi.


Juna tidak ingin Keana sampai bertambah emosi dan mengembalikan buket bunga di tangannya pada perempuan itu, meskipun dengan setengah hati. Juna lebih suka membawakan Joanna bunga mawar dark pink sebagai ungkapan terimakasih.


Keana berjongkok disamping pusara Joanna dan menyimpan buket bunganya disana, lalu Keana mulai mendoakan Joanna tanpa memperdulikan Juna yang masih berdiri saja di tempatnya. Keana berusaha fokus meskipun sedang Juna perhatikan.


Keana berniat melewati tubuh Juna begitu saja setelah urusannya disana selesai, tapi Juna lebih dulu menahan tangan Keana sehingga membuat langkah Keana terhenti. Keana menoleh menatap Juna yang saat itu juga membalas tatapan Keana.


"Juna, aku ingin---" Keana berhenti bicara ketika telunjuk Juna menyentuh lembut bibirnya, lalu Keana merasakan kening Juna menyatu dengan keningnya. Tidak lama tangan Juna beralih dari bibir Keana dan menyentuh pipi perempuan itu.


"Sayang, apa aku melakukan kesalahan padamu? kalau benar, aku minta maaf, kamu katakan saja apa kesalahanku itu, aku berjanji akan berusaha memperbaiki semuanya." Juna membuat Keana merasakan hembusan nafas tepat di wajahnya.


Yang benar saja, Juna bicara dalam jarak sedekat itu, Keana sampai harus menahan nafas ketika Juna bicara tadi, khawatir oksigen mereka akan tertukar nantinya. Keana memejamkan matanya sejenak untuk menghindari tatapan mata Juna.


Tidak lama setelah itu Keana langsung menepis tangan Juna dari wajah dan tangannya membuat Juna menarik bibirnya ke bawah, tapi Keana tidak peduli, Juna harus ingat mereka sedang berada di makam, bisa saja nanti orang lain salah paham.


Ya, meski pemakaman hanya dihuni oleh orang mati, tapi pasti ada saja orang yang berziarah ke makam atau mungkin orang yang bersih-bersih di pemakaman itu. Bagaimana kalau nanti mereka dikira sedang melakukan hal yang kurang baik.


"Kamu ingin membuat orang-orang salah paham dan mengira kita berbuat mesum disini?!" Keana meninggalkan Juna setelah mengatakan itu dan memegang bagian dadanya, dimana jantungnya berada. "Dasar, tidak pernah mengenal tempat!"


Juna sempat terdiam menatap kepergian Keana, sampai akhirnya mengejar perempuan yang sudah mulai menjauh dari pandangannya. Juna langsung menyesuaikan langkahnya dengan Keana setelah berhasil mengejar, lalu mereka berjalan bersama.


"Sayang, aku serius. Kalau aku ada salah padamu, aku minta maaf." Ucap Juna sambil terus berusaha menyesuaikan langkahnya dengan Keana. Keana tidak terlalu mendengarkan perkataan Juna dan terus melangkah keluar dari area pemakaman.


Juna menahan tangan Keana saat perempuan itu hendak masuk ke dalam mobil, masalah mereka belum selesai, Juna tidak bisa pulang begitu saja saat masalah mereka belum diselesaikan, apalagi setelah ini Juna dan Keana tidak akan bertemu.


Jadi, Juna dan Keana dilarang bertemu seminggu sebelum mereka menikah, bisa dibilang sekarang adalah hari terakhir mereka sebelum peresmian hubungan mereka minggu depan. Juna ingin hari ini menjadi berkesan bukan malah bertengkar.


"Sayang---"


"Boleh aku menanyakan sesuatu padamu?" Keana menatap ke dalam mata Juna. Daripada menyiksa diri sendiri dengan segala pemikirannya tentang Juna, sepertinya akan lebih baik Keana bertanya supaya tidak ada kesalahpahaman yang terjadi.


Tidak peduli meskipun alasan Juna mengunjungi makam Joanna dan membawakan bunga adalah cinta. Toh, Joanna sudah meninggal dan artinya mau tidak mau Juna harus melupakan Joanna, hanya saja semuanya itu membutuhkan waktu.


Keana harus ingat dengan tujuan awalnya datang ke makam mantan kekasih calon suaminya, dia ingin berdamai dengan masa lalu. Juna saja bisa berdamai dengan Rafael, masa Keana tidak bisa untuk berdamai dengan masa lalu Juna, Joanna.


"Tentu saja, sayang. Kamu bebas bertanya apapun padaku." Ucap Juna menjawab pertanyaan Keana dan mencubit gemas hidung perempuan itu, lucu sekali Keana saat bertanya barusan, berbeda dari Keana yang dulu menjadi sekretaris pribadinya.


"Kamu sering berkunjung dan membawa bunga ke makam Joanna kan?" Tanya Keana menatap serius laki-laki di depannya. Juna terkekeh, sepertinya Juna tahu alasan Keana emosional akhir-akhir ini, karena tahu dirinya mengunjungi makam Joanna.


"Iya, kamu benar." Jawab Juna tidak berniat untuk menutupi hal itu. Juna dan Keana akan menjadi suami-istri, sudah seharusnya Juna memberitahu Keana segalanya, termasuk tentang Juna yang selama ini sering berkunjung ke makam Joanna.


"Ooo." Keana mengangguk mengerti.


"Setiap aku mengingat Joanna, aku selalu merasa bersalah, makanya setiap akhir pekan aku datang kesini dan membawakan bunga untuknya sebagai permintaan maaf." Ucap Juna disertai senyuman sambil mengingat kembali semua kesalahannya.


Juna merasa harus menjelaskan itu meski Keana tidak bertanya. Sudah dibilang, Juna dan Keana sebentar lagi akan menjadi pasangan suami-istri, tidak boleh ada rahasia diantara mereka, terlebih tentang alasan Juna mengunjungi makam Joanna.


"Aku mencintai teman kuliahku dan perasaan itu tidak pernah tersampaikan. Aku mengira dengan memiliki kekasih, aku bisa melupakan gadis itu. Tapi ternyata aku salah, aku tidak bisa memberi hatiku sepenuhnya pada Joanna karena gadis itu."


Juna tersenyum menatap Keana, pengakuan cinta yang bisa dibilang sangat terlambat itu membuat Juna merasa konyol. Keana tersenyum miris, dia tidak menyangka Juna akan mengatakan hal itu disaat mereka sudah mendekati hari pernikahan.


Keana tidak tahu bahwa gadis yang Juna maksud adalah dirinya, dia langsung membuang wajahnya dari Juna, tidak cukup kuat untuk menatap lebih lama wajah calon suaminya itu, pengakuan Juna sangat melukai perasaan dan harga diri Keana.


Ayolah, Keana kesana bukan untuk mendengar cerita cinta Juna di masa lalu. Keana mengerti alasan Juna sering berkunjung ke makam Joanna, tapi tidak bisa menerima hal lainnya, apalagi tentang gadis yang Juna cintai saat kuliah.


"Tunggu, sayang. Kamu mau pergi kemana?" Juna menahan tangan Keana saat perempuan itu akan pergi, padahal Juna belum selesai bicara, apalagi Keana sepertinya tidak berniat masuk ke dalam mobil, malah berjalan kearah yang berlawanan.


"Sayang, kenapa menangis?" Tanya Juna melihat air mata yang membasahi kedua pipi Keana. Juna menyentuh wajah Keana dan menghapus lembut air mata itu. Bukannya menjawab, Keana malah semakin terisak dan membuat Juna khawatir.


Tahu begini, Juna akan membiarkan Keana masuk ke dalam mobil, daripada harus membuat Keana menangis seperti sekarang. Juna tidak yakin ini salah satu cobaan sebelum menikah, Juna malah lebih percaya itu sebagai bentuk kegagalannya.


"Aku tidak akan mengunjungi makam Joanna lagi, kalau kamu tidak menyukainya, maaf." Ucap Juna mengira Keana menangis karena dirinya sering mengunjungi makam Joanna dan membawakan bunga untuk Joanna. "Tolong jangan menangis."


"Juna, kamu jahat. Aku tidak ingin mendengar itu semua dan aku tidak peduli siapapun perempuan yang kamu cintai saat kuliah. Kita akan menikah dalam hitungan hari, kenapa kamu membicarakan semua itu? bukankah kamu bilang mencintaiku?!"


Juna tersenyum dan membuat Keana tidak habis pikir, bisa-bisanya Juna tersenyum disaat seperti itu, Keana ingin sekali menampar wajah tampan Juna, sayangnya Keana sudah terlanjur mencintai Juna sampai tidak sanggup untuk menyakitinya.


"Gadis itu adalah kamu. Gadis yang sampai detik ini masih memiliki tempat khusus di hatiku itu kamu, sayang. Aku ingin menjadi laki-laki yang selalu ada disampingmu, tapi selalu ada Rafael disana dan Rafael melarangku mendekatimu."


Keana berusaha mencerna perkataan Juna yang seperti sebuah teka-teki yang harus dipecahkan. Keana nyaris tidak mempercayai perkataan Juna, lagipula bagaimana mungkin Juna mencintainya saat kuliah, mereka bahkan tidak terlalu dekat.


"Jadi?" Keana teringat foto yang dirinya temukan di buku Juna dan mengambil foto itu dari dalam tasnya. Kebetulan Keana membawa foto tersebut kemana pun dan Keana langsung menunjukkan itu kepada Juna. "Bisa jelaskan tentang foto ini?"


Juna menatap foto itu dan Keana bergantian.


"Oh, kenapa fotonya bisa ada padamu? aku iseng mengambil gambarmu saat kita di perpustakaan dan menyimpannya. Aku pikir foto kamu hilang, ternyata kamu menyimpannya, syukurlah. Aku tidak ingin kehilangan kenangan kita waktu itu."


Keana dan Juna melanjutkan pembicaraan mereka di perjalanan, mereka memutuskan untuk pulang setelah Keana merasa lebih tenang. Keana hampir tidak mempercayai semua cerita Juna, laki-laki itu ternyata menyimpan begitu banyak rahasia.


~TBC


Fakta tentang Juna yang duluan mencintai Audie akhirnya terbongkar. Keana juga akhirnya datang ke makam Joanna. Kurang greget nangisnya ya ... gagal bikin kalian semua baper deh jadinya.


Terimakasih sudah membaca It's Okay, That's Fate. Mari berhubungan baik antara penulis dan pembaca. Jangan lupa juga untuk memberi dukungan kalian terhadap karyaku. Makasih 💙


Regards,


Nur Alquinsha A | IG: light.queensha