It'S Okay, That'S Fate

It'S Okay, That'S Fate
IOTF #23



Malam ini Juna memutuskan pulang ke mansion dan berniat menceritakan semuanya kepada sang mamah. Juna sudah benar-benar frustasi karena kepergian Keana, dia sudah berusaha menghubungi Keana, tapi nomernya tidak aktif.


"Masih ingat pulang?" Tanya Erina saat melihat anak laki-lakinya datang, dia dan yang lainnya sedang makan malam. Juna menatap sendu sang mamah karena mendapat pertanyaan seperti itu, sepertinya kedatangan Juna tidak terima disana.


Bahkan, Juna melihat Arumi berpura-pura fokus pada makanan dan mengabaikan kedatangannya. Arumi termasuk kakak yang bawel dan banyak bicara, tidak disangka sekarang Arumi berubah pendiam dan tidak bicara apapun kepada Juna.


"Sayang!" Tegur Bisma supaya Erina membiarkan kedatangan anak mereka, bagaimana pun Bisma tahu Erina sangat merindukan Juna, tapi istrinya itu memang terlalu meninggikan egonya. Erina membuang wajahnya dari Bisma karenanya.


"Juna, sudah makan malam?" Bisma beralih pada anak laki-lakinya. Juna tidak menjawab, hanya menatap mamahnya yang terlihat tidak peduli dengan kedatangannya. Bisma menghela nafas, Juna memang lebih dekat dengan mamahnya.


"Audie pergi ke Paris." Ucap Juna mengejutkan semua orang yang berada disana, kecuali Bisma yang memang sudah lebih dulu tahu Keana pergi ke Paris, lalu tidak lama ekspresi wajah Erina dan Arumi berubah menjadi tidak peduli tentang itu.


Jung Hwa sudah menceritakan semuanya kepada Bisma, mereka sudah sepakat akan membiarkan Juna dan Keana menyelesaikan masalah mereka sendiri. Lagipula, Keana hanya liburan di Paris dan akan kembali setelah liburannya selesai.


"Mah, calon menantu mamah pergi, dia bahkan tidak mengabariku." Ucap Juna lagi, kesedihan dan putus ada terlihat di wajahnya, tapi Erina masih saja tidak peduli dan berpura-pura fokus makan, begitu pun yang sedang Arumi lakukan.


Juna mengepalkan tangan dan berusaha untuk menahan air matanya supaya tidak keluar. Sakit rasanya diabaikan oleh mamah sendiri, tapi Juna tidak bisa menyalahkan siapapun sekarang. Juna sadar ini adalah akibat dari perbuatannya sendiri.


"Mamah, aku tahu aku salah, tapi tolong jangan mengabaikanku seperti ini. Aku tidak tahu harus bagaimana sekarang, aku butuh mamah." Juna menunduk, tanpa sadar setetes air keluar dari sudut matanya, Juna menangisi kebodohannya.


"Juna, duduklah. Kita bisa bicarakan itu setelah makan malam." Ucap Bisma menengahi karena Erina masih saja mengabaikan Juna. Sementara Arumi mulai merasa kasihan melihat Juna, baru pertama kali Arumi melihat adiknya menangis.


"Bukankah kamu dan Audie batal menikah? kamu bilang Joanna tidak memiliki siapapun dan kamu tidak mungkin menikahi Audie karena mantanmu itu lebih membutuhkanmu? kenapa kamu harus tidak rela Audie pergi?" Arumi akhirnya bersuara.


"Arumi!" Bisma menegur anak perempuannya dan membuat Arumi bergumam kata maaf, tapi Arumi tidak merasa melakukan kesalahan, Juna memang kurang pantas sedih. Erina tiba-tiba saja beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Juna.


Bisma berpikir Erina akan mengajak anak mereka duduk dan makan malam bersama, tidak disangka ternyata Erina menampar wajah Juna cukup keras sehingga terdengar bunyi yang khas. Bisma dan Arumi saja sampai dibuat terkejut karenanya.


"Erin."


"Mamah."


Bisma dan Arumi bicara secara bersamaan saking terkejutnya, sementara Juna memegang pipinya yang memanas dan menatap sang mamah. Erina berniat menampar kembali anaknya, tapi Bisma lebih cepat datang dan menahan tangan Erina.


"Sayang, apa yang kamu lakukan?" Tanya Bisma masih dengan tangan yang memegang tangan istrinya. Arumi mengikuti Bisma beranjak dari tempat duduknya, lalu berdiri diantara mamah dan adik laki-lakinya, tubuh Arumi bergetar.


Arumi tidak pernah melihat mamahnya semarah itu, sepertinya Juna sudah benar-benar membuat mamah mereka kecewa sampai menerima hadiah tamparan, tatapan sang mamah kepada Juna juga tidak biasa, tatapannya terlihat begitu tajam.


"Tolong kendalikan dirimu, bagaimana pun Juna anak kita. Kamu tidak boleh menamparnya ..."


"Mamah sudah sering mengingatkanmu supaya berhati-hati, kenapa kamu begitu ceroboh sampai banyak orang yang meninggalkan komentar buruk tentangmu di media, huh?" Tanya Erina menyela perkataan Bisma, matanya terlihat ikut berair.


Erina marah bukan karena pertengkaran mereka, tapi karena Juna tidak menjaga dirinya sendiri setelah pertengkaran itu, netizen tidak hanya berkomentar buruk tentang Keana, mereka juga meninggalkan komentar buruk pada anak Erina.


Tidak akan ada ibu yang tega memarahi anaknya sendiri saat anaknya itu terlihat sedih dan putus asa, begitupun dengan yang Erina rasakan, Erina hanya melampiaskan kekesalannya karena anak kesayangannya mendapatkan komentar buruk.


Seperti yang kita semua ketahui, seseorang yang menyayangimu bisa saja memarahimu, bukan karena benci, tapi karena dia tidak ingin kamu tersakiti oleh orang lain. Karena bagaimana pun melihat orang yang kita sayang tersakiti lebih sakit dibandingkan kita merasakannya sendiri.


"Maaf ..." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Juna, tidak lama Juna merasakan pelukan yang sangat dirindukannya, sang mamah memeluknya sambil terisak. Arumi dan Bisma ikut terharu sekaligus merasa lega melihat mereka berdua.


"Mamah tahu kamu laki-laki, komentar seperti itu tidak akan berpengaruh padamu, tapi mamah tidak bisa berhenti memikirkan semua komentar buruk tentangmu. Mamah lebih tahu semuanya, Anna tidak mau memberitahumu penyakitnya."


Ya, komentar buruk yang Juna terima memang tentang netizen yang berpikir Juna meninggalkan Joanna karena tahu Joanna menderita penyakit, makanya Juna berkencan dengan Keana sampai Arumi harus turun tangan untuk meminta maaf.


Rumit, begitulah pikiran netizen, kemungkinan apapun akan mereka pikirkan sampai menemukan titik terang dari masalah yang terjadi di kalangan masyarakat. Bahkan, kebanyakkan dari mereka memuja pikiran sendiri tanpa peduli kenyataan.


"Mamah, Audie ke Paris." Ucap Juna mengulangi perkataan sebelumnya barangkali tadi mamahnya tidak mendengar itu, Juna tidak pernah peduli dengan komentar netizen tentangnya, dia lebih peduli dengan komentar netizen kepada Keana.


Sekali lagi, banyak orang yang tidak tahu tentang Juna yang begitu peduli terhadap Keana, bahkan sampai tidak peduli dengan dirinya sendiri. Juna memang melakukan kesalahan terhadap Keana, tapi Juna tidak sengaja menyakiti perempuan itu.


"Audie ke Paris hanya untuk liburan, kalian akan tetap menikah, kamu tidak perlu khawatir." Ucap Bisma mendahului Erina bicara. Erina melirik Bisma, begitu pun Arumi memberikan tatapan tidak mengerti kepada papahnya, Audie liburan?


"Kalau nanti Audie sampai tidak kembali, papah mendukungmu untuk menjemputnya, kebetulan papah tahu alamat Audie di Paris." Ucap Bisma yang masih belum bisa dicerna oleh pikiran Juna, papahnya itu pasti juga tahu tentang Jung Hwa.


"Pah, papah serius?" Tanya Juna terlewat senang, Bisma mengangguk mengiyakan dan membuat semua orang tersenyum, termasuk Erina dan juga Arumi, mereka senang melihat senyuman di wajah Juna, syukurlah semuanya baik-baik saja.


Juna datang ke tempat orang tuanya karena dia merasa tidak memiliki harapan untuk bertemu Keana setelah perempuan itu pergi dan ternyata kedatangannya kesana tidak sia-sia, Juna bisa bertemu Keana secepatnya dan Juna tidak sabar.


"Papah tidak mungkin bisa membiarkan menantu keluarga ini pergi." Ucap Bisma dengan senyuman dibibirnya, Juna langsung memeluk papahnya itu sebagai ungkapan terimakasih. "Tapi papah tidak akan memberikan alamat itu sebelum waktunya."


Apa?! Juna akan tetap tidak bisa bertemu Keana selama satu bulan ke depan? bercanda kan?!



"Raf, kamu baik-baik saja?" Tanya Amelia melihat laki-laki yang baru resmi menjadi suaminya terus melamun semenjak mereka pulang ke apartemen. Rafael sepertinya belum menerima semuanya, atau hanya statusnya yang belum bisa diterima.


Amelia tahu Rafael masih mencintai Keana, dia sadar suaminya itu tidak mungkin bisa membuka hati untuk dirinya. Rafael pasti terpukul karena kenyataannya Rafael dan Keana sepupuan, tidak heran karena Amelia tahu betul perasaan Rafael.


"Hm. Kemarilah, jangan hanya berdiri disana." Rafael menepuk kasur kosong disampingnya meminta Amelia supaya duduk disana, mereka tinggal di apartemen Rafael dan Rafael sudah sejak tadi menunggu Amelia selesai mandi.


Amelia menuruti Rafael dan duduk disamping suaminya itu, dia hanya memakai jubah mandi dengan handuk diatas kepalanya dan Rafael berinisiatif membantu Amelia mengeringkan rambutnya membuat sang empu terkesiap.


"Rafa ..."


"Aku pesan makanan online, mungkin sebentar lagi makanan kita datang" Hanya itu yang Rafael katakan dan membuat Amelia terdiam. Situasi mereka terasa sangat canggung bagi Amelia, berbeda dengan Rafael yang merasa biasa saja.


"Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan, aku baik-baik saja." Ucap Rafael setelah sekian lama mereka terdiam. Amelia mengangguk mengerti, Rafael sampai heran karena Amelia mendadak kalem, tidak banyak bicara seperti biasanya.


"Hubungan kamu dan Ana ..."


"Tidak begitu buruk menjadi sepupu Ana, dengan begitu aku tidak perlu melihatmu uring-uringan karena cemburu." Ucap Rafael menyela Amelia masih dengan tangan yang mengeringkan rambut istrinya, Amelia memukul pelan tangannya.


"Aku tidak pernah uring-uringan ya."


"Tidak sekali, kamu selalu uring-uringan kalau aku dekat dengan Keana." Ucap Rafael enteng karena memang kenyataannya begitu, Amelia selalu uring-uringan setiap Rafael dan Keana dekat, meski sekedar berangkat kerja bersama.


Sementara itu, Keana baru tiba di hotel sekitar jam enam sore CET (Central European Time) dan baru mengaktifkan ponselnya, tidak disangka Juna mengirim banyak pesan berupa permintaan maaf dan meminta Keana untuk cepat pulang.


Keana duduk di ranjang king size kamar hotelnya sambil membalas pesan dari Juna, dia berkali-kali mengetik dan menghapus pesan itu karena ragu untuk mengirimnya kepada Juna, sampai ada kata yang tepat untuk membalas pesan Juna padanya.


"Kamu tidak perlu meminta maaf." Tulis Keana dan langsung mengirim pesan itu kepada Juna. Dia pikir Juna tidak akan cepat membaca pesan itu karena di Indonesia sudah hampir jam dua belas malam dan mungkin Juna sudah tidur.


Tidak disangka Juna menelponnya dan hampir saja membuat Keana melempar ponsel, berada dalam jarak sejauh itu saja Juna masih membuat perasaan Keana tidak karuan dan jantungnya berdetak kencang hanya karena panggilan telpon.


"Hallo, Juna." Ucap Keana setelah menggeser ikon hijau di layar ponselnya, nada bicaranya terdengar gugup karena itu adalah panggilan pertama dari Juna setelah mereka bertengkar. "Kenapa belum tidur?" Tanyanya basa-basi.


Keana hanya bisa mendengar suara nafas Juna untuk waktu yang cukup lama, Juna tidak bicara dan sekedar menjawab pertanyaannya. Keana semakin merasa canggung karenanya, lalu dia berusaha mencari topik untuk dibicarakan.


"Aku merindukanmu." Akhirnya terdengar suara Juna, namun malah membuat Keana bungkam. Tidak ada yang salah dari pendengarannya kan? barusan Juna mengatakan merindukannya? Keana menanyakan semua itu kepada dirinya sendiri.


~TBC


Kalau dari sisi Keana, Juna itu salah, banget, tapi kalau dari sisi Juna sendiri, Juna gak sepenuhnya salah, bagaimana pendapat kalian tentang ini?


Terimakasih sudah membaca It's Okay, That's Fate. Mari berhubungan baik antara penulis dan pembaca. Jangan lupa juga untuk memberi dukungan kalian terhadap karyaku. Makasih 💙


Regards,


Nur Alquinsha A | IG: light.queensha