
"Ada apa kakak datang ke rumahku sepagi ini?" Tanya Juna duduk di hadapan Arumi. Mereka sedang berada di ruang keluarga, Juna baru saja datang sementara Keana masih berada di kamar membersihkan dirinya. Juna terpaksa meninggalkan Keana di kamar sendirian meski sebenarnya Juna khawatir terhadap istrinya itu.
Sebelum Juna keluar kamar, Keana sempat mengeluh sakit di bagian intimnya, Juna sudah menawarkan diri membantu Keana, tapi Keana menolak dan tetap meminta Juna untuk duluan menemui Arumi, padahal Juna yakin Keana sedang tidak baik-baik saja di kamar. Ah, Juna ingat kalau tadi ada noda darah di sprei mereka.
Apa mungkin darah itu keluar dari bagian intim Keana? tapi Keana tidak sedang datang bulan! Juna tahu karena Keana sudah datang bulan sebelum mereka menikah, bukannya datang bulan memang hanya terjadi satu bulan sekali?
Juna tidak pernah melakukan hubungan intim sebelumnya, berbeda dengan Willis yang sudah berpengalaman, Juna tidak tahu kalau berdarah wajar bagi wanita yang pertama kali berhubungan intim. Bahkan Juna sampai merasa tidak tenang hanya dengan memikirkan darah di sprei. Juna benar-benar mengkhawatirkan Keana, khawatir kalau nanti terjadi sesuatu terhadap istrinya itu.
"Sepertinya kamu tidak suka aku berkunjung ke rumahmu!" Ucap Arumi memecahkan lamunan Juna terhadap Keana. Arumi menghela nafas berat, sudah terjadi sedikit masalah sebelum Arumi datang ke rumah Juna, mood Arumi sedang buruk karena Gilang tidak jadi mengantarnya ke rumah Juna ditambah perkataan Juna barusan.
"Bukan begitu." Ucap Juna diakhiri helaan nafas.
"Lalu?" Tanya Arumi dengan wajah yang tidak enak untuk dilihat.
"Apa terjadi masalah?" Tanya Juna tanpa menjawab pertanyaan Arumi, dia terlalu malas untuk meladeni Arumi yang sedang dalam mood yang tidak baik. Juna sangat mengenal Arumi, mood Arumi akan memburuk dan semakin memburuk kalau mereka terus berdebat, Juna memilih untuk mencari aman dengan tidak memperpanjang perdebatan mereka.
"Tidak. Aku kesini untuk menemui adik ipar. Dia ada di rumah kan?" Tanya Arumi karena Keana belum menunjukan batang hidungnya. Arumi sudah tidak mood berbicara dengan Juna dan ingin mengobrol dengan Keana sebagai sesama perempuan. Karena laki-laki seperti Juna tidak mungkin memahami perasaan Arumi sekarang.
"Oh, istriku ada di kamar." Jawab Juna yang kemudian teringat akan sesuatu.
"Kak Rumi, kado biru muda kemarin dari kakak?" Tanya Juna menatap serius Arumi, padahal mereka hanya membicarakan perkara hadiah yang dikemas dalam kado berwarna biru muda. Juna bisa sangat antusias karena Keana mengatakan hadiah itu dari mamahnya, tapi rasanya mamah mereka tidak mungkin membeli pakaian tembus pandang untuk menantunya.
Arumi mengangkat alis bingung karena pertanyaan Juna, tapi tidak lama Arumi mengerti dan sebenarnya tujuan Arumi ke rumah Juna memang untuk itu, Arumi ingin menanyakan apa hadiah darinya sudah melakukan tugasnya dengan baik, Arumi sudah tidak sabar ingin memiliki keponakan lucu. Andai Gilang tidak membuat Arumi kesal ... Arumi pasti sudah menanyakan itu sejak tadi. Syukurlah Juna mengingatkan.
"Ya, kamu suka? ukurannya juga sesuai kan? aku yakin istrimu seksi memakainya." Mood Arumi seketika membaik hanya karena Juna membahas tentang kado darinya. Arumi berharap kadonya akan berhasil menghasilkan keponakan lucu.
"Tidak buruk." Jawab Juna. Tidak buruk karena kado dari Arumi berhasil membuatnya memiiliki Keana seutuhnya, tapi malah membuat Keana kesakitan. Sebenarnya bukan kado dari Arumi yang membuat Keana merasa sakit, Juna sendiri yang mungkin tadi malam lupa bersikap lembut karena sudah terbawa nafsu, tapi nafsunya berawal dari kado yang Arumi berikan kepada Keana. Ah sudahlah.
"Tapi malam pertama kalian berhasil?" Tanya Arumi bersemangat. Juna sampai harus melihat sekitar barangkali Keana datang, Arumi memang kadang tidak bisa untuk mengontrol suaranya, untung saja Keana tidak ada disana, tidak bisa dibayangkan kalau Keana sampai mendengar pembicaraan mereka.
"Ya, begitulah. Tapi lebih baik kita tidak perlu membahasnya." Ucap Juna menanggapi pertanyaan Arumi. Arumi menahan tawa melihat wajah merah Juna, ternyata adiknya bisa malu juga. Arumi senang bisa melihatnya sekarang.
"Baiklah, tapi apa kamu tidak ingin bercerita sedikit tentang malam pertama kalian, hum?" Tanya Arumi menggoda Juna, bisa dilihat wajah Juna semakin memerah dan mirip kepiting rebus.
"Tidak ada yang perlu aku ceritakan, lagipula sejak kapan pikiran kakak kotor? pasti karena kakak terlalu lama pacaran dengan Gilang!" Ucap Juna membuat mood Arumi kembali turun. Sudah menjadi rahasia publik tentang siapa Gillang, kekasih kakak Juna itu termasuk dalam sebuah perkumpulan yang kebanyakan anggotanya maniak **** dan mungkin saja ... ah, kenapa Juna baru memikirkannya sekarang?!
"Jangan menyebut nama dia." Ucap Arumi berubah datar.
"Kalian bertengkar? apa Gilang berani menyakiti kakak?" Tanya Juna spontan. Meski Arumi sudah melarangnya untuk menyebut nama Gilang, tapi rasa penasaran Juna mengalahkan segalanya.
"Sudah aku katakan, jangan menyebut nama dia. Aku sedang malas dengan apapun yang berhubungan dengannya." Ucap Arumi memperkuat dugaan Juna. Tapi kenapa Arumi dan Gilang bertengkar? apa jangan-jangan ...
"Kakak hamil?" Tanya Juna mengutarakan pikirannya. Arumi menatap Juna dengan mata yang nyaris keluar, sulit dipercaya Juna menanyakan hal yang sudah pasti jawabannya, memang siapa yang sudah menghamili Arumi? pacaran dengan Gilang saja Arumi hanya sebatas ciuman, pernah tidur di apartemen bersama juga hanya sebatas tidur di ranjang yang sama, tidak lebih.
"Kak Arumi hamil?" Tanya Keana yang baru datang. Juna dan Arumi menatap Keana secara bersamaan, Keana terlihat cantik dengan rambut panjangnya yang terurai. Juna langsung menarik pelan tangan Keana supaya duduk disampingnya dan Keana hanya pasrah.
"Tidak, aku tidak hamil, suamimu ini bicara sembarangan." Ucap Arumi menjawab Keana.
"Benar begitu?" Tanya Keana lagi. Keana khawatir kakak iparnya benar-benar hamil, masalahnya mereka lahir dari keluarga yang apapun dirosot media, Keana takut nama baik Arumi di media hancur saat media tahu Arumi hamil diluar nikah dan pasti akan membuat Arumi tertekan. Juna mengusap sayang puncak kepala Keana.
"Ya, sepertinya memang benar begitu. Oh ya, apa kamu baik-baik saja?" Tanya Juna kepada Keana sehingga Arumi terabaikan disana. Keana melirik Arumi sebentar sebelum menjawab pertanyaan Juna, dia merasa ada sesuatu yang terjadi dan mungkin saja Arumi benar-benar sedang hamil.
"Kamu bisa melihatnya sendiri." Ucap Keana membuat Juna spontan melihat ke bagian tengah tubuh Keana. Memang dasar otak Juna sedang kurang beres. Keana buru-buru menutup mata Juna dengan telapak tangannya, Juna bertingkah tanpa melihat situasi, Keana sampai malu sendiri.
"Kalian berdua aneh sekali." Komentar Arumi. Arumi mengerti arah tatapan Juna tadi, hanya saja suasananya akan berubah tidak nyaman kalau Arumi sampai salah bicara, makanya Arumi menyebut Juna dan Keana aneh.
"Adik ipar, bagaimana kalau kita mengobrol berdua?" Tanya Arumi beralih kepada Keana dan membuat tangan Keana turun dari wajah Juna.
"Kak Rumi mengusirku?" Tanya Juna tidak terima. Karena seharusnya yang pergi Arumi bukan Juna, lagipula Arumi yang sudah menjadi pengganggu disana. Keana tidak diberi kesempatan bicara karena baik Juna dan Arumi hanya fokus terhadap satu sama lain.
"Yasudah, aku akan bersiap ke kantor. Tapi kakak tidak pergi ke butik?" Tanya Juna membalikan karena seharusnya butik Arumi sudah buka dari sepuluh menit yang lalu.
"Tidak perlu, aku memiliki karyawan yang bisa diandalkan di butik." Jawab Arumi enteng.
"Cih, baiklah. Sayang, aku akan pergi ke kamar dan bersiap ke kantor." Ucap Juna kemudian mencium kening Keana lembut. Arumi membuang muka melihat momen manis yang mengingatkannya kepada Gilang, sebuah kebiasaan kecil Gilang selalu mencium kening Arumi sebagai bentuk kasih sayang mereka.
"Jangan mengumbar kemersaan di hadapanku, oke?!" Ucap Arumi jengkel, tidak tahu apa Arumi sedang kesal karena Gilang tidak sudi mengantarnya ke rumah baru Juna dan Keana.
"Kalau kakak keberatan, kenapa kakak tidak pergi dan menemui Gilang supaya kalian juga bisa bermesraan?!" Ucap Juna beranjak dari tempat duduknya. Arumi langsung menoyor kepala Juna karena adiknya masih saja menyebut nama Gilang, padahal Arumi sudah memberi peringatan sebelumnya.
"Yak! Tidak bisakah kakak memberi aku harga diri di depan istriku?" Protes Juna tidak terima. Arumi mengangkat bahu acuh, tidak peduli dengan apa yang Juna tanyakan padanya, Juna memang pantas di pukul karena tidak patuh dan Arumi paling tidak menyukai orang yang tidak bisa mematuhinya.
"Tidak." Jawab Arumi acuh dan tidak peduli dengan harga diri Juna di depan Keana. Arumi tidak merasa bersalah, adik seperti Juna memang harusnya diberi pelajaran.
"Juna, apa perlu aku siapkan air hangat untuk kamu mandi?" Tanya Keana menengahi supaya kakak beradik di hadapannya berhenti berdebat. Juna menatap Keana dan tersenyum hangat.
"Tidak perlu, kamu disini saja menemani kakakku. Aku juga akan sarapan di kantor, bibi pasti belum membuat sarapan karena kita baru bangun." Jawab Juna dengan tangan yang menyentuh puncak kepala Keana.
"Aku bisa membuat sarapan untukmu selama kamu mandi dan bersiap." Ucap Keana merasa tidak enak sudah dua kali tidak membuatkan Juna sarapan.
"Terimakasih, tapi tidak usah, aku akan langsung berangkat ke kantor nanti. Kamu bersenang-senang saja bersama kak Rumi." Ucap Juna dan mencium kening Keana untuk kedua kalinya sebelum pergi meninggalkan ruang keluarga. Arumi bernafas lega melihat Juna akhirnya pergi. Keana menatap Arumi setelah Juna tidak terlihat.
"Oh ya, apa yang ingin kakak bicarakan?" Tanya Keana sambil melirik meja yang belum ada makanan atau minuman, padahal Keana ingat Juna meminta asisten rumah tangganya membuat minuman untuk Arumi, benar-benar tidak tahu etika asisten rumah tangga mereka.
"Kakak mau minum apa?" Tanya Keana lagi, tidak enak rasanya kalau tidak menyuguhkan minuman atau cemilan untuk tamu, meski tamunya saudara sendiri. Karena sebelum ibu Keana meninggal, Keana selalu diajarkan untuk menghormati dan menghargai tamu yang datang ke rumah mereka.
"Aku bisa mengambil minuman sendiri kalau aku haus." Ucap Juna menjawab Keana. Sebenarnya tadi asisten rumah tangga di rumah Juna dan Keana juga sudah menawarkan minuman, tapi memang Arumi yang menolak dengan alasan yang sama, Arumi mengatakan bisa mengambil sendiri kalau memang mau minum.
"Baiklah, tapi apa yang ingin kakak bicarakan? apa ada hal serius?" Tanya Keana masih kepikiran tentang perkataan Juna yang menyebut Arumi hamil, bisa saja kakak suaminya itu memang benar-benar hamil, tapi malu kalau mengakuinya di depan Juna. Sebagai sesama perempuan, Keana bisa memahami situasi Arumi.
"Aku bertengkar dengan Gilang." Ucap Arumi lesu. Arumi tidak menyangka Gilang memilih untuk mengantar teman dibandingkan dirinya, padahal Arumi selalu menomor satu kan Gilang. Memang dasar laki-laki, mungkin Gilang sudah mulai bosan terhadap Arumi, buktinya saja Gilang memilih teman perempuannya dibandingkan Arumi.
Pikiran Keana semakin menjadi, Keana mengira Arumi dan Gilang bertengkar karena Arumi hamil dan Gilang belum siap memiliki anak, mungkin itulah alasan wajah Arumi terihat muram, sangat berbeda dengan Arumi yang sering minum teh bersama Keana selama ini, tapi Keana tetap berharap pemikirannya tidak benar.
"Ada masalah apa? kenapa kalian bertengkar?" Tanya Keana baik-baik. Keana tidak ingin terlalu terburu-buru menanyakan tentang kehamilan Arumi, mungkin Arumi membutuhkan sedikit waktu untuk menceritakan semuanya dan Keana harus bersabar sebagai adik ipar Arumi, mereka harus bisa saling membantu sebagai saudara.
"Menurut kamu, apa aku salah kesal karena Gilang tidak jadi mengantar aku kesini?" Tanya Arumi menatap langit-langit di ruangan itu dengan pandangan menerawang. Arumi mengapalkan tangan mengingat bagaimana dirinya dan Gilang bertengkar karena masalah itu. Gilang tidak biasanya bicara kasar kepada Arumi.
"Maksud kakak? jadi kakak dan Gilang bertengkar karena Gilang tidak bisa mengantar kakak kesini? bukan karena kakak hamil?" Tanya Keana tidak percaya, sepertinya dugaan Keana salah besar, tapi kenapa tadi Juna menyebut Arumi hamil? atau Keana salah dengar? entahlah, Keana juga tidak tahu.
"Hah?" Arumi tertawa keras mendengar perkataan Keana, terlebih wajah adik iparnya itu terlihat sangat lucu sekarang, mata bulatnya semakin menambah kesan lucu di wajah Keana. Arumi bertaruh Juna akan memikirkan hal yang sama saat melihat wajah Keana sekarang.
"Tentu saja aku tidak hamil, aku dan Gilang pacaran masih dalam batas wajar. Aku juga tidak tahu kenapa Juna bisa mengira aku hamil." Jawab Arumi membayar rasa penasaran Keana, ternyata benar kalau Juna hanya bicara sembarangan dan wajah murung Arumi hanya karena bertengkar dengan Gilang, pikiran Keana sudah terlalu jauh.
"Oh ya, apa tadi malam Juna terlalu kasar?" Tanya Arumi membuat Keana salah tingkah, sepertinya Keana sudah salah menanyakan tentang kehamilan Arumi, sekarang malah Arumi memberi pertanyaan yang benar-benar tidak bisa Keana jawab.
Keana berdehem dan berusaha memutar otak supaya mereka bisa membahas hal lain, tapi otak Keana mendadak buntu, Keana malah teringat kejadian tadi malam. Keana tidak merasa Juna sudah kasar terhadapnya tadi malam, Juna malah memperlakukan Keana dengan sangat lembut sampai membuat menginginkannya lagi. Ah, apa yang sedang Keana pikirkan? benar-benar tidak bisa melihat situasi.
~TBC
Lama banget gak update nya ya? Maaf, tolong kasih tahu kalau ada typo.
Terimakasih sudah membaca It's Okay, That's Fate. Mari berhubungan baik antara penulis dan pembaca. Jangan lupa juga untuk memberi dukungan kalian terhadap karyaku. Makasih 💙
Regards,
Nur Alquinsha A | IG: light.queensha