
Dua keluarga bertemu di restoran mewah milik grup shinhwa, semuanya sudah berkumpul tidak terkecuali sang calon pengantin yang baru saja datang. Malam itu adalah pertemuan keluarga, tapi satu hal yang tidak bisa untuk dimengerti.
Rafael dan Amelia juga ada disana. Sebenarnya, hanya Keana yang tidak mengerti mengapa ada mereka berdua disana. Sementara yang lainnya sudah membicarakan tentang Amelia dan Rafael sebelum Keana dan Juna datang di restoran itu.
"Sayang, duduklah." Ucap Juna setelah menarik kursih untuk Keana duduk dan membuat semua orang tersenyum. Tentu saja kecuali Rafael, dia masih belum menerima pernikahan Keana dan Juna, padahal dia sendiri sudah memiliki istri.
Memang susah sekali melupakan cinta pertama, apalagi cinta pertama itu adalah sepupu sendiri. Rafael berusaha melupakan Keana dan membuka hatinya untuk Amelia, tapi Rafael tetap belum bisa menghilangkan Keana dari dalam hatinya.
"Ana, kenapa masih berdiri? duduklah! makan malamnya akan segera di mulai." Kini Jung Hwa angkat bicara karena Keana masih saja berdiri di tempatnya. Keana bahkan sampai mengabaikan calon suaminya sendiri karena melihat Rafael.
Keana akhirnya duduk dan berusaha untuk tidak memperdulikan keberadaan Rafael disana, pasti ayahnya yang mengundang Rafael dan sang istri ke acara mereka, Keana mengenal ayahnya, Jung Hwa tidak akan berhenti mengatur hidup Rafael.
Juna tidak terlalu mempermasalahkan tentang Keana yang terus menatap Rafael dan langsung duduk disamping calon istrinya, lagipula tidak ada yang perlu Juna khawatirkan karena Keana dan Rafael sepupuan. Juna bisa memaklumi itu.
"Kita makan saja dulu, supaya lebih santai untuk membicarakan persiapan pernikahan putriku dan Juna. Silahkan makan, aku harap kalian menyukai hidangannya." Jung Hwa mempersilahkan semua orang untuk menikmati hidangan di hadapannya.
Tanpa sepatah kata pun, semua mulai menikmati hidangan, berbeda dengan Keana yang sepertinya tidak berselera makan. Atau bisa dibilang Keana tidak nyaman satu meja dengan Rafael sehingga tidak bisa memikmati makanan seperti yang lain.
Juna memperhatikan calon istrinya yang kurang menikmati makanan, dia ingin meminta Keana untuk makan dengan baik, tapi ingat tidak boleh bicara saat makan. Juna tipe orang yang selalu mengutamakan tata krama dibandingkan apapun.
Ketika makan berlangsung, Rafael terus mencuri pandang kearah Keana, ada di tempat itu sebagai sepupu sekaligus seseorang yang akan membantu persiapan pernikahan Keana dengan laki-laki lain, menjadi hal yang sangat menyedihkan baginya.
Setelah semua selesai makan, hanya piring Keana yang masih terisi makanan, dia benar-benar tidak bisa makan di meja yang sama dengan Rafael dan Amelia. Hatinya merasa tidak tenang melihat ada Rafael disana sampai makanannya saja diabaikan.
"Audie, kenapa makanan kamu tidak habis? apa kamu tidak menyukainya?" Tanya Erina melihat piring Keana yang masih terisi oleh makanan dan membuat semua orang mengamati Keana, tidak terkecuali Rafael yang duduk di depan Keana.
"Mamah tidak mengerti, Audie mungkin sedang diet, takut nanti gaun pernikahannya mendadak tidak muat." Ucap Arumi menyambar perkataan mamahnya. Keana merasa terselamatkan berkat Arumi, dia tersenyum menanggapi semuanya.
Juna menghela nafasnya dan memegang tangan Keana yang berada diatas meja. Juna lebih tahu alasan Keana tidak berselera makan, yang pasti bukan untuk diet. Karena Keana termasuk orang yang bertubuh kurus meskipun banyak makan.
"Sayang, benar kamu diet?" Tanya Juna menatap dalam mata Keana, dia tidak peduli meskipun ada anggota keluarga mereka disana. Lagipula, tidak salah Juna bersikap seperti itu kepada perempuan yang akan menyandang status sebagai istrinya.
"Kenapa, hum?" Keana membalikkan pertanyaan dan membalas tatapan Juna padanya. Rafael yang melihat itu segera membuang wajah, tidak ingin terlalu lama menyaksikan momen mengharukan antara sepupunya dan mantan teman kampusnya.
"Juna, apa kamu tidak merasa ada sesuatu yang harus kamu katakan padaku?" Tanya Jung Hwa menengahi, supaya Juna tidak memperpanjang tentang makanan Keana yang tidak habis. Jung Hwa mengundang semuanya bukan untuk itu.
Bukan berarti Jung Hwa tidak khawatir tentang kesehatan Keana, tapi menurutnya Keana akan makan kalau sudah lapar, putrinya sudah begitu lama hidup mandiri, Keana pasti tahu hal baik yang harus di lakukan terhadap dirinya sendiri.
"Eh?" Juna beralih menatap calon mertuanya dan tidak menanggapi pertanyaan Keana barusan, dia merasa memiliki banyak waktu untuk berbicara dengan Keana, berbeda dengan Jung Hwa yang pastinya selalu sibuk mengurus grup shinhwanya.
"Ana adalah putriku satu-satunya dan aku sangat menyayangi dia, apa kamu akan mengambilnya tanpa ijin dariku?" Ucap Jung Hwa memperjelas pertanyaannya. Juna berdehem, memang benar Juna belum meminta ijin pada calon mertuanya.
Juna memutuskan untuk menikahi Keana tanpa lamaran resmi, sebagai pewaris grup shinhwa, itu adalah sebuah penghinaan. Meskipun Keana tidak mempermasalahkannya, tapi Jung Hwa berbeda, orang terpandang seperti dia pasti tidak terima.
"Maaf, saya tidak bermaksud untuk mengambil putri kesayangan anda tanpa ijin, tapi anda tidak melarang kami menikah, jadi saya berpikir anda sudah menyetujuinya." Ucap Juna berusaha untuk sopan kepada calon ayah mertua di hadapannya.
Jung Hwa tertawa pelan mendengar jawaban tidak terduga Juna, tidak salah Bisma mempercayakan perusahaan kepada Juna, memang Juna memiliki bakat, termasuk bakat dalam hal berbicara. Jung Hwa sampai skakmat oleh pertanyaannya sendiri.
"Sebenarnya aku berniat menjodohkan Ana, tapi aku mendapat kabar kalian akan menikah sampai belum sempat membatalkan perjodohannya, aku khawatir mereka tidak bisa menerima ini." Jung Hwa mendramatisir dan menunggu reaksi Juna.
Jung Hwa tidak berbohong, dia memang berniat menjodohkan Keana dan laki-laki dari keluarga terpandang di Seoul, laki-laki yang bisa dibilang sederajat dengan grup shinhwa, tapi itu sebelum Jung Hwa tahu putrinya dan Juna akan menikah.
Jung Hwa sengaja mengatakan itu hanya untuk melihat reaksi Juna. Karena sebenarnya sampai sekarang Juna masih menjadi kandidat utama untuk menjadi menantu shinhwa, tidak masalah meski Juna sudah mencoreng nama baik Keana.
Jung Hwa suka sekali bermain-main, termasuk mempermainkan orang lain seperti Juna dan itu sudah seperti kebiasaan yang tidak bisa untuk di hilangkan. Jung Hwa sangat menyukai ekspresi takut dan putus asa orang lain, kecuali Keana.
"Saya bersedia membantu anda berbicara kepada mereka." Ucap Juna berusaha untuk tetap terlihat tenang, padahal dalam hatinya sudah mengumpat tidak jelas, ternyata Jung Hwa masih tidak ingin Juna dan Keana bersama. Sungguh menyebalkan.
"Ah, baiklah. Aku merasa sedikit tenang sekarang. Dan Ana, nanti kamu juga harus ikut." Jung Hwa masih ingin melihat keseriusan Juna, dia belum ingin membahas sudah sejauh mana persiapan pernikahan Juna dan juga putri kesayangannya.
"Tidak, Ana tidak perlu ikut." Ucap Juna cepat, dia tidak mungkin membiarkan Keana mengikutinya, bagaimana kalau nanti Keana menyukai laki-laki yang Jung Hwa maksud? bisa batal pernikahan Juna dan Keana! Juna tidak ingin hal itu terjadi!
"Kenapa?" Tanya Jung Hwa membuat yang lain menghela nafas, terlebih Arumi yang merasa pria tua yang sayangnya masih saja terlihat tampan itu akan sangat menyulitkan adiknya. Arumi jadi teringat saat pertama kali mereka bertemu dulu.
Jung Hwa adalah duda tampan yang mempesona. Pertama kali bertemu, Arumi berpikir Jung Hwa lebih muda dari ayahnya dan masih lajang, tidak disangka Jung Hwa sudah memiliki anak seusia Juna, wajah tampannya sempat menipu Arumi.
Jung Hwa semakin tertawa, sepertinya benar yang calon besannya katakan, mereka bertemu untuk membicarakan persiapan pernikahan. Jung Hwa maupun Bisma tidak mungkin berpangku tangan tanpa membantu apapun dalam persiapan itu.
"Baiklah. Juna, kamu jangan terlalu memikirkan perkataanku tadi, aku sudah mengurus semuanya dan kalian akan tetap menikah." Akhirnya Jung Hwa berhenti. Tidak salah, Juna pantas menjadi menantu grup shinhwa sekaligus suami Keana.
Pembicaraan panjang antara dua keluarga pun di mulai, Jung Hwa memberi rumah mewah sebagai hadiah pernikahan Juna dan putri kesayangannya. Bisma akan memberikan sejumlah modal untuk menantunya yang ingin membuka usaha sendiri.
Sementara itu, Erina dan Arumi sudah mengatur tempat bulan madu untuk pasangan yang akan menikah bulan depan. Tentang acara pernikahan Keana dan Juna, akad dan resepsi akan berada di tempat yang berbeda, semua itu akhirnya diatur.
Dan satu hal yang membuat Keana terkejut bukan main, ternyata Rafael adalah sepupunya, memang Jung Hwa baru memberitahu Keana, karena baru sempat mengobrol dengan putrinya dan akhirnya Keana mengetahui kenyataan pahit di malam itu.
Juna memotong steak dengan telaten, dia masih berada di restoran bersama Keana, sementara yang lain sudah duluan pulang. Juna memotong steak itu untuk Keana, sengaja karena tadi Keana tidak makan dan Juna takut calon istrinya sakit.
"Juna, aku masih kesal kamu menyebut wanita lain cantik dan mempesona." Keana tiba-tiba mengatakan itu dan membuat pergerakan Juna terhenti, Keana membahas itu setelah berhasil membuat Juna juga merasakan hal demikian.
Juna kesal karena Keana sepertinya belum move on dari Rafael, padahal Juna melakukan berbagai macam cara supaya nama itu terhapus di dalam hati dan pikiran Keana. Benar yang orang lain katakan, akan ada rintangan sebelum menikah.
Selain itu, Juna masih memikirkan tentang Keana yang katanya akan dijodohkan. Meski Jung Hwa meminta Juna untuk tidak terlalu memikirkan itu, tapi tetap saja Juna kepikiran, apalagi sekarang sedang musimnya pecinta oppa-oppa dari Korea.
Ya, Juna sudah tahu siapa yang akan dijodohkan dengan Keana. Sebelum Jung Hwa pulang, Juna sempat menanyakan itu, bahkan tadi Jung Hwa menunjukan foto laki-laki bernama Daniel Kang yang rencananya akan dijodohkan dengan Keana.
"Daniel tampan juga ya?" Tanya Juna membalas Keana, perang akibat cemburu sepertinya akan di mulai, mereka saling memberikan tatapan dingin, tapi tidak lama Keana tertawa, merasa ada yang lucu dari komentar Juna tentang laki-laki Kang.
"Kenapa tertawa, heh? kamu mengakui laki-laki bernama Daniel itu tampan?" Juna menunjukan wajah tidak sukanya dan membuat tawa Keana semakin meledak-ledak, padahal tidak ada hal yang lucu, bahkan Juna sedang serius sekarang.
"Juna, aku lapar." Ucap Keana setelah tawanya mereda, dia tidak berniat menjawab pertanyaan Juna yang sudah jelas jawabannya, Daniel Kang tampan dan tidak akan ada yang menyangkalnya. Juna memutar mata dan mulai menyuapi Keana.
Keana menahan tawa dan menerima suapan Juna, entah mengapa Keana merasa steak dari tangan Juna sangat enak dan membuat Keana berselera makan, padahal Keana sempat kehilangan selera makannya, tangan Juna benar-benar luar biasa.
"Juna, perjodohan itu hanya rencana papah dan aku tidak pernah menyetujuinya. Tidak peduli Daniel tampan atau tidak, yang terpenting kita akan menikah dan undangan pernikahan sudah selesai di cetak. Jadi kenapa harus dipikirkan?"
Keana bicara setelah menelan steak di mulutnya, dia tahu Juna memikirkan tentang perjodohannya sampai bertanya tentang Daniel, makanya Keana sengaja mengungkit kejadian tadi siang, supaya pikiran Juna teralihkan dari hal tidak penting.
Tapi, Juna malah berbalik membahas Daniel dan membuat Keana tertawa. Masalahnya, tadi Juna menyebut Daniel tampan, padahal setahu Keana laki-laki hanya akan menyebut tampan untuk diri mereka sendiri, tidak seperti yang Juna lakukan.
"Tidak perlu dibahas, habiskan saja makananmu, setelah itu aku akan mengantarmu pulang." Juna kembali menyuapi Keana dan Keana hanya bisa menurut. Keana makan dengan disuapi oleh Juna sampai tidak tersisa sedikit pun steak di piring.
"Jadi, tadi kamu tidak makan karena ada Rafael? kamu masih belum move on, huh?" Tanya Juna dan membuat Keana diam untuk beberapa saat. Keana tidak bisa menyebut dirinya belum move on dari Rafael, tapi belum juga benar-benar lupa.
"Maaf." Keana tidak tahu mengapa dirinya harus meminta maaf, tapi mungkin itu yang dibutuhkan dalam situasi seperti sekarang, Keana mencintai Juna dan belum sepenuhnya melupakan Rafael, satu-satunya yang Keana bisa hanya minta maaf.
Juna menghela nafas dan mengambil sesuatu dari saku jasnya, benda yang selalu Juna bawa kemana pun, cincin yang nanti akan mengikat Keana. Lalu Juna mengeluarkan isinya dan memasang cincin itu di jari manis Keana. Juna lega cincinnya pas.
"Sudahlah. Kamu benar, kita akan menikah, jadi tidak perlu memikirkan hal lain. Lagipula, kamu memang jodohku." Ucap Juna tersenyum melihat cincin yang berada di jari Keana, tidak salah lagi, Keana memang jodoh Juna dan itu kenyataannya.
Keana menatap cincin permata di jari manisnya, sangat indah, Keana menyukai cincin itu, tidak disangka Juna membelikan cincin yang begitu indah, padahal Keana tidak sedang ulang tahun, tapi Juna memberikan hadiah yang istimewa.
"Oh ya, kamu bisa memakai cincin ini setelah kita menikah." Juna melepaskan cincin dari jari manis Keana dan membuat Keana menatapnya bingung. "Ini adalah cincin pernikahan kita, aku mengukur jari kelingkingku, tapi syukurlah ukurannya pas."
Keana pikir Juna membelikan hadiah untuknya!
~TBC
Juna mendapatkan restu akhirnya ... jangan salah paham, papahnya Audie cuma jahil itu ...
Terimakasih sudah membaca It's Okay, That's Fate. Mari berhubungan baik antara penulis dan pembaca. Jangan lupa juga untuk memberi dukungan kalian terhadap karyaku. Makasih 💙
Regards,
Nur Alquinsha A | IG: light.queensha