
Keana mengesap teh sambil melirik Juna melalui sudut matanya. Tadi hampir saja Keana berhasil mengakhiri semuanya, tapi sekarang perempuan itu malah terjebak di ruangan Juna. Keana masih disana karena Juna tidak mengizinkannya pergi.
Keana tidak menyangka Juna masih bisa bersikap biasa saja setelah semua yang terjadi, tidak ada sedikitpun rasa bersalah di wajah Juna, sepertinya Juna menganggap enteng semua itu, bahkan Juna masih berani menatap wajah Keana sekarang.
Tidak lama ponsel Keana berdering menandakan ada panggilan masuk, Keana menyimpan cangkir teh di tangannya keatas meja, lalu mengambil ponsel dari dalam tas, Rafael menelpon, Rafael pasti khawatir karena Keana belum juga kembali.
"Berikan padaku!" Ucap Juna sambil mengulurkan tangan kearah Keana, meminta ponsel Keana saat tahu Rafael menelpon calon istrinya. Keana yang mendengar itu menatap Juna dengan alis bertaut, tanpa memberikan ponselnya. "Audie, ponselmu!"
Keana menghela nafas dan terpaksa memberikan ponselnya kepada Juna, dia tidak bisa melawan perkataan laki-laki yang duduk di depannya itu sehingga memberikan ponselnya begitu saja, tidak peduli apa yang akan Juna lakukan nanti.
Keana tidak mengerti mengapa dirinya begitu lemah menghadapi Juna, padahal seharusnya hari ini menjadi hari terakhir mereka bertemu, Keana sudah berencana untuk menetap di Paris setelah menghadiri pernikahan Rafael dan Amelia besok.
Ya, tujuan utama Keana datang memang untuk pamit dan surat pengunduran itu hanya alasan supaya Keana bisa melihat wajah Juna sebelum pergi besok. Karena tidak mungkin kalau Keana datang dengan alasan ingin pamit ke luar negeri.
Keana sadar dirinya tidak penting bagi Juna dan akan aneh rasanya kalau Keana datang hanya untuk pamit, Juna mungkin tidak akan peduli itu, makanya Keana menjadikan surat pengunduran dirinya sebagai alasan dibalik tujuan utamanya.
"Ada apa, Raf?" Tanya Juna kepada Rafael yang berada disebrang sana. Keana memperhatikan laki-laki yang sedang berbicara dengan Rafael melalui telpon. "Saya calon suami Audie, jadi jangan heran saya yang menerima telponnya."
"Oh, kamu tidak perlu khawatir, Audie baik-baik saja bersama saya." Juna kembali bicara, entah apa yang Rafael katakan padanya. Keana hanya terus memperhatikan Juna, tidak begitu peduli dengan apa yang kedua laki-laki itu bicarakan.
"Kalau begitu kamu pulang saja, biar nanti saya yang mengantar Audie pulang." Setelah itu Juna mengakhiri telponnya sepihak. Keana menebak Rafael sedang marah-marah di parkiran sekarang, karena Juna seenaknya menyuruh Rafael pulang.
"Sudah puas?" Tanya Keana pada akhirnya, lalu Keana merebut ponselnya dari tangan Juna dan menyimpan kembali ponsel itu ke dalam tasnya. "Pak Juna, aku setuju berada disini bukan berarti aku berubah pikiran, kita tidak akan menikah."
"Audie, aku tidak tahu apa yang terjadi selama kita berdua tidak bertemu, tapi kamu ingat 'kan aku pernah mengatakan kita akan tetap menikah? dan sekali lagi tolong, berhenti mengatakan hal aneh!" Ucap Juna yang membuat Keana muak.
"Aku tidak mengatakan hal aneh, kenyataannya kita memang tidak akan menikah. Kamu terlalu sibuk dengan mantan kekasihmu sampai kamu mengabaikanku. Dan ya, kamu memang tidak tahu apa yang terjadi padaku beberapa hari ini."
"Audie!"
"Tapi tidak apa-apa, disini aku yang salah karena tidak menolak ajakanmu untuk menikah dan aku yang bodoh sempat berpikir perlakuanmu padaku selama ini tulus, aku juga melakukan kesalahan karena dengan mudahnya menaruh hati padamu."
Keana mulai meneteskan air mata pada kalimat terakhir, sudah lama Keana memendam semua itu, sekarang akhirnya tersampaikan pada orang yang tepat. Keana tidak peduli dengan apa yang akan Juna katakan setelah mendengar semuanya.
Keana sudah hancur sebelum datang ke tempat itu, sekarang hati dan harga dirinya semakin hancur setelah mendengar perkataan Juna. Dia tidak menyangka Juna benar-benar menganggap enteng semua yang terjadi diantara mereka.
"Audie!" Belum selesai keterkejutan Juna melihat Keana menangis, perempuan itu tiba-tiba tidak sadarkan diri di sofa, padahal Juna belum sempat menanyakan maksud perkataan Keana barusan. Juna panik dan segera mendekati perempuan itu.
"Audie, bangun! kamu baik-baik saja 'kan? tolong jangan membuatku khawatir!" Juna menggendong Keana karena tidak ingin terjadi hal buruk kepada calon istrinya itu dan Juna tidak menyangka kalau keputusannya selama ini memberi dampak buruk.
Juna pikir tidak menemui Keana sementara waktu akan membuat semuanya membaik, Juna salah mengira kalau Keana membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri. Tapi jujur saja, Juna tidak pernah berniat sedikitpun untuk menyakiti hati Keana.
"Azka, tolong siapkan mobil." Teriak Juna sambil bergegas membawa Keana keluar dari ruangannya dan Hal itu membuat semua karyawan yang ada disana saling berbisik, namun Juna tidak terlalu peduli karena lebih mengkhawatirkan Keana.
Sementara Azka sudah pergi menyiapkan mobil seperti yang Juna minta, tidak jauh berbeda dari Keana, Azka tipe orang yang bekerja keras dan juga cepat mengambil tindakan, makanya Juna menjadikan Azka sebagai sekretaris pribadinya.
Bisa dibilang Azka adalah Keana versi laki-laki dan Juna berniat mengenalkan Azka pada Keana secara pribadi, bahkan Juna sudah menyiapkan pekerjaan lain untuk Azka setelah Keana kembali, sayang semua perkiraan Juna tidak tepat sasaran.
"Juna, apa yang terjadi kepada Ana?"
"Saya jelaskan nanti, saya harus membawa Audie ke rumah sakit sekarang." Ucap Juna saat tanpa sengaja berpapasan dengan Rafael, laki-laki itu tidak menuruti perkataan Juna untuk pulang, malah memaksa masuk ke dalam kantor Juna.
"Juna, aku berjanji akan menghabisimu kalau sampai terjadi sesuatu padanya!" Ucap Rafael mengancam Juna, tapi Juna mengabaikannya. Tidak ada yang Juna pikirkan sekarang selain kesehatan dan keselamatan calon istrinya.
Juna membawa Keana masuk ke dalam mobilnya yang sudah terparkir di depan kantor, sepanjang perjalanan Juna berusaha membangunkan Keana meski hasilnya nihil. Sementara Rafael mengejar Juna dengan menggunakan mobilnya sendiri.
"Nona Keana baik-baik saja, dia hanya kelelahan dan saya rasa ada sesuatu yang membuat dia tertekan." Itu yang dokter katakan tadi tentang kondisi Keana dan Juna sama sekali tidak tahu hal apa yang membuat calon istrinya itu tertekan.
Saat ini, Juna sedang berada di ruangan Keana, duduk disamping ranjang rawat Keana sambil memegang tangan perempuan yang sekarang masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit, lalu Juna mencium tangan Keana berkali-kali.
Juna benar-benar tidak berniat sedikitpun untuk menyakiti Keana, malah Juna pikir Keana butuh waktu sendiri, makanya dia sengaja tidak datang ke apartemen Keana atau sekedar memberi kabar, karena Juna pikir itulah yang Keana butuhkan.
"Juna, kamu bisa pergi. Tidak perlu memikirkan keadaan Ana, aku ada disini untuk menjaganya, lebih baik kamu pergi ke tempat Joanna dirawat, bukankah dia tidak memiliki siapapun selain kamu?" Ucap Rafael memecah lamunan Juna.
"Calon suami Ana? calon suami yang lebih peduli mantan kekasihnya sampai calon istrinya sendiri hampir celaka saja tidak peduli?" Tanya Rafael menyela perkataan Juna, dia berdiri di sebrang tempat duduk Juna dengan tangan mengepal.
"Jangan sembarangan bicara, kamu tidak tahu apa yang terjadi!" Ucap Juna dengan rahang yang mengeras, Rafael belum berubah, dari dulu selalu saja melarang Juna mendekati Keana, bahkan sampai Juna sudah menjadi calon suami Keana.
Juna mengaku, memang selama beberapa hari ini dia sering keluar masuk rumah sakit menjenguk Joanna, tapi itu hanya sebentar dan sisanya Juna gunakan untuk mencaritahu siapa orang yang datang ke rumah sakit mengambil gambar Joanna.
Selain itu, Juna juga datang ke tempat belanjanya bersama Keana, karena dengan begitu Juna bisa tahu siapa dalang utama dari semua berita yang membawa namanya, terlebih orang yang sudah menyebut Keana sebagai seorang selingkuhan.
Tidak seperti yang Keana pikirkan, selama ini Juna tidak menghubungi Keana bukan karena sibuk dengan mantan kekasihnya. Juna sibuk mencari orang yang sudah mencemarkan nama baik Keana, karena orang itu harus dihukum.
Sebenarnya Juna bisa saja mengatakan kepada media kalau hubungannya dengan Joanna sudah berakhir dan Keana bukan selingkuhan melainkan calon istrinya, tapi Juna tidak puas kalau hanya melakukan itu, Juna ingin memberikan pelajaran pada orang yang mencemarkan nama baik Keana.
"Aku tidak bicara sembarangan, bukankah kamu sibuk makan malam bersama mantan kekasihmu saat Ana diteror dan hampir celaka?" Ucap Rafael tidak mau kalah, dia tidak menyangka Juna masih berani menyebut Keana sebagai calon istrinya.
"A-apa? apa yang kamu katakan? Audie diteror? kapan? siapa yang menerornya? kenapa Audie tidak memberitahu saya?" Tanya Juna beruntun saking terkejutnya, kemudian Juna menatap Keana yang masih belum membuka matanya.
Rafael memutar matanya tanpa mau memberi jawaban, tidak salah dulu Rafael melarang Juna dekat dengan Keana, mantan teman kampusnya itu memang selalu memberikan masalah dalam hidup Keana, seperti yang terjadi di masa lalu.
"Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya kamu inginkan, kamu ingin menikahi Ana, tapi tidak bisa melepaskan mantan kekasihmu." Rasanya Rafael ingin sekali memukul wajah Juna, tapi tidak mungkin karena mereka ada di rumah sakit.
"Siapa bilang? aku dan Joanna sudah putus!"
"Ya, putus. Tapi kamu tidak bisa berhenti peduli kepada mantan kekasihmu itu 'kan? terus kamu pikir apa bedanya?" Tanya Rafael menyambar perkataan Juna barusan, suasana di ruangan itu berubah mencekam karena pembicaraan mereka.
"Terserah, saya tidak peduli apapun yang kamu katakan, saya akan tetap berada disini sampai Audie sadar dan kamu tidak berhak mengusir saya dari sini, karena saya calon suami Audie." Juna mengakhiri perdebatan diantara mereka.
Setelah itu, baik Juna maupun Rafael sama-sama diam dan saling membuang muka, Rafael sebal karena Juna ngotot tidak mau pergi, sementara Juna kesal karena Rafael masih saja membatasi orang di dekat Keana seperti masa kuliah dulu.
~TBC
Ilustrasi time, biar kesel kalian berkurang setelah lihat cowok ganteng 😅 menurut aku ilustrasi Arjuna ganteng banget loh, Audie juga cantik, serasi, yakin nih mau Audie ninggalin Juna?
• Azka
•Willis
• Rafael
• Gilang
• Bisma (Papah Juna dan Arumi)
Dan terakhir,
• Arjuna
Terimakasih sudah membaca It's Okay, That's Fate. Mari berhubungan baik antara penulis dan pembaca. Jangan lupa juga untuk memberi dukungan kalian terhadap karyaku. Makasih 💙
Regards,
Nur Alquinsha A | IG: light.queensha