It'S Okay, That'S Fate

It'S Okay, That'S Fate
IOTF #14



Keana tersenyum melihat Juna sibuk memilih bahan makanan sambil mendorong troli. Seperti yang dikatakan Juna sebelumnya, mereka pergi belanja setelah selesai sarapan dan Juna memilih banyak bahan makanan yang sehat untuk Keana.


"Juna, sudah cukup. Kita bisa terlambat ke kantor, lagipula semua ini terlalu banyak untukku. Ingat, aku tinggal sendirian di apartemen." Ucap Keana menahan tangan Juna yang hendak memasukkan lagi ikan salmon dan ayam ke dalam troli mereka.


"Aku akan sarapan di apartemenmu, jadi semua ini belum cukup. Kita masih perlu membeli yang lainnya juga." Ucap Juna perlahan menurunkan tangan Keana dan tersenyum, lalu memasukan ikan salmon dan juga ayam tadi ke dalam troli.


Keana mendengus menatap punggung Juna yang semakin menjauh, dia sekarang tahu alasan Juna membelikan bahan makanan untuknya. Karena Juna ingin membuatnya repot setiap hari. Haish, benar-benar menyebalkan calon suaminya itu.


"Audie, bagaimana kalau kita sekalian membeli keperluan lainnya? sampo, sabun mandi atau yang lain?" Tanya Juna mengira Keana masih berjalan di belakangnya. "Sebut saja apa yang kamu perlukan, akan aku ambilkan untukmu."


"Audie!" Juna menoleh kebelakang karena tidak juga mendapat jawaban. Juna tertawa atau lebih tepatnya mentertawakan dirinya sendiri saat menyadari Keana tidak ada di belakangnya, berarti daritadi Juna hanya berbicara sendiri.


Juna mendorong kembali trolinya dan berjalan menghampiri Keana yang masih saja berdiri di tempatnya dengan tatapan kosong, entah apa yang sedang perempuan itu pikirkan sampai melamun dan membiarkan Juna bicara sendiri.


"Kenapa masih disini, hm?" Tanya Juna sambil mengusap lembut rambut Keana, tepat setelah berdiri di depan Keana dan membuat kesadaran perempuan itu kembali. Keana menatap Juna tepat pada matanya, lalu dia berdehem pelan.


"Kita akan membeli apalagi? Juna, sudah banyak yang kamu ambil, jadi sebaiknya kita ke bagian kasir saja!" Ucap Keana mengalihkan, tapi Juna tidak terlalu mendengarkan Keana dan malah mengajak Keana ke bagian perlengkapan mandi.


Keana dan Juna kembali sibuk dengan belanjaan mereka, atau bisa dikatakan hanya Juna yang terlihat sibuk memilih perlengkapan mandi dan lainnya, sementara Keana masih setia mengikuti Juna sambil sesekali menjawab pertanyaan Juna.


Tanpa sadar disekitar mereka ada wartawan yang diam-diam mengambil gambar, tepat disaat Juna berdiri di depan Keana dan Juna mengusap rambut Keana. Momen mereka dianggap sebagai hal yang menarik bagi wartawan laki-laki itu.


"Ini akan menjadi berita besar." Gumam wartawan itu bangga terhadap dirinya sendiri, dia melihat hasil kerja kerasnya selama beberapa hari ini. Selain foto Keana dan Juna, disana juga ada foto Joanna yang berhasil diambil di rumah sakit.


Wartawan itu kembali mengikuti pasangan yang sepertinya sedang sibuk mencari sesuatu, dia berusaha mengambil gambar sebagus mungkin untuk di jadikan bahan berita. Sampai Juna dan Keana pergi ke bagian kasir pun masih diikuti.


"Aku rasa sudah cukup. Bos pasti senang dengan hasil kerjaku." Gumam wartawan itu kemudian berlalu pergi. Sebenarnya Juna menyadari ada seseorang yang terus mengikutinya sejak tadi, tapi Juna tidak terlalu memperdulikannya.


Keana membantu Juna menyimpan belanjaan mereka ke meja kasir dan sengaja menghentakan semua barang supaya kasir perempuan di depan mereka berhenti menatap Juna. Memang benar Juna tampan, tapi tidak harus sampai segitunya.


Keana sudah cukup sabar melihat sang kasir mengedipkan mata genitnya kepada Juna, tapi Keana tidak bisa berdiam saja saat kasir itu dengan sengaja menyentuh tangan Juna. Oh, apa perlu Keana menjelaskan siapa dirinya?!


"Maaf, bisa lebih cepat? aku dan calon suamiku sedang buru-buru!" Ucap Keana tenang namun penuh dengan penekanan disetiap kalimatnya. Heran saja ada kasir yang terus terang menggoda pelanggan dan pelanggan itu calon suami Keana.


Juna diam-diam tersenyum melihat ekspresi wajah kedua perempuan di depannya, apalagi ekspresi Keana yang begitu menggemaskan. Apa ini sejenis perang antar perempuan yang berusaha memperebutkan seorang laki-laki?


Ah, sepertinya imajinasi Juna sudah terlalu jauh, mungkin saja Keana mengatakan itu karena ingin segera pergi ke kantor. Juna ingat sudah sejak tadi Keana mengajaknya pergi ke kantor, lagipula Juna harus sadar kalau Keana menyukai laki-laki lain.


Tidak ingin terlalu memikirkan semua itu, Juna mengeluarkan black card dari dompetnya setelah kasir menyebutkan total pembelanjaan. Bisa Juna tebak kasir itu tersinggung oleh perkataan Keana tadi sampai nada bicaranya berubah sedikit ketus.


"Kartu anda, tuan." Ucap kasir itu mengembalikan black card Juna kepada pemiliknya dan langsung Juna terima. Tidak sengaja Juna melihat wajah bete Keana, tangannya yang hendak mengambil dompet di sakunya terhenti karena melihat itu.


"Sayang, mulai sekarang kamu saja yang pegang kartu ini." Ucap Juna memberikan black card di tangannya kepada Keana. Kini tatapan Keana mirip dengan tatapan kasir yang menggoda Juna tadi, mereka sama-sama terkejut mendengarnya.


"Banyak hal yang harus kita persiapkan sebelum menikah, aku rasa kartu ini akan sangat berguna untukmu." Juna melanjutkan kalimatnya, secara tidak langsung Juna memberitahu kasir tadi bahwa dia dan Keana akan segera menikah.


Memang terkesan tidak penting, tapi sepertinya kasir tadi perlu mengetahui hal itu. Juna merasa sedikit jengkel dengan kegenitan sang kasir, dia kemudian mengambil semua kantong belanjaan tanpa membiarkan Keana membawanya.


"Ayo pergi!" Juna berjalan mendahului Keana dan Keana mau tidak mau mengikuti laki-laki itu dari belakang. Tidak disangka Juna sengaja memberi Keana black card hanya untuk membalas kasir yang sudah bersikap kurang sopan tadi.


Juna sengaja memperlambat langkahnya supaya dapat dikejar oleh Keana setelah keluar dari area tadi. Juna berbalik dan melihat Keana yang kini berjalan kearahnya, langkah kaki Keana masih kurang lebar seperti biasanya, pantas saja lama.


"Ayo!" Juna mengintruksi Keana untuk memegang lengannya. Sebagai orang yang sama-sama cuek, baik Keana maupun Juna seringkali kesulitan untuk mengutarakan isi pikiran mereka. Tapi keduanya saling memahami satu sama lain.


Keana menyambut tangan Juna dan mereka pun benar-benar pergi dari tempat itu. Juna tidak langsung melajukan mobilnya menuju kantor, dia berniat mengantar Keana ke apartemen sebentar untuk menyimpan belanjaan yang mereka beli.



Seorang gadis terbangun merasakan tubuhnya tertimpa beban berat, betapa terkejutnya gadis itu saat menyadari dirinya tidur bersama pria dengan kondisi mereka yang saling berpelukan atau lebih tepatnya si pria yang memeluknya.


"Yak brengsek!" Teriak gadis bersurai panjang itu sambil mendorong pria yang memeluknya. Tadi malam mereka sudah sepakat untuk tidak tidur di ranjang yang sama, lalu sekarang? pria bernama Willis itu melanggar kesepakatan mereka berdua!


"Lo ngapain sih meluk-meluk gue?" Gadis itu mengomel sambil menghadiahi Willis pukulan menggunakan bantal putih yang ada disana. Willis yang masih tertidur saja sampai melotot karena mendapatkan pukulan bertubi-tubi.


"Hei, bodoh. Apa yang kamu lakukan?" Protes Willis sambil melindungi dirinya dengan kedua tangannya, tidak terima terus di pukuli akhirnya Willis menahan bantal yang digunakan untuk memukulnya. "Neysa, kenapa kamu mukul saya?"


Gadis bernama Neysa itu berusaha merebut kembali bantalnya, tapi berhubung tenaga Willis lebih kuat, Neysa malah kelelahan karena terus berusaha merebut bantal itu dan membuat Willis merasa sangat puas, Neysa tidak menang darinya.


"Lo yang ngapain meluk-meluk gue kayak tadi?! lo kan harusnya tidur di sofa! nyari kesempatan dalam kesempitan kan lo? ngaku!" Ucap Neysa menuding Willis dan membuat Willis menghela nafasnya, gadis ini kenapa berisik sekali?


Neysa adalah teman kencan buta Willis, kemarin malam Willis memutuskan untuk mengikuti kencan buta dan meminta Neysa untuk pura-pura menjadi mamahnya Angel. Alasannya karena Willis tidak mungkin lagi mengharapkan Keana.


Sebenarnya masih banyak kamar lain di rumah Willis, tapi Angel meminta Neysa dan Willis tidur bersama, jadi mau tidak mau Willis menuruti Angel. Karena selama ini Willis memang selalu mengikuti perkataan anak perempuannya itu.


Willis dan Neysa membuat kesepatakan, mereka akan bekerja sama untuk berpura-pura menjadi orang tua Angel. Bahkan hari ini Neysa akan mengemasi barangnya dari apartemen dan membawa semua barang itu ke rumah Willis.


"Tadi malam kamu sendiri yang meminta saya tidur di kasur, lupa?" Ucap Willis membalikan pertanyaan dengan tenang. Neysa berusaha mengingat, dia tidak merasa sudah meminta Willis tidur di kasur, Willis pasti mengarang.


"Gue gak pernah ya minta lo tidur di kasur!" Ucap Neysa tidak mengakui itu, padahal kenyataannya memang benar Neysa meminta Willis tidur di kasur. Tapi mungkin Neysa antara sadar dan tidak saat mengajak Willis tidur bersamanya semalam.


"Sudahlah, saya harus pergi ke kantor." Willis yang malas menanggapi Neysa akhirnya turun dari ranjang mereka, atau lebih tepatnya ranjang Willis tempat mereka duduk tadi. "Oh ya, saya sarankan kamu juga bersiap, mau kuliah kan?"


Willis menyambar handuk dan masuk ke dalam kamar mandi setelah mengatakan itu. Tidak ada pilihan lain, Willis harus menepati janjinya kepada Angel untuk mempertemukan gadis kecil itu dengan mamah yang sangat di harapkannya.


Meskipun keputusan Willis meminta bantuan Neysa terkesan terburu-buru, Willis tetap harus melakukannya supaya Angel tidak sedih lagi. Willis juga tidak ingin Angel terus menjadi bahan ejekan teman-temannya di taman kanak-kanak.


Lagipula tidak ada yang di rugikan disini, Neysa memberi sebuah persyaratan kepada Willis dimana Willis juga harus berpura-pura menjadi kekasih Neysa. Bisa dibilang mereka memiliki masalah yang sama, membutuhkan bantuan.


~TBC


Entah apa yang aku tulis ini. Kurang greget lagi.


Kisah Willis dan Neysa ini sebenernya pernah aku buat cerita mereka sendiri, tapi aku masih belum ada waktu untuk menyalurkan ceritanya ke dalam tulisan, makanya aku masukan di novel ini.


Terimakasih sudah membaca It's Okay, That's Fate. Mari berhubungan baik antara penulis dan pembaca. Jangan lupa juga untuk memberi dukungan kalian terhadap karyaku. Makasih 💙


Regards,


Nur Alquinsha A | IG: light.queensha