
"Jadi kamu menjebak ku di dalam pernikahan ini ? "
"Jaga bicara mu Ilana. Aku tidak menjebak mu. "Almeer tersenyum simpul.
"Apa yang kamu bilang 100% benar. Awalnya aku suka Jung lambat laun aku makin risih. Kenapa aku tidak bisa mendapatkan yang lebih baik daripada cinta yang ditawarkan nya. Hanya sekedar cinta. "
"Teman-teman ku, HAH ! Jung bahkan mengejek nya. Padahal semua teman ku orang-orang punya power di dunia entertainment. Mereka memang punya perangai buruk tapi mereka baik. Aku awalnya susah menyesuaikan tapi lama-lama aku paham beginilah kami berteman. Teman ku mengirim photo jung sedang di club malam dari situ aku hilang respect dan cintaku terasa hambar padahal kami baru menjalin dua bulan. "
"Kenapa bertahan ? "
"Karena dia Job ku jadi banyak. Ahh aku mencari uang itu rupanya hanya untuk skandal. Uang haram tetaplah akan dikeluarkan. "
"Aku tersiksa berpura-pura mengatakan pada orang-orang di TV tentang hubungan indah kami, lalu di nasehati oleh Manager ku kalau Jung bukan pria yang baik. Aku tau itu tapi pekerjaan ku semakin mudah. Aku mendapat banyak lubang uang. Adikku bisa berobat dan orang-orang itu bisa makan dan menafkahi keluarganya. "
"Apa semua artis harus menutupi kepalsuan nya ? "
"Ya. Tapi aku senang memiliki orang dimana aku tidak perlu menjadi Ilana yang berbeda. "
"Kenapa kamu setuju menikah denganku ? "
"Aku menyukaimu. Kamu kaya."Almeer tertawa.
"Apa ? "
"Laki-laki yang mencium ku setiap hari waktu aku koma bukankah dia harus bertanggung jawab. " Ilana memperlihatkan cincin pernikahannya. Almeer terkekeh.
"Ya tuan dokter anda sudah bertanggung jawab. "
"Tidak mudah mendapatkan bibirku. Aku dibayar 210 juta untuk sekali kecupan."
"Aku sudah membayar dengan menikahi mu. "
"Itu belum sepenuhnya. Bayar aku, nafkahi aku. Aku mulai malas bekerja karena memiliki suami kaya. Disini aku baca gaji dokter forensik sekitar 278 juta per/bulan."
"Kamu mau tau berapa penghasilan ku ? " Ilana menantang laki-laki itu.
"Perbulan uang yang ku dapat sekitar 18,8 milyar termasuk dana investasi ku. "
"Rupanya kamu mampu. Aku mau malas-malasan saja. "
"Itu baru dana utama. "
"Apa maksudmu ? " Almeer melihat ke sekeliling. Ilana pun mengikuti tatapan Almeer.
"Kamu mencari seseorang ? "
"Jangan bahas disini. "Almeer mengajak Ilana pergi.
Sekembalinya di kamar hotel. Ilana melihat banyak hadiah di atas ranjang.
" Ini kita ga salah kamar kan. Apa ini bukan kamar kita yaa. "Almeer terkekeh. Ia menarik tangan gadis itu.
"Itu hadiah untukmu. Kemari dan lihat apa saja yang mungkin kurang. "
Berlian, emas dua batang, sepatu couple dan jam tangan digital yang pasti harganya mahal, satu set perhiasan.
"Kapan kamu menyiapkan nya. "
"Aku suruh orang menyiapkan barang-barang ini. "
Ilana menarik tangan Almeer ke sofa.
"Kenapa ? Kamu ga suka hadiahnya. Mau aku belikan yang lain. "
"Kenapa harus mengeluarkan banyak uang. Apa keuangan mu baik-baik saja. Soal memanjakan ku aku sudah puas dengan yang kamu berikan. "
"Itu hadiah sudah menjadi istriku. Selanjutnya akan ada hadiah-hadiah lain yang akan terus kuberikan padamu. "
"Kalau itu sudah lebih dari cukup membiayai ku sampai mati. "
"Kurasa itu belum cukup. Aku akan terus membuatmu bahagia dan senang. Kalau ada yang ingin kamu mau aku akan belikan. "
Ilana menyipitkan mata. "Kamu tau, aku seperti baru saja menang kompetensi hingga mendapatkan mu. "
"No.. no.. no kamu salah. Akulah pemenang yang berhasil membawamu ke pernikahan ini. Terima kasih ya istriku. "
Ilana memeluk Almeer. "Aku selalu hidup sederhana meskipun aku adalah artis. Tidak perlu mengikuti gaya hidupku yang wow. Aku suka hidup sederhana. Aku makan tempe, tahu, kentang dan topokki kadang juga kol atau kerang. "
"Ck ! memang kamu sedang dimasa perang apa. Tidak.. tidak istriku akan makan enak mulai detik ini dan seterusnya. "
"Maaf Almeer boleh aku bertanya satu hal. "
"Silakan."
"Apa kamu benar-benar mencari uang yang halal. Kamu ga sedang ngutang kan. Atau ini bukan uang hasil dana gelap kan. "Almeer melepas pelukan dari Ilana.
"Tentu saja bukan. Aku cari uang ini dengan halal. Aku harus memberi makan kita dengan halal agar kita jadi manusia yang baik. Aku akan ceritakan nanti mengenai keluargaku. "
Malam hari. Almeer memeluk istrinya dengan erat.
"Malam pertama ku sama istrimu yang cantik. "
"Maaf Almeer aku masih belum bisa mengingatmu."
"Tidak apa-apa dengan perlahan aku berdoa kamu mengingat hubungan kita. "
"Panggil aku Ar. Sayang Ar. Di rumah aku di panggil Ar. "
"Sini ku ceritakan mengenai keluargaku. Semoga ini bisa jadi dongeng agar kamu tidur. "
"Aku anak kedua dari empat saudara. Kakak pertama ku laki-laki, adikku perempuan yang ketiga dan yang terakhir laki-laki. Aku lama tinggal di Amerika sama nenekku karena suatu alasan. Lalu aku pulang, awalnya kami tidak tinggal di Korea kami semacam penjelajah sekeluarga namun bisnis kami banyak dikirim ke Korea jadi harus tinggal disini. "
"Kami memiliki banyak kesibukan. Jadi yang kaya bukan hanya papa dan mama ku. Ada paman, tante dan kakek-nenekku. Bisa di bilang kami adalah keluarga berlian. "
"Tapi aku tidak pernah melihat orang sepertimu terdaftar jadi orang kaya. "
Ar mengecup kening istrinya.
"Sayang, di atas langit masih ada langit. Perempuan cantik pasti ada yang lebih cantik lagi. Di atas orang kaya masih ada yang lebih kaya. Banyak yang melakukan itu supaya negera atau apapun tidak dapat menganggu kami. "
"Kenapa begitu ? "
"Pembisnis punya ambisi dan pemerintah punya batasan. Kami tidak bisa begitu. "
"Apa keluargamu menguasai dunia ? "
"Entahlah. Yang aku tau aku tidak pernah hidup susah sejak bayi. "
"Bagaimana dengan keluarga mu, Sayang ? "
"Tidak ada yang penting. Bukankah kamu mengawasi pasti kamu sudah tau kan. Ahh apa kamu jangan-jangan tau siapa papa ku ? "
"Jika kamu tau. Tolong jangan beritau aku. "
"Kamu tidak merindukan nya. "
"Enggak. Aku ga mau hidupku di ganggu lagi. "
"Benar juga. Lebih baik mempertahankan yang sudah ada. "
...****************...
Beberapa minggu kemudian.
Papa Almeer memanggil semua anak-anaknya ke mansion. Mereka duduk dengan rapi.
"Jadi ada yang tau Ar pergi kemana ? "
Ketiga orang itu menggeleng kepala. Si bungsu hanya tau kakaknya itu pergi ke Amerika tapi tidak ada nama kakaknya disana.
"Apa dia kabur lagi ? "
Jesica terdiam namun matanya tak bisa berhenti menitihkan air mata. Meski anaknya sudah sangat dewasa tapi namanya seorang ibu hatinya begitu rapuh kalau urusan anaknya. Apalagi Ar anak yang paling ia perhatikan.
"Almeer jangan lagi. Apa kamu anak kelinci ?"desis papa.
"Memang Ar kapan terakhir bisa dihubungi ? "tanya sih CEO
" Aku ga hubungi kakak habis ngantar ke bandara. "
"Aku belum ada nelfon dia. "
Di bandara nama Almeer atau Ilana tidak terdaftar. Papa nya sendiri bingung. Siasat apa yang anaknya lakukan.
"Ma, Pa. Apa perlu kita ke rumah Ilana. Pasti dia tau ?" usul si bungsu.
"Apa harus malam-malam begini ? "tanya kakak pertama.
"Papa ada kepikiran itu sebelumnya. "
Asisten pribadi papa datang ia memberi salam. Lalu menyampaikan apa yang dia tau dari pencarian.
"Ini Tuan silakan. Tuan Almeer ingin berbicara. "
"Pa"
Telfon di rebut oleh Jesica.
"Ar, kamu dimana ? Kamu baik-baik saja ? Kamu masih hidup kan sayang ? Kamu ga terluka kan nak ? "
"Harusnya jangan mencariku dulu. Ma, pa. Maaf sudah buat kalian khawatir" kata Almeer dari suara telfon yang di speaker.
"Aku pergi ke Madinah. Lusa aku akan pulang bersama istriku. "
"Istri ? Kenapa kamu tiba-tiba saja menikah ?! "ujar papa.
"Wanita mana yang berani memaksa mu ? Apa kamu berbuat sesuatu tanpa ku ketahui. Harusnya kamu bicarakan dulu. " ucap papanya dengan membentak.
Almeer melihat Ilana terlelap tidur tanpa terganggu.
"Aku justru membawa nya kabur. Tolong jangan cari aku. Aku pasti akan menemui papa dan mama. Kumohon. Akan aku jelaskan semuanya. "
"Baiklah kalau kamu tidak kembali lusa papa akan seret kamu. "
"Iya pa. Iya. Maaf ya pa. Ma. Aku tidur dulu. "
Papa menyerahkan ponsel ke asisten yang pamit undur diri.
"Kalian ada yang tau rencana anak itu ? "
"Kalau dia mau nikah memang ada. Tapi rencana menikah tanpa sepengetahuan kita aku ga tau pa. Aku pikir dia bercanda. "kata CEO. Putra pertamanya.
"Hari itu Kak Ar bawa banyak uang cash, emas dan berlian. Ada kotak cincin kosong. Kurasa dia memang menikah sama Ilana. "kata si bungsu.
"Ilana ? "
"Oh, papa ga tau mereka sudah lamaran sebelum berita Ilana putus dengan kekasihnya. "
"APA ? "
"Mungkin kakak punya alasan. Skandal Ilana masih hangat sampai sekarang ini bahkan netizen tidak perduli masalah pemerintah atau artis lain. Itu yang ku dengar dari asisten kakak. "
"Apa cuman papa dan mama yang tidak tau ? "
"Aku juga tidak tau. Sebulan yang lalu waktu kakak pergi ke rumah. Dia tidak membahas pernikahan atau berpacaran sama sekali. "
"Berani sekali anak itu. Dia belum pernah pacaran tiba-tiba langsung menikah. "
"Apa itu Ilana, wanita yang dinikahi Almeer ? "
Ilana dan Almeer kembali. Style mereka layaknya remaja habis tour wisata. Satu mobil menunggu kedatangan kedua orang itu.
"Silakan tuan "
Ilana merasa begitu gugup bertemu keluarga besar suaminya untuk pertama kali.
Seluruh keluarga jika Almeer telah menikah. Tiga saudara, papa dan mama menunggu di ruang utama.
Alan (asisten Almeer) menunduk patuh. Almeer membuka pintu mobil sendiri dan membantu istrinya keluar.
Almeer menggenggam erat tangan Ilana, senyuman pria itu menguatkan Ilana.
Kepala pelayan datang membuka pintu.
"Selamat datang Ar. " Sapa kakak pertama.
"Selamat datang kakak " Sapa si bungsu
"Selamat datang kak Ar. "Sapa si adik perempuan.
Papa melihat tangan putranya menggenggam erat tangan putih mulus istrinya. Mereka mengenakan cincin yang sama.
Jesica wanita itu tidak bisa berkata sepatah katapun. Apa anaknya sedang mewujudkan mimpinya.
Ilana bersembunyi di belakang tubuh besar Ar. Pria itu mengiring istrinya agar dapat di lihat oleh keluarganya dengan menyamakan posisi mereka. Kedua langkah mereka bersamaan mendekat.
" Cantik nya. " puji adik perempuan. Bahkan adik Ar itu memuji kecantikan Ilana yang tidak pernah bisa ia lihat dekat.
"Pantas saja dia jatuh cinta pandangan pertama."celetuk sang adik.