
Marcella membersihkan tubuh putra nya. Sudah empat belas hari Louis terlelap dengan masih memerlukan bantuan.
Supir dan perusahaan sudah dikenakan denda saat ini mereka menjalani proses hukum, mereka juga telah berhenti membiayai Louis.
Marcella tidak ingin membebani Ilana. Ilana sudah melakukan sebisanya.
"Selamat pagi. "Ilana datang menghampiri Marcella.
"Selamat pagi."
"Aku bawa titipan nenek. "
"Terima kasih sayang "
Ilana menunjuk dengan dagu.
"Anak itu koma. Kita tidak perlu berakting. "
"Kamu begitu sensitif sekali. Aku ingin memperbaiki semuanya benar-benar dari awal. Memperbaiki hubungan kita sebagai ibu dan anak."
Ilana berdecih tak percaya. "Simpan saja mimpimu sendiri. Aku tau apa yang kau takutkan. Meskipun kau tidak bicara pada siapapun. "
"Kau seperti mengenalku nona Ilana."
"Belum dapat kabar baik. " Marcella menggeleng kepala.
"Mama terus berdoa semoga ini lekas berlalu. "
"Anak ini tampan sekali. Dia jadi damai dan tenang. Kalau terbangun dia banyak permintaan dan banyak merengek. "ujar Ilana.
Marcella mengangguk setuju.
" Ya sejak kecil dia hanya meminta Ilana. Mana kak Ilana ? kenapa perempuan harus bekerja ? Kenapa kakak tidak disini ? "
"Anak ini sudah besar dan semakin tampan. Dia jadi anak pintar dan penurut. Aku suka dia, sejak bayi dia selalu rewel dan banyak minta. Dia tidak mau menganggu orang lain tapi dia suka mengangguku. "
"Dia selalu menyisakan makanan enak atau makanan kesukaanmu. Katanya, jangan ini makanan kesukaan kak Ilana aku simpan aja deh. Dia selalu menunggu kamu pulang. Kalau ku bilang Louis, kak Ilana kesini. Dia langsung nunggu dan batalin main sama teman-teman nya. "
Ilana mengigit bibir bawah ia menimbang-nimbang apa ia bisa membahas.
"Aku berencana akan memberitau Pak Rafael. Dia satu-satunya orang yang paling bisa menolong Nichol saat ini. "
Ekspresi wajah Marcella berubah.
"Tidak. Aku sudah berjuang merahasiakan Louis selama ini. "
" Apa yang harus kau takutkan ? "
"Dia marah sangat mengerikan. "
Ilana memperbaiki jam tangan badan juga ia atur berdiri tegap di hadapan Marcella.
"Semua orang kalau marah memang mengerikan. Mana ada yang lucu. "
"Aku pernah melakukan sesuatu yang membuat Rafael marah. Dan dia begitu emosi hingga hampir berbuat nekad. "
"Ternyata laki-laki gila masih ada rupanya. "
"Louis sudah punya kartu Identitas sendiri. Tidak ada yang bisa dia lakukan. "
Mata Ilana melirik ke arah alat rekam jantung yang berbunyi.
"Ini aneh " Marcella berdiri mendekat ke Louis.
"Louis... Louis.. ada apa ? " Ilana panik melihat adiknya mengalami kejang-kejang.
"Lou..lou hei.. hei " Marcella menekan tombol darurat.
Ilana mendorong Marcella menjauh dari Louis. Dokter dan perawat menangani Louis.
"Nyonya Marcella dokter ingin bertemu dengan anda. "
"Hiks.. hiks.. hiks.. hiks.. Ilana bagaiman ini ? "
"Ayo aku temani. "
"Ilana aku tidak kuat. Bagaimana jika sesuatu yang buruk. "
Ilana memberi tisu bermaksud agar wanita itu menghapus air matanya.
" Kuatkan dirimu Marcella, Aku akan mengusir mu jika kamu lemah seperti ini. "
Dokter memberi salam ke arah Ilana dengan berjabat tangan Marcella masih syok. Dokter itu sebenarnya fans berat Ilana namun tidak sopan untuk minta foto atau tanda tangan sekarang.
"Apa terjadi sesuatu ? "
"Louis kondisi semakin memburuk. Maaf harus mengatakan ini. " Marcella memeluk Ilana, wanita itu semakin tidak ingin mendengar ucapan dokter ia tak sanggup.
Ilana jengah kenapa dirinya harus berakting lagi.
"Karena sumsum tulang belakang yang rusak mengakibatkan semua sistem pun ikut terganggu. "
"Kami mengerti dokter. "
James dan Sophia menjemput Ilana. Ilana mau tidak mau harus meninggalkan Marcella yang masih syok.
"Aku ada pekerjaan. Aku pulang jam 3 mama mau titip sesuatu. "
"Tidak"
"Aku akan segera kembali. "Marcella mengangguk.
Ilana memiliki jadwal syuting sebagai cameo hari ini.
Hari ini Ilana mendatangi kantor ZEN ROYAL sekitar pukul 2 siang. Nichol menghubunginya.
"Ada apa ? "
"Kamu tergesa-gesa. James apa dia punya jadwal ? "James mengangguk kepala.
" Ilana ada syuting lagi. "
"Baiklah kalau begitu. "
"Akan ada mega proyek. Kamu di ajak untuk menjadi pemain di salah satu film lagi. "
"Aku akan pikir-pikir lagi. "
"Kamu bisa ambil dulu naskahnya. "
"Tidak perlu. Naskah drama yang dikirim beberapa producer saja belum ku baca. "
"Tolak saja. Kamu tidak perlu menerima tawaran drama mereka. Ceritanya sudah bukan standar mu lagi. Ini lebih penting. "
"Tidak, aku akan mengambil jika aku mau. "
"Apa ? " Nichol melongo.
Ilana beranjak memposisikan tas kembali.Nichol menaikkan satu kaki. Langkah Ilana terhenti.
"Uzy akan menikah. Dia bilang akan cuti setahun. Aku tidak tau jika ia akan menikah. Kemarin dia terus menciptakan lagu sedih mengenang kekasihnya. Astaga cepat sekali dia move on dari kekasihnya itu. Pasti dia menemukan pria yang begitu baik. "
Ilana pergi tanpa berpamitan di ikuti oleh James dan Sophia.
"Anak ini semakin sombong saja. "
"Kak ilana.... Hallo..."
"Hallo "Ilana hanya menjawab dengan senyuman.
Artis-artis yang sedang rapat mungkin tentang album melihat Ilana.
"Maaf ya Ilana harus segera pergi. "
"Kak Ilana semangat"
"Cantiknya. Ini kali pertama aku melihat Ilana. "
"Cantik banget, selama aku trainer disini aku belum pertama melihat Ilana. "
"Dia memang jarang di kantor ruang latihan di gedung yang berbeda. "
"Aku ingin mendapat pelajaran langsung darinya. "
"Jangan harap . Jadwal padat banget bahkan setiap menit waktunya hanya untuk bekerja. "
Tatapan Uzy mengarah ke Ilana. Ilana langsung membuang wajah.
"Jangan laporkan album ku ke publikasi ZEN ROYAL. "
"Kita sudah syuting video klip. Ada apa ? "Kata Sophia.
"Ya aku tau. Aku punya rencana lain. "
"Ilana jangan aneh-aneh " tegur Sophia.
"Sudahlah aku pasrah. Kalau kamu mau aneh-aneh. "Ujar James.
" Aku sudah mengerti kegilaan Ilana. "
Lokasi syuting.
"Ilana ready. "
"Yes yes "
"Action!!!! "
Selang dua jam Ilana habiskan. Akhirnya ia bisa melanjutkan perjalanan.
Ilana hari ini ingin berjumpa dengan seseorang.
"Pak, permisi Ilana sudah datang. "
"Suruh masuk"
"Baik Pak. "
Ilana masuk ke dalam ruang kerja CEO VCN, RAFAEL STEVEN JO.
"Silakan duduk. "
"Terima kasih. "
"Mau minum apa ? "
"Enggak usah Pak. "
"Yasudah. Kamu sepertinya terdesak. Kamu ingin bicara apa, aku dengarkan ? "
Ilana berbicara dengan perlahan karena yang ia hadapi adalah orang penting.
"Begini aku butuh bantuan. "
"Katakan. Apa butuh uang ? "
"T.. t.. tidak. Aku ingin bertanya apa Pak Rafael punya penyakit bawaan atau apapun. "
"Tidak aku sehat. "Rafael melepas kancing jas agar lebih santai berbicara dengan Ilana.
"Syukurlah. Begini kecelakaan yang melibatkan anak sekolah kemarin. Salah satu korban nya adalah keluargaku. Dia sedang sakit sekarang dan membutuhkan donor sumsum tulang belakang. "
"Aku tidak sengaja melihat hasil tes yang sama waktu ada pemeriksaan dua tahun yang lalu. "
"Aku tidak yakin kapan aku periksa kesehatan. "jawab Rafael
Itu karena aku menipu sekarang.
"Jadi kamu ingin aku mendonorkan sumsum tulang belakang ku kepada keluargamu. "
"Iya"
"Apa yang akan ku dapat ? "
"Hah ? Pastinya Pak Rafael dapat pahala karena sudah membantu orang lain. "
Rafael menyeringai. "Ilana dalam berbisnis kita harus saling menguntungkan. "
"Maaf Ilana. Aku tidak bisa mendonorkan nya. Aku minta maaf. "
"Tapi pak----"
"Jika tidak ada yang kita bicarakan silakan keluar. "
"Ya tapi apa alasannya. "
"Ilana saya menghormati kamu karena kamu anak baik. Jangan rusak citra mu di hadapan saya. "
"Pak tolong beri saya alasan kenapa menolak ?"
"Ilana kamu hanyalah kenalan saya. Saya punya anak yang membutuhkan saya. Apa harus saya banget yang mendonorkan. "
"Ya harus Pak Rafael. "
"Kenapa harus saya. Sumsum tulang belakang 30% lebih identik jika dengan keluarganya. Sudahkah kamu memeriksa keluargamu. "
"Sudah tapi tidak ada yang cocok. "
"Kamu bisa melakukan sayembara pasti dalam hitungan hari akan ada. "
"Pak kumohon tolong saya. Keluarga saya benar-benar kritis sekarang. Kumohon. "
"Dia pasti orang yang berati untukmu.
Maaf Ilana tidak bisa. " Rafael beranjak dari kursinya.
"Pak Rafael " Ilana meraih tangan pria itu. Rafael menepisnya.
"Kau bermain kasar ya. Wow sakit juga tanganku."
"Aku minta kamu keluar. Sebelum aku mengusir mu. "
Ilana masih bergeming, Rafael beranjak ke meja hendak menelfon sekuriti untuk mengusir Ilana.
"AKU LAKUKAN INI UNTUK ANAKMU "
Rafael membeku. Ilana menghampiri. Telfon tadi di buang oleh Ilana.
"Kau pernah bilang jika tatapan ku mirip seseorang. Aku tau siapa orangnya. "
"Apa yang kau tau tentangku ?"
"Siapa kamu sebenarnya ?! "Rafael mencengkram tangan Ilana.
Ilana mengerti sekarang kenapa Marcella berkata jika Rafael nekad.
" Tolong lepaskan dulu. "
"RAFAEL LEPASKAN TANGANKU. AKU TAK AKAN BERBICARA." Rafael menurut.
"Anakmu sedang kritis di rumah sakit. Dia butuh sumsum tulang belakang segera jika tidak dia bisa meninggal. "
"Anakku hanya satu. "
"Tidak, kamu punya anak lain. Tolong, dia membutuhkan mu segera."
"Omong kosong apa yang kamu katakan ini Ilana !!! "
"Astaga apa aku harus berkata sekarang. "
Ilana memegang kedua bahu Rafael.Ilana membalas dengan cengkraman.
"DENGAR, MARCELLA MELAHIRKAN PUTRAMU 17 TAHUN YANG LALU. "
"APA ? tidak mungkin. "
"DIA SEDANG KRITIS SEKARANG. APA SAMPAI SINI ANDA MENGERTI. "
"Aku tidak percaya. Kau berbohong. Kau ingin mengambil keuntungan dariku. "
"AKU ADALAH KAKAK TIRI DARI PUTRAMU. AKU ADALAH ANAK MARCELLA. "
Rafael seketika tersungkur.
"Tidak mungkin. "
"Apa yang tidak mungkin. Kau atau hubungan gelap mu yang terkuak."
Rafael melihat wajah mengerikan Ilana. Petir tiba-tiba saja menyambar langit di sekitar kantor VCN.