
"Kondisi nya berangsur pulih namun psikis cukup terganggu dia masih membawa perasaan di hari kejadian itu. " Jelas dokter.
"Apa yang bisa dokter sarankan. Saya ingin adik saya kembali sediakala."
Dokter menjelaskan perawatan yang terbaik untuk Louis. Ilana berusaha memahami metode-metode untuk pengobatan Louis.
Sesampainya di ruang inap Ilana meraih tangan Louis dan mencium kening dan punggung tangan nya.
"Kakak" Ilana memeluk adiknya dengan erat
"Maaf ya kakak datang terlambat."
"HIKS..HIKS..HIKS..HIKS..HIKS..HIKS..HIKS..
HIKS..HIKS..HIKS..HIKS..HIKS"
"Louis jangan nangis, semua akan baik-baik saja."
"HIKS..HIKS..HIKS..HIKS..HIKS..HIKS..HIKS..
HIKS..HIKS..HIKS..HIKS..HIKS"
"HIKS..HIKS..HIKS..HIKS..HIKS..HIKS..HIKS..
HIKS..HIKS..HIKS..HIKS..HIKS"
Ilana paham betul apa yang di rasakan Louis kesedihan seolah di transfer.
"Kuat..anak kuat..Louis ku sangat kuat. Terima kasih sudah bertahan Louis. Aku menyayangimu."mengusap punggung adiknya. Louis tidak melepaskan Ilana sama sekali sehingga Ilana harus rela membungkuk.
Ia masih ingin menceritakan semuanya lewat tangis yang masih kencang.
"Louis anak hebat. Louis anak hebat. Kamu bertahan dengan baik Louis. Terima kasih sudah bangun dan menunggu kakak. Kamu pasti menunggu ku di waktu yang begitu lama. Apa kamu merindukanku ?"Louis mengangguk.
"Louis kamu sudah membuatku sakit pinggang begini. Kakak harus duduk Louis.Lepas ya."
"Nanti kakak pergi lagi."
"Tidak..tidak..Kakak cuman mau duduk dek."
Akhirnya Louis melepaskan tangan nya dari leher Ilana. Ilana menarik kursi dan duduk hal itu tak bisa lepas dari pandangan Louis.
Ilana melirik ke arah teko kaca berisi air putih.
"Mau minum kah, Kaka ambilin"
"Aku ga haus---"
"Haus..haus..harus haus kamu udah kakak tuangi minum"
"Kakak jadi maksa ih "
"Ih ! gimana ya, udah di tuangi juga.Minum habisin, cepetan yaa kakak juga haus."
Di suruh minum,di habiskan di minta cepat lagi.
"Kakak disini berapa lama ?"
"Ya mungkin 3 Minggu. Kenapa kamu mau sesuatu ?"
"Engga, jangan sering-sering pergi Kak. Aku hanya cocok ngobrol sama Kakak."
"Kamu tidak cerita sama mama ? nenek atau paman Andrew ? Dulu waktu kakak kecil kakak selalu cerita tapi lebih sering sama nenek dan paman Andrew."
"Kenapa ga sama mama ?"Tanya Louis.
"Mama kan kerja, lagipula mama ga asyik."
"Iyaa Kaka benar mama ga asyik."
"Terima kasih ya kakak banyak-banyak bilang terimakasih kamu sudah sadar. Uang Kaka ga sia-sia habis, kamu bisa menghadiri persidangan, terus kamu juga bisa membela diri kamu, terus kamu mau berjuang hidup setelah bikin keluarga kita khawatir terutama mama yang ga ada habisnya nangis. Semoga ada program TV yang mengudang kamu ke acara mereka karena disana kamu harus bangkitkan semangat dan keberanian untuk anak-anak yang mengalami nasib seperti kamu."
"Melalui kamu mereka percaya uang bukan pemenang. Dan gerakan kecilmu menghentikan langkah yang buruk."
"Apa ? Aku seperti mendengar kampanye. Kaka mau jadi presiden ?"
"Presiden musik, dasar kamu."Ilana memukul Louis dengan bantal.
Sudah bagus-bagus di kasih nasehat. Kakaknya buat secantik mungkin kata-katanya ehh di malah bilang kampanye.
"Kak, apa bener papa ku masih hidup ?"
Ilana terdiam sebentar. "Umm kamu sudah tanya mama belum ?"
"Aku ga berani"
"Ya tanya sama mama. Jangan sama kakak."
"Kakak ga tau papa ku ? Apa mama dan papa ONS saja ?"
Harus bilang apa aku ya. Aku lupa adikku kan pintar.
"Kakak itu tinggal di rumah nenek ga pernah kakak tinggal di rumah mama dari kamu di kandungan sampai bayi. Kakak tinggal sama kalian pas kakak belikan kalian rumah itu sekitar 6 tahun yang lalu tapi itu bukan tinggal sih kakak mana punya rumah. Kayaknya itu kakak main drama yaa. Lupa lah aku."
"Jadi ? Kaka ga pernah liat papa ku ?"
Tentu aku tau siapa papa mu Louis.
"Enggak, tanya aja sama mama."
"Ya kamu harus tegas sama mama. Bilang gini, Ma, aku udah besar. Jangan pergi dari pembahasan ini. Aku ingin tau papa ku. Begitu. Mama di tegaskan."
"Ohh gitu ya ?" Ilana mengangguk mantap.
"Kalau papa kak Ilana , apa dia masih hidup ?"
Ilana memukul adiknya dengan bantal kedua kalinya. "Aku jadi tidak percaya kalau kamu sakit."
"Aku hanya begini kalau sama Kakak saja."
"Awas kamu ya, aku menghabiskan 46.000 dollar untuk kamu saja.Awas kalau sakit mu hanya malarindu saja kakak hajar kamu."
"Kakak !"seru Louis yang kesal di pukul kakaknya. Pasien baru bangun dari koma sudah di pukuli.
"Kaka tidak mencerminkan artis."
"BODOAMAT"
Selepas kekesalan Ilana mereda ia memilih duduk dan minum kembali. Louis memasang wajah kesal.
"Jadi papa kak Ilana ada dimana ? Apa masih hidup ?"
"Meninggal. Makanya mama di gebet papa mu dan lahir kamu."
"Apa iya papa kak Ilana memang sudah meninggal ?"
"Kamu percaya situs internet atau orang nya yang ada di hadapanmu yang punya kisahnya."
"Iyaya percaya kok. Aku percaya Kakak."
Ilana menuliskan secara resmi di awal debutnya jika ayah nya meninggal karena kecelakaan mengenai jasad nya Ilana tidak dapat menemukan karena jatuh di kedalaman laut.
"Jadi papa ku masih hidup ?"
"Tanya sama mama."
"Kenapa sih harus tanya sama mama ? Kenapa ga kakak aja yang jawab."Louis mulai frustasi.
"Ya karena mama lebih berhak daripada Kakak. "
Maaf, ini tanggung jawab mu. Mama harus menanggung akibatnya. Hari yang kita tunggu sudah datang. Tidak akan ku biarkan kamu terus mengelak.
"Papa kak Ilana orang nya seperti apa ?"
"Kenapa bertanya tentang itu ?"
"Aku penasaran. Kakak begitu penyayang, lembut, humoris, menyenangkan,lucu, baik pasti itu semua menurun dari papa nya Kak Ilana."
"Kenapa ga bilang menurun dari mama saja ? "
"Ya karena mama itu berbanding terbalik dari Kak Ilana. Mama bahkan tidak punya secuil pun fotocopy fisiknya di wajah kakak. Hidung sama dagunya yang dulu mirip mama kini berubah karena kecelakaan waktu itu. "
Itu anugrah bagiku Louis. Cukup darahnya saja yang mengalir. Jiplakan dirinya tidak perlu.Aku senang tidak melihat pecundang di wajahku.
"Jadi seperti apa pribadi papa kak Ilana ?"
"Ohh itu............Ahh kamu menebak dengan sangat tepat. Begitulah papa ku Louis. Dia Penyayang, lembut, humoris, menyenangkan,lucu, baik seperti kamu sebutkan tadi."
"Senang nya " puji Louis. Ilana membalas dengan senyuman.
"Aku ingin sekali memeluk dan menyayangi papa kak Ilana. Aku juga mau bilang Terima kasih karena sudah melahirkan kakak yang luar biasa. "
"Andaikan papa kak Ilana masih hidup. Terus Kakak ketemu dengan nya kakak mau bilang apa atau kakak mau meluk gitu ?"
Aku ingin bertanya kenapa dia jahat padaku ?
"Aku ingin memeluknya dan melupakan rasa rrrrrinnnndu ini padanya."Kata Ilana. Ilana ingin muntah sekarang berkata demikian.
Marcella mendengar obrolan kedua anaknya. Dua Pengawal nya melirik Marcella yang memutuskan pergi tidak jadi masuk.
"Ahh sudah ahhh kamu nanya Mulu di bayar juga enggak. Kakak mau keluar dulu cari makanan. "
"Aku mau ikut "
"Diam aja disini, bentar lagi nenek atau mama datang. Makanya cepet sembuh biar bisa jalan. Iri kan kamu. Liat nih liat nih kakak bisa jalan..kakak melangkah..kakak buka pintu dan kakak tutup pintu. "Louis terkekeh melihat aksi kocak kakaknya.
Dua pengawal tadi saling melirik dengan aksi kocaknya Ilana berlagak seperti monyet. Ilana tersenyum sembari menahan malu runtuh sudah harga dirinya.
"Sudah makan belum ? Saya belikan mau ?"
"Tidak perlu Nyonya kami---"
"Pasti belum sebentar ya saya belikan dulu. Kalian masuk saja kalau memang ingin istirahat. "
"Baik Nyonya."
Ilana berlari kecil menahan malu namun di balik tembok lain seseorang juga ikut tertawa seperti dua pengawal tadi. Rupanya ia melihat Ilana dengan tingkah gemesin nya.
"Apa-apaan tadi, kenapa dia lucu sekali."
Ilana baru kembali sehabis beli makanan tak jauh darinya ada Marcella.
Ilana tersenyum sedangkan Marcella menatapnya dengan datar.
"Ma "seru nya melambaikan tangan.
Ilana harus menjaga image. Kondisi nya sekarang sedang berada di luar jadi tidak boleh ada kejelekan yang terlihat.