
Ilana memberikan segelas air putih. "Minum dulu."
"Kakak sudah menghubungi Paman Muhammad, tapi kakak bilang untuk jangan mengganggu kamu dulu."
"Kak apa aku boleh tinggal disini ?"
"Tentu saja, tidurlah disini sebanyak yang kamu inginkan."
"Kakak tidur dimana ?"
"Tidur di bawah,di sofa,mobil atau dimana aja kakak bisa."
Louis tidur di bawah dan Ilana tidur di atas kasur. "Jangan begini lagi, minimal kalau kamu pergi kamu harus menghubungi kakak.Kamu harus bawa ponsel mu, agar kakak bisa tau kamu dimana ?"
Louis meraih tangan Ilana. Ia mencium punggung tangan. "Maafkan aku kak, aku membuatmu sedih."
"Aku sudah tau mengenai ayah ku. Aku tidak sengaja mendengarnya tadi."
"Apa kamu ingin aku pertemukan ? Aku kebetulan mengenalnya."
"Kenapa kakak juga bohong ?"
"Tapi kamu datang kesini,berati kamu mempercayai kakak mu."
"Aku tidak bohong Louis, mama melarang ku."
"Kupikir ayahku meninggal, seperti ayah kak Ilana. Mungkin Kak Ilana ga suka mama karena mama nikah lagi dan lebih sayang aku."
Ilana menarik rambut Louis. "Aku ini sudah dewasa. Ngapain mikirin seperti itu."
"Aku tidak mau karena ini serius, sepertinya kalian perang dingin cukup lama sekali."
"Saat aku berusia 12 tahun mama hamil kamu perut yang ia tutupi begitu lama akhirnya terbongkar. Mama mengajakku pergi tapi aku tidak mau disaat aku mulai punya karir di kota."
"Aku kenal baik dengan ayahmu. Dia berada di industri hiburan. Namun dia tidak mengenalku sebagai putri Marcella. Waktu itu kalau tidak salah dia bilang sekilas aku persis desainer Marcella."
"Bagaimana kepribadian ?"
"Dia tegas. Berprinsip. Tidak banyak bicara dan tipe pria cool. Mama berkencan dengan nya selama dua tahun. Ku dengar hubungan mereka tidak direstui. Dia menikah dengan wanita yang di jodohkan dengan nya, dan mama baru tau jika dia hamil kamu. Mereka bahkan masing berhubungan sebulan setelah papa mu menikah."
Sangat menjijikan sekali hamil dengan suami orang.
"Mama merahasiakan karena ia sudah mendapat ancaman dari kakek mu. Kamu harusnya tidak membenci Marcella, harusnya beri dia kesempatan untuk berbicara. Dia berjuang melahirkan mu, bekerja dan membesarkan mu lagi dan lagi tanpa suami. Jiwa dan fisik perempuan berbeda dengan laki-laki."
"Terus ayah kak Ilana apa benar meninggal saat bertugas ?"
"Louis sejak kapan kamu mempercayai media daripada kakakmu pemilik cerita."
Dia meninggal setelah bertugas meludahiku
"Akan lebih baik hidup berjalan seperti ini Louis. Aku juga tidak berharap dia hidup."
"Media tidak boleh tau jika aku anak dari hubungan tidak sah. Aku juga merasa malu."
"Makanya Kak Ilana ga pernah publish foto mama dan aku."
"Ya, jadi tenar itu sulit. Kamu nikmati saja hidupmu sebagai pangeran."
Ilana mengambil ponsel dan mencari di kolom pencarian di instagram.
"Nah ini papa mu. Namanya Rafael Steven Jo. Di panggil Pak Steven, Nama Korea Kim Steven dia pemilik agensi VCN. Wuhh ayah Louis orang kaya, aku jadi iri. "
Louis tertegun melihat foto perdana ayah nya yang belum sempat ia kenali.
"Ini ayahku ?"
"Ya, your daddy."
"My daddy. Dia begitu tampan."
Ilana mencubit gemas pipi Louis ."Putranya pun juga tampan."
"Menurut Kak Ilana apa dia akan senang saat tau aku adalah putranya ?"
"Entahlah, aku bukan Pak Steven. Coba saja kamu menunjukkan prestasimu, mungkin dia akan tau tentangmu."
Pria bernama Steven itu pernah menjadi juri bersama Ilana dan Ilana pernah bekerja di proyek drama nya.
...-------------------...
"PR udah dikerjakan ? "
"Ga ada PR kok kak, karena ada belajar malam"
"Ohh begitu. Jangan lupa tas nya. "
Joe muncul dengan rambut basah dan handuk pink kecil. "Joe coba cek kamar ku Louis sudah bangun belum "
Joe mengangguk malas. "Bocah SMA mana yang belom bangun jam segini. Apa dia ga telat ? "
Joe melihat Louis tidur membelakangi pintu.
"Louis bangun, kamu ga sekolah ? "
"Lou.. Louis..Louis "
"Tidur dia, mungkin bolos ya. " Kata Joe sendiri.
Joe keluar dari kamar Ilana. "Itu dia masih tidur di bangunin ga bangun-bangun. "
"Duh dia kan harus sekolah." Joe menahan lengan Ilana.
"Sudahlah, Sekali-kali bolos mana seru hidup kalau ga bolos. "
"Aku bangunin sarapan aja. "Ilana berjalan menuju kamar.
"Louis bangun, Louis sarapan yuk. Kakak buatkan roti selai kacang, kalau mau makan yang lain nanti kakak belikan. "
Ilana mengerutkan kening. "Louis... Louis... Hei.. Louis "
"Ilana " panggil James dari luar.
"Anak-anak tolong buka pintu Pak James datang. "
"Iya Kak Joe. "
"JOOOEEEE" Joe langsung berlari mendengar teriakan Ilana.
Ilana melihat darah menetes dari sayatan leher Nichol.
"Ada apa ? " tanya Joe panik
"Louis..l..Louis "
Mata Joe terbelalak melihat darah merembes memenuhi bantal.
James meletakkan sepatunya. "Untung kalian belum berangkat ini paman bawakan sosis. Ayo kita makan sama-sama. "
"Mana Ilana ? "
"MINGGIR "Seru Ilana.
James dan dua anak itu langsung menempelkan tubuh mereka di dinding.
"ADA APA INI ? LOUIS, TUNGGU, APA YANG TERJADI ? "
Ilana menggotong sendiri Louis di tubuhnya. Ilana segera memasuki lift bersama James dan Joe.
"Louis bertahanlah. Hiks hiks hiks hiks hiks "
"Ilana serahkan Louis padaku. " Kata James. Lift terbuka Ilana langsung bergegas membawa Nichol ke mobil.
"GO go go go Joe "
"Pagi yang tidak terduga. "kata James.
Sampai di rumah sakit Ilana langsung membawa Louis sampai ke brankar pasien.
James bergerak ke arah lain untuk mengurus agar berita ini tidak bocor. Entah apa masalah yang telah terjadi. James bertanggungjawab atas semua yang menyangkut Ilana.
Seorang pria yang mendapat telfon dari James langsung segera turun dengan wajah sumringah.
Tok.. tok.. tok
"Masuk " ucap sang dokter.
"Dia datang, " Katanya dengan wajah penuh kebahagiaan. Sedang Sang dokter mengerutkan kening. Seolah wajahnya mengutarakan,
Siapa yang datang ?
Ilana pikir rencana akan mudah mengingat Louis adalah seorang laki-laki pasti lebih mudah mengerti ternyata justru tidak demikian. Ilana lupa bahwa zaman sekarang laki-laki dan perempuan tak ada bedanya.
Louis sudah mendapatkan penanganan. Ilana terdiam di kursi James datang dan duduk di samping.
"Maaf, aku bertindak gegabah "
"Wajar saja. Tidak apa-apa semua orang panik jika itu terjadi. "
"Dia bernafas tadi kemungkinan kritis. "
"Apa yang terjadi sebenarnya ? "
Ilana menarik nafas perlahan. "Dia mengalami masa puber. "
"JANGAN BECANDA. Masa puber se extrem itu. "
Joe datang dengan begitu panik. Bahkan ia masih mengenakan celana pendek dan kaos oblong juga handuk kecil dan sandal rumah.
"Bagaimana-bagaimana Louis dia---"
"Duduklah, Dia kemungkinan kritis. " Joe melongo.
"Kata kritis bagimu sangat mudah sekali. Kamu tau kan artinya kritis ? "
"Dia tadi bilang padaku Louis sedang masa puber "
"Apa yang terjadi ? Aku baru saja tidak mengawasi mu lima hari sudah ada peristiwa. "
Ilana tidak terima dengan ucapan James barusan.
"Maksudnya aku buat masalah begitu ?"
"Tenang dan terkumpul Ilana " tegur Joe.
Ilana menghembuskan nafas kasar seraya melipat tangan di dada.
"Dia kabur dari rumah. Setelah tau siapa ayahnya. "
James melirik ke arah Ilana. "Ayah Louis ? bukan sudah meninggal karena kecelakaan ?"
Ilana terdiam seraya menghembuskan nafas kasar. Bagai jaringan tercanggih keduanya reflek melotot ke Ilana, Joe dan James tiba-tiba terlonjak kaget setelah beberapa menit mencerna apa yang di ucapkan Ilana barusan.
" Jangan-jangan, Jadi ayah nya Louis bukan kecelakaan kerja." Tanya James.
"Jangan-jangan Ayah Louis masih hidup ?" Tanya Joe. James mengangkat dagu memberi kode pada Joe. Mereka kepikiran hal yang sama.
Yang mereka tau selama ini adalah Louis adalah anak dari hubungan sah. Ayah Louis adalah arsitek. Menurut informasi ayahnya Louis mengalami kecelakaan kerja seusai memeriksa proyek villa.
"Itukan yang kalian dengar."
"Rafael Steven Jo ayah Nichol."
James melongo. " Pemilik VCN ?" Ilana mengangguk.
Joe sudah kehabisan kata-kata hingga ia hanya dapat membuka mulut lebar-lebar.
Rafael Steven Jo.