ILANA

ILANA
45. Dokter forensik



James masih tidak percaya sedangkan Joe masih bengong. Ia tau Rafael yang di bicarakan itu adalah orang berpengaruh di dunia entertainment ia sudah berapa kali masuk TV dan kalau tidak salah ingat Ilana pernah bilang saat mereka menonton acara investasi di sabtu siang jika Rafael Steven Jo pemilik VCN.


"Aku benar-benar tidak bisa berkata-kata. "


"Jadi adikmu itu anaknya Steven. Ini sebentar sebentar hahahaha aku mau ketawa. Tapi ini bener kan ? "


"Aku tidak becanda. Louis memang putranya Rafael Steven Jo."


James tertawa keras hingga mengundang pasang mata yang terganggu.


"Harus ku akui jika ibumu bukan simpanan sembarang orang, aku ga nyangka ibumu memiliki anak dari crazy rich."kata James lagi.


"Ilana jika kisah mu di buat film kurasa kamu akan memenangkan penghargaan."


"Hebat Kan ibuku, simpanan pria tajir melintir."Ilana tak tersinggung justru membanggakan Marcella.


Joe melirik malas, "Kalau ibumu simpanan pria tajir melintir atau teplintir sekalipun, Dia ga akan ninggalin anaknya. Sampai kamu harus kerja."


"Dia ga tau kalau dia memiliki anak. Ibuku meninggalkan Pak Steven setelah dia tau hamil Louis."


James berpikir sejenak.


"Ilana aku saja tertipu oleh cerita ibumu, Apa aku juga tertipu dengan ceritamu ini" Ilana berdecak kesal.


"Terserah ! Aku jelas melihatnya sendiri."


"Melihat mereka ?"


"Melihat apa ? " James jadi dongkol.


"Kamu melihat apa memangnya Ilana."


Ilana berdecak kesal mencoba menyakinkan James. "Arghh, aku melihat pembuatan Louis, puas."Sarkas Ilana.


Wajah James berubah tidak nyaman. "Memang nya semua orang tidak boleh punya masa lalu."


"Gimana reaksi Pak Steven kalau tau Louis adalah putranya ?" tanya Joe. Ilana menggeleng kepala tak tau.


Ilana bukan Rafael Steven Jo jadi tidak tau harus bagaimana. Wanita yang menghilang selama belasan tahun rupanya memiliki anak bersamanya. Dia memiliki seorang putra dari wanita lain. Entah harus bagaimana pikir Ilana.


Seorang perawat keluar. "Dokter ingin bertemu dengan keluarga pasien. Silakan ikuti saya." Ilana mengangguk. James berdiri menemani Ilana.


"Begini, luka yang tersayat cukup dalam. Kami tidak bisa memperkirakan kapan ia akan sadar. Kalau boleh tau kenapa bisa sampai tersayat begini ?"


"Sepupu saya kerampokan."jawab Ilana lugas.


Tumben pintar Celetuk James.


"Oh begitu ? Saya pikir percobaan bunuh diri." Ilana dan James tersenyum gentir. Padahal memang mau bunuh diri.


Ilana keluar dari ruang dokter setelah mendapat penjelasan dan nasihat yang cukup panjang, Joe mengabari jika Louis sudah di pindahkan.


"Kabari ibunya tentang kelakuan anaknya. Tapi jangan perbolehkan mereka datang Louis dalam kondisi ga baik."


"Apa aku tidak punya jadwal pekerjaan ?"


"Tidak ada. Satu minggu ini kamu punya waktu leluasa. Kamis ada jadwal talk show dan jum'at kamu di undang variety show."


Karena merasa bosan menunggu Louis, Ilana duduk di ruang tunggu. Sembari melihat orang silih berganti lewat.


Tak banyak yang Ilana kerjakan selain menulis, bermain ponsel dan makan di kantin.


Seseorang duduk di samping nya. Rupanya seorang dokter pria.


"Aku tau tempat yang bagus disini. Mau pergi kesana ?"


"Sepupuku bagaimana ?"


"Kamu sudah punya pengawal untuk apa harus menjaga nya."


Ilana berdiri sambil tersenyum.ol"Dimana tempat itu ?"


"Ohh ikuti aku "


Ilana diajak ke rooftop rumah sakit yang super besar dan mewah.


Ada dua lambang rumah sakit jika Ilana tafsir seperti tanda mendarat helikopter.


"Disini ada pasien yang di bawa pakai pesawat juga yaa ?"


"Helikopter, pesawat ga cukup. Hancur ini gedung " Ilana malu asal bicara.


Astaga bodoh kamu Ilana, masa iya pesawat dan helikopter di samain sih.


"Iya, disini ada dua helikopter. Biasanya pasien pasti dalam kondisi darurat atau dia sudah lama di penerbangan."


"Helikopter mana ?"


"Kalau ga ada berati jemput pasien. "


"Bagaimana perasaan mu ?"


"Angin bebas, aku suka. Apa disini bisa melihat matahari terbenam ?"


"Masih satu jam lagi, apa kamu mau menunggu ?"


"Apa dokter tidak ada pekerjaan ?"


"Aku sedang santai, aku akan sibuk jika memang harus."


Dokter tersebut mengerutkan kening. "Kenapa kamu tertawa ? Apa yang aku bilang barusan itu lucu"


"Tidak dok, saya baru pertama kali mendengar seorang dokter berkata seperti itu." Dokter itu melepas jas dan memakai untuk Ilana.


"Terima kasih."


Ilana membaca profesi pria itu dari name tag jas putihnya. "Forensik ? Ohh pantas."


"Kamu akhirnya mengerti, saya benar kan. Saya ga akan sibuk kalau memang ga ada pasien nya."


"Saya merasa ga banyak orang yang minat menjadi ahli bedah forensik. Karena kita banyak mempelajari alasan meninggal sih mayat apalagi yang sudah lama terkubur atau tenggelam."


"Pernah ga dapat kesulitan selama memilih jadi dokter forensik."


"Umm pernah ada dua kasus. Kamu mau aku ceritakan yang mana ?"


"Dua-duanya dok."


"Pertama, waktu itu ada seorang perempuan yang meninggal karena di racun papa kandung sendiri. Racun nya sangat sulit di tebak kandungan yang jenis A ada, yang jenis B ada, Yang jenis C juga ada, terus yang jenis D pun ada. Kita ga tau yang mana racun yang di pakai. Ternyata sih pelaku adalah lulusan ahli kimia dia mampu mencampur zat yang berbahaya. Waktu itu ga mudah karena racun tergolong sedikit hanya satu setengah mili dan dia mudah larut di air." Ilana mengangguk paham.


"Berikutnya dia adalah korban pembunuhan sudah menjadi tulang ga ada otot atau apapun. Jadi keluarga meminta di selidiki itu sangat memakan waktu karena banyak dari tubuhnya yang sudah dimakan alam. Jadi kami hanya menjelaskan jika alasan kematian pertama ada benturan keras yang fatal di kepalanya terjadi tiga kali dan rusuk korban mengalami cedera karena tendangan juga ada tubuh yang patah akibat penganiayaan."


"Tapi biasanya ada keluarga pasien yang juga enggak mau otopsi mungkin berbagai alasan. "


"Dokter apa pernah berkomunikasi secara supranatural sama mereka."


"Tidak pernah. Mungkin keberadaanya bukan hal sensitif bagi saya."


"Sekarang enggak ada mayat ?"


"Enggak ada hari ini saya bebas. "


"Ada ribuan alasan penyebab seseorang meninggal tapi yang pasti kita tau meninggal pasti terjadi."


"Kalau dia kecelakaan pesawat bagaimana apa perlu di otopsi juga ?"


"Tentu tidaklah, kita sudah tau sebab kematian. Tapi itu proyek besar karena kita harus cari tau DNA potongan tubuh biasanya tubuhnya banyak ke potong. Tapi ada juga yang utuh."


"Otopsi biasanya memakan waktu berapa lama ?"


"Tergantung. Bisa begitu lama hingga dua bulan bisa cepat hanya tiga hari."


"Aku suka profesi ku karena tempatnya tenang, dingin dan tidak ada tuntutan waktu."


"Apa pernah menjumpai mayat yang sudah membusuk ?"


"Pernah dia bunuh diri saat mengugurkan bayinya."


Ilana mengerutkan kening, "Terus busuk dimana ?"


"Perilaku dan tubuhnya. "Ilana mengangguk paham.


Dokter itu menunjuk ke arah depan. " Lihat matahari mulai terbenam."


"Oh yaa, wahh" Ilana berjalan ke pagar pembatas.


"Indah ya,Ciptaan nya Allah."


Pria itu tertegun ketika Ilana memandang ke arah nya. Ia mencoba menarik nafas perlahan seraya menormalkan degupan jantung.


Siapapun pasti terlena dengan tatapan Ilana yang mempesona itu.


Keduanya menikmati matahari terbenam berdua sambil bercerita banyak tentang otopsi, forensik dan istilah dalam kedokteran.


Ilana melihat keberadaan keluarganya di ruangan Louis. Ia tak berani masuk.


"Ilana ?" panggil Joe.


Ilana menoleh ke belakang. Ilana tidak ingin kehadiran di ketahui oleh mereka jadi ia putuskan tidak masuk.


"Selesaikan Administrasi Joe, minta Rico ambilkan barang ku. Aku tunggu di mobil. "


"Baiklah" Ilana benar-benar ingin jauh dari keluarganya.


Rico memberitahu semua penjaga bahwa Ilana meminta mereka pulang dan tidak ada ganti jaga.


"Kalian ingin pergi kemana ? ini bukan nya buku Ilana. "kata Marcella.


"Benar bu, Nona Ilana meminta kami pulang karena keluarga Pak Louis sudah datang. Nona Ilana juga pulang karena masih ada pekerjaan. "


"Kami permisi "


Dua mobil milik Ilana siap dibarisan keluar dari parkiran.Mereka semua sudah masuk ke dalam. Ilana masuk dengan langkah cepat. Salah seorang yang menutup pintu langsung masuk ke dalam duduk di samping Joe sebagai supir.


Mobil pengawal di depan menunggu Joe memundurkan mobil.


BRUK


"HAMPIR SAJA "


"Ada apa ?" tanya Ilana yang duduk di kursi belakang.


Marcella berdiri di depan mobilnya. Dengan rahang yang mengeras.


Tok... tok..


"Kita harus bicara Ilana. "


"Ilana "


"Ilana apa kamu mendengar ku! "


"Ilana "


"ILANA "


"ILANA "


"Jalan Joe "


"Baiklah " Joe membunyikan klakson nyaring. Joe membelokkan sedikit. Mereka yang paham melajukan mobil di ikuti Joe. Marcella berusaha mengejar dan Ilana tidak peduli.


Ia sudah mendapat kabar jika Louis sudah sadar jadi Ilana sudah lepas tanggung jawab.