ILANA

ILANA
58. Dilamar



Almeer mendadak frustasi Ilana jadi salah paham karena ucapan waktu itu di taman. Sekarang Ilana jadi sering menghindarinya dan me reject telfon.


Ilana lebih sering tampil di TV daripada tinggal di ruang studio menciptakan karya.


Ilana ingin semua jadwalnya selesai sebelum hari perpisahan dengan Sophia.


"Hai Ilana "


"Hai kak "


"Sini biar aku bantu "


"Terima kasih "


"Dimana mobilmu ? "


"Di sebelah sana "


"Biasanya kamu sama manager mu kemana dia. "


"Manager ku sedang ada urusan di kantor jadi aku pergi sama pengawal ku. "


"Begitu."


Kontrak Ilana di perpanjang selama kurang lebih 10 episode di salah satu variety show. Ilana yang lucu,polos dan beda dari yang lain membuat producer dan sutradara menyiapkan kontrak ekslusif untuknya.


"Ini cukup berat. Apa isinya. "


"Perlengkapan ku. Aku cuman sementara di sini. Jadi ku bawa-bawa aja. "


"Mau bagi meja dengan ku. "


"Terima kasih tawaran tapi tidak perlu. "


Pria itu memberikan tas ke pengawal Ilana.


"Harus tunggu kami sebentar. "


"Gapapa. Tadi mau ambil properti dan penuh juga nya barang di sana. Jadi ku angkat kesini, sudah selesai juga. "


Pria itu melihat tangan Ilana.


"Tangan mu terkelupas. Padahal bukan musim dingin. "


"Sini "


"Sering-sering pakai losion. "


"Harum nya wangi sekali. " Ilana mencium telapak tangan nya.


"Ibuku bekerja di penata rias. Jadi aku tau banyak soal ini. "


"Luar biasa. Kedengaran nya bagus."


James keluar melihat Ilana di parkiran.


"Ilana ayo. "


"Ohh okey. "


"Aku pergi dulu ya. Lanjut cari nafkah. "


"Semangat Ilana. "


"Young soo. Terima kasih. Semangat bekerja juga. Aku mendukungmu. " Young soo tersenyum ia melambaikan tangan ketika Ilana mengucapkan bye-bye.


Seseorang memotret dari jauh Ilana dan artis bernama Young soo.


Young soo memandang mobil Ilana yang pergi menjauh.


"Wajar kalau dia kaya. Dia benar-benar bekerja keras. Tipe idaman ku sekali. "


Almeer meremas hasil jepretan orang suruhan itu.


"ARGH Ilana !!!!! "


"Kau membuatku harus bertindak lebih cepat. "


"Lebih cepat semakin cepat dan tambah cepat dari kecepatan pesawat. "


Ilana datang ke rumah sakit menjenguk adiknya sudah tiga hari pasca operasi Ilana tidak menjenguknya.


Namun yang ia lihat justru lain. Ilana tidak jadi membuka pintu untuk masuk. Rafael sedang ngobrol bersama Marcella di ruang Louis.


"Syukurlah hubungan mereka membaik. "


Rafael, Louis dan Marcella. Ketiga nama orang itu sedang Ilana pikirkan.


"Betapa beruntungnya adikku. "


Ilana menghela nafas panjang.


"Aku tetaplah seorang diri. Meski kami lahir dari ibu yang sama namun rasanya aku orang asing. Louis punya ayah dan ibu. Aku hanya sendiri.Tetap sendiri. "


"Kamu tidak memiliki keluarga kalau ga ada kamu membentuk keluarga sendiri saja. "kata Almeer bersandar di tembok.


"Ohh kamu. Hallo."


" Terima kasih sudah memberatkan pikiranku. "kata Ilana. Ia cabut dari hadapan Almeer.


Almeer tertawa ia mengikuti langkah Ilana.


" Kamu mau kemana ? "


" Aku harus pulang. "


" Mau ku antar "


"Aku di tunggu di depan. "


"Mereka sudah ku suruh pulang. "


Ilana membeo. "Memang nya siapa kamu yang berani menyuruh manager dan pengawal ku pergi. "


"Tentu aku bisa. "


Ilana terkejut bukan main dua mobil benar-benar meninggalkan parkiran.


"James ****** kamu !!!! "


Tok.. tok.. tok..


"Tuan Almeer "


"Pak James, pulang lah. Ilana akan pulang bersama ku. "


"Maaf tuan jika saya menolak. Kami harus tetap standby disini----"


Almeer menunjukkan sesuatu dari saku celana.


"Aku akan menjaga Ilana dengan baik. Pulang lah. Dia akan jadi tanggung jawabku. "


Ilana kembali dengan wajah kesal dan marah. Almeer tersenyum simpul menunjukkan bahwa ia berkuasa lebih dari Ilana.


"Antarkan aku pulang. "


"Kamu memerintah ku ? "


"Jangan lupa kamu yang membuatku seperti ini. "


"Kamu bisa pesan taksi. "


Almeer memasang wajah tanpa dosa.


"Siapa suruh kamu besuk jam segini. "


"Argh ! dasar menyebalkan. " Ilana menginjak kaki Almeer. Pria itu justru tertawa saja.


"IIana tunggu aku. "


Ilana memutuskan akan pergi ke ruang Louis untuk tidur.


Almeer menarik tangan Ilana yang baru akan menekan tombol lift.


"Mau kemana kita ? "


"Kau akan tau nanti. "


"Ini sudah jam 12 malam ngapain lari-lari di rumah sakit. "


"Waktunya mepet. Jadi lari lebih efisien. "


"Aku ini ngantuk. Tenaga ku sudah habis. Dan masih harus diajak lari-lari. "


"Kamu masih marah-marah berati energi belum habis. "


Keduanya sampai di rooftop. Angin begitu kencang.


"Ayo Ilana. " Almeer tidak melepas genggaman dari Ilana.


Tangan keduanya yang bertaut bahkan sudah menghasilkan keringat.


"Aku pasti gila mengikutinya hingga kini. " Runtuk Ilana.


"Bentar aku ambil sesuatu. "


"11:59 memang nya kita mau ngapain. "


Ilana terkejut melihat Almeer berdiri di hadapan dan perlahan mulai turun pria keturunan campuran itu menunjukkan satu cincin di hadapan Ilana.


"Almeer----"


"Hei Ilana. Rupanya waktu tak bisa membuatku melupakan mu dan kamu pun tidak lari dari zona ku kamu tetap kembali. Rencana menikah memang itu list hidupku dan akan tetap jadi list jika pengantin adalah kamu. "


"Ilana menikahlah denganku. Izinkan aku menjadi pendamping hidupmu. "


"Hidupmu tidak akan baik-baik saja. Aku seorang artis. "


"Meski kamu bandar narkoba sekalipun memang kenapa. "


"Pikirkan kembali, menikah bukan sebentar. Menikah sangat sakral. "


"Aku tau, maka dari itu aku mengajakmu. "


"Aku anak dari hasil hubungan gelap. "


Tolong berhentilah Almeer. Aku tidak mau menganggumu.


Ilana hendak beranjak pergi namun tangan ditahan lagi dan lagi oleh Almeer.


"Ilana aku mengerti perasaan mu. Tapi memang kenapa. Kamu anak hasil hubungan gelap atau terang. Memang kenapa ? Aku ga peduli. "


"Aku peduli Almeer. Aku tau kamu keluarga terpandang. Tolong pikirkan kembali. "


Tangan Ilana kembali di tahan.


"Kau tidak menolak justru meminta ku memikirkan kembali. Aku ga mau memikirkan kembali. "


Almeer mencabut cincin dari kotak. Ia membuka telapak Ilana dengan lembut.


"Bukan aku. Tapi kamu. Pikirkan aku kembali. Aku serius ingin menikahi mu. Aku bersungguh-sungguh ingin membentuk keluarga. " Almeer memeluk Ilana ia mengusap punggung gadis itu dengan tangan yang besar.


...****************...


Ilana memandangi cincin yang diberikan oleh dokter forensik itu.


Foto-foto Ilana dan Almeer terkumpul di sebuah meja.


Aira tersenyum licik.


"Ini kan yang kamu mau ? "


"Ambil lah. "


"Aku akan membayar. Transfer saja. "


"Ayolah Uzy. Kau tau kan uang ku begitu banyak. Yang aku butuhkan adalah buat skandal ini sebesar-besarnya. "


Uzy baru saja masuk ke dalam studio setelah pergi ke rumah Aira. Disana ia melihat Ilana sedang bersih-bersih dan mengangkat satu kardus. Berisi barang-barang nya.


"Ilana, kamu mau pindah ? "


"Ya "


"Apa kamu merasa tidak nyaman denganku ? "


"Sedikit. Aku punya rencana lain. Aku mau pergi dulu permisi. "


"APA AKU SANGAT-SANGAT MENJIJIKKAN DI MATA MU, APA KAMU MERASA DIRIMU SUCI. "


Ilana tidak menjawab ia segera keluar dari ruang musik. Ruang musik Ilana sering di gunakan Uzy karena ruangan masih rusak.


Prang


prang


Barang Ilana berisi headphone, mikrofon kertas-kertas dan proyek nya berupa lirik lagu jatuh kemana-mana.


Ilana menghela nafas panjang ia memilih memunguti barang-barangnya.


"Kenapa kamu diam saja ?! kalau kamu marah harusnya kamu bilang ?! "


"Aku ga marah. "Ilana mengambil dengan cepat barang nya yang penting bisa pergi dan menjauh.


" Ilana ! "bentak Uzy.


"Uzy, Kamu sedang hamil. Tolong jangan ribut. "


"Aku ga akan kayak gini kalau kamu bicara. Kamu bisa marah ? Kamu ga pernah tunjukkan ekspresi apapun. Marah atau pukul aku atau lakukan sesuatu bukan buat aku merasa jijik dan hina seperti ini. "


"Yang membuat anggapan seperti itu ya kamu. Kamu cari penyakit sendiri. Itu bukan urusanku seperti apa kamu melihat dirimu. Aku pergi bukan karena kamu aku punya alasan."


"Ya katakan apa alasannya ?! "


"Uzy ! berhenti ! Kamu ga lelah apa !!! siapapun pasti lelah denganmu. Berhenti,hentikan ! Pikiran negatif mu membuatku ga nyaman. I'm fine, kalau ini menyangkut hubungan kamu dengan Jung aku bukan orang yang larut dalam kesedihan. Aku tidak punya waktu mengenang masa itu. TOLONG NGERTI. Fokus saja pada kamu dan bayimu juga pernikahan mu.


Kamu merasa bersalah sekarang lalu kemarin bagaimana. Bagaimana sampai bayi ini ada di perutmu. "


Ilana mendekat ke telinga Uzy. Ilana melihat ke sekitar karena sekarang berada diluar ruangan. Ga etis saja artis menunjukkan sikap aslinya. Ilana mendekat ke arah Uzy.


"Seperti halnya kamu mengambil Jung seperti itu juga perasaan yang harus kamu jalanin. "


"Apa kamu tau perasaan seperti apa itu. "


"Seperti pencuri "


Uzy semakin emosi. "Aku tidak mencuri. Kamulah yang mencuri nya dariku. "


"Jika begitu kamu salah. Setelah putus dari mu masih ada dua wanita lagi sebelum aku. Kamu bisa ambil ruang kerjaku. Aku tidak akan kembali kesini. "