
Seorang wanita tengah syuting sekarang di salah satu lokasi di kota yang berada di Amerika.
Ketika sutradara mengatakan Cut mereka bunar. Wanita itu menghambur pelukan ke seorang pria yang menurutnya adalah penyemangat hidup barunya.
"Alex aku senang sekali kamu datang. "
Alex merasa ditatap nyalang oleh orang-orang yang menginginkan Emma. Wanita memeluknya dengan sangat erat bahkan Alex bisa merasakan semua barang wanita itu. Lagi-lagi harus Alex katakan budaya barat.
"Aku susah bernafas"
"T.. t.. tolong lepaskan aku. "
"Maaf "
Alex memijat lehernya. "Apa kamu sengaja membuatku mati ? "
"Benar. Kalau kamu tidak menikah denganku. "
Alex membantu membawa tas Emma dan perlengkapan lainnya yang cukup banyak.
"Biar pembantuku saja. "
"Ga usah. Manajer mu izin pulang tadi katanya ada urusan. Jadi aku saja. "
"Iss kenapa harus sekarang sih. Nanti aku tegur dia. "
"Eh, jangan gitu. Kamu ga tau mungkin dia punya urusan. "
"Kalau kamu yang bilang aku akan nurut. "
Keduanya sampai di mobil Emma.
Emma menurunkan kaca mobilnya.
" Masuklah "
"Aku datang kemari untuk ini. "
"APA ? DASAR ****** KAMU MAU MENIKAH. HEI !" supir dan pembantu Emma menutup telinga saking melengking suara.
"Baca saja dulu. Aku pulang dulu. "
"Hei kau mau kemana Hei !!! Alex!! "
Alex abai masuk ke dalam mobil dan pergi.
"Mari kita liat siapa wanita yang menikah dengan laki-laki gula ku. Akan ku cincang. "
"Marcella dan Rafael. Ini, astaga. Apa aku baru saja salah paham. "
"Laki-laki itu memang paling suka membuatku emosi. "
"Padahal dia yang salah ga mau baca. "
"Diam lah. "
"Menurutmu jika dia memberiku undangan apa dia mengajakku ? "
"Iyaa nyonya " ucap pengawal dengan malas.
...****************...
Ilana menghela nafas panjang. Akting lagi akting lagi.
Louis dan Ilana bersama-sama membuka pintu dimana ada mempelai pengantin disana.
Marcella duduk di kursi rias sendirian setelah di dandanin.
"Ilana.. Louis.. "Marcella menoleh.
"Cantik sekali "puji Ilana. Melihat ibunya seperti 27 tahun. Cantik dan awet muda.
"Mama cantik sekali " ucap Louis.
Marcella memeluk kedua anaknya. "Maafin mama kalau mama ada salah. Mama Terima kasih sekali pada Tuhan karena kalian lahir dan menjadi anak yang baik. "
"Juru photo sudah datang. " Kata Saka. Ilana mengangguk.
"Pak tolong foto kami dengan bagus ya. "
"Aigo kupikir kalian saudara ternyata ibu dan Anak-anak nya. "
Ketiga orang itu berphoto dengan sangat indah dan bagus. Sebagai kenangan untuk pertama kalinya setelah 27 tahun hidup Ilana bisa membangun cinta di dalam keluarga kecil ini.
"Pak bisa foto kan aku dengan putriku "Fotografer itu mengangguk ikut merasakan bahagia.
Pernikahan Marcella dan Rafael diadakan dengan sangat sederhana hanya mendaftarkan pernikahan lalu perjanjian nikah mereka kemudian acara makan-makan di kediaman Ayu.
Semua orang sudah mengisi kursi mereka sendiri. Anak-anak dibiarkan di ruang main yang sudah disediakan.
Pengantin keluar di iringin tepuk tangan meriah.
Emma datang bersama kedua anaknya.
"Itu kakak pertamaku namanya Andrew, ini kakak kedua ku yang sama suaminya tuh namanya Ruby. Kalau itu kakak ketiga ku namanya Muhammad. Yang menikah adalah adik bungsu kami namanya Marcella dia ibunya Ilana. "
"Jadi kamu anak keempat "
"Ya begitulah. Yang lagi ngobrol sama Andrew itu mama ku. Dia orangnya gaul dan asyik. Absurd juga. Kamu ga perlu memahaminya. Dia orangnya sederhana dan bodoamat. Jangan membahas kehidupan glamor mu "
"Kenapa ? mama mu ga suka ? "
"Bukan. Dia ga ngerti. Sudahlah. Dia hanya bisa masak, bersih-bersih rumah dan ngomel. "Ayu berpakaian tomboy mengenakan celana panjang dan baju lengan panjang saja lengan pun di gulung.
"Keluarga mu good looking semua yaa. Ini kali pertama aku liat keluarga seseorang yang wajahnya di atas rata-rata. Pantas saja Ilana cantik, mama saja cantik banget. "
"Papa Ilana tampan. Ilana lebih mirip ayahnya kata orang daripada ibunya. "Emma mengangguk.
Emma menyipitkan mata melihat seorang laki-laki tak asing.
"Yang disamping Ilana itu putra dari group Pracanda Hamzah ?"
"Pracanda Hamzah apa itu. ?"
"Keluarganya adalah orang terkaya di dunia. Tapi namanya tidak pernah terdaftar. Ayah atau paman nya gitu pemilik acara tahunan internasional terus sama brand pakaian ******** itu milik tantenya. "
"Kenapa tidak pernah terdaftar ? "
"Biasanya orang kaya jauh lebih kejam. Mereka tau menunjukkan ke publik seperti itu mereka hanya akan dikenai pajak dan tidak bisa bergerak atas dasar insting Pembisnis. "
"Maksudnya ? "
"Pemerintah akan senang mengambil uang mereka. Pembisnis itu bebas dia tak bisa di batasi atas dasar cinta negara. Coba aja kamu cari di google foto keluarga mereka tidak pernah sampai ke publik. Mereka melancarkan aksinya di balik layar. Itu yang ku tau tentang mereka. "
"Memang sebenarnya apa ? "
Emma menatap selidik. "Masih banyak lagi. Mereka memiliki banyak saham di berbagai negara mungkin seluruh dunia kurasa sudah di jelajahi. Sulit bertemu anggota keluarga mereka harus orang penting dan berpengaruh baru bisa menemui mereka. "
"Menurutmu sebanyak apa uangnya. "
"Entahlah aku tak bisa tafsirkan. "
"Memang ada hubungan apa kalian sama dia ? "
"Dia calon suami Ilana " Emma tersedak mendengarnya.
"Kamu gapapa ? "
Emma menghentikan tangan Alex yang membersihkan minum di mulutnya.
"Benarkah ? "
"A.. apa apa dia begitu buruk ? "
"Wah, keluarga kalian kedapatan berlian mewah. "
"Apa dia laki-laki jahat ? Biar ku hajar dia. "
"B.. bukan begitu. Aku belum selesai bicara. Ilana benar-benar membuang sisa makanan untuk berlian mewah. Dia sangat kaya raya. Kamu mungkin ga percaya. Di usianya yang ke 25 tahun anak itu sudah lulus S2 "
"A.. apa maksudmu ? "
"Dia paling jenius di Grup.... Kata teman ku Grup Pracanda Hamzah memiliki satu anggota..anak laki-laki paling jenius. Ciri yang pasti di punya tanda hitam di bawah telinga nya. "
"Wahh tidak kusuka aku bisa bertemu dengannya. Mengagumkan, teman-teman ku pasti tidak percaya ini. Ternyata selera Ilana bukan orang sembarangan. "
Almeer larut dalam cerita yang Louis katakan. Tangan besar sigap berada di pinggang Ilana sambil terus mengelus pinggang Ilana.
"Apa menurutmu dia akan mencintai keponakan dengan tulus ? "
Emma menghela nafas panjang. "Aku iri sama Ilana. Kenapa aku tidak bisa mengisi pikiranmu hanya dengan aku. Meskipun dia keponakan mu aku tetap cemburu. "
"Hahaha kau tidak tau apa-apa. Aku menyayangi sebagai putriku sendiri. "
"Ya, memang wajar karena dia tidak memiliki ayah. "
"Aku paham kenapa kamu tidak suka wanita diluar sana dan pakaian terbuka. Disini keluarga mu sopan dan cantik. "
"Kamu ga mau tau kenapa aku mengajakmu kemari ? "
"Sudah pasti kamu ga punya teman wanita selain aku kan. "
Alex menghentikan kegiatan tangan nya. Ia lalu tersenyum pria itu kembali melanjutkan makan.
Alex mengenalkan Emma dan kedua anak Emma kepada keluarganya. Juga pada Ilana yang disambut baik.
"Emma menginap lah disini. Disini banyak kamar kosong. "
Alex menoleh ke ibunya. Artis mahal di suruh nginap di rumah mereka. Di kira Emma apaan.
"Begitu yaa. Aku bisa sewa hotel. "
"Kamu bisa tidur di kamar Ilana. Di depan ada kamar Alex. Anak-anak bisa tidur di kamar Marcella. "
"Apa keluarga pulang ? "
"Iya mereka harus pulang ke rumah masing-masing. "
"Baiklah kalau begitu."
Ayu mudah bergaul dengan kedua anaknya.Hal itu membuat hati Emma menghangat bahkan ayah-ayah dari kedua anaknya saja tidak se peduli itu justru ia dapatkan dari orang lain.
Tok
Tok
Tok
Emma membuka pintu. Ternyata Ayu, ibunya Alex.
"Iya tante ada apa ? "
"Anak-anak sudah tidur. Saya pikir kamu sudah tidur. "
"Terima kasih. Maaf sudah merepotkan. "
"Ini ada titipan dari Alex. "
"T.. Terima kasih. " Emma kikuk.
Emma mengerutkan kening mengenai Paper bag apa isinya.
Ada sebuah kotak. Emma membuka ternyata sebuah kalung.
"Woah." Emma duduk di sisi ranjang.
Alex menuliskan sesuatu di kertas. Emma membaca menangis terharu.
Aku ga bilang kamu seperti matahari, bersinar atau terang. Aku cuman asal milih. Aku tidak suka padamu Emma. Kamu itu bukan perempuan idaman ku. Aku pernah menjalin hubungan dan itu membosankan. Aku tidak mau tolong garis bawahi ya wanita bawel aku tidak menawarkan apapun untukmu ketika kamu setuju memulai hidup bersamaku. Aku jelaskan besok.
Emma loncat kegirangan. "Apa ini ? Dia melamar ku kah. "
"Perjuangan tiga tahun ku akhirnya berbuah manis. "