
"Ayo "Ilana membangkitkan tubuh Rafael tak peduli jika laki-laki itu syok,tertekan,atau terpojok.
BODOAMAT -ilana
"K.. kemana ? "
"Temui putramu. Cepat kamu harus tau jika aku ga omong kosong. "Rafael menahan tarikan Ilana.
"Aku serius. Biar kau melihat wujudnya. Dia memang anakmu. "
Tangannya melemah dan ikut ketika Ilana menarik lengan kemeja nya.
"Sam, aku udah dapat tumbalnya. Rumah sakit. let's Go"
"Baik Ilana. "
Ilana mengajak Rafael pergi bersamanya ke rumah sakit. Laki-laki itu menurut saja padahal Ilana masukkan dirinya ke mobil dengan kasar.
"Kenapa jalan mu lambat sekali Pak Rafael. Ayo lekas lah. "
"I.. iyaya"
Ilana masuk ke dalam lift Rafael.
"Ini ruangan nya. "Keduanya sampai di pintu kamar rawat Louis.
"Apa kamu yakin ? " Ilana mengangguk.
Tangan Rafael stuck di handle ia seperti tidak menyangka. Ilana meletakkan tangan di atas tangan Rafael mencoba menguatkan laki-laki itu.
"Aku tidak tau bagaimana perasaan mu. Tapi adikku sangat ingin bertemu denganmu."
"Dia sudah menanti mu selama 17 tahun lamanya."
Rafael tidak ingin menuduh Ilana berbohong karena sekarang Ilana menunjukkan bukti.
"Ayo masuk"
Rafael melangkah dengan perlahan. Mulai dari telapak kaki kemudian kaki, perut lalu ke leher dan terakhir wajah yang dapat dilihat Rafael.
Ilana berhasil mewujudkan mimpi Lous yaitu bertemu Kim Rafael Steven Jo.
"Ilana kamu sudah datang-------" Marcella menoleh karena merasakan kedatangan seseorang seketika terkejut bukan main.
Dia adalah laki-laki yang di tinggalkan Marcella 17 tahun yang lalu. Dia adalah ayah dari putra nya Louis.
Untuk apa Steven kemari ? Ilana. ? Steven ?
"Ilana. Ilana kenapa kamu bawa dia kemari. Kamu bilang kamu menemukan caranya. Kenapa dia ada disini. "
Rafael mematung melihat duplikat sewaktu remaja terbaring lemah dengan banyaknya alat menempel di tubuhnya.
"Aku bilang akan menemukan caranya. Yah ini caraku. Apa mama mau melihat Louis kejang-kejang. Berapa lama lagi kita akan menemukan donor sumsum tulang belakang disaat Louis kritis."
"ILANA "
"Aku melakukan yang terbaik dan ini caranya. "
"Jangan egois ma. Louis punya impian dan ini impian nya. Dia belajar dengan giat agar Steven bisa mengakuinya nanti. Dia ingin Steven tau jika ia hidup dengan baik dan bahagia. Apa mama mengetahui impian nya, kak Ilana aku ingin belajar dengan giat agar papa bisa mengakui ku. Atau aku bisa mengobrol dengan nya meski dia ga tau aku siapa. "
"Kamu mengenalkan nya. Kamu memberitau pada putraku tentang Steven. "
"Ya. "
"Apa gara-gara itu juga Louis hampir bunuh diri. "
Ilana dengan lantang menjawab. "Ya. Aku lakukan itu. Dia sudah besar, dia tau apa yang terbaik. Biarkan dia mengetahui kekecewaan. "
"ILANA "
"CUKUP MARCELLA. ILANA BENAR. "Rafael memasang badan melindungi Ilana.
"Tega nya kamu memisahkan ku dengan putraku. Selama ini, aku tidak tau jika aku memiliki anak. Jika kecelakaan ini tidak terjadi aku tidak akan bisa melihatnya. Aku sakit hati sekali, melihat pertemuan kami yang mengerikan aku harus melihatnya terbaring disini. "
"Masalah ini belum selesai. Setelah putraku sehat. "
"Aku akan memberikan kalian waktu berdua. "
"Berdua. Ilana apa maksudmu ? Ilana ? tidak.. tidak.. jangan.. " Ilana menarik tangan Marcella agar mereka memiliki waktu berdua antara ayah dan anak itu.
Rafael mendekat dan lebih dekat. Tangan gemetar untuk pertama kalinya ia menyentuh seorang pemuda yang menjadi bagian dari hidupnya untuk selamanya.
"P.. putraku inikah dirimu. "
"Aku disini, Aku disini. Aku sekarang mengenalmu. Kamu tumbuh dengan baik. Aku menyukaimu. Aku sangat sangat menyukaimu. Terima kasih sudah lahir dan tetap hidup sampai aku mengenalmu. "
Rafael mencium punggung tangan Louis
"Sebentar ya anakku. Kita bisa saling mengenal aku akan membuatmu sehat kembali. Tunggu ya nak. Papa akan membantumu. "
"Terima kasih sudah menjadi bagian dari mimpi ku. Aku memiliki seorang putra pada akhirnya. "
Ilana mencoba memberi Marcella pengertian di ruang tunggu.
"Tapi kamu harusnya diskusi denganku. "
"Kau pasti tidak setuju. Sudahlah ini cara terbaik. "
"Bagaimana jika dia akan mengambil Louis. "
"Itu tidak akan terjadi. Percayalah. "
...****************...
Dengan kekuatan uang dan kewenangan. Pagi itu Louis dan Rafael langsung berada di ruang operasi.
Ilana memutuskan untuk pulang ke apartemen.
Ibarat udah selesai gitu buat kekacauan.Mwehehehe
Marcella, Ruby dan Ayu menunggu di rumah sakit.
"Pelik sekali hububangn percintaan mu Cella. "cibir Ruby.
Almeer datang menghampiri ketiga wanita itu.
"Hello aku membawakan kalian minuman. Kalian pasti kehausan. "
Ketiga wanita kebingungan. Siapa orang ini.
"Oh perkenalkan aku teman Ilana. Almeer "
"Marcella, ibunya. "
"Ruby, Tantenya. "
"Ayu, nenek"
"Terima kasih, kami akan menikmati. "
"Jika kamu tidak ada pekerjaan mari duduk. Kita ngobrol sebentar. " Almeer nampak bersemangat ia mendapat celah langsung dari nenek Ilana.
"Kamu sepertinya teman dekat Ilana."
"Bisa di bilang begitu. Kami sering bertemu. "
"Senang mendengar. Ilana memiliki teman yang baik. "
"Tolong jaga Ilana dengan baik. "Ayu memegang kedua tangan Almeer.
"Tentu saja Nenek jangan Risau. "
"Keponakan ku sedang sediri, kenapa kamu tidak berkencan saja. Bukankah Ilana sangat cantik. "
"Kami hanya teman. "
"Pikirkan kembali. Ilana cantik dia sangat sulit menjalin hubungan. "
Memang, bahkan aku menghabiskan banyak uang hanya untuk kepolosan.
"Kalau sama kamu, sudah dapat restu dariku. "
"Kalau nenek bagaimana ? "Almeer dengan kurang ajar berucap begitu.
"Ma gimana ditanyai itu sama dokter "Ruby jadi provokator.
"Aku terserah Ilana saja. Aku ingin dia bahagia dan mendapat laki-laki yang baik untuknya. " kata Ayu.
"Tuh, udah dapat dua restu. Gas aja lah. "
"Apa-apa kalian ini ! "tegur Marcella.
" Abaikan saja dia. "
"Kamu sama Ilana gimana. Udah sejauh mana gitu hubungan nya ?"
"Insyaallah kalau ga ditolak saya akan menikahinya akhir tahun ini."
"AAAAAAAAAAAAA senangnya."Seru Ruby menggenggam tangan Ayu. Marcella tidak perduli mengenai hal itu ia hanya memikirkan putranya dan Rafael.
Almeer melihat Marcella ia tidak tertarik dengan pembahasan mengenai Ilana. Memang Almeer menganggap dirinya salah membahas ini disaat keluarga Ilana sedang menunggu pasien. Tapi jika dilihat tiga wanita itu punya kubu masing-masing. Satu Kubu Ilana satu kubu Louis.
"Kamu serius dengan Ilana. ? "Tanya Ayu.
"Saya serius. "
"Maaf Almeer sebelumnya. Kalau masalah serius semua orang juga akan memberikan ketulusan pada Ilana bahkan bisa saja menipu kami. Kamu mengertikan maksud saya."
Almeer mengangguk laki-laki itu mengeluarkan sesuatu di foto. Foto dua anak kecil berjenis kelamin berbeda tertawa menghadap kamera.
"Apa nenek percaya. ?"
"Tidak mungkin ini Ilana kecil." Kata Ruby.
"Kita lihat nanti ya Almeer. Ilana cucu kesayangan saya. Jika memang kamu serius tolong buktikan. "
Ruby dan Ayu kesenangan bukan main.
"Jaga Ilana ya."
Almeer pamit setelah bercanda panjang dengan Ruby dan Ayu sebagai langkah awal.
" Kak Ruby, jangan sembarang menjodohkan anakku. Biarkan Ilana mencari pasangan sendiri. "
"Kamu tidak tau laki-laki itu memakai jam tangan seharga 13 milyar. Parfum itu harganya 560 juta. Sepatu nya seharga 350 juta. Dia orang kaya. Dia pintar karena menjadi dokter dan sopan. Aku suka suaranya. Suara Laki-laki tampan dan cool. Wajahnya juga bersih apa dia orang bule ?"
"Aku tidak bertanya dia. "
"Jangan berani mendua Ruby " tegur Ayu.
"Tidak. Tapi kalau dia mau aku juga mau kok. "
"Uhh, Hati-hati kamu ,mama tutup pintu kalau akmal udah ngamuk, cukup kemarin. "
"Hihihihi " Ayu terlonjak kaget bagaimana anak perempuan itu memukulnya.
"Mama ini loh, jangan di ingetin dong. Jadi buyar keinginan aku cari berondong. "
"Mama pusing sama Kisah asmara kalian berdua. Kalau ada masalah jangan mama juga di bawa masuk zona merah. "
...****************...
Ilana berdiskusi dengan semua para staff dan manajer yang bekerja di Zen royal terkait masalah yang akan datang.
Orang-orang mulai mencium bau ketidak harmonis hubungan Ilana dan Uzy.
"Aku akan segera keluar dari Zen Royal. Kalian dapat memutuskan ikut denganku atau kembali ke agensi. "
"Masalah apa ini ? "tanya James.
"Aku tidak nyaman lagi berada di Zen Royal. Aku juga berada di satu gedung yang sama dengan Uzy. "
"Aku masih ga tau akan masuk agensi mana. Jadi kalian bisa memutuskan sendiri. "
Ilana tidak mungkin mengatakan jika dia hanyalah black card Zen Royal. Dia harus menjaga ucapan di depan anak buah.
"Aku akan memikirkan tetap denganmu atau bagaimana. "James beranjak pergi dengan perasaan yang sulit di jelaskan.
Sophia menggenggam tangan Ilana.
Pengawal dan anak buahnya yang lain saling menoleh satu dengan yang lain.
Ilana hanya menunggu waktu. Ada sekitar 10 pekerjaan lagi sebelum akhirnya ia keluar dari agensi yang telah membesarkan namanya hingga ia dikenal dunia internasional.
Almeer ? Laki-laki itu turun dari mobil setelah mendapat telfon dari Ilana. Ia langsung pergi meninggalkan mama dan papa nya yang menyuruh mengurus tanaman.
"Hei "
"Hei, cepat sekali datang "
"Ya aku datang secepat mungkin. Apa terjadi sesuatu ? "
"Pipi kamu kotor sebentar aku bersihkan dengan tisu dulu. " Almeer memejamkan mata menikmati usapan lembut tangan Ilana.
Ilana membuang sisa tisu tadi ke tong sampah.
"Kamu menarik nafas terus. Apa terjadi sesuatu ? "
"Aku akan keluar dari agensi ku. "
"Kenapa ?"
"Ada masalah di kantor. Aku ga nyaman. Menurutmu aku harus bagaimana ? "
"Aku setuju. Lebih baik lagi kamu ga usah bekerja. "
"Terus aku makan apa ? Karyawan ku ga sedikit loh. "
"Iya. Biar aku saja yang nanggung. "
Ilana kesal. "Bicara denganmu makin kesini kamu nya makin kesana. "
"Kamu yang tidak mengerti" Almeer menyenggol lengan Ilana.
"Berapa banyak denda yang kamu bayar. "
"34 milyar. "
"Ohh dikit aja ternyata. " Ilana mengangguk.
"Lalu rencana mu apa ? "
"Mungkin aku akan bekerja secara individu. Biar ga ada pembagian lagi. Aku akan bekerja sebagai artis tapi entahlah aku ga punya rencana besar untuk tahun ini. "
"Aku ada"
"Selamat kalau begitu. Memang apa rencana mu ? "
"Menikah"
"Oh, selamat ya. "
"Aku jadi merasa tidak nyaman dengan pasangan mu. Kita seolah-olah berselingkuh. Undang aku nanti, aku ingin minta maaf karena sudah menganggu kalian. "
Almeer mengerutkan kening.