
Joe meletakkan dengan hati-hati setumpuk kertas di kamar Ilana. Ilana rupanya sedang tidur mungkin menghilangkan kantung matanya. Selama sebulan gadis itu hanya makan, tidur, kerja, liburan,olahraga begitu terus.
Joe mendekati tempat tidur Ilana. Gadis yang memunggungi pintu kamar tidur dengan damai. AC yang menyala, harum ruangan khas Ilana juga kamar yang di tutup tirai.
"Dia lucu kalau lagi terlelap mirip bayi panda. "
"Entah apa yang terjadi nanti. Tapi kamu sudah melakukan yang terbaik. "
Ilana baru saja menyelesaikan mandi. Ia mendapat telfon dari Louis yang merengek merindukan kakak perempuan nya. Rafael tidak mengizinkan nonton TV.
Almeer memerintah bukan memberi saran lagi kepada Ilana jika ia harus membuang semua orang yang merusak hidup nya. Dan hidup layaknya Ilana yang bebas. Entah mengapa seolah ucapan adalah sihir Ilana langsung mengabulkan nya.
"Kakak kapan kesini. Aku ingin melihatmu. "
"Besok kakak akan kesana. "
"Kenapa ga sekarang. Aku pengen liat kak Ilana. "
"Maaf ya kakak lagi banyak pekerjaan. Kakak besok akan jenguk. Kamu disana senang aja kan. Ahh senang dong pasti ketemu papa. "
"Senang cuman kalau ada kak Ilana aku tambah senang. "
"Apa kalian berbicara banyak ? "
"Aku sangat canggung sampai detik ini. Untungnya ada Stephanie. "
"Kamu sangat canggung tapi menelfon kakak pakai ponsel papa. "
"Mama ga ada disini. Mama hanya datang malam. "
"Mereka jarang ketemu. "
"Sering kok. Bahkan mama bermain sama Stephanie. "
"Itu kakak Ilana. Mana sih aku juga mau ngobrol. "
"Sabar dulu. Aku mau bicara sama kakak ku. "
"Ihh Aku juga mau kak Louis. Kak Ilana.. hallo.. hallo.. hallo.. hallo. "ucap bocah berusia 8 tahun itu.
" Bentar dulu nah dek. Kakak mau ngobrol. "
"Tapi aku juga mau ikut dengar di speaker aja. "
"Dih gaya kamu. Udah nanti ada waktunya. " sela Louis. Stephanie cemberut.
"Kamu sudah besar masih aja susah ngalah. "
"Ya karena kan aku adik bungsu tiba-tiba harus jadi kakak juga rasanya aku tidak Terima. Apalagi Stephanie juga menyukai kak Ilana. "
"Tidak suka !!!! "Stephanie memukul perut Louis.
"Kak Louis aku lagi. Aku lagi.. aku lagi. " rengek Stephanie.
"Nah nih " Louis langsung mematikan sambungan.
"KAK LOUIS "
"Ahahaha hahahahahahahha "
Rafael yang sedang mengupas buah tertawa melihat tingkah dua anaknya yang mengemaskan ini saling berebut menelfon Ilana.
Stephanie adalah putri kandung Rafael dengan istri keduanya. Istri pertama meninggal karena sakit lalu istri keduanya meninggalkan dengan membawa sejumlah uang bernilai fantastik hingga membuat agensi di level buruk sepanjang sejarah.
Rafael awal membuka hati karena Stephanie hadir tanpa sengaja. Entahlah meski kenyataan satu-satunya anak kandung yang ia inginkan hanyalah Louis tapi Rafael tetap mencintai putrinya yang cerewet. Lalu 8 tahun kemudian Ilana datang membawa kabar jika ia memang memiliki seorang penerus yang sah yaitu putranya yang genap berusia 17 tahun. Louis.
...****************...
Ilana datang sendirian. Membawa buah-buahan.
Almeer menjemput di depan. Ia menemani Ilana.
Tok... tok.. tok..
"KAK ILANA "pekik Louis.
Seorang gadis kecil yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung berlari melihat Ilana dengan handuk warna pink ia pegang.
"Hallo anak cantik. "
"Kak Ilana gendong. "
"Baiklah tuan putri. "
"ISHH " seru Louis.
"Wlee siapa suruh ga bisa turun. "
Louis menunduk hormat ke arah Almeer tersenyum ke arah calon adik iparnya.
Stephanie menyembunyikan wajah di ceruk leher Ilana.
"Kak Ilana kok ga ke rumah lagi. Aku bingung gimana cara ketemu kak Ilana. Papa, ga kasih tau kalau aku mau main Kak Ilana. "
"Papa mu kasih tau. Cuman kak Ilana lupa maaf yaa bunga matahariku. "
"Aku terpaksa maafin kak Ilana deh. "
"Katakan apa yang kamu mau. "
"Aku ingin ke mall. Kapan kak Ilana mau membawaku. "
"Ahh begitu. Bagaimana kalau jalan-jalan ke rumah kak Ilana saja. "
"Memang ada apa di rumah kakak ? "
"Banyak. Disana ada teman. " Ilana mengangguk.
"Kita belum minum teh bersama. "
"Sekarang ! " serunya.
"Izin sama papa ya. "
Stephanie langsung pergi ke arah Rafael setelah Ilana menurunkannya.
"Bagaimana keadaan mu ? "Louis merenggang tangan minta di peluk juga.
"Aku baik. Tapi masih harus menunggu waktu untuk bisa keluar. "
"Yasudah kamu sabar. "
"Aku meninggalkan ujian ku kak. Apa aku harus mengulang. "
"Tidak. Gurumu pasti mengerti. Ujian pakai kertas nanti akan di bawa kesini. Kamu sudah belajar ? "
"Udah itu " Ilana melihat lima buku pelajaran di rak.
Ilana mendekat ke telinga Louis. "Bagaimana rasa nya ketemu papa ? "
Louis menyembunyikan wajah malunya. Ilana mencolek dagunya.
"Malu dia. Ihiyy..Cie kamu pasti senang. Gimana rasanya pas buka mata ngeliat papanya datang."
"Papa datang waktu malam. Aku senang sekali rasanya aku ingin teriak. Aku sampai. pagi ga bisa tidur. Karena menyangka ini ga mungkin.
Aku sudah lama menantikan selama 17 tahun akhirnya aku ke sampaian bertemu papa. Aku senang sekali. Dan aku lebih senang kalau kak Ilana juga ada. "
"Sekarang kau menyukaiku atau menyukai papa. "Ilana menusuk-nusuk lengan Louis.
"Aku menyukai papa. Dia lebih punya banyak waktu daripada kak Ilana. "
"Aishh aku jadi nomor dua deh. "
"Tidak. Di hatiku kak Ilana nomor satu. Baru mama. Baru papa. "
"Benarkah.Aku senang mendengarnya. "Ilana tersenyum sumringah.
" Kak Ilana, katanya papa bolehin. "
"Ga ngerepotin ? "Tanya Rafael.
"Enggak. Aku bawa pulang besok pagi. "
"Antar saja ke rumah. Besok aku ada meeting. "
"Baiklah."
Ilana mengobrol di luar bersama Rafael. Almeer duduk dan ngobrol bersama Louis.
"Ilana, Sebelumnya kita belum sempat bicara panjang. Tapi pertama aku ingin berterima kasih padamu. "
"Itu bukan apa-apa. "
Rafael tersenyum. "Kamu menjaga dan merawat Louis selama ini memberikan sekolah, makanan dan tempat tinggal yang pantas itu tentu tak akan bisa ku bayar. "
"Aku tak bisa menawarkan apapun tapi kapanpun kamu membutuhkanku aku akan datang dan siap menolong. "
Ilana tertawa ngakak. "Apa ini, aku tidak melihat Pak Rafael yang dulu. "
Rafael memeluk gadis itu. "Louis cerita banyak tentang kakaknya. Dia sangat sangat menyukaimu. Aku senang dia memiliki kakak yang baik hati. "
Ilana membalas pelukan pria itu.
"Sama-sama Pak Rafael. Tidak perlu berlebihan. " Keduanya saling menjauh.
"Lantas bagaimana VCN ? " Rafael menggeleng kepala pelan.
"Sebaiknya agensi itu aku jual saja. Dan mulai bisnis baru. "
"Memang sudah ga ada harapan lagi yaa ? "
"Iya. Tapi akan selalu ada kebaikan untuk orang yang tidak putus asa. " jawab Rafael.
Ilana melipat kertas dari sakunya. Rafael segera menjauh.
"Ilana jangan. Aku banyak berhutang padamu. "
"Tolong terima kebaikan ku. "
"Ilana tidak. Maaf. "
"Ada banyak orang yang mengantungkan hidupnya di agensi. "
"Ilana kamu sudah banyak mengeluarkan Uang akibat skandal mu. "
"Tidak apa-apa. Ambilah. Aku akan bergabung di VCN kita kembalikan agar berjaya. "
"Aku punya banyak rencana dan project agar VCN kembali. "
"Kalau kamu yang masuk tidak usah ikut seleksi. "
"Tapi aku banyak skandal loh. "
"Ahh mengenai itu. Aku jelas ga percaya. Aku mau ketawa dengan bukti yang dibuat. "
Setelah berbicara panjang. Ilana pamit pergi Rafael membuka isi cek itu 1,1 triliun. Rafael menatap dengan tatapan sendu.
Tidak pernah Rafael duga. Ilana akan menjadi orang yang akan membantunya disaat semua klien dan investor meninggalkannya. Padahal tidak ada jaminan apapun yang bisa Rafael berikan. Tapi jauh di lubuk hatinya ia janji akan segera mengembalikan uang ini dan membuat VCN kembali membaik. Pertolongan Ilana tak akan ia lupakan.
"Kakak ku tidak memiliki ayah. Dia tidak pernah merasakan kasih sayang ayah. Bahkan dia terlalu hebat menggantikan peran ayah padahal dia ga tau ayah itu manusia seperti apa. Dia belajar dari setiap peran yang di miliki nya. Jika kau ingin aku memanggilmu papa, perlakukan kakak ku juga sebagai anakmu. Kumohon. Itulah permintaan ku. "
Air mata Rafael jatuh dengan cepat ia sekap.
"Mengapa Tuhan menurunkan satu anak baik ke dunia yang kejam. Siapapun ayahnya kuharap dia bangga. "